My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Kayla sakit



Sambil melihat ke layar TV tapi sesekali bi Surti memikirkan majikannya yang sebentar lagi akan pulang ke rumah.


Terlihat Kayla tergolek di sofa yang ada di ruang tengah, sedangkan bi Surti duduk di kursi di samping Kayla. Kayla yang sejak tadi sakit perut hanya bisa merebahkan dirinya di atas sofa itu, sementara bi Surti tidak bisa mengambil tindakan. Dia hanya diam saja dan asik menonton TV tanpa memperdulikan Kayla yang tergolek di dekatnya.


“Bi, perut Kayla sakit,” ucap Kayla memelas.


“Jadi Bibi harus apa!” bentak bi Surti marah.


Kayla pun diam saja hanya menyengir kesakitan.


“Kan udah bibi bilang, kamu tidur aja biar sakitnya hilang.”


“Tapi nggak hilang juga Bi.”


“Entar lagi pasti sembuh. Jangan ganggu bibi, bibi masih nonton nih.”


“Papa lama lagi pulangnya Bi?”


“Mana bibi tau, tanya aja nanti sama papa kamu kenapa lama kali pulangnya,” jelas bi Surti.


‘Pak Rafa kenapa sih belum pulang juga, padahal aku sudah berdandan seperti ini. Sudah wangi lagi tapi pak Rafa belum juga pulang.’


“Bibi....” panggil Kayla lagi.


“Apalagi sih?” jawab bi Surti emosi.


“Kayla tempat tante Revi aja ya Bi?”


“Apa? Kamu mau tempat tante Revi? Memangnya dia itu siapa kamu, mau main ke sana,” ucap bi Surti lagi.


“Tapi Kayla mau main dengan tante Revi, Bi.”


“Sekarang kamu tidur aja, jangan banyak omong. Sekali lagi kamu ngomong, awas ya akan bibi cubit!” ancam bi Surti.


“Tapi Kayla mau kesana Bi.” Kayla pun merengek.


Bi Surti yang tidak sabar mendengar rengekkan Kayla, langsung mencubitnya.


“Kan udah bibi bilang jangan banyak omong. Sekarang tau rasa kan,” jelas bi Surti sambil mencubit pantat Kayla.


Kayla langsung menangis, tapi tiba-tiba terdengar suara kendaraan Rafa memasuki halaman rumahnya. Bi Surti langsung panik kebingungan.


‘Apa yang harus aku lakukan. Gimana kalau pak Rafa tau kalau Kayla baru kucubit. Pasti dia akan marah,’ batin bi Surti bingung.


“Kayla diam... diam ya, itu papa kamu udah pulang. Awas ya jangan ngadu sama papa kamu kalau baru bibi cubit.” Ancam bi Surti yang berjalan ke pintu untuk menyambut majikannya pulang.


Begitu Rafa turun dari mobilnya, bi Surti setengah berlari menghampirinya dan membawakan tas kerja Rafa.


“Gimana Pak, capek?” tanya bi Surti ramah.


“Lumayanlah Bi. Oh ya Bi, Kayla mana?”


“Perutnya Kayla katanya sakit, lalu saat akan saya beri obat dia nangis.”


“Jadi belum minum obat dia?”


“Ya belum Pak. Katanya nunggu Bapak,” jelas bi Surti.


“Kenapa nggak dipaksa aja sih, Bi?” ucap Rafa tergesa-gesa masuk ke dalam menemui putrinya.


Terlihat mata Kayla merah karena habis menangis.


“Kamu kenapa Sayang?” tanya Rafa sambil mengelus kepala putrinya lembut.


“Perut Kayla sakit Pa.”


“Sekarang Kayla minum obat dulu ya Sayang.”


“Kayla nggak mau Pa, obatnya pasti pahit.”


“Kayla mau sembuh nggak?” tanya Rafa.


Kayla pun mengangguk.


Bi Surti langsung berjalan ke dapur untuk mencari obat di dalam kotak obat. Tidak lama kemudian bi Surti membawa obat untuk Kayla dan segelas air putih.


“Sekarang Kayla minum obat ya?” bujuk Rafa.


Kayla langsung menutup mulutnya. “Ngak mau Pa,” ucap Kayla menutup mulutnya.


Bi Surti yang juga mencari simpati Rafa ikut membujuk Kayla. Didekatinya Kayla dan dielusnya kepala Kayla dengan lembut.


“Minum obat ya Sayang,” ucap bi Surti.


Kayla langsung melirik ke arah bi Surti dengan perasaan dendam. Rafa sempat memperhatikannya dan dia merasa heran kenapa Kayla seperti membenci bi Surti.


‘Apa karena saat aku belum pulang dia disuruh minum obat oleh Surti, makanya dia kelihatan marah pada bi Surti,” batin Rafa.


***


Revi yang sedang di kamarnya mendengarkan tangisan Kayla merasa kasihan.


‘Kenapa Kayla sejak tadi menangis aja. Pasti dia sedang dimarahi bi Surti. Atau jangan-jangan dia sedang dipukul bi Surti. Kalau gitu aku harus ke sana menemuinya,’ batin Revi kesal.


Dia pun langsung keluar dari kamarnya dan hendak ke rumah Kayla. Dia berjalan melewati mamanya yang sedang menonton TV di ruang tengah.


“Mau kemana Rev?” tanya bu Lusi melihat Revi buru-buru keluar.


“Revi mau melihat Kayla dulu ya Ma. Sejak tadi Kayla nangis,” jelas Revi sambil berjalan keluar.


Saat sampai dekat tembok pagar rumahnya yang berbatasan dengan rumah Kayla, tiba-tiba Revi melihat Rafa sedang berdiri di teras rumahnya. Keduanya langsung terkejut terutama Revi merasa heran karena Kayla sejak tadi nangis sementara papanya ternyata sudah di rumah.


‘Aku telah berburuk sangka pada bi Surti. Aku pikir Kayla baru dimarahi bi Surti,’ batin Revi.


Revi yang merasa malu ingin membalikkan badannya dan pulang ke rumah, tapi keburu dipanggil Rafa.


“Revi, tunggu!” panggil Rafa yang sudah keluar dari teras rumahnya dan berjalan mendekati Revi.


Revi pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


“Ada apa Mas?”


“Kenapa kamu kok balik lagi. Bukankah kamu mau ke rumah mas?” tanya Rafa heran.


“Maaf Mas. Aku dengar tadi Kayla nangis makanya aku pikir Mas belum pulang dan aku akan menemui Kayla,” jelas Revi.


“Tadi Kayla nangis karena nggak mau dikasih obat oleh bi Surti.”


“Memangnya Kayla kenapa Mas?”


“Dia sakit perut tapi tadi saat mau dikasih obat sama bi Surti, dia nggak mau,” jelas Rafa.


“Oh gitu. Jadi sekarang gimana kondisi Kayla Mas?”


“Sekarang dia sedang tidur karena baru saja minum obat.”


“Ya udah, kalau kamu mau lihat masuk aja,” titah Rafa.


Tiba-tiba bi Surti keluar dan berdiri di teras. Melihat Revi sedang berbincang dengan majikannya bi Surti kelihatan sangat kesal. Raut wajahnya langsung cemberut dengan kening berkerut.


Revi yang ingin melihat Kayla langsung mengurungkan niatnya begitu melihat keberadaan bi Surti yang berdiri di teras memperhatikan Rafa.


‘Bi Surti kelihatannya cemburu melihat kami ngobrol berdua. Sebaiknya aku lebih mesra lagi biar bi Surti semakin kepanasan,’ batin Revi tersenyum.


Revi dan Rafa yang sedang ngobrol sambil berdiri di perbatasan tembok pagar rumah mereka langsung jadi perhatian bi Surti. Dari dalam teras bi Surti kelihatnnya sangat mengamati pembicaraan mereka. Revi sengaja mendekati Rafa sehingga jarak mereka agak dekat. Kemudian nada bicara Revi sangat pelan sehingga Rafa semakin mendekat.


“Mas, kenapa ibu Mas tidak tinggal di sini aja melihat-lihat Kayla,” jelas Revi.


“Memangnya kenapa Rev?”


“Ya nggak apa-apa aja. Hanya biar ada yang ngawasi Kayla jadi waktu makan dan tidur siangnya tertib.”


Rafa hanya terdiam mendengar penjelasan Revi. Dalam hati kecilnya dia menginginkan Revi yang mengawasi anaknya sekaligus mama buat Kayla.