My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Bab 6 - Jangan Remehkan Meriam Kaca!



Selesai membersihkan kelas, aku merapikan kembali peralatan kebersihan. Murid-murid lain yang mendapat tugas piket sudah pulang. Bukan berarti aku ditinggal, tapi karena mereka sudah menyelesaikan bagian mereka.


Iya, benar. Aku tinggal karena aku rajin.


Meyakinkan diri bahwa aku lebih berjasa daripada mereka, aku mengangguk. Aku menutup loker yang menjadi tempat peralatan kebersihan kelas. Papan tulis sudah dibersihkan, kelas sudah dipel dan disapu, jendela sudah mengkilap. Sudah selesai tugasku di sini.


Aku berjalan ke tempat dudukku. Tasku masih ada di tempat di mana aku meninggalkannya. Aku memanggulnya lalu berjalan keluar kelas.


Meninggalkan gerbang sekolah, langit sudah berubah warna. Oranye kini memenuhi kanvas yang awalnya berwarna biru. Bagiku, ini hanyalah kondisi alam yang biasa. Tidak ada gunanya menjadi sentimental gara-gara langit.


Memikirkan seperti itu, aku terus berjalan. Hari ini Ayumi yang memasak, jadi aku tidak terlalu terburu-buru.


Ah, ngomong-ngomong tentang Ayumi. Bukankah ia mengirimiku pesan?


Aku mengeluarkan ponselku. Menyalakannya, aku disapa notifikasi-notifikasi biasa. Twitter, Youtube, pesan masuk, dan sebagainya.


Namun, ada satu hal yang menangkap perhatianku. Sebuah notifikasi pesan. Dari seseorang yang kuanggap spesial.


[Maaf, aku baru bisa membalas! Aku benar-benar sibuk(ᗒᗩᗕ)!]


Aku tersenyum kecil. Mungkin kedua kalinya dalam hari ini.


Perempuan memang tidak malu ya? Memakai kaomoji seperti itu.


Aku mulai mengetik jawabanku:


[Otsukare. Tak apa kok. Aku tahu jadwalmu padat]


Selang beberapa detik kemudian, jawaban darinya muncul.


[Tapi tetap saja! Aku merasa tidak enak Ó╭╮Ò]


Aku hanya bisa tersenyum pahit. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Pekerjaannya juga penting.


Aku tidak mengetik jawaban. Aku hanya mengetuk simbol telepon di pojok layarku. Memanggilnya, aku menaruh ponsel itu di samping telingaku.


"Efu-kun..." Suara halus seorang gadis menyapa telingaku. Memanggil namaku dengan sedikit nada menyesal. "Maaf...."


"Bukankah sudah kubilang? Tak perlu minta maaf." Aku gantian berkata. Tersenyum kecil. "Membicarakan hal-hal sedih itu merepotkan."


"Un, baiklah." Gadis itu menjawab. Kini terdengar lebih ceria. "Jadi, kenapa Efu-kun menelpon? Rindu ya? Fufufu, pesona


U—"


"Iya, aku merindukanmu," kataku tanpa ragu. "Aku juga ingin mendengar suaramu."


"...." Orang di balik telepon terdiam beberapa saat. "... Curang."


Sebuah jawaban kecil membuatku ingin tertawa. "Seranganmu 100, tapi pertahananmu 0. Mirip meriam kaca."


Mengatakan analogi yang cukup bagus itu, aku puas dengan diriku sendiri. Sambil berbicara dengannya, aku berjalan pulang.


"Curang! Efu-kun curang! Tadi itu gerakan curang! Saking curangnya, gerakan itu seharusnya di-nerf!" Gadis itu terdengar frustrasi. Suara kasur yang dipukul-pukul bisa terdengar samar.


"Tingkatkan pertahananmu," saranku. "Kau memang payah menambah stat."


"Ugh! Terserahlah!"


"Hahaha." Aku tertawa kecil. "Aku menontonmu kemarin. Kau hebat."


"Ehehe, benarkah? Aku senang. Puji aku terus."


Selain bisa membaca pikiran, ternyata suasana hati seorang perempuan mudah berubah ya? Akan kuingat itu ke dalam ensiklopedia di otakku.


"Hei, kepalamu jadi besar ya."


"Bodo~! Yang terpenting adalah pujian Efu-kun!"


Aku tidak menjawabnya langsung. Hanya tersenyum kecil. Di perjalanan pulang, aku menemukan sebuah taman bermain.


Terlihat sepi. Mengingat waktu yang sudah malam, tidak aneh. Aku berjalan ke arah ayunan lalu duduk di atasnya.


"Efu-kun sudah pulang?" Sebuah pertanyaan kembali datang dari suara di balik ponsel.


"Sudah. Aku tugas piket jadi aku belum sampai rumah," jawabku. Berayun-ayun kecil. "Kamu?"


"Aku baru pulang. Besok aku harus berangkat lagi." Suaranya terdengar kesal. Mungkin karena jadwalnya yang terlalu padat? "Ah iya, bulan depan ada audisi lagi."


"Mau ikut lagi?"


"Tentu saja! Ini 'kan mimpiku!"


"Baguslah kalau begitu. Semangat ya."


"Tentu saja! Efu-kun selalu menyemangatiku!"


Aku bisa membayangkan senyum gadis itu. Ia pasti berbaring di ranjangnya sambil menatap langit-langit, tersenyum senang. Tanpa sadar, aku juga tersenyum.


"Nee, Efu-kun. Masih di situ?"


Ah, sepertinya aku melamun.


"Maaf, aku sedang memikirkanmu."


"Ap—!? Sudah kubilang! Jangan ada serangan tiba-tiba seperti itu!" Sekali lagi, suara kasur yang dipukul-pukul kembali terdengar.


"Aku tipe Assassin. Serangan diam-diam adalah keahlianku."


"Mou! Baka!"


Oh, perkataan klise yang sering kudengar di anime-anime lama. Tak kusangka aku bisa mendengarnya.


Sudah malam. Ayumi pasti mencariku.


Aku berdiri dari ayunan. Suara rantai keluar karenanya. Lampu-lampu jalan sudah menyala sedari tadi. Sepertinya aku terlalu lama di sini.


"Hmm? Apa tadi?" tanyanya. Sepertinya bingung karena mendengar suara ayunan.


"Ah, tidak. Aku baru mau pulang."


"Eh!? Efu-kun belum sampai rumah!?"


Mendengar suara keras itu, sontak aku menjauhkan ponsel dari telinga. Ia memang suka merusak gendang telinga orang lain.


"Belum. Dari tadi aku duduk di taman dekat rumah."


"Pulang dulu gih! Ayu-chan pasti khawatir."


"Iya, iya." Aku menjawabnya. "Sampai sini dulu?"


"... Iya." Gadis itu menjawab pelan. Terdengar sedih. "Ah, satu lagi. Bisakah Efu-kun memanggil namaku."


"Hah? Untuk apa? Permintaan yang aneh."


"Sudahlah! Lakukan saja!" Ia kembali berseru di balik ponsel.


"Baiklah." Aku menghela nafas. Mempersiapkan diri memanggil namanya. "Nozomi."


"Hmm... Sekali lagi."


"Nozomi."


"Sekali lagi."


"Nozomi."


"Satu kali lagi."


"Nozomi."


Ada sebuah jeda yang panjang. Sunyi. Tidak ada suara apapun darinya. Sepertinya ia menekan tombol Mute.


"Baik, aku sudah puas," katanya setelah beberapa saat. Ia terdengar lega dan senang. "Terima kasih, Efu-kun."


"Tentu. Tapi, untuk apa tadi?"


"Mou, Efu-kun memang tidak mengerti hati wanita," keluhnya tiba-tiba. "Sudahlah, aku mau mandi dulu. Dah!"


"Tu—!" Sebelum bisa menyelesaikan kalimatku. Ia langsung memutus panggilan.


Aku hanya bisa menggaruk kepalaku sambil menghela nafas. Aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran gadis itu. Sudahlah, paradoks yang bernama Ninomae Nozomi itu memang sulit dipahami.


Aku melanjutkan langkahku ke rumah. Aku juga mulai lapar.


Drrt! Drrt!


Belum lima langkah, ponselku kembali bergetar. Nama Nozomi terpampang jelas sebagai identitas pemanggil. Aku menerimanya lalu mendekatkannya ke telingaku.


"Halo?" Aku menyapanya.


"...."


Tidak ada jawaban. Aneh.


"Halo? Nozomi?"


"...."


"???"


Aku benar-benar bingung. Ada apa ini?


"Aku...."


"Apa? Nozomi."


Aku kurang mendengar suaranya. Terdengar pelan. Aku mendekatkan telingaku lebih dekat. Mencoba mendengarnya lebih baik.


"Aku mencintaimu, Efu-kun."


"Ap—!?"


Selagi aku memegang telinga kananku, ia kembali memutuskan panggilan. Meninggalkanku yang masih kebingungan. Dan merasa sedikit malu.


Aku menutupi wajahku yang mulai terasa panas. Menenangkan diri, aku juga berjongkok. Menatap layar ponselku dari sela-sela jari.


Sebuah pesan masuk. Dari Nozomi.


[ありがとうダーリン! 好き(ෆ╹ ‿ ╹ෆ)]


Aku kembali menutupi wajahku. Lebih tepatnya menutupi senyumku. Aku merasa seperti orang bodoh sekarang.


"Haah.... Aku lupa kalau serangannya 100."


Aku menundukkan kepalaku. Menatap kerikil yang ada di bawah kakiku. Mencoba menenangkan diri.


"Malam ini aku pasti sulit tidur."


Menata kembali perasaanku, aku berjalan pulang ke rumah. Kakiku terasa ringan. Rasa senang yang jarang kualami memenuhi diriku.


Sampai di rumah, makananku sudah dingin dan aku dimarahi.