My Two Annoying Brothers

My Two Annoying Brothers
Bab 58 : Tingkah



"Maaf nak, jadi bayar makanan nya atau engga ya!?" ucap ibu kantin itu, sembari menatap wajah Yuri yang mulai memerah.


"Ah... iya bu maaf kan saya, ini uang nya, makasih ya bu" ucap Yuri yang langsung berlari menuju Aditya.


"Aditya ayo kita pergi, gak usah ladenin mereka" ucap Yuri yang berusaha menenangkan Aditya sembari memegang tangan Aditya untuk pergi.


"Baiklah karena ini keinginan Yuri, ayo kita pergi dari sini, semoga gak ada hama kaya kalian lagi!" ucap Aditya yang langsung pergi bersama Yuri dengan ucapan yang menyindir kedua dokter perempuan itu.


"Ah... untungnya lu gak berlanjut buat matahin mereka"


"Emang kenapa kalo gua lanjutin pertengkaran tadi!?" ucap Aditya sembari menyipitkan matanya dan menatap kearah Yuri.


"Muka lu gak usah kaya gitu be*o! lu tahu gak sih kita baru pertama kali mau bekerja di sini masa udah buat keributan aja, apa lagi lu partner gua! kalo lu berulah, gua juga ikut kena lah! " ucap Yuri dengan emosi.


"Ya bodo amat lahbkalo gitu, gua juga bisa kerja di rumah sakit lain, emang rumah sakit cuman ini doang!?" ucap Aditya dengan santai nya, Yuri pun langsung memukul tangan Aditya dengan kencang.


"Lu bodoh atau gak punya otak ha! kalo lu kaluar gua juga ikutan keluar lah dari ruang sakit ini!" ucap Yuri dengan kesal, Aditya pun berfikir sejenak mengapa Yuri bisa ikutan keluar dari rumah sakit ini.


"Lah!? bukanya cuman gua doang ya yang keluar dari rumah sakit ini!? ko lu juga jadi ikutan keluar dari rumah sakit ini!?" ucap Aditya yang setahun yang bahwa partner satu yang ingin mengundurkan diri dari rumah sakit.


Biasanya satu partner lainya bisa ikut keluar atau juga tidak sesuai dengan keinginan, syarat ini tertera di rumah sakit ini.


"Ya karena lu keluar gua jadi gak punya temen lah..." ucap Yuri dengan nada lemasnya.


"Lah!? kan banyak dokter disini, apa lagi banyak banget dokter tampan disini, biasa aja lu temen sama mereka semua di sini!?" ucap Aditya dengan nada lemasnya yang membuat Yuri menyadari bahwa Yuri bisa saja mempunyai pria lain.


"Gua sih gak bakal terpesona sama dokter tampan lainya, karena lu udah tampan buat gua" ucap Yuri tanpa fikir panjang, tiba-tiba Yuri pun menyadari apa yang ia katakan kepada Aditya barusan.


"Ah... maksudnya gua itu-" ucap Yuri yang langsung memotong ucapan nya itu.


"Lu tadi bilang kalo lu gak bakal terpesona dengan dokter tampan lainnya, karena gua udah tampan buat lu gitu!? anjirr jadiblu tuh selama ini suka sama gua gitu!?" ucap Aditya yang langsung kegirangan.


"Eh lu itu cuman salah denger ngerti gak! kegeeran ama sih! worang gua bilangnya gua juga bakal terpesona dengan dokter tampan lainya yang ada di rumah sakit ini" ucap Yuri yang langsung membalikkan perkataan nya itu.


"Lah! tapi telinga gua gak bolot ko!? masa sih gua salah denger ucapan lu!? aneh banget!? lu pasti memutarkan perkataan lu ya..." ucap Aditya yang membuat Yuri kesal lalu meninggal kan nya sendiri disana.


Aditya pun dengan cepat mengejar Yuri di sepanjang trowongan rumah sakit, tiba-tiba Yuri pun langsung menabrak seseorang yang berada di depanya itu.


Seketika kaki Yuri tidak bisa menahan nya untuk berhenti, seseorang itu pun langsung menangkap tubuh Yuri dengan cepat, Aditya pun langsung menghentikan kakinya, melihat Yuri diselamatkan oleh orang lain.


Yuri pun dengan berusaha pun membuka matanya itu, ia pun terkejut kitni yang menyelamatkan dirinya adalah seorang dokter tampan seperti Aditya. Dengan tatapan dingin nya kepada Yuri sekaligus dengan jas dokter yang seperti seorang gagah.


"Ah.... maafkan saya, maafkan saya sekali lagi" ucap Yuri yang langsung menundukkan kepalanya dihadapan pria itu.


"Ya... makanya kalo bisa jangan lari di trowongan, ini kan tempat rumah sakit, banyak pasien yang harus dirawat disini, jangan buat kegaduhan! jadi dokter aja ko bikin kegaduhan aja kerjaan" ucap pria itu yang membuat Yuri pun terdiam, ia pun mulai mencerna perkataan pria itu.


Iya juga sih... gua dokter tapi tingkah dan ucapan gua bukan kaya dokter


Aditya pun mendekati Yuri, Yuri pun tiba-tiba terkejut dengan kedatangan Aditya di belakang nya, Yuri pun mengabaikan Aditya dan hanya bisa berjalan terdiam mendengar perkataan dokter itu.


"Kayanya Yuri sedang kepikiran kata-kata dokter itu deh..." ucap Aditya sembari menatap Yuri yang semakin lama semakin menjauh dari hadapan nya itu.