My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Kemarahan Budi



Nazwa tidak pernah menyukai sifat dan kelakuan suaminya, tapi Nazwa tidak bisa berbuat apa-apa karena suaminya sayang padanya.


Hanya saja sedikit temperamen dan suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga.


Hal itulah yang selalu dijaga Nazwa jangan sampai suaminya memukulnya. Di depan suaminya Nazwa terlihat bahagia dengan selalu memberikan senyum manisnya. Padahal di dalam hatinya yang paling dalam dia merasa tertekan dengan kehidupan yang sekarang ini.


***


Selesai magrib Nazwa langsung membereskan makan malam buat suaminya. Terlihat Budi masih asik menonton TV. Nazwa langsung mendekatinya. “Mas, ayo makan sekarang.”


Sambil tersenyum Budi merangkul pundak istrinya dan menuju ke meja makan. Di meja makan sudah terhidang makanan kesukaan Budi. Setiap Budi pulang ke rumah Nazwa, dia selalu minta di masakan ayam bakar. Sehingga Nazwa selalu menyediakan ayam di kulkas untuk mengantisipasi kalau Budi tiba-tiba pulang ke rumah seperti malam ini. Terlihat Budi sangat lahap memakannya.


Selesai makan malam, Budi mengajak Nazwa ke mall.


“Sayang, kita ke Thamrin Plaza yo,” ajak Budi. Budi mau mencari reket bulutangkis.


Sampai di mall Budi dengan mesra menggandeng pundak istrinya menaiki eskalator. Keduanya menuju ke lantai lima tempat stand baju dan peralatan olahraga. Budi langsung memilih-milih raket bulutangkis, sedangkan Nazwa berjalan keliling di area itu.


Tiba-tiba tanpa sengaja Nazwa melihat Rafa sedang menggandeng Kayla. Di belakang mereka berjalan Surti yang merupakan asisten rumah tangga Rafa. Mereka sedang berjalan menuju stand pakaian anak. Nazwa dari kejauhan hanya memperhatikan saja. Perasaannya sangat sakit dan cemburu melihat kedekatan Rafa dengan pembantunya itu.


‘Bukankah itu bi Surti. Kenapa kelihatannya mereka sangat dekat. Sepertinya ada hubungan spesial di antara bi Surti dan mas Rafa. Bi Surti mengatakan kalau Revi menggoda mas Rafa, tapi sepertinya bi Surti yang menggoda mas Rafa. Buktinya bi Surti terlihat sangat dekat dengan mas Rafa,’ batin Nazwa heran.


Nazwa terus memperhatikan kelakuan Surti yang berusaha mencari simpati Rafa. Tiba-tiba saja Rafa dan Kayla pergi menjauh dari Surti.


Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Nazwa. Dilirik suaminya sedang asyik memilih milih raket, dan mendekati Surti.


Surti sangat terkejut, dan tanpa banyak bicara Nazwa langsung menarik tangan B Surti, membawanya jauh keluar


“Apa maksud kamu dekat-dekat dengan mas Rafa.”


“Memangnya kenapa, Mbak?” tanya Surti pura-pura bodoh.


“Dasar kamu wanita murahan. Kamu katakan kalau Revi yang menggoda mas Rafa, padahal kamu lah yang telah menggodanya” ucap Nazwa penuh emosi.


“Memangnya kenapa Mbak?” tanya Surti seperti tidak bersalah.


“Dasar kamu itu wanita penggoda. Kamu sengaja mengkambing hitamkan Revi, padahal kamu sendiri yang berusaha menggoda mas Rafa.”


“Memangnya apa urusan Mbak dalam hal ini?” ucap Surti sambil tersenyum sinis.


Nazwa menghentikan omelannya karena sang suami memanggilnya.


“Sayang...”


"Eh, Iya mas.."


"kamu darimana?"


"Nggak ada mas, sudah selesai?"


"Sudah," sahut Budi


“Siapa wanita itu Sayang?”


“Oh, itu. Tadi wanita itu nanya stand pakaian dalam,” jelas Nazwa bohong.


“Oh, gitu. Aku pikir teman kamu.”


“Nggak kok Mas,” jawab Nazwa.


***


Setibanya di rumah, Nazwa menemani suaminya menonton TV. wanita itu mengantuk dan tertidur di sofa.


Kemudian Budi melanjutkan menonton lagi. Dia menonton film action. Tapi saat asik sedang menonton, Budi mendengar Nazwa mengigau memanggil nama Kayla.


“Kayla... Kayla... ini mama Sayang...” ucap Nazwa pelan.


Budi kaget dan memperhatikan istrinya, pria itu menajamkan telinganya mendengar sekali lagi, Ternyata apa yang didengar Budi tidak salah. Nazwa baru saja menyebut nama Kayla.


"Kayla, siapa dia?"


Budi yang merasa telah dibohongi Nazwa tidak sabar. Dia langsung membangunkan Nazwa dengan kasar hingga Nazwa terbangun.


Nazwa membuka matanya, dia terkejut saat melihat suaminya menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.


“Ada apa Mas?” tanya Nazwa ketika sudah membulatkan matanya sempurna.


“Siapa Kayla? dan apa hubungannya denganmu?"


"Kayla siapa mas?"


"jangan bohong, kau memanggilnya di dalam tidurmu! dia puteri mu kan?"


“Mengigau...” tanya Nazwa heran.


“Iya, kamu baru saja mengigau menyebut nama Kayla. Sekarang jawab dengan jujur. Siapa Kayla itu?”


Nazwa pucat, dia ketakutan.


Selama ini Nazwa menutupi pada suaminya kalau dia telah melahirkan seorang anak. Dia mengaku pada Budi bahwa dia tidak pernah melahirkan seorang anak. Sengaja dia melakukan hal itu supaya Budi mau menerimanya. Nazwa tau bahwa Budi hanya mau menikah pada wanita yang tidak bisa mempunyai anak, karena Budi telah mempunyai 5 orang anak pada pernikahannya dengan istri yang pertama.


Budi pernah bercerita pada Nazwa bahwa dia akan menikah lagi karena istrinya sudah sakit-sakitan dan salah satu syaratnya adalah wanita itu tidak bisa memberikan keturunan dalam arti mandul. Nazwa yang mengaku pada Budi bahwa dia pernah menikah dan tidak mempunyai anak membuat Budi bersimpati dan langsung mengajaknya menikah. Tapi ternyata bangkai yang disimpan akan tercium juga. Itulah yang sedang dihadapi Nazwa saat ini.


Nazwa merasa sangat takut karena kebohongannya telah diketahui suaminya. Apalagi Nazwa tau sendiri bagaimana kelakuan suaminya ketika mengetahui dibohongi.


“Ayo cepat katakan sejujurnya,” bentak Budi.


Nazwa yang mendengar bentakkan suaminya, badannya langsung gemetaran karena takut.


“Maafkan aku Mas karena telah membohongimu. Semua ini kulakukan karena...”


Tiba-tiba ucapan Nazwa terputus karena tangan kekar Budi langsung menampar pipinya.


“Ampun Mas... ampun... Maafkan aku.”


Budi yang sudah terbakar emosi tidak menghiraukan tangisan istrinya. Bahkan dia melakukan hal yang lebih kejam lagi. Tangan Nazwa langsung ditarik dan di bawahnya keluar. Sampai di depan pintu, tubuh Nazwa langsung diterjang oleh kaki Budi sehingga terpelanting sampai ke halaman rumahnya. Budi kemudian masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Nazwa yang sudah dalam keadaan tidak berdaya hanya bisa pasrah. Badannya lemas karena dihempas sekuatnya oleh suaminya dan mengeluarkan darah dari hidungnya. Dia hanya bisa mengerang kesakitan. Nazwa sudah pasrah dengan nasibnya saat itu.


Budi yang sangat marah langsung pergi dan meninggalkan Nazwa yang masih tergeletak di halaman rumahnya.


Tidak lama kemudian salah seorang tetangganya yang bernama bu Vina akan pergi ke warung melihat Nazwa tergeletak di halaman rumahnya. Dia langsung berlari mendekatinya.


“Bu Nazwa... Bu Nazwa kenapa?” ucap bu Vina mengguncangkan tubuh Nazwa.


Nazwa antara setengah sadar. Dia hanya menoleh sebentar dan kemudian menutup matanya lagi.


“Ya Allah, kenapa bu Nazwa seperti ini. Siapa yang melakukan ini Bu?”


Nazwa tidak dapat menjawab karena badannya sakit semua. Hanya air mata yang keluar mewakili perasaannya. Bu Vina berusaha mendudukkan Nazwa tapi karena tubuh bu Vina kecil sehingga tidak dapat memangku punggung Nazwa. Akhirnya bu Vina pun menjerit minta pertolongan.


Tidak jauh dari rumah Nazwa terdapat sebuah warung sehingga orang yang berada di warung itu berdatangan.


“Ada apa bu Vina?” tanya salah seorang warga saat sudah tiba di lokasi.


Begitu melihat kondisi Nazwa semuanya pun terkejut.