
Aku menatap si gadis kecil di depan kelas. Senyum ramah yang dihiasi oleh sedikit rona merah di pipi. Gestur itu lebih dari cukup untuk mempesona seluruh kelas.
Bukti? Mereka diam. Aku menoleh ke seberang ruangan. Terpana lebih tepatnya.
Namun, aku tidak menyangka ini. Kukira Shidoki masih duduk di bangku SD atau SMP. Postur tubuhnya yang kecil ditambah dengan wajah imutnya membuat gadis itu terlihat lebih muda. Rambut cokelat muda panjangnya juga tidak terlalu membantu.
Aku belum pernah melihat murid SMA yang memiliki rambut hingga pinggang mereka. Bukankah itu potongan rambut anak kecil? Ataukah diriku yang kurang pengetahuan?
Sebelum bisa memikirkannya lebih jauh, Lily sensei menepuk tangannya sekali. Kembali mengambil perhatian para murid. Guru wanita itu tersenyum lembut. Rambut bob-nya bergerak mengikuti gerakan kepalanya.
"Anak-anak, Shidoki-san baru saja pindah dari Koriyama. Jadi, saya harap semuanya bisa akrab dengannya, ya."
"M-mohon bantuannya, semuanya."
Lily sensei tersenyum manis. Senyum itu tidak cocok untuk seorang wanita 27 tahun yang belum menika— Ah, gawat! Dia menatap tajam ke arahku.
""Baik~.""
Semua orang menjawab bersamaan. Tidak sadar bahwa aku berada dalam bahaya. Namun, setelah beberapa saat, dia kembali tersenyum normal.
Perempuan bisa membaca pikiran ya? Seram!
Aku menoleh ke arah Shidoki. Pada saat yang bersamaan, ia menatapku. Ekspresi terkejut bisa terlihat di wajahnya. Bibir tipisnya membentuk sebuah gerakan "Eh!"
Kurasa dia baru sadar.
Bersikap natural, aku mengangguk kecil. Ia juga mengangguk, entah kenapa.
"Hei, Shidoki-san melirik ke arahku." Murid laki-laki di samping Shiragami mulai berbicara aneh.
"Ah, mana mungkin. Jangan ngimpi lah."
"Renjin-kun, terlalu percaya diri itu tidak baik lho."
"Eh!? Kejamnya!"
Mendengar perkataannya, teman-temannya mulai mengejeknya. Sepertinya mereka sudah kembali normal. Aku menghela nafas lalu menaruh kepalaku di atas meja. Tidak terlalu ingin mendengar keributan mereka.
"Baik, Shidoki-san, kamu bisa duduk di... Ah! Kuroki-kun tidak berangkat lagi? Mou." Melihat kursi dua kursi di sampingku kosong, bu Lily menggembungkan pipinya. Terlihat marah.
Kuso Neko. Pasti dia membolos lagi. Lain kali aku akan menyeretnya ke sekolah.
"Baiklah, Shidoki-san bisa duduk di belakang. Di samping Aru-kun ya."
Mendengar namaku dipanggil, sontak aku mengangkat kepalaku. Melihat diriku yang panik, Guru Wali kelasku mengangguk.
Aku menoleh ke samping.
Ah, ada dua kursi yang kosong. Salah satunya milik Kuroki.
Ingin membalasku karena tadi 'kah?
"B-baik, Sensei. Terima kasih banyak." Shidoki menunduk lalu berjalan ke arahku.
Tepat di sampingku, ia menaruh tasnya di atas meja. Tersenyum ramah — mungkin sedikit malu — ia berkata. "M-mohon bantuannya ya, Arumasu-kun."
Kun? Itu berbeda.
"Ah, tentu." Menjawab sembarangan, aku mengangguk.
Selesai mengatakan itu, aku bisa merasakan tatapan yang menusuk. Siapa lagi jika bukan dari murid laki-laki lain? Itu mengganggu, tolong hentikan.
"Baiklah, semuanya tolong buka buku kalian. Open page 61 please." Menggunakan bahasa Inggris yang sedikit beraksen, Lily sensei memulai pelajaran.
Selain menjadi Wali kelas, ia juga mengajar Bahasa Inggris. Mengikuti yang lain, aku juga mengambil buku bahasa Inggrisku, membuka halaman yang diberikan.
Aku menoleh ke samping. Seorang laki-laki di depan Shidoki menoleh ke belakang. Tersenyum, ia mulai berbicara.
"Nee Shidoki-chan, salam kenal namaku U — Aduh!"
Namun, sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah kapur melayang tepat ke arah kepalanya. Suara ketukan yang nyaring bisa terdengar. Ternyata kepalanya tidak kosong.
"Umihara Renjin-kun, please read the first paragraph." Dari depan kelas, Lily sensei tersenyum kecil. Meskipun begitu, matanya tidak tersenyum.
Uwa, dia marah.
"Y-yes, Ma'am!" Dengan cepat, Renjin berdiri sambil memegang buku. Kesulitan membaca huruf latin, aku tidak terlalu mendengarnya.
Pandanganku jatuh ke arah Shidoki, dia memandang mejanya yang kosong; Terlihat gugup. Dia tidak membawa buku. Tentu saja, dia murid baru.
"Shidoki-san." Aku memanggilnya. Secara alami, dia menoleh ke arahku.
"Mau pakai?" Aku menyodorkan bukuku.
"E-eh? Bo-bolehkah?" Shidoki bertanya sambil berbisik. Suaranya agak aneh.
"Kau tidak membawa buku 'kan? Jadi, tak apa." Aku mengangkat bahuku. Tidak terlalu keberatan.
Setelah beberapa saat, dia mengangguk pelan. Dengan hati-hati, dia mendorong mejanya ke arahku, menggabungkannya. Aku menaruh buku Inggrisku di tengah-tengah.
"T-terima kasih banyak." Shidoki kembali berbisik. Tersenyum samar ke arah buku.
Aku mengalihkan pandangan ke arah papan tulis. "Tentu." Menjawab seperti biasa, aku mulai menulis.
❀❀❀❀
Bel istirahat berbunyi. Suara lega dari murid-murid di kelas. Aku tidak terkecuali.
Mengeluarkan helaan lega, aku menyandarkan tubuhku ke belakang. Pelajaran bahasa — Bahasa apapun — itu terlalu merepotkan. Terlalu banyak hal yang perlu diingat.
Kemudian, untuk Bahasa Inggris. Cough, Rough, Though, dan Through. Semua kata itu, jika diucapkan dengan benar, tidak seirama. Tapi, entah kenapa Pony dan Bologna itu berirama!
Sialan! Bahasa itu terlalu membingungkan! Dalam essay ini, aku akan — Ah, terserahlah. Untuk apa aku mengeluh.
Aku melirik ke arah Shidoki. Dia masih menulis sesuatu di bukunya.
"Aku tidak menyangka, ternyata kita satu sekolah," kataku membuka percakapan. "Kukira kau masih SMP."
"E-eh? Iya 'kah? Aku juga tidak menyangka bisa sekelas dengan Arumasu-kun." Shidoki menutup bukunya lalu kembali tersenyum. Bukan ke arahku, tapi ke arah mejanya. "Aku kira Arumasu-kun sudah kuliah."
Memangnya aku terlihat tua ya? Aku harus minta Ayumi untuk membantu memilihkanku skincare.
Memutuskan untuk mengabaikan komentar itu, aku hanya mengangguk; Tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Kemampuan sosialku tidak terlalu tinggi, apalagi dengan lawan jenis.
"U-um! A-aku—"
"Shidoki-san! Sekolahmu yang dulu juga memakai Blazer ya? Dasimu terlihat imut~!" Memotong perkataannya, seorang gyaru rambut pirang bertanya.
Dan seperti biasa, orang lain suka menyela tanpa izin.
Beberapa murid mulai berkumpul di sekitar meja Shidoki. Tertarik dengan gadis itu.
"A-ah, tidak. Sekolahku dulu memakai sweater. Pa—A-ayahku sudah mempersiapkan seragam ini." Shidoki menjawab. Sedikit kesulitan di tengah-tengah.
Aku berdiri dari kursiku. Tidak ingin ikut dalam pembicaraan mereka; Terlalu merepotkan.
Selagi berjalan, aku bisa merasakan tatapan mereka tertuju padaku. Dapat ditebak apa yang terjadi selanjutnya.
"Sayang sekali ya. Shidoki-san duduk di samping dia."
"Benar, orang itu pasti menyeramkan ya."
"E-eh?"
Mengabaikan bisik-bisik aneh itu, aku keluar dari kelas. Waktu istirahat memang menyebalkan.
❀❀❀❀
"Kerja bagus."
Di depan kelas, Shiragami Fuyumi tersenyum seperti biasa. Berdiri di samping pintu kelas.
"Kerja bagus apa?" Aku bertanya. Tidak menginginkan jawaban, aku berjalan meninggalkannya.
"Ayolah, Aru-kun." Suara Shiragami masih bisa terdengar di belakangku. "Aku belum pernah melihatmu memulai pembicaraan dengan orang lain sebelumnya."
"Oh."
Menjawab singkat, aku mempercepat langkahku. Seperti tidak ingin kalah, Shiragami masih mengikutiku. Bahkan saat menuruni tangga.
Kelas 10 berada di tingkat ketiga. 11 di tingkat kedua dan kelas 12 di lantai pertama. Sedangkan kantin berada di lantai pertama di ujung timur bangunan. Jadi, untuk mencapai kantin, kelas 10 harus menuruni dua tangga.
Olahraga yang lumayan menurutku. Yah, mungkin lebih jika aku berjalan cepat seperti ini.
Sampai di kantin, Shiragami masih mengikutiku. Dengan nafas yang terengah-engah, ia memegang bahuku.
"J-jalanmu cepat seperti biasa ya Aru-kun... Haah... Haah...."
Kau saja yang terlalu gigih!
Menepis tangannya, aku berjalan ke arah mesin penjual otomatis. Setelah memasukkan beberapa uang koin, aku mengambil dua minuman; jus jeruk dan susu stroberi.
Aku memberikan jus jeruk kepada Shiragami. Tak menunggu lebih lama, aku beranjak ke arah counter. Aku beranjak kembali setelah membeli roti isi.
"Aru-kun! Tunggu!" seru Shiragami dari belakang.
Merepotkan sekali.
Tak menunggunya, aku terus berjalan. Tepat sebelum kakiku mencapai anak tangga pertama, Shiragami menghalangiku.
Sebelum bisa melontarkan protes, dia mengambil tangan kananku lalu menaruh sebuah roti melon di atasnya. Tersenyum senang, dia melepaskan tanganku.
"Bayaran jus tadi," jelasnya.
Aku menghela nafas. Aku sudah menduga ini.
Mengikutiku ke kantin, dia kelelahan, karena kasihan aku membelikan dia minuman, sebagai balasan, dia memberiku roti. Itu sudah menjadi rutinitas selama 1 bulan terakhir ini. Ini sudah melebihi batas menggelikan.
"Shiragami-san, bukankah aku pernah bilang untuk tidak membelikanku roti?" Aku memperlihatkan roti isi di tanganku. "Aku tidak suka membuang-buang makanan."
"Eh? Benarkah? Aku lupa."
Memberikan jawaban santai seperti biasa, Shiragami berjalan menaiki tangga. Di kedua tangannya terdapat dua kaleng jus jeruk dan sebuah roti melon. Aku menghela nafas.
Gadis itu memang aneh.
Meninggalkanku di bawah tangga, dia terus berjalan. Menggumamkan sebuah lagu. Aku tidak tahu judul lagunya.
Memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya lagi, aku menyaku roti melon di saku blazerku. Aku mulai menaiki tangga.
Hanya butuh beberapa menit sebelum aku sampai di depan kelas. Aku menggeser pintu kelas.
"Me-menurutku Arumasu-kun itu cukup baik kok!"
Sampai di kelas, sepertinya aku mendengar sesuatu yang harusnya tidak kudengar.