
Dandi pulang, Revi masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu menangis kesal mengingat kejadian yang baru saja terjadi di luar pemikirannya. Dia sangat takut ketika Dandi mendekatinya. Yang terbayang dalam pikiran Revi, Dandi akan berbuat yang lebih dalam lagi. Apalagi saat ini di rumah Revi hanya ada dia seorang, sedangkan mama dan papanya masih di rumah sakit.
Kalau seandainya tadi Dandi berbuat lebih dalam lagi, Revi sudah bertekad menjerit untuk meminta pertolongan. Walau pun Dandi adalah calon suaminya, tapi Revi tidak memberi kesempatan pada Dandi untuk melakukan perbuatan yang akan merenggut kesuciannya.
‘Aku sepertinya nggak yakin akan bisa menjadi istri mas Dandi. Mas Dandi kelihatan sangat egois dan mas Dani juga kelihatan mata keranjang. Begitu melihat wanita, sepertinya mau menerkam saja. Gimana kalau aku nanti sudah menjadi istrinya. Beda dengan mas Rafa yang sangat lembut terutama saat berbicara. Nada bicara mas Rafa sangat lembut dan tutur katanya juga sopan. Tapi mas Dandi tidak. Kenapa aku bisa dipertemukan dengan pria seperti mas Dandi, bahkan sebentar lagi akan menjadi suamiku. Tapi aku nggak boleh menyesali keputusan yang telah aku tentukan untuk menerima mas Dandi sebagai suamiku. Mungkin ini adalah jodoh yang terbaik buat diriku yang telah diberikan Allah padaku. Mudah-mudahan mas Dandi bisa menjadi imam bagiku nantinya,’ batin Revi sedih.
Revi yang awalnya ragu dengan sikap Dandi, tapi dia berusaha untuk kuat dan tegar agar hatinya tidak kecewa. Dia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.
***
Rafa langsung masuk ke dalam rumahnya menemui Kayla yang sedang bermain dengan Surti di depan TV. Surti yang sengaja mencari simpati majikannya berusaha sayang dan perhatian pada Kayla saat Kayla bermain di depan TV. Surti menemani Kayla bahkan dia ikut bermain masak-masakan. Tentu hal ini membuat Kayla merasa senang karena punya teman bermain sama seperti ketika dia bermain di rumah Revi. Revi selalu menemaninya bahkan ikut bermain bersama Kayla. Saat ini Surti juga melakukan hal yang sama yang membuat Kayla merasa senang.
“Kenapa Kayla belum bobok juga?” tanya Rafa ketika melihat anaknya sedang asyik bermain.
“Nanti ya Pa, Kayla main dulu sebentar aja.”
“Jangan lama-lama ya Sayang.”
Rafa memperhatikan Kayla bermain dan kemudian dia duduk di sofa sambil membaca koran. Surti yang bermain bersama Kayla sengaja mencari simpati majikannya. Dia tidak segan duduk di ambal bersama Kayla dengan pakaian yang pendek dan ketat. Bahkan cara duduknya sengaja dibuat supaya Rafa tergoda. Karena bajunya pendek, maka ketika duduk di ambal pahanya yang mulus terlihat jelas. Begitu juga dengan belahan bajunya bagian depan. Belahan dadanya terlihat jelas karena Surti sering menunduk saat bermain masak-masakan dengan Kayla. Dia sengaja mengambil posisi menghadap ke arah Rafa yang sedang membaca koran.
Saat Rafa melihat ke arah Kayla tanpa sengaja penampilan Surti yang menggoda terlihat. Hal ini membuat Rafa merasa risih dan malu sendiri, sedangkan Surti kelihatan sejak tadi banyak tersenyum dan mencuri pandang pada majikannya. Rafa dapat merasakan kalau Surti berusaha menggodanya.
Akhirnya Rafa yang tidak tahan dengan kelakuan Surti langsung menegurnya.
“Bi Surti....” ucap Rafa tanpa melihat ke arah Surti.
“Ya Pak...” jawab Surti tersenyum.
“Apa Bibi nggak punya baju yang lebih sopan lagi?”
“Maksud Bapak gimana?” tanya Surti pura-pura bodoh.
“Maksud saya, Bibi itu kalau pakai baju yang sopan dikit donk. Kan nggak enak dilihat orang, apalagi saya di sini seorang duda. Bagaimana tanggapan tetangga di sini kalau melihat penampilan Bibi seperti ini,” ucap Rafa tanpa melihat ke arah bi Surti.
Surti langsung merasa malu sehingga wajahnya merah padam. Dia tidak menyangka kalau akan mendapat teguran dari majikannya. Yang dibayangkan dalam pikirannya, dengan penampilan seperti ini maka majikannya akan tergoda tapi sebaliknya. Akhirnya dengan perasaan kecewa dan kesal Surti mengganti pakaiannya.
Tidak lama kemudian Rafa pun berangkat kerja.
“Kayla.... papa berangkat kerja lagi ya?” pamit Rafa sambil mencium pipi putrinya.
Kayla kemudian ikut mengantarkan papanya sampai depan pintu.
“Dah Papa....” ucap Kayla sambil melambaikan tangannya.
Tinggallah Kayla dan Surti di dalam rumah itu. Begitu Rafa berangkat kerja, Surti mulai memasang aksinya kembali. Dia kembali tidak memperdulikan Kayla. Kayla langsung ditinggalkan begitu saja setelah Rafa berangkat kerja. Kayla disuruhnya masuk kamar dan tidur sendiri.
“Enak aja kamu. Bobok sendiri sana.”
Surti menyuruh Kayla agar segera naik ke tempat tidur, tapi Kayla bukannya naik ke tempat tidur. Dia masih berdiri di depan pintu kamarnya.
“Tapi Kayla mau ditemani tante Surti boboknya. Kayla nggak berani bobok sendiri.”
“Dasar anak manja. Dengarkan ya Kayla. Mulai sekarang kamu jangan manja. Papa kamu nggak ada dan nenek kamu juga nggak ada, jadi kamu jangan manja. Kamu harus mandiri.”
“Tapi Tante...” ucap Kayla terputus karena takut melihat wajah Surti saat marah.
Kayla yang masih manja dan merasa takut untuk tidur sendiri di kamar, akhirnya menangis. Melihat Kayla menangis, Surti bukannya kasihan tapi dia semakin marah.
“Kan udah tante katakan, kamu harus mandiri. Ini malah menangis pula,” ucap Surti dan langsung mencubit pantat Kayla.
Kayla semakin menangis dan membuat Surti semakin gila. Melihat Kayla tambah menangis, Surti menambah cubitannya.
“Tante katakan diam, ya diam...” ucap Surti marah.
Akhirnya Kayla langsung naik ke tempat tidur karena takut dicubit lagi oleh Surti.
“Diam.... Diam...” bentak Surti semakin marah.
Akhirnya Kayla pun terdiam. Isak tangisnya tertahan dengan dada yang naik turun menahan tangis yang tidak keluar.
Tidak lama kemudian Kayla yang merasa takut akhirnya tertidur dengan wajah ditutup bantal. Setelah melihat Kayla sudah tertidur, Surti langsung pergi ke warung yang ada di dekat rumah Rafa untuk jajan makanan.
Sudah menjadi kebiasaan Surti ketika Kayla tidak di rumah atau tidur siang, dia sering pergi ke warung untuk jajan makanan.
“Jajan apa mbak Surti?” tanya pemilik warung itu.
“Seperti biasa Bu, jajan buat anak pak Rafa.”
“Untuk Kayla Mbak?”
Surti langsung menganggukkan kepalanya. Kemudian Surti membeli jajanan seperti biasa yang cukup banyak termasuk es krim. Dia selalu mengatakan pada pemilik warung kalau jajanan yang dibelinya untuk Kayla, padahal dia sendiri yang menyantapnya.
Setelah jajanan dimakan semua, tinggallah es krim yang masih tersisa karena Surti sudah kenyang. Kemudian es krimnya dimasukkan ke dalam kulkas. Saat Surti sedang masukkan es krim ke dalam kulkas, Kayla yang baru bangun tidur melihatnya. Kayla langsung meminta.
“Tante, bagi donk es krimnya.”
Surti memberikan es krim itu pada Kayla. Namanya anak kecil pasti semuanya menyukai es krim, termasuk Kayla.