
Revi yang sangat menyayangi Kayla merasa senang saat mengurus Kayla.
“Kayla, kita makan ya biar tante suapin.”
“Kayla bisa makan sendiri Tante.”
“Ya udah kalau bisa makan sendiri, kita makan sama-sama ya,” ucap Revi mengajak Kayla makan di meja makan.
Setelah selesai makan Revi mengajak Kayla pulang ke rumahnya.
“Kayla bobok di rumah ya, biar tante antar.”
“Kayla mau bobok disini aja Tante.”
“Di sini nggak ada susu Kayla. Kalau di rumah kan ada susu jadi Kayla bisa minum susu dulu baru bobok. Lagian nanti kalau papa nelpon gimana?” tanya Revi.
“Kalau nanti papa nelepon, Kayla beritahu kalau tadi tante Surti jahat,” ucap Kayla dengan polosnya.
“Jangan Sayang, jangan ngomong sama papa ya. Tante Surti tadi udah janji sama tante kalau nggak akan jahat lagi Sayang.”
“Bener Tante?” tanya Kayla dengan perasaan senang.
Melihat dari ekspresi Kayla, dia mengharapkan kalau Surti akan berperilaku baik padanya. Revi langsung menganggukkan kepalanya.
“Ya udah Tante, kalau tante Surti nanti nggak jahat lagi Kayla pulang sekarang,” ucap Kayla senang.
“Ayo Sayang biar tante antarkan.”
Revi langsung tersenyum senang melihat Kayla yang begitu senang ketika akan pulang ke rumahnya. Sengaja Revi mengantar Kayla pulang supaya Kayla bisa lebih dekat lagi dengan Surti dan Revi yakin kalau Surti tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
***
Sampai di halaman rumah Kayla, tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Revi langsung menoleh ke arah datangnya suara dan saat dilihat ternyata mobil Rafa. Begitu turun dari mobil Rafa langsung berjalan mendekati Revi bersama Kayla sambil tersenyum ramah.
“Udah pulang Mas?” tanya Revi.
“Belum Revi, mas pulang sebentar mau lihat Kayla.”
“Papa....” ucap Kayla mendekati papanya.
Rafa langsung mengangkat Kayla dalam gendongannya dan kemudian diciumnya pipi Kayla. Setelah itu Kayla langsung diturunkan.
Tidak lama kemudian Surti muncul di depan pintu.
“Kayla dari mana Sayang?” tanya papanya.
“Kayla tadi main tempat tante Revi, Pa,” jelas Kayla.
“Ya udah Kayla masuk sana minta buatkan susu sama tante Surti biar langsung bobok,” ucap Rafa.
Kayla kemudian melihat ke arah Surti seperti ada rasa takut. Tapi Surti yang pintar bersandiwara pura-pura menyayangi Kayla.
Didekatinya Kayla sambil berkata. “Kayla Sayang... ayo kita masuk biar tante buatkan susu,” ucap Surti ramah.
Revi maupun Rafa langsung melihat Surti yang sedang menggandeng tangan Kayla masuk ke dalam. Pandangan Rafa maupun Revi tertuju pada baju Surti yang begitu ketat dan pendek. Selama bu Dian ada di rumah Rafa, Surti selalu berpakaian sopan. Dia selalu memakai daster yang panjangnya di bawah lutut, tapi hari ini dia memakai daster yang pendek di atas lutut serta tidak berlengan membuat ketiaknya kelihatan. Revi yang melihatnya merasa malu sendiri, sedangkan Rafa juga merasa risih melihatnya. Dia juga malu pada Revi.
Setelah Surti dan Kayla masuk ke dalam tinggallah Rafa dan Revi yang masih berdiri di teras.
“Gimana papa, jadi hari ini pulang?” tanya Rafa.
“Rencana iya Mas. Mungkin jam tiga sampai sini,” jelas Revi.
“Siapa yang jemput?”
“Kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk ngomong sama mas ya. Selagi mas masih bisa bantu, ya mas bantu.”
“Iya Mas makasih.”
“Ayo masuk dulu Revi biar enak ngobrolnya di dalam.”
“Nggak usah Mas, aku mau buru-buru pulang.”
Terlihat Rafa sejak tadi memperhatikan Revi, membuat Revi jadi salah tingkah sehingga dia buru-buru ingin pulang.
“Udah ya Mas, aku permisi mau pulang dulu,” ucap Revi dan membalikkan badannya.
“Revi....” panggil Rafa sambil menarik tangan Revi.
Revi langsung menoleh ke arah Rafa saat yang bersamaan tiba-tiba mobil Dandi sampai di halaman rumah Revi. Dari jauh Dandii melihat jelas kedekatan Revi dengan duda tetangganya itu. Dandi merasa cemburu sehingga dia menekan klakson mobilnya membuat Revi dan Rafa langsung terkejut dan melihat ke halaman rumah Revi.
Melihat Dandi yang keluar dari mobilnya, keduanya seperti maling yang tertangkap basah. Rafa buru-buru melepaskan tangan Revi.
“Itu calon suami kamu datang,” ucap Rafa saat melepaskan tangan Revi.
“Udah dulu ya Mas, aku mau pulang,” ucap Revi berjalan pulang ke rumahnya.
Rafa hanya bisa melepas kepergian Revi dengan perasaan cemburu. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan sakit ketika melihat orang yang dicintainya dekat dengan pria lain.
Untuk menghindari rasa yang lebih sakit lagi, Rafa buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Revi langsung berdiri di depan teras menunggu kedatangan Dandi yang sedang berjalan mendekatinya.
“Revi, ngapain si duda itu pegang tangan kamu tadi,” ucap Dandi saat sudah berdiri di depan Revi.
Revi hanya diam saja tidak dapat menjawab karena dia sendiri tidak tau niat dari Rafa untuk menarik tangannya tadi.
“Kenapa Revi pertanyaan mas gak dijawab.”
“Aku juga nggak tau Mas, karena mas Rafa belum sempat cerita tiba-tiba Mas tadi datang. Tadi saat aku akan membalikkan badan mau pulang, tiba-tiba mas Rafa menarik tangan aku. Mungkin ada yang akan dikatakan,” jelas Revi membela diri.
“Tapi kan tidak harus megang tangan kamu. Atau jangan-jangan kalian punya hubungan khusus ya.”
Revi langsung menatap wajah Dandi dengan ekspresi marah karena dia tidak terima telah dituduh yang bukan-bukan.
“Mas jangan asal menuduh aku ya. Aku nggak pernah ada hubungan apa-apa dengan mas Rafa, apalagi sebentar lagi kita akan menikah.”
“Tapi kalau mas perhatikan, kamu lebih mementingkan duda itu dari pada aku calon suami kamu.”
“Mementingkan gimana maksudnya. Bukankah selama ini kalau mas Dandi mengajak aku, aku nggak pernah menolak, kecuali saat Kayla sakit semalam itu,” jelas Revi.
“Artinya kamu lebih mementingkan mereka dari pada aku. Buktinya kamu rela membatalkan rencana kita hanya karena Kayla yang sedang sakit.”
“Mas jangan egois donk.”
“Yang egois itu siapa, bukankah kamu yang egois,” ucap Dandi.
“Percuma ngomong sama Mas, karena Mas nggak tau perasaan aku.”
“Aku tau perasaan kamu bahwa kamu dan si duda itu menjalin hubungan.”
“Udahlah Mas, aku nggak mau berdebat sama kamu.”
Revi langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah dan kemudian Dandi ikut menyusul di belakangnya. Begitu sampai ruang tamu, Dandi langsung menarik Revi dalam pelukannya. Revi berusaha untuk melepaskan pelukkan Dandi yang begitu erat.
“Lepaskan Mas, lepaskan....” ucap Revi ketakutan.
Dandi bukan melepaskannya tapi dia tersenyum melihat Revi ketakutan. Dandi begitu gemas melihat wajah Revi yang begitu ayu dan polos. Tidak seperti teman-teman wanita Dandi lainnya terutama teman kuliahnya yang di luar negeri terlihat sangat agresif. Jauh berbeda dengan Revi yang begitu polos. Hal ini membuat Dandi kurang bernafsu. Sedangkan teman-teman wanita Dandi yang pernah dipacarinya begitu agresif pantang ada kesempatan langsung menggoda, membuat Dandi langsung bernafsu. Sedangkan Revi terlihat kaku sehingga Dandi langsung melepaskannya karena Dandi lebih senang dengan wanita yang agresif dari pada yang masih lugu seperti Revi. Begitu Revi dilepaskan, Dandi pun tersenyum puas karena telah membuat Revi ketakutan.