My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Nazwa



Surti yang memang sudah kesal pada Deni, emosinya langsung memuncak.


“Memangnya kamu pikir aku wanita apa, wanita murahan?”


“Bukan gitu Sayang. Bukan maksud aku seperti itu.”


“Tapi kamu sepertinya menyuruh aku untuk menjual diri. Ternyata aku salah selama ini menilai kamu Den. Kamu rela kalau aku dekat dengan pak Rafa, bahkan kamu meminta aku agar lebih agresif. Itu semua hanya karena uang. Aku menyesal telah masuk ke perangkapmu Den.”


“Sayang, bukan seperti itu maksud aku,” bela Deni.


“Udahlah Deni, aku udah tau semua akal busuk kamu. Aku sekarang baru sadar ternyata kamu sengaja mau memanfaatkan aku. Kamu nggak pernah mencintai aku,” ucap bi Surti emosi dan langsung bangkit dari duduknya dan ingin meninggalkan Deni, tapi keburu tangannya ditarik Deni.


“Tunggu Sayang, tunggu. Kamu jangan marah dulu.”


“Lepaskan Den, aku sudah muak dengan kelakuan kamu,” ucap bi Surti sambil menepis tangan Deni.


Deni langsung mengejarnya sehingga orang yang ada di sekeliling mereka melihatnya sambil bertanya-tanya. Begitu keluar dari cafe, Deni langsung menarik tangan bi Surti tapi langsung ditolak bi Surti lagi.


“Tunggu Sayang, sabar ya. Maafkan aku.”


Tapi bi Surti yang sudah terlanjur emosi tidak mau mendengarnya. Dia langsung pergi meninggalkan Deni.


“Sayang.... tunggu!” panggil Deni sambil mengejar bi Surti.


Bi Surti tetap berjalan terus.


“Sayang..... tunggu makanan kita belum dibayar itu.”


Bi Surti yang sudah muak melihat wajah Deni langsung mengambil uang dalam saku celana panjangnya sebesar seratus ribu dan langsung mencampakkan di depan Deni.


“Ini uangnya sekarang bayar tapi jangan pernah lagi temui aku,” ucap bi Surti buru-buru pergi.


Deni langsung mengambil uang tersebut yang terjatuh di tanah. Sampai di pinggir jalan besar bi Surti langsung memesan go-jek untuk pulang ke rumah. Dia sangat kesal dengan kelakuan Deni yang baru terlihat belangnya.


Bi Surti mulai sadar bahwa dia telah dimanfaatkan Deni untuk keperluan pribadinya. ‘Kenapa aku begitu bodoh di peralat oleh Deni. Ternyata selama ini dia tidak mencintai aku. Dia hanya mau uangku dan memanfaatkan aku supaya aku dapat menghasilkan uang walaupun harus mengorbankan harga diriku. Aku menyesal telah mengikuti semua keinginan Deni.


***


Sampai di rumah bi Surti membantingkan tubuhnya di atas kasur. Hatinya kesal dan perasaannya sangat sakit melihat keburukan perilaku Deni. Dia menyesali akan kesepakatan yang telah dibuatnya bersama Deni. Saat ini bi Surti baru menyadari bahwa Deni hanya memanfaatkan saja.


Hal ini membuat bi Surti sangat kecewa dan marah. Apalagi bi Surti baru mengetahui kalau Deni mata keranjang, tidak bisa melihat wanita cantik.


‘Mulai saat ini aku harus bisa mengambil hati pak Rafa. Semua ini kulakukan karena aku mulai mencintainya. Aku tidak mau memanfaatkan pak Rafa hanya karena uang. Aku melakukan semua ini karena bukti cintaku padanya dan aku akan berusaha untuk mendapatkan hatinya sehingga aku bisa dijadikan istrinya kelak.’


Tidak lama kemudian ponselnya bi Surti berbunyi. Begitu dilihat panggilan masuk dari Deni, bi Surti langsung meletakkan ponselnya lagi di atas kasur. Dia malas untuk mengangkatnya karena perasaannya masih sangat sakit dan kecewa.


‘Aku nggak akan mau mengangkat telepon Deni lagi.’


***


Setelah hampir satu jam Revi dan mamanya menjenguk Kayla, mereka pamit akan pulang, tapi tiba-tiba dilarang Kayla. Kayla menangis tidak mau ditinggal oleh Revi.


Bersamaan dengan itu Rafa mendapat telepon dari kantor di mana dia harus pergi karena ada hal penting yang tidak bisa ditinggalkannya. Rafa langsung menghubungi bi Surti agar mau menggantikannya untuk menjaga Kayla. Tapi saat dihubungi ternyata ponsel bi Surti mati membuat Rafa semakin bingung. Dia ingin menyuruh Revi menggantikannya menjaga Kayla tapi dia sungkan.


Bu Lusi dan Revi yang melihat Rafa seperti bingung langsung bertanya.


“Ada apa mas? Kenapa kok sepertinya bingung?” tanya Revi heran.


“Mas mau ke kantor sebentar, tapi saat menghubungi bi Surti ponselnya sedang tidak aktif.”


“Ya udah nak Rafa, kalau mau ke kantor sekarang biar Revi tinggal aja dulu nemani Kayla sampai urusan nak Rafa selesai,” ucap bu Lusi.


Akhirnya Rafa pun menyetujui. “Kalau begitu, saya pamit dulu ya Bu, Revi. Makasih sebelumnya ya,” ucap Rafa buru-buru.


Tidak lama kemudian bu Lusi pun pamit pulang.


“Kayla, eyang pulang dulu ya. Kamu di sini sama tante Revi dulu nunggu sampai papa pulang dari kantor. Kayla cepat sembuh ya, jangan lupa obatnya diminum dan makan yang banyak.”


Bu Lusi langsung mencium gadis kecil itu dan akhirnya pergi. Tinggallah Revi dan Kayla di kamar itu.


“Perut kamu masih sakit Sayang?” tanya Revi.


Kayla langsung menggelengkan kepalanya. Terlihat Revi sangat menyayangi gadis kecil itu. Berulang kali dielusnya kepala Kayla. Kayla pun merasa bahagia mendapat kasih sayang yang tulus dari Revi.


Setelah mendapat belaian lembut dari Revi, Kayla langsung tertidur. Tangan kanannya terpasang selang infus sedangkan tangan kirinya memegang tangan Revi erat seakan tak mau dilepaskan.


***


Tidak lama kemudian bi Surti terbangun dari tidurnya. Begitu bangkit dari tidurnya langsung diraihnya ponsel yang ada di meja dekat ranjangnya. Dia langsung menghidupkan ponsel. Tiba-tiba dia ingat akan Nazwa mama kandungnya Kayla.


‘Mbak Nazwa aku kasih tau apa nggak ya? Kalau aku kasih tau mbak Najwa akan ketemu dengan pak Rafa. Lalu bagaimana kalau pak Rafa masih menyukainya, pasti mereka akan rujuk kembali. Aku harus mencegahnya agar mereka jangan kembali. Aku harus bisa mendapatkan pak Rafa. Tapi tak mungkin mereka rujuk lagi, karena yang aku tau pak Rafa sangat membenci mantan istrinya itu. Biarlah mbak Nazwa aku kasih tau aja kalau Kayla masuk rumah sakit. Aku yakin pak Rafa nggak akan mencintainya lagi,’ batin bi Surti bimbang.


Akhirnya bi Surti menelepon mamanya Kayla dan mengatakan bahwa Kayla masuk rumah sakit. Saat Nazwa menerima telepon itu, suaminya sedang ada di di rumah dan sedang duduk di sampingnya.


“Ada apa Sayang, siapa yang nelpon barusan.


Nazwa langsung gugup. Dia bingung harus jawab apa.


“Ini Mas, teman aku anaknya masuk rumah sakit jadi aku akan menjenguknya sekarang.”


“Ya udah ntar biar Mas antar ya,” tawar suaminya.


Nazwa langsung bingung karena dia takut kalau suaminya tau bahwa dia telah memiliki anak sebelumnya. Sejak awal menikah dengan suaminya yang sekarang Nazwa telah berbohong dan mengatakan kalau dia belum pernah melahirkan anak.