
"Liuzzi mau gak jadi teman kita lagi? jadi bestie friends kita?" tanya Nay, yang membuat Liuzzi pun membulat kan matanya mendengar perkataan Nay.
"Apa!?"
"Iya jadi temen kita lagi? lu mau gak? sama teman-teman gua mau minta maaf sama lu atas kejadian hari ini, mereka juga pengen lu jadi teman kita lagi" ucap Nay yang membuat Liuzzi merasa tidak enakan, ia pun langsung memikirkan temannya yaitu Yuri.
"Maaf nih teman-teman, aku bukan bermaksud menyinggung, aku sudah memaafkan kalian tapi maaf banget aku akan menjadi teman bkalian tapi hanya sekedar teman biasa" ucap Liuzzi yang langsung membuat Nay dna teman-teman nya pun terdiam mendengarkan perkataan Liuzzi.
"Jadi kau, pengen jadi teman biasa aja? ya udah gak apa-apa, makasih sudah mau memaafkan kami" ucap Nay yang langsung tersenyum tipis kepada Liuzzi.
Nay pun pergi bersama temanya itu untuk pulang Liuzzi yang menatap Nay dan juga teman-teman nya yang semakin menjauh dari pandangan nya pun tersenyum lalu pergi ketempat restoran.
Diperjalanan Liuzzi berusaha berlari, karena restoran itu sangat jauh dari kampus, yang membuat Liuzzi harus menyelip diantar keramaian orang di trotoar, matahari mulai terbenam, Liuzzi berusaha agar bisa tepat waktu ketempat itu.
"Akhirnya gua.... sampai juga di sini" ucap Liuzzi terengah-engah ia pun masuk kedalam restoran itu dengan wajah nya seperti nyari maraton, yang dilihat oleh Desi dan juga Bela.
"Jadi kau terlambat lagi ya Liuzzi!?" tanya Desi dengan wajah sinis nya kepada Liuzzi, Liuzzi pun terdiam dan duduk di kursi itu sembari mengambil beberapa tisu untuk mengelap keringat nya.
"Ya, saya terlambat kk maaf ya" ucap Liuzzi yang langsung tersenyum kepad Desi, yang membuat mereka pun terdiam melihat Liuzzi tidak seperti mengetahui sesuatu tentang rencana mereka.
"Jadi kenapa Liuzzi ngajak kami ke sini?" tanya Bela dengan santainya, Liuzzi bpun tersenyum licik kepada Desi dna juga Bela.
"Kalian ini ya... kalian pikir aku bodoh ya? kalian pikir aku sama sekali gak tahu kalo kaliannnn... sedang mengincar harta keluarga ku ya!?' ucap Liuzzi sembari tersenyum dan menatap tajam kearah Desi dan juga Bela, Bela dan Desi yang mendengar perkataan Liuzzi pun membuat mereka panik.
"Apa maksud mu Liuzzi!? kami berdua pengen mengincar harta keluarga mu!?" ucap Desi dengan cepat, jantung nya berdegup dengan kencang, tak beraturan, Liuzzi yang semakin mempertajam matanya pun membuat Bela membantu Desi.
"Apa-apan kau ini!! kau pikir kalo kami berdua deketin abang kamu karena mau mengincar harta keluarga mu gitu!" teriak Bela dengan tegas, Liuzzi pun menarik nafasnya.
"Iya yang kau kata kan itu barusan bener kan!? ya... kalian jangan takut tenang aja relax aja jangan takut" ucap Liuzzi yang sedang menenangkan Desi dan juga Bela, Desi yang semakin ketakutan karena perkataan Liuzzi, membuat Liuzzi semakin ingin memanaskan mereka berdua.
"Hahahaha, lelucon terbaru munya Liuzzi?" ucap Bela lagi yang membuat Liuzzi pun mengertak meja itu dengan keras, membuat mereka berdua pun terdiam.
Desi dan juga Bela pun tidak bisa mengelak lagi dari pertanyaan dan perkataan Liuzzi, yang membuat mereka berdua pun sepakat untuk memberi tahu semua rencana mereka dan berniat untuk mengancam Liuzzi.
"Ya... kami tidak bisa mengelak lagi dari mu Liuzzi, kami akan jujur saja, sebenarnya kami hanya ingin menikah dengan abang mu dengan tujuan untuk mengambil yah... apa lagi jika bukan harta keluarga mu" ucap Bela dengan santainya yang membuat Liuzzi terdiam menatap sikap Bela dan Desi yang bertolak belakang.
"Untuk apa kami menyukai abang mu jika keluarga mu mempunyai banyak harta, yah... hitung-hitunh buat foya-foya lah iya kan Bela!?" tanya Desi dengan nada santainya, Bela pun mengangguk kan kepalanya.
"Owh... jadi kalian mendekati abang ku tidak didasarkan dengan cinta ya, atau bisa dibilang kedekatan kalian itu hanya sebuah bualan saja untuk mendapatkan harta keluarga ku?" ucap Liuzzi yang tangan yang mulai meremas dengan kencang, membuat Liuzzi semakin ingin memukuli Desi dan Bela.
"Ya... jadi jika kalau kau sudah tahu rencana kami, apakah kau akan memberi tahu kepada kedua abang mu dengan rekaman di ponsel ini!?" ucap Desi yang langsung berdiri disamping Liuzzi dan menunjukkan sebuah ponsel yang berada di kantong sakunya.
Di ponsel itu berisikan sebuah rekaman suara pembicaraan mereka, Liuzzi sengaja menggunakan rekaman itu agar sebagai bukti untuk memberi tahu tentang hal ini kepada kedua abang nya.
Sialan! mereka tahu kalo ponsel gua merekam semua pembicaraan mereka dari awal! argh sialan!
"Jadi mau ku apakan yah.. . ponsel ini!? aku lempar atau aku injak aja sekalian ponsel ini!?" ucap Desi sembari melotot tajam kearah Liuzzi, Liuzzi yang tidak bisa apa-apa pun hanya terdiam.
"Em!? kasihan juga adik ipar ku ini ya!? mending aku hapus aja kalinya rekaman nya, tapi jika rekaman itu masih ada, aku bisa membunuh mu adik ipar!?" ucap Desi yang langsung menekan beberapa tombol di ponsel itu, semua sudah terhapus, bukti pun sudah hilang, Liuzzi hanya bisa bermasalah dengan keadaan.
"Nah!? jadi adik ipar ku, jika kau berani-bedaninya mengatakan hal ini kepada kedua abangmu!? lihat lah aku akan membuat mu lebih menyesal!" teriak Bela yang langsung mencekik leher Liuzzi dengan kuat.
"Lepasin b*ng*t! dasar cewek g*bl*k!" ucap Liuzzi, yang membuat Bela dan Desi pun melepaskan Liuzzi, mereka pun pergi tanpa melihat kondisi Liuzzi.
Liuzzi dengan cepat pun melihat leher nya untuk memastikan apa lehernya baik-baik saja, tiba-tiba membuat Liuzzi terkejut bahwa ada bekasan tangan Bela yang membuat leher Liuzzi kesakitan.
"Dasar sialan! gua harus kasih tahu soal ini ke abang gua sekarang!" ucap Liuzzi yang langsung pergari restoran itu sembari berlari ke rumah nya untuk memberi tahu soal ini.
Semoga abang gua gak percaya sama omongan busuk dan manis nya si Bela dan Desi nanti!