My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Godaan Pembokat



“Kayla sekarang sudah waktunya tidur Sayang,” ucap Rafa pada putrinya yang sedang bermain di depan TV.


“Sebentar lagi ya Pa, Kayla belum siap main masak-masakan.”


“Tapi sekarang sudah malam Sayang,” bujuk Rafa.


“Papa sih....” ucap Kayla kesal.


“Udah malam Kayla, jadi Kayla harus tidur sekarang,” ucap bi Surti sambil mengelus kepala Kayla.


Kayla memandang sinis pada bi Surti. Rafa sempat melihat sikap Kayla. Bi Surti seperti biasa selalu mencari muka di depan majikannya. Di depan Rafa, bi Surti memasang aksinya. Dia pura-pura perhatian dan sayang pada Kayla. Kayla yang masih kecil dapat merasakan sikap bi Surti ketika ada papanya, berbeda saat tidak ada papanya sehingga membuat Kayla merasa kesal dan benci pada bi Surti.


“Mainannya dibereskan dulu ya Sayang,” pintah Rafa pada putrinya.


Kayla dengan dibantu bi Surti langsung membereskan mainannya.


“Sekarang Kayla gosok gigi dan cuci kaki ya,” ucap Rafa saat sudah masuk ke kamar.


Kayla langsung masuk ke kamar mandi dan menyikat giginya. Sebelum tidur tanpa diberitahu lagi oleh papanya dia langsung mengerjakannya. Sementara Rafa sudah duduk di sisi tempat tidur menunggu putrinya.


“Udah selesai Sayang?” tanya Rafa ketika melihat Kayla keluar dari kamar mandi.


Kayla pun menganggukkan kepalanya.


“Mari sini naik tempat tidur Sayang biar kita bobok sekarang.”


“Kayla nggak mau bobok sekarang. Kayla mau nonton TV aja ya Pa?”


“Ya udah nggak apa-apa, yang penting Kayla nontonnya sambil rebahan.”


Kayla langsung naik ke tempat tidur dan mengambil bantal gulingnya sambil rebahan dia menonton TV yang ada di kamar. Rafa langsung mengelus kepala putrinya sambil ikut menonton TV.


“Kayla tadi di rumah tante Revi ngapain aja?” tanya Rafa kepo.


“Kayla tadi main masak-masak, terus main boneka dan habis itu mau pulang ke rumah ngambil susu. Tapi waktu Kayla pulang ke rumah, tante yang semalam datang Pa.”


“Tante yang mana Sayang?”


“Tante yang ketemu di mall itu Pa.”


“Siapa namanya Sayang?”


“Kayla nggak tahu Pa karena nggak sempat ngomong sama tante itu.”


“Tante itu ngapain?”


“Nggak tahu. Tante itu tiba-tiba marah sama tante Revi.”


“Bilang apa tante itu sama tante Revi?”


“Kayla nggak ingat, tapi tante itu duduk di teras terus berdiri manggil Kayla. Tapi Kayla nggak mau karena kata Papa nggak boleh ngomong sama orang asing.”


“Marah kayak mana?”


“Katanya jangan kemari lagi, gitu katanya Pa.”


“Bi Surti pada saat itu ada?”


“Kayla nggak tau Pa karena Kayla ngintip di paha tante Revi,” jelas Kayla.


Ditunggu sampai Kayla benar-benar tidur Rafa pun berniat untuk menanyakan hal ini pada bi Surti. Setelah Kayla dilihat sudah tertidur pulas Rafa langsung mendatangi kamar bi Surti.


“Tok, tok.... Bi Surti.... Panggil Rafa dari depan pintu kamar bi Surti.


Bi Surti yang sedang rebahan memainkan ponselnya langsung terkejut. Dia langsung bangkit dari tempat tidurnya sambil mengerutkan keningnya berpikir. Dia terdiam dan mendengarkan sekali lagi.


“Bi Surti udah tidur?” ucap Rafa dari luar.


‘Ternyata pendengaranku nggak salah. Aku nggak bermimpi. Aku mendengar sendiri mas Rafa memanggilku.’


Bi Surti pun kebingungan. ‘Apa yang harus aku lakukan. Ini kesempatan emas bagiku.’


Matanya melirik ke kanan dan ke kiri mencari ide baru. Kemudian dia pun tersenyum puas setelah menemukan ide gilanya. Dia berjalan ke pintu dan membuka kunci pintu itu pelan-pelan kemudian dia naik ke tempat tidurnya yang ukuran kecil dan membuka bh-nya yang langsung dicampakkan ke lantai. Setelah itu dia merebahkan dirinya di tempat tidur itu dan membuka kancing dasternya bagian atas sehingga bukit kembarnya hampir terlihat seluruhnya. Sedangkan dasternya yang menutup sampai betis ditariknya ke atas sehingga pahanya yang putih mulus terlihat jelas. Setelah dirasakan penampilannya sudah oke dia pun menyuruh majikannya masuk.


“Masuk aja Pak, pintunya nggak dikunci,” ucap bi Surti pura-pura lemas.


“Ceklek...” Pintu langsung dibuka Rafa.


Melihat bi Surti yang terbaring tidak berdaya di ranjangnya, Rafa merasa heran.


“Kenapa Bi? Apa Bibi sakit?” tanya Rafa penasaran.


“Maaf Pak saya lemas. Masuk Pak. Ada perlu apa Pak?” ucap bi Surti pura-pura tidak berdaya.


Rafa yang kasihan melihat bi Surti langsung masuk dan mendekatinya. Saat sudah dekat bi Surti langsung menarik tangan Rafa dan meletakkan di atas keningnya.


“Kepala saya pusing Pak. Badan saya juga nggak enak. Coba Bapak rasakan, panas nggak? tanya bi Surti.


“Tapi Bibi nggak demam kok,” ucap Rafa saat menyentuh kening bi Surti.


Kemudian Rafa agak terkejut ketika melihat baju bi Surti bagian dada terbuka dan bagian bawah naik ke atas sehingga pahanya yang putih mulus terlihat. Buru-buru Rafa memalingkan pandangannya ke arah lain.


“Bibi minum obat ya biar saya ambilkan,” ucap Rafa membalikkan badannya.


“Nggak usah Pak,” ucap bi Surti menarik tangan Rafa sehingga Rafa pun terjatuh di atas tubuh bi Surti.


“Eh, maaf Pak saya nggak sengaja,” ucap bi Surti pura-pura malu.


Tubuh Rafa jatuh tepat di atas bukit kembar bi Surti. Bi Surti merasa senang karena misinya mulai berhasil. Sementara Rafa terkejut dan cepat-cepat bangkit. Wajahnya merah padam menahan rasa malu. Tubuhnya seperti terkena aliran listrik. Gairah seksnya tiba-tiba muncul ketika bersentuhan dengan benda kenyal milik bi Surti yang putih dan montok.


Rafa yang tidak tau niat bi Surti yang sebenarnya merasa malu sendiri ketika harus berhadapan dengan situasi ini. Sedangkan bi Surti merasa puas dan senang.


‘Ini baru babak awal pak Rafa. Tunggu babak selanjutnya. Pasti bapak akan tergila-gila padaku. Buktinya baru menyentuh dadaku seperti ini, bapak sudah salah tingkah. Sebentar lagi bapak akan masuk ke perangkat ku yang lebih dahsyat lagi,’ batin bi Surti tenang.


“Pak saya nggak mau minum obat ya,” ucap Surti manja ketika melihat Rafa akan keluar dari kamarnya.


Rafa langsung membalikkan tubuhnya menghadap bi Surti.


“Ya udah kalau kamu nggak mau minum obat, sekarang kamu tidur ya saya mau keluar. Oh ya Bi, mulai besok kalau pakai baju yang sopan dikit ya karena Bibi seorang janda dan saya seorang duda. Nggak enak dilihat orang kalau Bibi berpakaian seperti itu.


Surti yang mendengar ucapan majikannya merasa malu sendiri. ‘Saat ini kamu bisa ngomong seperti itu pak Rafa, tapi aku yakin suatu saat nanti kamu tidak mampu berbuat apa-apa karena kamu akan masuk dalam permainanku. Kemudian bi Surti mencari Simpati majikannya dengan berjalan mengejar Rafa.


“Pak, tunggu.... Maafkan saya Pak, saya nggak ada niat untuk menggoda Bapak. Tadi kamar saya panas makanya saya pakai baju terbuka dan pendek. Oh ya Pak, sebenarnya ada apa ya Pak. Kenapa Bapak panggil saya tadi?” tanya bi Surti.


Rafa langsung terdiam beberapa saat. “Ya udah, besok aja kita baru bicara. Sekarang kamu istirahat aja.”


Rafa langsung meninggalkan bi Surti yang masih terbengong berdiri di depan pintu kamarnya.