
Eh!? di-dia, kenapa dia sih woi!!
"Halo Yuri, kamu teman nya Liuzzi kan?" tanya Aditya sembari tersenyum kepada Yuri, Yuri pun langsung tersenyum balik, ia melihat ketampanan Aditya yang membuat jantung nya berdegup dengan kencang.
Ke-kenapa gua mau salting gini ya? karena abang Aditya tampan banget kalo senyum, astaga! Yuri sadar diri dong dia kan udah ada yang punya ish! harusnya lu fokus sama ujian ini!!
"Baik kita mulai saja, ini ada pasien yang mempunyai penyakit, kamu akan diuji 5x dengan pasien yang mempunyai gejala yang berbeda-beda, jika kamu bisa menyembuhkan 5 pasien itu kamu akan mendapatkan nilai bagus dari kak" ucap Aditya dengan panjang lebar Yuri pun terkejut ia harus bisa menyembuhkan 5pasien sekaligus.
"Tapi kak, jika aku gak bisa nyembuhin 5 pasien itu dengan benar, apa nilai ku akan berkurang?" ucap Yuri dengan wajah kawatir nya.
"Tidak kak tidak akan mengurangi nilai, tapi kak akan membantu kamu jika kami tidak mampu melakukan nya, tetapi dengan catatan harus melihat bagaimana kak melakukan nya, soal nya 5 pasien ini adalah pasien asli yang benar-benar sakit loh" ucap Aditya yang langsung melihat reaksi Yuri yang ketakutan.
"Ko mereka asli!? bukanya mereka hanya sebuah boneka saja? tapi kenapa jadi orang asli gini, gimana kalo aku nanti membuat kesalahan?" ucap Yuri yang semakin panik, Aditya pun tertawa melihat ekspresi Yuri.
"Ko kak malah ketawa! aku lagi panik nih!" ucap Yuri dengan nada kesalnya, Aditya pun langsung berhenti tertawa dan tiba-tiba mendekati Yuri.
"Tenang saja, kak hanya bercanda tadi, agar kamu tidak terlalu tegang, kamu takut nilaimu kecil kan? banyak ko mahasiswa yang kak tes kebanyakan takut nilai mereka kecil, tapi kak juga pernah merasakan diposisi mu, jadi jangan takut aku ini orang baik yang akan memberikan nilai tambah" ucap Aditya yang langsung memegang bahu Yuri, Yuri yang terkejut pun sontak menatap wajah Aditya.
"Te-terima kasih kak" ucap Yuri sembari tersenyum, Aditya pun langsung terkejut melihat senyum Yuri, ia sangat cantik ketika ia tersenyum.
"Ba-baiklah kita akan mulai dari pasien 1" ucap Aditya yang langsung membuka tirai pertama, Yuri pun menarik nafas nya dan mulai mengobati pasien itu dengan berhati-hati. Aditya pun melihat cara Yuri bekerja sembari menilai nya.
Setelah selesai dengan pasien pertama Yuri dan Aditya pun melanjutkan perjalanan nya ke pasien 2, Yuri yang semakin berkeringat pun membuat Aditya tersenyum melihat nya berusaha yang terbaik.
"Yuri sekarang sudah pasien yang ke 4,bagaimana kalo kamu istirahat dulu untuk memulihkan energi, nanti baru kita akan lanjutkan" ucap Aditya yang menawarkan diri untuk duduk sejenak.
Yuri pun pun mengangguk, dan langsung duduk begitu saja, Aditya memberikan melihat sapu tangan nya kepada Yuri karena telah berkeringat.
"Gak usah kk aku bawa sendiri jadi gak usah" ucap Yuri yang menunjukkan saputangan nya itu, Aditya tiba-tiba merasa sedih mendengar penolakan Yuri tadi.
Kenapa gua jadi ngerasa sedih gini? harus nya gua biasa ada dong? tapi gua ngerasa dia hanya ingin menjauhi gua aja... perasaan apa ini?
"Kak Aditya kenapa diam aja? emang kak gak cape kah berdiri terus dari tadi?" ucap Yuri sembari memegang botol mineral untuk diminum, Aditya pun duduk dan terdiam sembari memegang ponselnya.
Yuri secara refleks pun melihat sebuah papan raning, yang berisi kan nilai tes nya, ia pun langsung mengintip berapa nilai nya, semakin lama pun semakin penasaran dengan nilai ujian nya.
Aditya yang melihat itu pun berpura-pura tidak melihat kejadian itu sembari memegang hpnya, ia pun langsung meletakan tangan nya di atas papan itu, yang membuat Yuri pun tidak bisa melihat nilainya.
Arghhh! gua mau tahu nilai ujian gua juga ko gak bisa sih! apa jangan-jangan kak Aditya tahu kalo gua mau ngintip nilai gua!?
Sontak membuat Yuri pun langsung menatap kearah Aditya, Aditya hanya berfokus memegang hpnya, yang membuat Yuri pun menarik nafas nya.
Sabar banget gua deh! bilang aja kak Aditya, lu lihat gua mau ngintip nilai gua, makanya lu langsung halangin pake tangan lu! cik! kesel banget gua!
Setelah selesai beristirahat Yuri dan Aditya pun melanjutkan ujian itu, pasien terakhir mereka yang ke 5,Yuri pun berusaha yang terbaik untuk bisa membuat pengobatan yang benar.
"Nah.. Ananda Yuri, sekarang sudah selesai deh nilai kamu sama kak, sekarang kamu tinggal kasih berkas ini ke pihak dosen, kak akan menyerahkan nilai ini nanti" ucap Aditya yang menyusun beberapa berkas.
"Kak mau dibantu gak? kayanya repot banget" ucap Yuri yang menawarkan diri nya untuk tujuan bisa melihat nilai ujian nya, yang berada di dalam kertas itu.
"Haha, gak usah kamu tinggal kasih berkas itu kepanitia aja ok" ucap Aditya sembari menyusun berkas-berkas itu kembali, Yuri dengan kesal pun pergi sembari membawa berkas itu dan memberikan nya kepada pihak panitia.
"Saya sekarang boleh pulang kan pak?" tanya Yuri kepada pihak panitia, panitia itu pun menangguk kan kepalanya sembari menyusun berkas-berkas itu.
"Yuri! tunggu..." teriak Aditya dari belakang, Yuru pun menengok kearah nya dan mendekati nya.
"Ya kenapa kak, bukanya udah selesai ya ujian nya?" tanya Yuri, Aditya pun langsung tanpa basa basi mengatakannya "Lu mau pulang bareng ama gua gak? soal nya ini juga udah malam"
Ha!? asli nih gua gak mimpi kalo kak Aditya ngajak gua pulang bareng? ko gua jadi seneng gini ya? mungkin baru pertama kali buat gua kali di ajak pulang bareng. Tapi tunggu dia kan udah punya tunangan kadang gua hampir lupa, gua tolak aja deh, nanti kalo dilihat sama tunangan gimana, bisa-bisa gua berabe
"Engga udah kk gak usah kak, aku bisa naik ojek" ucap Yuri sembari tersenyum, Aditya yang merasa jengkel pun menarik tangannya dengan cepat dan langsung memasukkan nya kedalam mobil.
"Kak Aditya kenapa sih!? kan aku udah nolak kenapa kak jadi marah kaya gini" ucap Yuri dengan kesal dan dengan wajah marah nya, Aditya pun menatap wajah Yuri.
"Gua gak suka jika lu nolak gua, lu pertama udah nolak gua tapi lu juga nolak buat pulang sama gua, apa emang salah gua sih sebenarnya sama lu!?" ucap Aditya dengan masa lembut nya, yang membuat Yuri pun terkejut mengapa sikap Aditya langsung berubah.
Kenapa dia jadi kaya gini ya!? apa dia merasa gak nyaman?