My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Marah



Orang tua Nazwa termasuk bu Dian masuk kedalam, dan Rafa menunggu di luar. Kayla dipangku papanya.


“Papa, mama kenapa?” tanya Kayla heran karena melihat semua orang menangis.


Rafa tidak dapat menjawab pertanyaan putrinya, dia hanya mengelus kepala putrinya.


“Mama udah meninggal Sayang,” jelas neneknya.


Setelah hampir satu jam, jenazah Nazwa langsung dibawa pulang ke rumahnya dengan ambulance.


“Kita langsung ke sana Rafa?” tanya bu Dian.


“Sebentar ya Bu, Rafa mau telepon Revi dulu, karena Revi sempat mengenal Nazwa.”


Kemudian Rafa menelepon Revi dan menceritakan kalau Nazwa telah meninggal dunia.


“Jadi Mas udah berangkat ke rumah mbak Nazwa belum?” tanya Revi.


“Mas sama neneknya Kayla masih di sini dan sebentar lagi akan kesana.”


“Mas, aku mau ngomong sama mama dulu ya.”


“Oh ya Revi. Kalau kamu nggak bisa ya udah nggak apa-apa, jangan dipaksakan. Mas juga nggak enak sama tunangan kamu,” ucap Rafa.


“Enggak kok Mas. Mas Dandi juga udah pulang.”


Kemudian Revi menjelaskan pada mamanya bahwa mamanya Kayla meninggal dunia dan bu Lusi mengizinkannya untuk pergi melayat. Setelah mendapat persetujuan dari mamanya, Revi langsung menelepon Rafa.


[“Assalamualaikum Revi...”] ucap Rafa dalam teleponnya.


[“Waalaikumsalam Mas. Mas aku ikut ya. Mas sekarang di mana?”]


[“Mas masih di ruang ICU dan ini mau bergerak kesana. Kamu udah diizinkan sama mama?”]


[“Udah Mas. Ya udah aku langsung ke sana ya.”]


[“Iya Revi.”] jawab Rafa.


Tidak lama kemudian Revi pun muncul di hadapan Rafa dan bu Dian. Melihat kedatangan Revi, Kayla langsung lari memeluk Revi.


“Tante....” ucap Kayla berlari mendekati Revi.


Revi langsung mengangkat Kayla dalam gendongannya dan mencium pipinya. Bu Dian dan Rafa hanya bisa tersenyum melihat kedekatan Revi dengan Kayla. Revi terlihat sangat menyayangi Kayla. Tapi sayangnya Revi sebentar lagi akan menikah.


‘Kalau saja Revi belum bertunangan pasti aku akan melamarnya untuk menjadi mamanya Kayla. Terlihat Kayla sangat dekat dengan Revi, beda dengan Surti. Kayla tidak dekat dengan Surti, bahkan sepertinya Kayla tidak menyukai Surti. Tapi dengan Revi, Kayla begitu lengket. Kalau nanti Revi di bawah suaminya, pasti Kayla akan kehilangan,’ batin bu Dian sedih.


Rafa yang sejak tadi memperhatikan kedekatan Revi dengan putrinya merasa sangat sedih karena sebentar lagi Revi akan dibawa suaminya.


***


Sampai di rumah Nazwa terlihat sudah banyak tetangga yang berdatangan. Revi dan bu Dian langsung masuk ke dalam dan duduk di dekat jenazah Nazwa. Terlihat semua yang hadir di ruang itu memperhatikan Kayla. Apalagi saat ibunya Nazwa menyuruh Kayla agar duduk di dekat mamanya.


“Kayla duduk dekat mama ya, Sayang?”


Kemudian bu Dian dan Revi membawa Kayla duduk tepat di samping kepala mamanya.


“Bu, gimana suaminya Nazwa. Apa sudah dikabari?” tanya ibunya Nazwa pada bu Vina dan bu Siti yang kebetulan duduk di dekat ibunya Nazwa.


“Sudah Bu. Tadi sudah ditelepon suami saya, tapi Ibu jangan berharap banyak karena kemungkinan pak Budi nggak akan datang,” jelas bu Vina.


“Sabar Bu... sabar....” Bu Dian langsung menenangkan mantan besannya itu.


“Saya sangat kesal dengan suaminya Nazwa Bu.”


“Ibu banyak istighfar ya. Banyak bersabar, ya mudah-mudahan suaminya Nazwa dibukakan pikirannya,” ucap bu Dian sambil mengelus pundak ibunya Nazwa.


Semua yang hadir di ruang itu ikut menangis sedih. Kedua orang tua Nazwa kelihatannya tampak tegar, walaupun dalam hatinya menangis melihat kondisi anaknya yang telah disia-siakan oleh suaminya.


Setelah keluarga besar Nazwa berdatangan, jenazah Nazwa langsung dimakamkan di kuburan. Kayla bersama Revi berjalan mengikuti keranda jenazah untuk berangkat ke kuburan. Perasaan Revi sangat sedih melihat nasib mamanya Kayla di akhir hayatnya. Walau pun Revi sempat sakit hati karena ucapan Nazwa, tapi melihat jenazah Nazwa yang sudah terbujur kaku rasa sakit hatinya pun hilang. Saat melihat wajah Kayla perasaan Revi sangat sedih.


‘Kasihan kali kamu Kayla. Masih kecil sudah tidak punya mama lagi. Kalau saja aku belum bertunangan dengan mas Dandi, pasti aku akan menjadi mama buat kamu Kayla,’ batin Revi sambil mengelus kepala Kayla.


***


Saat jenazah dimakamkan semua family menabur bunga di atas makamnya, tidak terkecuali Kayla.


“Taburkan bunga ini di atas makam mama, Sayang,” ucap Revi sambil memberikan bunga ke tangan Kayla.


Kayla langsung menabur bunga itu di makam mamanya. Hati Revi sangat sakit saat melihat Kayla yang tampak begitu tegar menaburkan bunga di atas makam mamanya. Revi tidak dapat membendung air matanya. Dia membayangkan, seandainya Kayla adalah dirinya maka betapa sakit dan hancurnya hatinya saat ditinggal pergi oleh mama kandungnya.


Begitu ustadz selesai membacakan doa, terlihat langit langsung mendung dan semua orang yang mengantarkan jenazah Nazwa buru-buru pulang mengingat sebentar lagi akan turun hujan. Revi langsung menggenggam tangan Kayla dan membawanya pulang ke rumah Nazwa. Kebetulan jarak kuburan dengan rumah Nazwa tidak terlalu jauh.


“Kayla, papa gendong ya?” Tiba-tiba Rafa sudah berada di belakang Revi.


Revi langsung menoleh ke arah Rafa.


“Iya Mas, Kayla gendong aja. Kasihan dia,” ucap Rafa.


“Anak papa capek ya?” tanya Rafa saat mengangkat Kayla dalam gendongannya.


Kayla hanya menganggukkan kepalanya.


“Makasih banyak ya Revi karena sudah merepotkan kamu,” ucap Rafa.


“Nggak apa-apa Mas,” jawab Revi.


Kemudian mereka berjalan pulang bersama family dan tetangga menuju ke rumah Nazwa.


***


Begitu sampai halaman rumah Nazwa, terdengar suara ribut dari dalam rumahnya. Rafa langsung panik ketika melihat ibunya keluar dari rumah Nazwa sambil terburu-buru. Begitu melihat kedatangan Rafa, bu Dian langsung memanggilnya.


“Rafa... cepat kemari....” panggil bu Dian.


Rafa langsung menurunkan Kayla dan memberikannya pada Revi.


“Kayla sama tante dulu ya?” ucap Rafa dan langsung menemui ibunya.


“Ada apa Bu?” tanya Rafa heran.


“Ayo masuk. Itu suaminya Nazwa marah-marah,” jelas bu Dian.


“Tapi kan Rafa udah nggak ada hubungannya dengan Nazwa, Bu?”


“Iya, tapi ibunya Nazwa memanggil kamu.”


Karena merasa dipanggil bekas mertuanya, akhirnya Rafa pun masuk ke dalam. Sampai di dalam terjadi perdebatan antara pak Budi dengan orang tua Nazwa. Beberapa tetangga juga ada di dalam mendengarkan pembicaraan yang cukup panas itu. Pak Budi yang baru saja tiba langsung marah-marah dan tidak terima dengan pemakaman jenazah Nazwa yang begitu cepat tanpa menunggu dirinya. Pak Budi juga tidak menganggap orang tua Nazwa sebagai mertuanya. Hal ini membuat kedua orang tua Nazwa merasa sedih dan nggak sanggup beradu mulut dengan suaminya Nazwa yang sombong dan angkuh.