
“Bobby itu adalah teman aku saat SMA dulu. Memangnya kenapa sih Mas?” tanya Revi heran.
“Mas nggak suka aja melihatnya. Dia itu sok akrab gitu...” jelas Dandi.
“Wajar aja sih Mas karena kami saat SMA dulu kompak.”
“Iya, tapi kan nggak harus pegang-pegang kamu.”
“Memangnya pegang apa sih Mas.”
“Tadi dia pegang bahu kamu.”
“Mas ini aneh loh. Hanya pegang bahu aja nggak boleh, sementara Mas sendiri kalau ketemu teman kuliah Mas, ciuman lagi,” ucap Revi dengan nada marah.
“Kalau hal itu sih biasa di luar negeri. Kamu-nya aja nggak pernah ke sana, jadi nggak tau.”
“Tapi kan sekarang Mas berada di dalam negeri, bukan di luar negeri. Jadi nggak perlu budaya luar negeri dibawa kemari,” ucap Revi ketus sedangkan Dandi langsung terdiam.
Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah cafe yang cukup ramai. Setelah duduk di cafe, seorang pelayan memberikan daftar menu makanan yang ada di cafe itu. Revi langsung memesan makanan tanpa ada bicara sedikit pun pada Dandi.
Setelah makanan dipesan, Revi langsung bangkit dan akan pergi ke toilet.
“Mas, aku ke toilet dulu.” Revi langsung berjalan sendiri menuju tailot.
Kebetulan di toilet sedang antri sehingga Revi dengan sabar menunggu. Saat keluar dari toilet dia melihat Bobby yang keluar juga dari toilet pria. Keduanya langsung tersenyum.
“Eh Revi, kita ketemu lagi,” ucap Boby.
“Hay Boby...” sapa Revi.
Kemudian Boby mendekati Revi yang masih berdiri di depan pintu toilet wanita.
“Revi, aku ingin nanya loh?”
“Nanya apa Bob?”
“Tadi aku dengar pria tadi calon suami kamu. Kapan kalian akan menikah, jangan lupa undang aku ya...”
“Kalau hal itu udah pasti Bobby. Doakan aja ya semoga semuanya berjalan lancar. Rencananya tiga minggu lagi kami akan langsungkan pernikahan,” jelas Revi.
“Oh gitu....”
Karena keasikan ngobrol Revi lupa kalau sudah cukup lama dia di toilet. Tiba-tiba Dandi muncul di hadapan mereka. Begitu sampai di hadapan Revi dan Bobby, Dandi langsung melayangkan tonjokannya di pipi Bobby. Sontak Revi menjerit karena terkejut. Syukurnya saat itu di di depan kamar mandi hanya ada mereka berdua. Bobby langsung tersungkur ke lantai.
“Mas Dandi, apa-apaan sih....?” jerit Revi marah.
Dengan wajah marah Dandi langsung menarik tangan Revi dan mengajaknya pergi.
“Mas, tunggu. Tunggu dulu....”
Dandi tidak menghiraukan ucapan Revi. Dia tetap berjalan sambil menarik tangan Revi dengan paksa. Revi yang malu menjadi perhatian orang hanya ikut saja berjalan mengikuti Dandi seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Revi semakin kesal melihat kelakuan Dandi
Sampai di area parkir Revi langsung melepas tangan Dandi yang sedang menggenggam tangannya.
“Apa-apaan sih Mas!”
“Aku nggak suka dengan teman kamu itu,” ucap Dandi dengan nada angkuh.
“Memangnya apa salah teman aku itu.”
“Dia mencari perhatian kamu.”
“Sebenarnya dia itu mantan kamu kan?” tuduh Dandi emosi.
“Mas jangan asal menuduh ya. Mau mantan atau tidak nggak ada hubungannya dengan Mas.”
“Ya jelas ada hubungannya. Kamu itu kan calon istri aku.”
“Memangnya kalau aku calon istri kamu, aku nggak boleh tegur sapa dengan teman atau mantan aku?” jelas Revi.
“Bukan seperti itu maksud aku Sayang.”
“Aku Mas batasi berhubungan dengan pria lain, sementara Mas sendiri tidak punya etika saat bertemu dengan teman wanita Mas.”
“Jangan kamu ungkit-ungkit masalah mas dengan teman wanita mas karena memang mas nggak ada hubungan apa-apa dengan mereka.”
“Sama donk. Aku juga nggak punya hubungan dengan Bobby, tapi kenapa Mas membatasinya.”
“Yang penting mas nggak mau lihat kamu dekat dengan pria lain.”
“Sudahlah Mas, aku nggak mau ribut.” Revi yang sangat kesal dengan kelakuan Dandi akhirnya pergi begitu saja.
“Sayang.... tunggu...” Dandi berusaha mengejar Revi tapi Revi sudah tidak kelihatan.
Akhirnya Dandi dengan perasaan kesal naik ke mobilnya dan kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat keberadaan Revi.
‘Pasti Revi masih ada di dekat sini,” batin Dandi.
Tapi Revi tidak terlihat juga dan akhirnya Dandi langsung pergi. Revi sebenarnya sembunyi di balik mobil yang sedang terparkir. Begitu melihat mobil Dandi pergi, Revi pun keluar dari persembunyiannya.
Dia kemudian berjalan di dekat pintu keluar area parkir dan langsung memesan go-jek. Perasaannya sangat kesal dan kecewa melihat kelakuan Dandi yang terlihat jelas sifat aslinya.
Begitu go-jek datang, Revi langsung pulang ke rumahnya. Dia ingin segera sampai di rumahnya untuk menuangkan semua unek-uneknya. Ingin rasanya Revi lari dari masalah ini. Dia juga bingung harus cerita sama siapa. Kalau cerita sama mamanya maka akan menambah beban pikiran mamanya dan Revi nggak mau menjadi beban mamanya. Cukup dia aja yang tau masalah ini.
Dalam keadaan bingung dan kecewa, Revi pulang ke rumahnya. Begitu sampai gerbang rumahnya, bersamaan Rafa juga sampai. Keduanya saling pandang-pandangan. Terlihat senyum manis Rafa mengembang di bibirnya, sedangkan Revi terlihat sedih dan kecewa. Rafa yang memperhatikan kalau Revi sedang murung bertanya-tanya dalam hati.
‘Kenapa Revi tidak ceria seperti biasanya. Sepertinya dia sedang ada masalah. Kenapa dia pulang naik go-jek. Bukankah tadi perginya dengan kekasihnya dan pulangnya kenapa sendiri?’ batin Rafa heran.
Setelah melihat Rafa dari jarak jauh, akhirnya Revi langsung masuk ke dalam rumahnya. Perasaannya semakin sedih melihat Rafa yang sedang menatapnya tidak berkedip. Ingin sekali rasanya Revi menceritakan semuanya pada Rafa, tapi dia bingung.
‘Aku nggak boleh cerita sama siapapun karena bagaimana pun mas Dandi adalah calon suami aku. Baik buruknya mas Dandi tidak harus kuceritakan sama semua orang,’ batin Revi dan langsung buru-buru masuk ke dalam.
Sampai di ruang tengah terlihat papa dan mama Revi sedang menonton TV. Melihat Revi pulang sendiri mamanya merasa heran.
“Dandinya mana Revi?” tanya bu Lusi.
Revi langsung menoleh ke arah mamanya. “Maaf Ma, mas Dandi sedang ada urusan jadi Revi pulang sendiri.”
“Jadi kamu nggak diantarnya?” tanya bu Lusi lagi.
“Nggak Ma,” ucap Revi lagi.
“Mungkin ada masalah yang sangat penting Ma, makanya Revi disuruh naik go-jek,” ucap papa Revi.
“Benar Pa. Tadi mas Dandi ada urusan yang sangat penting makanya Revi naik gojek.”
Kemudian Revi langsung masuk ke kamarnya. Untuk menghilangkan rasa kesal dan lelah Revi langsung mandi.
Revi yang merasa kesal dan sedih akan nasibnya hanya bisa diam dan tidak akan menceritakan kelakuan jelek Dandi. Dia berjanji untuk belajar memahami sifat calon suaminya itu. Walaupun sangat berat, tapi dia menganggap bahwa ini semua adalah ujian yang harus dilaluinya.