
"Gi*a! dia ngirim buku tentang foto-foto gua!? kenapa dia bisa ambil semua foto ini dan dijadikan album sama dia!? apa jangan-jangan dia..." ucap Liuzzi sembari melihat buku album itu yang selalu sendirian setiap tidak ada Yuri.
"Seorang penuntit!" teriak Liuzzi sembari melempar buku album itu, tiba-tiba suara dering ponsel nya pun berbunyi, Liuzzi yang mendengar nya pun langsung mengambi ponsel itu dan melihat isi pesan orang misterius itu.
Isi pesan
Unknown: Halo Liuzzi, gimana udah datang belum paket nya? kalo udah datang kamu jadi senang kan? semoga kamu suka ya...
"Gila nih orang! lu pikiran gua suka apa sama hadiah misterius lu ini g*bl*k!! cik!!" ucap Liuzzi sembari melempar ponselnya di atas kasur. Liuzzi pun memutuskan untuk membuang buku album itu dan membakar nya.
"Liuzzi kamu mau kemana? terus pas kamu buka gimana, apa emang isi paket itu?" ucap ibu Liuzzi yang tengah penasaran dengan isi paket tersebut.
"Ah! soal itu sih gak usah telalu dipikirkan" ucap Liuzzi mencari alasan agar tidak ketauan oleh ibunya, suara mobil pun terdengar pertanda bahwa Aditya telah pulang, Liuzzi pun dengan cepat berlari keluar.
"Liuzzi tunggu ibu belum selesai bicara!" teiak ibu Liuzzi, Aditya pun menyalim tangan ibunya, dan mulai duduk di sofa untuk merebahkan tubuhnya yang tengah kelelahan itu.
"Aditya gimana hari ini jadi kk kelasnya di kampus? apa lancar?" lirik ibu Liuzzi sembari duduk disamping anaknya itu, Aditya pun mulai menceritakan beberapa kegiatan disekolah kepada ibunya.
Disini Liuzzi, Liuzzi pun langsung menyalahkan korek api dan membakar buku album itu dengan cepat terhangus bakar oleh api yang besar, Liuzzi pun menarik nafasnya melihat buku itu terkena bakar membuat nya jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Huft... gi*a seruu dan memenangkan jiwa gua sementara ini sih" ucap Liuzzi yang langsung kembali ke dalam rumah nya dan mulai pergi kekamar tanpa melihat Aditya dan juga ibunya yang tengah asik berbincang-bincang.
Didalam kamar Liuzzi pun membaringkan tubuh nya dengan santai melihat isi pesan itu tidak akan ada lagi pun membuat Liuzzi semakin tenang angin yang berhembus dari jendela dengan suara jang krik yang nyaring.
Rasanya gua jadi pengen tinggal disini aja, lebih seru dengan pengalaman dan juga tentu juga ranjang yang meluk dan angin kencang yang menghembus setiap malam, membuat gua semakin mengantuk
Liuzzi pun tertidur lelap, tiba-tiba ponsel Liuzzi pun berdering, memberikan pesan masuk kedalam nomor yang tidak diketahui itu, tetapi Liuzzi tidak membaca pesan itu karena ia telah memblokir nomor itu.
Di sisi orang misterius itu pun merasa kesal dan melemparkan laptop nya ke lantai dengan kencang, lalu memukul meja itu sampai tetak.
"Liuzzi lu kenapa sih gak usah blok nomor ponsel gua! gua cuma pengen buat lu bahagia! tapi kenapa susah ha!" teriak pria misterius biru dengan kesal ia pun menghabiskan tidur malamnya di meja itu.
Keesokan harinya, seperti biasa Liuzzi dan kedua abang nya itu pun berangkat bersama, tetapi dengan wajah kesalnya Liuzzi terpaksa harus duduk di tengah-tengah Bela dan Desi, membuat nya harus berpura-pura tersenyum bahagia.
"Gimana Liuzzi seneng gak biar bisa saling kenal aja gitu" ucap Kenan dengan menarik alisnya dengan santai, Liuzzi pun tersenyum sembari menyipitkan matanya.
Cik segala diulang ini g*bl*k! rasanya gua pengen banget gaplok dia pake sepatu gua langsung anjirr!
"Lu ingat gak pas kejadian gua sama Desi pergi ke bioskop, eh tiba-tiba lu datang kaya nyamuk ketempat bioskop dan apa yang terjadi!? ya pasti lu inget kalo Liuzzi duduk di tengah-tengah kita berdua saat itu" ucap Kenan dengan wajah santainya, Liuzzi yang kesa kesal dengan perkataan Kenan pun hanya bisa menarik nafasnya.
Kenapalah gua punya abang gini amat! sok ngulang kejadian itu lagi bikin gua kesel aja!
"Nah sekarang hah sampai kampus deh, kuy lah turun" ucap Kenan yang langsung keluar dengan cepat, Bela dan Desi pun keluar secara bersamaan Liuzzi pun keluar dengan kesal ia pun pergi begitu saja dari sana.
Tiba-tiba seoarang laki-laki pun menghampiri Liuzzi yang tengah malam berjalan Menuju kelas nya. Dan laki-laki pun menarik tangan Liuzzi dengan cepat membuat Liuzzi terkejut dan langsung dengan cepat melepaskan tangan nya dan berbalik.
"Liuzzi, gua pengen ngomong sama lu tentang omongan Nay kemarin gu-" ucap Zen yang tiba-tiba berhenti berbicara karena Liuzzi menyela pembicaraan nya itu dengan cepat.
"Urusan lu sama gua apa sih!? gua bukan siapa-siapa lu!? lu urus aja pertunangan lu sama calon istri lu biar bisa bahagiakan bersama ok" ucap Liuzzi dengan nada suaranya yang pelan sekaligus dapat dimengerti, ia pun pergi dan mulai berjalan menuju kelasnya.
Zen yang melihat ia tidak punya harapan lagi untuk mendapatkan Liuzzi pun, terdiam ia hanya bisa melihat Liuzzi yang semakin jauh dari pandangan mata nya.
Sorry Zen, gua harus kaya gini karena gua gak mau ganggu hidup lu sama Nay, nanti dikira gua perebut cowo orang lagi, udah tahu otak orang zaman sekarang pada g*bl*k!
"Liuzzi hai, ayo ke kelas bareng biar gak telat nantinya" ucap Yuri yang langsung membuat Liuzzi pun tersenyum dan pergi bersama Yuri.
"Gua harus benar-benar bicara sama Nay! semakin lama rasanya gua gak tahan sama perjodohan ini!" ucap Zen yang langsung pergi dengan keadaan kesal.
Setelah jam pelajaran selesai semua mahasiswa pun pulang, Liuzzi yang disana pun melihat Zen dengan wajah serius nya menunggu seseorang. Liuzzi hanya melewati Zenn seperti angin lalu, yang membuat Zen pun merasa bahwa Liuzzi ingin menjauhi dirinya.
"Tumben lu, gak bilang Halo sama si Zen? apa karena dia punya tunangan ya?" ucap Yuri, Liuzzi pun terdiam dan langsung menundukkan kepalanya.
"Iya... gua gak mau dikatain perebutan cowok orang, udah tahu kan zaman sekarang tuduh nya yang aneh-aneh gitu, istilah kaya orang g*bl*k!" ucap Liuzzi dengan nada kesalnya, Yuri pun tersenyum tipis kepada Liuzzi.
Disisi Zen, akhirnya seseorang yang di tunggu Zen pun datang dengan wajah gembira nya, karena Zen ingin menunggu dirinya.
"Hai Ze-" ucap Nay yang tiba-tiba terpotong dengan ucapan nya itu, karena Zen langsung berbicara tanpa basa basi.
"Masuk ke mobil, gua mau bicara sama lu sekarang!" bentak Zen yang langsung membuka pintu mobilnya lalu masuk, Nay yang melihat tingkah Zen pun hanya terdiam kebingungan dan langsung menurut kata Zen.