My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Mama untuk Kayla



“Jangan lupa diminum obatnya dan Kayla harus makan yang banyak ya,” ucap Rafa saat akan berangkat kerja.


“Iya Pa. Papa jangan lama kali pulangnya ya?” pinta Kayla.


“Baik Tuan Putri. Papa pergi kerja dulu ya.” Rafa langsung mencium pipi putrinya.


“Da Papa....” ucap Kayla melambaikan tangan pada papanya.


Rafa sambil tersenyum berangkat kerja. Sebelum melajukan kendaraannya, disempatkan untuk melirik ke rumah Revi, tapi Revi tidak terlihat.


Begitu mobil Rafa tidak terlihat dari pandangan, bu Dian langsung mengajak Kayla masuk ke dalam rumah..


“Ayo Kayla, kita masuk biar langsung minum obat,” ajak bu Dian sambil memegang kepala gadis kecil itu.


“Tapi Nek, Kayla mau tempat tante Revi dulu,” pinta Kayla.


“Nanti ya Sayang kalau Kayla sudah minum obat.”


“Benar ya Nek, Nenek jangan bohong.”


“Apa nenek pernah bohong sama kamu Sayang?”


Kayla langsung tersenyum. Terlihat bi Surti sedang sibuk di dapur mencuci piring dan gelas yang kotor.


Setelah selesai minum obat Kayla langsung menagih janjinya. “Nek, Kayla pergi tempat tante Revi dulu ya?”


“Sayang, tante Revi pasti sedang repot.”


“Nggak loh Nek.”


“Nanti aja ya kalau tante Revi sudah nggak repot.”


“Tapi Kayla mau tempat tante Revi, Nek.”


Bu Dian yang merasa segan dengan Revi berusaha untuk mengalihkan perhatian Kayla agar tidak pergi ke rumah Revi. Tapi Kayla tetap ngotot ingin pergi ke sana juga.


“Kalau Kayla pergi tempat tante Revi, jadi nenek sama siapa donk. Nggak ada deh tema nenek,” jelas bu Dian pada cucunya.


“Nenek kan ada bi Surti yang bisa menemani Nenek.”


“Tapi bi Surti sibuk.”


“Bi Surti jangan boleh sibuk lah Nek,” ucap Kayla mengajari neneknya.


Bu Dian hanya tersenyum saja melihat cucunya yang bijak.


“Nek, ayolah kita tempat tante Revi.”


“Ya udah, kalau gitu sebentar lagi ya nenek mau bantuin bi Surti masak dulu.”


“Jangan lama-lama ya Nek.”


“Iya Sayang...” jawab bu Dian.


Kemudian bu Dian langsung pergi ke dapur menemui bi Surti yang sedang menyiangi sayur bayam, sedangkan Kayla bermain boneka di ruang tengah.


Melihat bu Dian muncul di dapur bi Surti langsung bertanya.


“Kita masak apa hari ini Bu?”


“Terserah kamu saja Surti. Kalau ibu nurut aja. Apa yang kamu masak pasti ibu makan,” ucap bu Dian sambil tersenyum.


“Saya juga bingung Bu mau masak apa. Gimana kalau kita masak kesukaan pak Rafa aja Bu.”


“Papa Kayla biasanya suka dimasakkan apa Surti?”


“Pak Rafa sukanya sambal teri campur kacang tanah Bu,” jelas bi Surti.


“Ya udah, itu pun jadi.”


“Tapi sayurnya apa ya Bu?”


“Sayurnya gulai daun ubi aja kesukaan Kayla, dan jangan lupa gorengkan ayam yang ada di kulkas karena Kayla nggak bisa makan pedas,” jelas bu Dian.


“Baik Bu,” jawab bi Surti.


“Oh ya Surti, kamu pernah lihat Papanya Kayla membawa wanita ke rumah ini?”


“Wanita? Saya rasa nggak pernah lah Bu.”


“Oh gitu...” ucap bu Dian sambil manggut-manggut.


“Memangnya kenapa Bu?” tanya bi Surti heran.


“Ibu mau mencarikan jodoh buat Papanya Kayla. Rencananya ibu mau menjodohkannya dengan anak teman ibu yang bernama Dini, tapi Papanya Kayla nggak mau,” jelas bu Dian.


“Kenapa nggak mau Bu?” tanya Surti kepo.


“Alasannya papanya Kayla kurang suka aja.”


“Memangnya Dini itu cantik apa nggak Bu?”


“Kalau menurut ibu sih, cantik orangnya. Tapi papanya Kayla nggak suka, jadi rencananya ibu mau mencarikan wanita lain tapi entah dengan siapa lagi. Siapa ya Surti, ibu pun bingung.”


“Siapa ya Bu.... saya juga bingung. Oh ya Bu, kriteria ibu wanita yang seperti apa kalau boleh saya tau.”


“Bagi ibu kriterianya nggak perlu cantik kali, yang penting sayang sama Kayla. Karena tujuan ibu mencarikan jodoh buat papanya Kayla agar bisa menjadi mama yang baik bagi Kayla sehingga Kayla bisa dekat,” jelas bu Dian.


“Berarti nggak terlalu cantik pun bisa Bu?” tanya bi Surti bersemangat.


“Ya bisa Surti. Bagi ibu yang penting cantik hatinya, bukan cantik luarnya. Cantik pun wajahnya kalau nggak sayang sama Kayla untuk apa.”


“Benar juga kata ibu,” ucap bi Surti.


“Di zaman sekarang ini, banyak wanita yang cantik tapi hanya luarnya saja. Sementara dalamnya enggak.”


“Maksudnya apa Bu?” tanya bi Surti tidak paham.


“Maksudnya, wajahnya cantik tapi hatinya nggak cantik.”


“Kalau janda Ibu mau juga?” tanya bi Surti lagi.


“Nggak masalah bagi ibu. Pokoknya sayang sama cucu ibu. Hanya itu aja Surti.”


Surti langsung tersenyum senang. ‘Berarti ada kesempatan bagi aku untuk mendapatkan pak Rafa. Kalau begitu mulai sekarang di depan bu Dian aku harus berpura-pura sayang pada Kayla. Pasti nantinya bu Dian akan bersimpati sama aku. Pasti nanti bu Dian akan menyuruh anaknya menikahi aku. Walaupun pak Rafa tidak mencintai aku, tapi kalau ibunya memaksa, pasti papanya Kayla gak bisa menolak lagi,’ batin bi Surti senang.


***


Bi Surti langsung memasang aksinya. Dia berpura-pura menyayangi Kayla.


“Sayang, makan sekarang ya biar bibi suapi,” ucap bi Surti saat Kayla sudah selesai mandi.


“Nanti aja Bi nunggu papa Kayla makannya.”


“Kenapa harus nunggu papa, Sayang. Sekarang aja ya. Kayla mau makan apa, biar bibi buatkan,” pinta bi Surti.


“Kayla makan sana sama bi Surti,” pinta bu Dian yang sedang nonton sinetron di TV.


“Kayla mau makan pakai telur dadar Bi,” pinta Kayla.


“Sentar ya biar bibi masakan,” ucap bi Surti langsung pergi ke dapur.


Kemudian bu Dian mendekati Kayla.


“Memangnya Kayla nggak suka ayam goreng?” tanya bu Dian.


“Nek, Kayla mau pakai telur dadar aja.”


“Udah Bu, nggak apa-apa biar saya buatkan,” ucap bi Surti dari arah dapur.


Tidak lama kemudian bi Surti sudah membawakan sepiring nasi berisi lauk telur dadar kesukaan Kayla.


“Sayang, ayo kita makan sekarang.”


Kemudian bi Surti menyuapi Kayla yang sedang asyik bermain masak-masakan. Terlihat bi Surti sangat telaten dan sabar dalam menghadapi Kayla. Kayla jalan ke sana dan kemari dengan menggendong bonekanya, tapi bi Surti kelihatan dengan sabar mengikutinya.


Sebentar Kayla pergi ke teras, bi Surti juga ikut ke teras. Tidak lama kemudian Kayla bermain di ruang tamu dan bi Surti tetap mengikutinya.


Kayla kalau makan tidak langsung dikunyah tapi dihisap-hisap sehingga selesainya lama. Bahkan hampir satu jam terkadang baru selesai. Tapi bi Surti dengan telatan mengikuti ke mana Kayla pergi. Bu Dian yang sejak tadi memperhatikan bi Surti merasa bersimpati. Walaupun dia sedang menonton TV, tapi sebenarnya dia memperhatikan kelakuan bi Surti yang terlihat sabar dan telaten menghadapi Kayla yang terkadang cerewet dan selalu kurang terima.


‘Kenapa aku harus bingung mencarikan jodoh buat Rafa, sementara di sini ada Surti yang terlihat menyayangi Kayla dengan sepenuh hati. Kulihat dulu dalam beberapa hari ini, kalau Surti sayang dan perhatian pada Kayla lebih baik aku ceritakan pada Rafa. Aku yakin Rafa pasti bisa menerima Surti dari pada aku bingung-bingung mencari wanita buat Rafa. Lebih baik Surti aja yang aku jadikan mama buat Kayla,’ batin bu Dian.