My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Usaha Surti



Mereka tiba di mini market, Rafa memarkirkan sepeda motornya. Bi Surti masih berdiri di depan pintu menunggu Rafa ikut masuk. Tapi bukannya masuk, Rafa memilih duduk di luar dan membeli secangkir kopi.


Bii Surti mendekatinya. “Pak, ayo kita belanja,” ucap bi Surti.


Rafa menoleh ke arah bi Surti. “Bibi aja, saya nunggu di sini.”


“Tadi pesan ibu, saya disuruh membelikan pisau cukur untuk Bapak, tapi saya nggak tau yang seperti apa.”


“Pisau cukur?” tanya Rafa heran.


“Iya Pak. Tapi saya nggak tau yang gimana modelnya.”


‘Sejak kapan aku menyuruh ibu membeli pisau cukur. Biasanya aku beli sendiri, itu pun belinya nggak disini.’


“Sudah Bi, nanti saya beli sendiri,” jelas Rafa.


Akhirnya dengan perasaan kecewa bi Surti masuk ke dalam. Dia berpikir Rafa mau menemaninya berbelanja seperti layaknya suami istri yang berbelanja di mall. Si istri yang memilih belanjaan, sedangkan sang suami membawa keranjang belanjaan. Hal itu sudah dibayangkan bi Surti sejak dari rumah tadi.


‘Kenapa mas Rafa tidak mau menemani aku?,’ batin bi Surti kesal.


Setelah bi Surti membayar belanjaan di kasir, dia menemui Rafa. Bi Surti berharap dia juga bisa ikut duduk sambil ngobrol dengan majikannya. Namun saat Wanita itu muncul, Rafa bangkit dari duduknya.


“Udah siap Bi?”


“Udah Pak, tapi saya ingin beli kopi juga.”


“Ya udah, kalau Bibi mau membeli kopi biar saya tunggu.”


Bi Surti membeli kopi dan mengambil posisi duduk di samping Rafa. Bi Surti membayangkan, dengan minum kopi berdua bersama majikannya akan membuat mereka semakin dekat. Jantung bi Surti berdetak kencang saat duduk berdampingan dengan Rafa.


Terlihat wanita itu salah tingkah dan malu-malu. Dia meminum.kopinya sambil mencuri pandang pada sang majikan.


Sayangnya Rafa malah sibuk dengan ponselnya, tidak menghiraukan bi Surti yang ada di sampingnya.


“Pak...” panggil bi Surti


“Ya?” jawab Rafa datar bahkan tidak menoleh sama sekali.


“Bapak nggak nambah lagi kopinya.”


“Nggak,” jawab Rafa cuek.


Bi Surti kehabisan akal. Dia bingung, ingin bicara tapi mulai dari mana. Niatnya agar komunikasi mereka lancar, ngobrol sambil minum kopi.


Bi Surti kemudian menggeser tempat duduknya agar lebih dekat lagi dengan Rafa dan sesekali dia melirik ke ponsel Rafa. Terlihat Rafa sedang membuka facebook Revi membuat bi Surti semakin kesal. Beberapa kali Rafa terlihat mengelus foto Revi yang ada dalam facebooknya sambil tersenyum sendiri. Rafa yang terlalu asik dengan foto Revi tidak menyadari kalau bi Surti sudah duduk sangat dekat dengan dirinya. Dia tersadar ketika bi Surti bertanya.


“Bapak nggak pingin beli gorengan, kalau mau biar saya belikan,” tanya bi Surti.


Sengaja bi Surti mengalihkan pandangan Rafa karena bi Surti merasa cemburu dan sakit hati saat melihat Rafa memandang foto Revi lama-lama.


Kebetulan di depan Indomaret ada penjual bakso goreng dan pisang goreng sehingga bi Surti menawarkan pada Rafa.


“Maaf Bi, saya masih kenyang. Kalau Bibi mau beli, ya udah biar saya tunggu,” ucap Rafa karena tidak tertarik untuk membeli gorengan itu.


Akhirnya bi Surti tidak jadi membeli. Sebenarnya bi Surti tidak ingin makan gorengan tapi dia sengaja menawari Rafa supaya kalau Rafa membeli gorengan itu maka mereka akan lebih lama duduk di tempat itu. Karena bi Surti tidak jadi membeli gorengan, akhirnya Rafa pun langsung mengajak pulang bi Surti.


“Bibi nggak jadi beli gorengan?” tanya Rafa.


“Nggak Pak, saya masih kenyang.”


“Loh... bukannya tadi Bibi menawari saya. Saya pikir karena bibi ingin membelinya,” ucap Rafa heran.


“Nggak kok Pak. Saya hanya mau menawari Bapak aja.”


“Oh, gitu. Ya udah kita pulang sekarang ya Bi?”


Rencana bi Surti untuk memikat majikannya dengan berdandan menor ternyata tidak berhasil. Bi Surti yang dari awal mengira kalau Rafa tertarik padanya karena sempat dilihatnya Rafa tersenyum sendiri, ternyata dugaan bi Surti salah.


Begitu sampai rumah, Rafa langsung disambut oleh Kayla.


“Papa beli apa untuk Kayla?” tanya Kayla sambil membuka plastik yang berisi belanjaan.


“Nggak tau Sayang. Tadi bi Surti yang belanja, sedangkan papa hanya menunggu di luar.”


“Pa... kata nenek, Kayla nggak boleh lagi manggil bibi, tapi manggil tante Surti,” ucap Kayla menjelaskan permintaan neneknya.


“Oh ya?” tanya Rafa pura-pura tidak tau.


“Iya Pa, nanti Papa dimarahi nenek loh.”


“Baiklah Tuan Putri kalau begitu. Mulai sekarang papa akan panggil bi Surti dengan panggilan tante Surti,” jelas Rafa sambil tersenyum melihat ke arah bi Surti.


Sebenarnya Rafa tersenyum karena merasa lucu saja panggilan ‘bibi’ tiba-tiba berubah menjadi ‘tante’, tapi Rafa yang tidak mau berdebat dengan ibunya. Akhirnya Rafa tersenyum saja dan menuruti permintaan ibunya itu.


“Coba sekarang Kayla tanya sama tante Surti, tante Surti tadi beli apa?” pinta Rafa pada putrinya.


“Tante....” panggil Kayla.


Bi Surti yang akan berjalan ke dapur langsung menoleh ke arah Kayla.


“Ada apa Sayang?” tanya bi Surti ramah.


“Tante tadi beli apa di Indomaret?” tanya Kayla ingin tau.


“Tante beli sabun sama gula aja. Memangnya kenapa Sayang?” tanya bi Surti dengan nada lembut.


“Tapi Tante tadi kan udah janji, katanya mau membelikan Kayla jajanan.”


“Oh iya, tante lupa. Kalau gitu maaf ya...” ucap bi Surti.


Tiba-tiba bu Dian muncul dari dalam kamarnya.


“Memangnya Kayla mau minta dibelikan apa?” tanya neneknya.


“Tadi tante Surti kan udah janji, katanya mau membelikan Kayla jajanan makanya Kayla nggak boleh ikut,” jelas Kayla.


Rafa dan neneknya langsung tersenyum. Rafa hanya bisa menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka, ternyata ingatan Kayla sangat tinggi dan kalau sudah dijanjikan sesuatu harus ditepati karena kalau tidak ditepati maka Kayla akan menagih terus.


“Sayang, kalau papa pergi lagi pasti papa belikan jajanan.” Rafa langsung menenangkan putrinya.


“Horee.....” ucap Kayla bersorak senang.


“Ya udah, besok malam ajak papa ke mall,” pinta bu Dian.


“Ngapain pergi ke mall Bu?” tanya Rafa heran.


“Maksud ibu, besok kan malam minggu. Coba bawa sekali-sekali Kayla jalan-jalan ke mall sekalian ibu nitip belikan kado,” ucap bu Dian.


“Kado untuk siapa Bu?”


“Rencananya bulan depan anak Om Dimas mau menikah. Ibu mau nitip kado sepre.”


“Mana pintar Rafa memilih Bu.”


“Makanya kamu bawa Surti biar dia yang milih.”


“Benar ya Pa, besok kita jalan-jalan ke mall,” ucap Kayla senang.


Sementara Rafa terdiam heran. ‘Kenapa ibu selalu melibatkan bi Surti, bahkan pergi ke mall bersama Kayla harus membawa bi Surti juga. Apa sebenarnya niat ibu,’ batin Rafa heran.