My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Bab 9 - Pekerjaan dan Acara Setelah Sekolah



"Akhirnya selesai!"


Sambil memasang ekspresi puas, Kuroki meregangkan tubuhnya. Seperti biasa, tingkahnya mirip dengan seekor kucing. Dengan catatan, poin keimutannya minus.


"Otsukaresama."


Shiragami yang pertama memulainya. Diikuti oleh Shidoki dan Kuroki. Aku sibuk merapikan buku jadi tak menjawabnya.


Mungkin orang akan menyangka bahwa diriku sombong. Namun, itu hanyalah prasangka. Otak manusia mampu membakar 20% sampai 60% kalori seseorang (tergantung orangnya tentu saja).


Biasanya mengatakan "Otsukaresama," itu otomatis. Namun, dengan memilih untuk tidak mengatakannya dan malah memikirkan ini, aku membakar lebih banyak kalori. Dengan kata lain, berolahraga dan menjaga badanku tetap sehat.


Kurasa hanya aku yang bisa memikirkan itu.


"Aru, kau ada acara setelah ini?" Kuroki bertanya. Menyandar ke kursi sambil memegang meja.


Suatu hari, kau akan jatuh. Aku pastikan itu.


"Ada." Aku menahan lidahku dan memberikan jawaban. "Hari ini aku kerja."


"Oh, hari ini shift-mu, Aru-kun?" Shiragami gantian bertanya. Memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


Pertanyaan yang tidak perlu. Aku berangkat kerja, tentu saja ini shift-ku.


"Iya." Aku memutuskan untuk menjadi orang yang baik lalu mengangguk.


"Ngomong-ngomong, Arumasu-kun bekerja setiap hari apa?" Terakhir, Shidoki yang bertanya. Menatapku sambil menutup kotak pensil berwarna birunya.


Akhirnya, pertanyaan yang masuk akal. Kuberi 15 poin dari 100.


"Aku bekerja dari hari Senin sampai Jumat. Selasa dan akhir pekan aku libur."


"E-Empat hari seminggu? Hebat sekali. Tapi, bukankah itu terlalu banyak?"


"Jangan khawatirkan dia, Shidoki-san." Kuroki mengangkat bahunya. "Jika bayarannya cukup, Aru akan melakukan apa saja."


Aku menatap Kuroki tajam. "Berhenti membuatku terdengar seperti seorang yang putus asa mencari uang."


Kuroki hanya tersenyum aneh sambil mengatakan "Maaf, maaf." Entah apa yang ada di pikiran kucing itu.


"Kalian sendiri? Ada klub?" Aku gantian bertanya.


"Minggu ini libur," jawab Kuroki singkat. Ia mulai membereskan mejanya. "Shiragami-san, bagaimana denganmu?"


"Aku?" Shiragami memanggul tasnya. Menoleh ke arah Kuroki. "Hari ini klubku juga libur, jadi aku bebas."


"Ah, begitu ya." Kuroki mengangguk-angguk. Ia menoleh ke arah Shidoki. Sudah dapat ditebak apa pertanyaannya. "Kalau Shidoki-san?"


"A-aku tidak bergabung dengan klub, jadi tidak ada." Shidoki menjawab. Terlihat gugup seperti biasa.


"Bagus!" Kuroki menepuk tangannya. Senyum anehnya kembali muncul. "Bagaimana kalau kita pergi ke kafe?"


"Kafe? Boleh juga." Shiragami mengangguk setuju. Tersenyum senang. "Shidoki-san ikut ya?"


"U-un, baiklah." Shidoki juga mengangguk.


Aku menatap Kuroki. Dia pasti merencanakan sesuatu. Mana mungkin orang sepertinya pergi ke kafe dengan dua orang gadis? Atau itu tujuannya? Ingin pamer? Apapun itu, aku tidak ikut.


Aku menyalakan ponselku. Menatapnya selama beberapa saat lalu menghela nafas. Aku menaruh kembali ponselku. Lalu berjalan ke arah pintu keluar.


"Aku sudah hampir terlambat. Aku berangkat dulu." Tak menunggu jawaban, aku langsung berjalan keluar.


"Hati-hati di jalan."


"Se-selamat bekerja."


"Sampai nanti, Aru!"


Tentu saja, jawaban mereka terdengar secara otomatis. Telinga tak mempunyai fitur tolak. Dan lagi, jawaban Kuroki membuatku tidak enak.


❀❀❀❀


"Ah! A-Aru-senpai, selamat sore!" Sesaat setelah aku masuk ke dalam kantor, seseorang menyapaku.


Seorang gadis cantik bermata sayu menyapaku dari meja istirahat. Rambut hitam panjang, memakai celemek kuning yang sedikit kekecilan milik toko, ia tersenyum kecil. Aku sedikit terganggu melihatnya. Bukan karena senyumnya tapi karena panggilannya padaku.


"Reisai-senpai, bukankah aku sudah bilang untuk tidak memanggilku senpai?"


Benar. Gadis bermata sayu yang sedang duduk sambil memegang ponsel merah muda itu adalah kakak kelasku. Ia mulai bekerja di sini sekitar 3 bulan yang lalu. Namun, meskipun lebih tua satu tahun, ia tetap saja memanggilku Senpai.


"A-aku tidak bisa melakukan itu!" Ia kembali menolaknya. "Aru-senpai sudah bekerja lebih lama dariku."


Memang ada hubungannya? Aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Entah berapa kali aku sudah mengatakan ini kepadanya aku juga tidak tahu.


"Harima-senpai sudah berangkat?" Aku bertanya. Membuka loker kerjaku lalu mulai memakai seragamku.


"Ah, iya." Ia mengangguk. Menaruh ponselnya di atas meja. "Kurasa dia butuh bantuan di kafe."


Aku menghela nafas. Toko buku ini juga merangkap sebagai kafe. Juga tempat salah satu pekerjaan yang paling tidak kusukai; melayani orang lain.


Jangan salahkan aku, pelayan adalah pekerjaan yang mulia. Membawa makanan dan minuman kepada pelanggan. Melayani dengan sepenuh hati. Yang tidak kusukai adalah pelanggannya.


Aku mengikat celemek kuningku. Menaruh tas di dalam loker lalu berjalan keluar ruang istirahat. "Aku duluan ya."


"Ah, se-semangat, Aru-senpai!" Reisai-senpai mengepalkan tangannya dengan lucu. Menyemangatiku.


❀❀❀❀


Aku berjalan menuju area depan toko. Tepatnya di area kafe. Rak buku mengelilingi area kecil itu, beberapa sofa merah di samping jendela memberi pemandangan luar yang damai. Karpet merah menutupi lantai area itu, pengunjung harus melepas alas kaki mereka jika ingin bersantai dan membaca. Suasana nyaman meliputi siapa saja yang bersantai di sini


Dari segi gaya, tempat itu tidak kalah dengan kafe terkenal lainnya. Mungkin melebihinya karena banyaknya koleksi buku di sini. Yang menjadi masalahnya adalah baristanya.


Aku menghampiri meja penyaji kopi. Seorang pemuda berkacamata dengan rambut putih panjang sedang menyiapkan secangkir capuccino. Gerakannya lihai, menandakan bahwa ia sudah berpengalaman. Penampilannya sedikit aneh. Sarung tangan hitam tak berjari sebuah pengikat kepala merah, dan jubah putih.


"Harima-senpai." Aku memanggil namanya.


"Oh, Efu. Datang juga dikau. Tak kusangka utusan ilahiku dapat mencapai sisi lain gerbang! Mari, bantulah daku dalam quest berbahaya ini!"


Menyadari diriku, ia mulai berbicara dengan bahasa yang tak bisa dipahami sembarangan orang. Benar, Harima Haruki adalah seorang Chuunibyo. Dengan kata lain, orang kurang kerjaan yang punya imajinasi tinggi. Penulis novel fantasi masuk dalam kategori ini.


"Baik, baik." Aku mengangguk. Mengambil sebuah nampan, aku menaruh tiga cangkir kopi ke atasnya. "Di mana?"


"Charlie. Barrier keempat."


"Barisan ketiga di pojok. Oke." Aku mengangguk, membawa nampan itu ke pemesannya.


Kecermatan dan pengetahuan tinggi diperlukan untuk berbicara dengannya. Itu atau kau sudah terbiasa berbicara dengannya. Aku sudah bekerja bersamanya selama dua tahun, aku sudah terbiasa. Reisai-senpai sudah bersamanya sejak kecil, ia mungkin bisa mengerti apa yang akan dikatakan si chuuni ini dengan satu lirikan.


"Maaf sudah menunggu." Aku menaruh pesanan mereka. Memasang senyum teramah. Sekejap kemudian, senyum itu hilang. "Lalu, sedang apa kalian di sini?"


"Eh... Ketahuan ya?"


Seorang kucing sialan menyengir aneh. Kuroki menggaruk kepalanya. Di seberangnya, Shiragami dan Shidoki duduk. Shiragami juga tersenyum kecil sedangkan senyum Shidoki terlihat sedikit gugup.


"Kuroki mengajak kami ke sini." Shiragami menjawabku.


Jadi, ini kafe yang ia maksud. Harusnya aku tidak menunjukkan tempatku bekerja kepada orang ini.


"Lalu, kalian ikut?" tanyaku lagi.


"Ah, aku kebetulan ingin membeli buku." Shiragami menunjukkan sebuah buku kecil yang tebal. Buku orang intelektual. Sesuai dengan gelarnya sebagai peringkat nomor satu di kalangan tahun pertama.


Aku menoleh ke arah Shidoki. "E-eh, aku ingin membeli Light Novel...." Shidoki dengan malu-malu memperlihatkan bukunya. Sampul depannya memperlihatkan sepasang kekasih yang terjalin benang merah.


Ah, novel romantis. Feminim juga ya.


Terakhir adalah si kucing sialan. Masih tersenyum aneh. "Oh, aku ingin melihatmu memakai celemek."


Aku menghantam kepalanya dengan nampan.


❀❀❀❀


"Jadi, apakah kalian butuh hal lain?" tanyaku. Bukan sebagai Efu tapi sebagai "pelayan".


"Silahkan nikmati minuman kalian. Dan jangan ganggu aku."


Aku mengingatkan mereka bertiga. Terutama Kuroki. Aku serius dalam pekerjaanku. Bermain-main saat bekerja adalah hal yang tak bisa diampuni.


"Baik~"


"Oke."


"S-semangat bekerja, Arumasu-kun!" Mereka bertiga menjawab dengan antusias.


Aku kembali ke Harima-senpai. Ia sedang membuat sebuah parfait dalam sebuah gelas tinggi. Warna putih krim susu dan merah sirop dalam gelas ditambah dengan mahkota terbuat dari potongan buah stroberi dari di atas membuatnya terlihat imut dan stylish. Menusuk sepasang pocky cokelat dan menyebarkan potongan kecil cokelat sebagai penghias, parfait khas Harima-senpai pun selesai.


Aku selalu kagum dengan caranya meracik makanan dan minuman. Jika saja penampilannya tidak terlalu chuuni. Mungkin ia akan selalu dikerumuni gadis-gadis yang jatuh hati kepadanya. Aku melirik ke arah ruang istirahat. Yah, setidaknya ada satu orang.


"Charlie. Belakang barrier keempat," ujarnya. Mengibaskan jubahnya kemudian mendorong kacamatanya.


Jadi, di belakang Shidoki dan yang lain.


"Oke." Aku mengangguk mengerti. Membawa parfait stroberi itu dengan hati-hati.


Seorang perempuan duduk di sofa belakang Shidoki. Memakai jaket abu-abu dengan topi hitam. Menatap ke luar jendela.


Hmm? Terlihat familier.


Aku merasakan sesuatu yang aneh. Tak terlalu memikirkannya, aku menaruh pesanannya di atas meja.


"Maaf menunggu. Silahkan nikmati parfait Anda." Aku mengatakan kalimatku lengkap dengan senyum bisnis. "Apakah Anda butuh hal lain?"


"Bagaimana dengan satu pelayan bermata tajam?" Gadis itu tertawa kecil.


Tunggu. Aku mengenal tawa itu di mana saja.


"Nozomi?" Aku menggumamkan nama gadis itu.


Ia menoleh ke arahku. Senyum lebar di wajahnya. Terang seperti biasa.


"Tepat~!"