My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Bab 2 - Pertemuan II



"Iya, itu aku." Aku menjawab seruan gadis itu. Membuka pintu lebih lebar lalu berdiri di depannya. "Lalu? Apakah kau sudah sampai rumah?"


"Ah, iya. Berkatmu, terima kasih." Gadis itu mengangguk sambil tersenyum senang. Ia menundukkan kepalanya lagi.


"Tak usah dipikirkan. Aku hanya membantu sedikit." Aku mengibaskan tanganku pelan. Sungkan karena terus mendapatkan kata terima kasih.


Bagiku, berterima kasih itu cukup satu kali saja. Lebih dari itu maka bisa merepotkan. Lagipula, jika memang ingin berterima kasih, sebaiknya membalas budi. Ah, iya, gadis ini.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau di sini?" Aku akhirnya menanyakan hal yang penting. Selamat karena tidak membuang-buang waktu, diriku.


"Ah, iya. Ini."


Gadis itu menyodorkan sebuah tas plastik. Dari suara dan baunya. Beras dan ikan. Aku menerimanya.


"Itu hadiah dari Ibuku. Kami baru saja pindah hari ini," jelasnya. "Dari Koriyama."


"Begitu ya." Aku mengangguk mengerti. Kemudian aku baru sadar. "Tunggu, kau pindah ke perumahan ini?"


Gadis itu mengangguk lalu tersenyum. Ia menunjuk ke kanan, ke arah sebuah rumah di samping milikku. "Di situ, tetangga-san."


Aku menghela nafas. Kebetulan macam apa ini? Pengawas dunia pasti sedang bermalas-malasan.


Aku membuka tas plastik itu. Isinya beberapa kilo beras dan sebuah toples dingin yang berisi daging ikan. Oh, beras premium? Rasanya pasti enak.


"Aku akan menaruh ini di kulkas. Silahkan, masuk dulu." Aku membalikkan badanku. Mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam rumahku.


Tidak mungkin aku membiarkan seorang gadis berdiri di luar. Malam musim semi di Atsugi masih terasa dingin. Apalagi dengan angin malam yang agak kencang.


"A-ah, u-un." Gadis itu menjawab agak pelan. "O-ojamashimasu...."


Selagi berjalan ke dapur, aku bisa mendengar gadis bersurai cokelat itu melepas sepatunya. Aku tidak terlalu menghiraukannya dan terus berjalan.


Dapurku berada di bagian belakang rumah. Tinggal berjalan lurus dari pintu depan, melewati tangga, dan belok kanan. Maka kau akan sampai.


Di dapur, aku membuka rak lalu menaruh sepasang kantong beras itu ke dalamnya. Setelah itu, aku juga mengambil toples untuk tempat daging ikan.


"Lengkap sekali ya, dapurmu." Gadis kecil itu berkomentar setelah memasuki dapur. Melemparkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Begitulah, aku suka memasak," jawabku singkat. Menyadari piring dan Karaage yang masih ada di atas meja makan. "Aku baru saja makan malam, maaf tentang itu."


"Ah! Ti-tidak apa-apa kok." Gadis itu mengibas-ibaskan tangannya. "J-justru aku yang minta maaf. Aku mengganggu makan malammu 'kan?"


Aku mengangkat bahuku. Memakai sarung tangan plastik lalu mulai memindahkan daging ikan. "Tak apa. Aku tidak terlalu keberatan."


Lagipula, aku juga mendapatkan beras dan daging ikan kerapu. Kedua-duanya cukup berkualitas. Sebuah keuntungan bagiku.


Besok kurasa membuat Sushi saja.


Setelah memindahkan daging ikan, aku beranjak ke arah wastafel. Berniat mencuci toples milik gadis itu. "Kenapa kau pindah ke sini?"


"Eh? Ah, pekerjaan Paー A-ayahku."


"Oh, begitu." Aku mengangguk. Memutuskan untuk mengabaikan perkataannya tadi. Dengan sebuah putaran, keran air berhenti mengalir.


Setelah membersihkannya dengan sempurna, aku kembali memasukkannya ke dalam tas plastik. Tak lupa, aku mengambil sebuah termos di atas kulkas lalu memasukkannya juga ke dalam tas plastik itu.


"Ini, sekaligus hadiah selamat datang dariku. Panaskan dulu sebelum meminumnya." Aku menyodorkan tas itu.


"O-oh, terima kasih banyak." Gadis itu menerimanya sambil menundukkan kepalanya sedikit. "A-aku akan pulang sekarang."


"Oh, silahkan." Aku kembali mempersilahkan.


Sang gadis berambut panjang berjalan terlebih dahulu. Aku mengikuti tak jauh di belakangnya. Seorang tuan rumah yang sopan harus mengantar tamunya pergi.


Aku berdiri di belakangnya selagi gadis itu memakai sepatunya lagi. Setelah selesai, dia berdiri menghadapku. "Sekali lagi, terima kasih." Dia kembali menundukkan kepalanya.


Aku menghela nafas dalam hati lagi. Terima kasih ke berapa ini? Aku tidak tahu.


"Tentu saja." Aku akhirnya menjawab dengan biasa.


Gadis itu mengangkat kepalanya. Membalikkan badannya seperti hendak pergi. Tapi, belum dua langkah, dia berhenti.


"U-um..." Gadis itu terdengar ragu. Seperti ingin menanyakan sesuatu. Dia kembali membalikkan badannya. Menatap ke bawah, menyembunyikan wajahnya.


"A-aku belum mengetahui namamu."


Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengangkat suaranya. Agak pelan hampir-hampir tidak terdengar. Tertutupi oleh desiran angin malam.


Aku ber-oh kecil. Aku baru sadar. Sepertinya kami belum mengetahui nama masing-masing.


Aku memutuskan untuk memberitahu namaku. "Arumasu Efu. Salam kenal."


Mendengarnya, gadis itu mengangkat kepalanya. Angin bertiup pada saat yang bersamaan. Membuat rambut cokelat panjangnya berkibar mengikuti angin. Sebuah senyum perlahan tercipta di wajahnya.


"A-Aku Shidoki Mia! Senang bertemu denganmu, Arumasu-san."


Aku mengangguk. "Senang bertemu denganmu juga, Shidoki-san."


Shidoki, gadis itu, kembali mengangguk. Dia melambaikan tangannya lalu berjalan keluar. Dengan cepat, dia masuk ke dalam rumahnya.


"Shidoki Mia 'kah?" gumamku kecil. Menoleh ke arah rumahnya.


Apakah dia duduk di bangku SD atau SMP? Untuk gadis seusianya, dia cukup sopan.


Memikirkan hal semacam itu, aku kembali masuk ke rumah. Karaage-ku pasti sudah dingin. Yah, meskipun tinggal satu sih.


❀❀❀❀


Suara alarm berbunyi nyaring. Seperti tahu bahwa volume biasa tidak bisa membangunkan pemiliknya. Sayang sekali, sepertinya dia terlambat.


Aku menekan pelan tombol yang ada di atas jam itu. Langsung menghentikannya. LCD merah menyala menunjukkan waktu; pukul 5:12.


Terlalu pagi? Kurasa begitu. Burung-burung bahkan belum berkicau.


Aku menghela nafas. Yah, aku sudah bangun sejak pukul 5 tepat. Terkadang aku memikirkan berguna tidaknya jam ini.


Terserahlah.


Aku kembali beranjak ke kamar mandi. Kembali menyikat gigiku dan membasuh muka. Tak bagus jika aku kembali tertidur. Sarapan juga belum aku buat.


Ah, hari ini benar-benar sibuk. Seperti hari-hari lainnya.


❀❀❀❀


"Hati-hati," jawabku. Tidak terlalu peduli didengar atau tidak.


Ayumi hampir selalu bangun terlambat. Tapi, ia selalu pertama yang berangkat. Kurasa itu karena diriku yang selalu menyuruhnya agar tidak terlambat.


Menyesap habis kopi putihku, aku menaruh cangkir di wastafel. Pulang nanti, Ayumi akan mencucinya. Saat ini, aku harus berangkat.


Aku menoleh ke arah jam dinding. Jam 7:58. Belum terlambat.


Aku mengambil tasku lalu berjalan keluar rumah. Tak lupa menutup dan mengunci pintu, aku pun berangkat.


Meskipun salju sudah mencair sejak sebulan lalu, udara masih menusuk kulit. Sepertinya suhu dingin ingin tinggal lebih lama lagi.


Ah, terserahlah. Kelas pasti hangat.


Memikirkan pemanas di kelas, tiba-tiba aku langsung bersemangat. Lebih baik daripada di luar sini. Bergidik kedinginan, aku memasukkan kedua tanganku ke dalam blazerku.


❀❀❀❀


Sampai di kelas, aku menghela nafas. Sudah lebih dari setengah penduduk kelas yang sudah berangkat. Berbicara dengan teman masing-masing.


Tak ingin mengganggu, aku menggantungkan tas di sisi mejaku. Menarik kursi, aku pun duduk. Posisi tempat dudukku memang berada dekat di pintu masuk belakang.


Bisa dikatakan aku duduk di bangku pojok belakang. Cukup nyaman. Dekat dengan pemanas di belakang kelas pula.


"Ah, Aru-kun. Ohayou." sapa seseorang, memanggil namaku.


Aku menoleh ke arah suara. Seorang gadis berkacamata menjadi tujuan perhatianku. Di balik kacamatanya, sepasang iris cokelat menatapku lembut. Surai hitam panjang mengalir hingga ke punggungnya. Dihiasi dengan sebuah senyum ramah. Seorang gadis cantik; Mungkin itu bisa menggambarkannya.


"Oh, Ketua. Selamat pagi." Aku gantian menyapanya.


Ketua tersenyum lesu. "Aru-kun, sudah kubilang, panggil saja namaku."


"Oh, benar. Maaf, Shiragami-san."


Mendengar diriku memanggil namanya, gadis itu kembali tersenyum senang. Aku tidak mengerti. Alasan ia senang, maksudku.


Ketua, Shiragami, bagaimanapun aku memanggilnya juga sama 'kan?


Shiori berjalan mendekatiku. Pada saat yang bersamaan, aroma manis mulai merebak. Dari aromanya... Gula? Ah, karamel. Sepertinya itu parfum miliknya.


Aku memutuskan untuk tidak mengatakan apapun. Aneh jika aku tiba-tiba berkomentar tentang parfumnya.


Gadis itu menaruh tasnya di meja di depanku. Duduk di atas kursi dengan anggun, ia menghadap ke samping. Dari tingkahnya saja, seseorang bisa mengerti kalau ia berasal dari keluarga yang bergengsi.


"Hari ini masih terasa dingin ya," kata Shiori membuka percakapan.


"Iya," jawabku singkat. Tidak ingin diganggu.


"Ah, apakah Aru-kun sudah mengerjakan tugas dari Satou-sensei? Soal nomor lima benar-benar sulit ya! Aku memang tidak berbakat dalam Fisika!" Shiragami mulai berbicara tanpa memperhatikan diriku yang tidak ingin diganggu.


Sejak awal semester, Shiragami Fuyumi adalah gadis yang aneh.


Ia terus-menerus mencoba berbicara denganku. Memintaku memanggilnya dengan namanya, berpindah tempat duduk di depanku. Entah apa alasannya. Katanya, itu adalah tugasnya sebagai Ketua Kelas.


Aku tidak mengerti. Apakah itu penting?


"Oh iya, katanya kita akan kedatangan murid baru." Shiragami mengubah topik pembicaraan. "Menurutmu laki-laki atau perempuan?"


Aku mengangkat bahuku. "Aku bukan peramal." jawabku sambil memberikan ekspresi 'kenapa kau bertanya padaku,'


"Ahaha! Benar juga." Shiragami tertawa kecil. Menutupi mulutnya dengan sopan.


Aku bisa merasakan tatapan mata murid laki-laki tertuju kepadaku. Benar-benar berbalik dari tujuanku untuk tidak menarik perhatian.


Tolong berhenti bicara denganku.


Aku menggelengkan kepala. Jika aku mengatakan itu, aku yakin hidupku bisa berakhir konyol. Bukan di tangan Shiragami, tapi laki-laki yang menjadi penggemarnya.


"Ah, Lily-sensei sudah datang. Kita lanjutkan lain kali, Aru-kun." Shiragami langsung menghadap ke depan. Bersiap-siap memimpin hormat.


Lanjut apa? Aku bahkan tidak mendengarkan.


Selesai memberi hormat kepada sang guru, kami kembali duduk. Tak terlalu memperhatikan, aku mengambil buku catatanku di dalam tas.


"Baiklah anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru!" Suara Lily-sensei terdengar menyebalkan seperti biasa.


"Laki-laki atau perempuan, Lily-chan-sensei?"


"Tadi pagi aku melihatmu di kantor! Seorang gadis cantik—ah, bukan! Imut lebih tepat!"


"Oh? Cewek imut ya? Harucchi! Jangan ambil dia tiba-tiba ya?"


"Eh? Kenapa aku?"


"Karena lu itu ganteng, sialan! Jangan pura-pura kenapa?"


Aku menarik buku catatanku. Mencoba menghiraukan keributan dan gelak tawa yang ada di kelas. Murid baru atau lama, kelas ini tetap saja ribut.


Aku tidak mengerti. Apakah hal ini perlu diributkan?


"Sudah, sudah! Daripada penasaran, kenapa kita tidak bertanya kepada orangnya langsung? Ayo, masuk!" Tersenyum lebar, Lily-sensei mengangkat tangannya ke pintu masuk.


Semua orang menoleh ke arah tersebut. Aku tidak terkecuali. Penasaran itu sifat alami manusia.


Seorang gadis memasuki ruangan. Surai cokelatnya tertiup angin yang berasal dari jendela terbuka di seberang ruangan. Ia terlihat familiar.


Setelah beberapa langkah, ia berdiri menghadap ke seluruh kelas. Senyum manis bisa terlihat di wajahnya. Membuatku hampir menggebrak meja.


Aku kembali menghela nafas.


Rute klise macam apa ini?


"Sa-salam kenal, namaku Shidoki Mia. Senang bertemu dengan kalian."


Dan demikianlah, Shidoki memperkenalkan diri.