
Liuzzi bodoh... bisa-bisanya dia ngelawan, pasti hari ini juga dia bakal dipecat sama ibu pengawasan dosen....
"Ananda Liuzzi Gamelia! berani-beraninya kamu berbicara seperti itu kepada saya!" teriak ibu pengawasan dengan wajah nya yang ingin menampar wajah Liuzzi.
"Maafkan saya bu, saya khilaf, tiba-tiba saya merasa ada rig jahat yang melakukan bukannya saya yang melakukan nya bu" ucap Liuzzi semabri menundukan kepalanya, Liuzzi pun mengintip melihat wajah ibu pengawasan itu masih dengan wajah yang sama.
Liuzzi pun langsung menunduk seperti seorang yang sedang duduk, yang membuat semua dosen pun terkejut, ibu pengawasan itu pun sontak kaget melihat Liuzzi bertingkah seperti itu.
Mikael beserta kepala sekolah pun terkejut melihat tingkah Liuzzi, ibu pengawasan itu pun langsung menyuruh Liuzzi untuk bangun tetapi Liuzzi tetap tidak mau berdiri, juga, semua para murid oun mengintip kejadian itu lewat jendela.
"Ananda Liuzzi cepat sekarang bangun! apakah kau tidak tahu diri!?" bisik ibu pengawasan tepat di telinga Liuzzi, Liuzzi hanya terdiam saja sejak dari tadi, ia tidak mendengar kan perkataan ibu pengawasan itu.
"Liuzzi! berdiri sekarang!" teriak pak kepala sekolah yang membuat Liuzzi pun langsung berdiri, dan menghadap ke arah pak kepala sekolah itu, Mikael dengan wajah nya yang ketakutan pun ingin sekali membantu Liuzzi.
"Kamu ini apa-apa an sih!? kamu ngapain bertingkah kaya gitu sama ibu pengawasan!? Liuzzi dengan ya, kamu itu masih dosen baru, seharusnya kamu jaga etitud kamu di sekolah ini! seharusnya kamu gak usah bantu Mikael buat menyingkirkan para mahasiswa itu!" teriak pak kepala sekolah dengan nada tegas nya.
"Maaf pak, saya memang bersalah saya tidak seharusnya ngomong kaya gitu sama bapak dan juga ibu" ucap Liuzzi yat lagi-lagi menundukkan kepalanya dihadapan ibu pengawasan dan juga pak kepala sekolah.
"Kalo kamu udah merasa diri kamu bersalah, kamu akan saya perintahkan ibu pengawasan untuk pengawasan lebih lanjut, agar kami bisa tahu apakah kamu layak menjadi dosen lagi di sekolah ini atau tidak, jadi berhati-hati lah!" ucap pak kepala sekolah dengan nada tegas nya, ia pun langsung pergi begitu saja ke kantor.
Mikael pun langsung menarik tangan Liuzzi, Liuzzi pun terkejut dan mulai menarik tangan nya kembali, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan dari genggaman Mikael.
"Mikael lu ngapain narik-narik tangan gua lepasin gak!" teriak Liuzzi dengan kesalnya, Mikael pun langsung melepaskan genggaman nya itu dengan cepat.
Ibu dosen pun datang mengarahkan kearah Liuzzi dan juga Mikael, dengan cepat, ibu dosen itu menghentikan langkah nya.
"Liuzzi tadi kamu ngapain teriak-teriak sama semua mahasiswa!? sekarang kamu jadi kaya gini kan!?" ucap ibu dosen itu yang langsung cemas dengan Liuzzi.
"Tahu nih bu! kelakuan orang gi*a emang kaya gitu, dia gak mikir dulu sebelum bertindak!" ucap Mikael dengan santai nya, Liuzzi pun hanya bisa terdiam.
"Saya tahu saya salah, tapi saya hanya ingin sekolah ini tertib tanpa ada pengganggu alias keciak, yang sok-soan pamer!" ucap Liuzzi dengan nada nya yang mulai tegas sambari melirik matanya ke arah Mikael dengan kesal.
"Lu ngapain mata lu kaya gitu!? ngiri lu!?" teriak Mikael yang langsung membalasnya dengan nada tegas.
Disisi lain Aditya dan Yuri seperti biasanya beristirahat d kantin bersama para dokter lainnya disana, Yuri tidak pernah sedikit pun menatap Aditya.
Semoga aja para dokter di sini pada gak ngelihat ini gua jadi gua gak di bully lagi... gua harus bisa menjauh dari Aditya untuk sementara waktu...
Aditya yang mengetahui bahwa Yuri ingin menjauh dari nya yang membuat Aditya pun langsung dekat dengan seorang dokter yang sangat cantik disana.
Aditya dengan dokter itu semakin lama semakin dekat, yang membuat Yuri merasa sedih melihat kedekatan mereka, Aditya juga merasa bahwa ia sedikit keterlaluan dengan tingkah nya yang dekat dengan dokter lainnya. Yuri pun dengan cepat pergi dari tempat makan itu.
Aditya pun segera mengejar Yuri, di sepanjang trowongan rumah sakit,Aditya mengejar Yuri, tetapi semakin lama Yuri berlari semakin cepat. Aditya tidak menyerah dan terus berlari untuk bisa menarik tangan Yuri.
"Dapat!" teriak Aditya yang berhasil menangkap tangan Yuri dan langsung memeluk nya dengan cepat, sontak membuat Yuri pun terkejut dengan tindakan Aditya.
"Aditya lu ngapain meluk gua, cepetan lepasin gua" ucap Yuri yang ingin melepas pelukan nya dari Aditya, tetapi Aditya masih tetap memeluk Yuri.
"Lu tahu gua sedih kalo lu meninggalin gua... kenapa sih lu menjauh dari gua? apa karena gua itu sifat nya masih kaya anak kecil? apa karena gua itu selalu dekat sama lu!?" ucap Aditya dengan nada sedih nya, yang membuat Yuri terdiam mendengar ucapan Aditya.
Ia baru pertama kali melihat Aditya yang sedih, Yuri pun tersenyum tipis "Gua jauhin lu biar lu juga bisa dekat dengan dokter lainnya, gua gak mau kalo lu cuma temen sama gua doang..." ucap Yuri, Aditya pun semakin memeluk Yuri dengan erat.
Kehangatan yang Yuri rasa kan pun membuat nya ingin semakin lama dengan Aditya dan ingin memeluk nya lebih lama, tetapi seseorang melihat tindakan mereka berdua itu, seorang dokter yang mengintip melihat kemesraan mereka.
Dengan cepat dokter itu pun langsung menyebarkan foto itu dengan cepat ke dokter lainnya, yang membuat para dokter perempuan disana merasa kesal dengan Yuri yang tidak bisa menjauh dari Aditya.
"Apa!? jadi Yuri si anak polos itu masih mendekati dengan Aditya!?" teriak salah satu dokter disana dengan nada marah nya.
"Iya, tadi gua lihat sendiri, dan gua juga udah gua kasih kan bukti nya ke kalian semua!?" ucap doker itu dengan nada nya yang semakin membuat pada doker lainnya membenci Yuri.
"Kita harus memberikan pelajaran lagi sama si anak polos itu!" teriak doker itu, semua pun ikut bersemangat untuk memberi pelajaran kepada Yuri.
Lihat aja lu dasar anak polos, gua bakal cekik lu lebih dalam! karena lu berurusan dengan gua!