My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Jodoh?



Setelah memakai baju dan berdandan Revi langsung rebahan di tempat tidurnya. Badannya terasa lemas dan letih. Begitu juga dengan pikirannya.


Untuk menghilangkan rasa bosan dibukanya ponselnya dan dia kemudian membuka facebooknya. Tiba-tiba dia tertarik untuk melihat facebook Rafa. Dilihatnya foto-foto Rafa bersama Kayla. Revi langsung tersenyum melihat foto-foto kebersamaan Rafa dan putrinya yang terlihat sangat menyayangi Kayla.


‘Andaikan saja aku belum bertunangan dengan mas Dandi, pasti tawaran mas Rafa akan aku terima. Tapi sayang kedekatan kita terjadi setelah aku berkunangan. Kenapa tidak dari dulu kita bertemu mas. Mungkin kalau kita bertemu sejak dulu, kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Aku sangat tertekan mas dengan situasi ini. Bahkan aku masih ragu dengan perasaanku sendiri, sementara sebentar lagi aku akan menikah dengan mas Dandi. Aku bingung menghadapi ini semua. Ingin rasanya aku lari dari masalah ini. Semakin hari aku semakin membencinya mas Dandi. Apakah aku bisa hidup dengannya, sementara banyak perbedaan di antara kami,’ batin Revi dengan perasaan sedih.


Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.


“Tok, tok.... Revi...” panggil bu Lusi.


“Masuk Ma...” sahut Revi malas bangkit dari tidurnya dan membuka pintu.


Terlihat bu Lusi masuk ke dalam kamar Revi dan kemudian didekati putrinya. Dia duduk di samping Revi.


“Ada apa Ma?” tanya Revi heran.


Bu Lusi langsung tersenyum pada Revi. Dielusnya kepala putrinya lembut.


“Sebenarnya ada apa Rev?” tanya bu Lusi.


“Nggak ada apa-apa Ma,” jawab Revi bohong.


“Revi, mama nggak bisa kamu bohongi.”


Revi yang sangat kesal dengan kelakuan Dandi dan tidak tahan menanggung beban perasaannya akhirnya terdiam sambil menunduk. Dia ingin cerita pada mamanya, tapi dia khawatir kalau akan menjadi beban mamanya. Sehingga dia diam saja, hanya air mata yang mewakili perasaannya. Melihat putrinya menangis, bu Lusi merasa heran. Kemudian dielusnya lagi rambut Revi.


“Sekarang kamu cerita sama mama. Mudah-mudahan mama bisa memberi solusi.”


“Nggak Ma, nggak ada apa-apa,” ucap Revi sambil menggelengkan kepalanya.


“Nggak mungkin, nggak ada apa-apa,” jelas bu Lusi.


Akhirnya setelah didesak mamanya, Revi mulai cerita tentang kelakuan Dandi yang sebenanrnya.


Bu Lusi dengan tekun mendengarkannya. Setelah Revi selesai bercerita, bu Lusi langsung tersenyum.


“Kamu harus sabar ya Rev. Ini semua ujian bagi kamu dan kamu tidak boleh berburuk sangka kepada orang lain. Dandi melakukan itu semua karena dia sangat mencintai kamu,” jelas bu Lusi menenangkan putrinya.


“Tapi Ma, Revi nggak suka terlalu diaturnya sementara dia sendiri berbuat sesuka-sukanya.”


“Dalam rumah tangga itu pasti harus ada yang mengalah salah satunya. Jadi kita jangan malu untuk mengalah demi kebaikan kita juga. Dalam menghadapi setiap masalah jangan selalu mengandalkan emosi. Kita harus bisa berlapang dada dan jangan gampang terpancing emosi. Yakinlah pada mama kalau kamu banyak mengalah pasti dengan sendirinya dia merasa bersalah dan malu. Jadi saran mama, kamu jangan langsung terpancing emosi. Berusahalah tetap sabar dan yang paling penting adalah dengan banyak berdoa karena usaha tanpa doa itu sia-sia. Kalau saat ini kamu sedang menghadapi masalah, itu artinya kamu sedang diuji oleh Allah. Sanggup nggak kamu menghadapi semua ini. Jadi mulai dari sekarang kamu harus belajar lebih dewasa lagi.”


“Tapi Revi nggak suka Ma. Dia sepertinya membatasi Revi berhubungan dengan pria lain.”


“Itu artinya dia sangat mencintai kamu dan dia takut kalau kamu akan direbut pria lain. Nanti pelan-pelan kamu cerita sama dia, pasti dia akan bisa menerima saran kamu. Kalau sekarang dia sedang emosi dan kamu juga emosi sehingga tidak menemukan titik terang. Makanya kalau mau berbicara dari hati ke hati sebaiknya disaat tidak sedang emosi diantara kalian, supaya permasalahan bisa selesai.”


Setelah mendapat nasihat panjang lebar dari bu Lusi, akhirnya perasaan Revi mulai lebih tenang dari sebelumnya.


Revi kembali melihat ponselnya. Terlihat foto kebersamaan Rafa dan Kayla mengusik kembali pikirannya. Ada perasaan kecewa ketika melihat foto orang yang dicintai tidak akan mungkin bersatu dengannya.


***


Selesai makan malam, seperti biasa Revi membereskan meja makan. Setelah semua yang ada di meja makan dibersihkan, Revi langsung mencuci piring yang kotor.


Terlihat bu Lusi membersihkan sayur kangkung yang akan dimasak besok pagi, sedangkan Revi masih mencuci piring. Sambil membersihkan sayur kangkung bu Lusi mengajak Revi ngobrol.


“Tadi saat kamu pergi, bu Dian datang bersama Kayla,” jelas bu Lusi.


“Gimana keadaan Kayla, Ma? Apakah dia udah sehat betul?”


“Alhamdulillah, tadi mama lihat dia sudah sehat, bahkan tadi dia bermain masak-masakan di sini.”


“Syukurlah kalau seperti itu,” ucap Revi tersenyum.


Kemudian Revi selesai mencuci piring langsung membantu bu Lusi membersihkan sayur kangkung di meja makan. Keduanya terlihat asik menyiangi sayur kangkung itu.


“Jam berapa bu Dian datangnya Ma?” tanya Revi.


“Tadi siang saat kamu pergi.”


“Oh...” ucap Revi.


“Bu Dian sengaja datang tidak memberitahu papanya Kayla.”


“Memangnya kenapa tidak memberitau papanya Kayla, Ma?”


“Kalau memberitau papanya Kayla, pasti nggak diizinkan karena bu Dian kan belum sehat betul.”


“Oh, gitu. Jadi kenapa bu Dian datang juga Ma?” tanya Revi penasaran.


“Sebenarnya tujuan bu Dian kemari ingin memberikan jodoh pada Rafa.”


“Apa?” ucap Revi terkejut.


“Iya, bu Dian ingin menjodohkan papanya Kayla dengan anak temannya bu Dian,” jelas bu Lusi.


Jantung Revi langsung berdetak kencang, dadanya terasa sesak mendengar ucapan mamanya barusan. Perasaanya sakit dan sedih mendengar ucapan mamanya.


“Kenapa begitu mendadak sekali Ma?” tanya Revi heran.


“Sebenarnya sudah lama bu Dian ingin menjodohkan papanya Kayla, tapi bu Dian masih menunggu waktu yang tepat. Mendengar saat Kayla di rumah sakit dan nggak ada yang menjaganya maka keinginan bu Dian ingin langsung diwujudkan. Rencananya besok atau lusa wanita itu akan dibawa kemari,” jelas bu Lusi.


Bu Lusi tidak tau perasaan Revi terhadap Rafa sehingga dia bercerita panjang lebar tentang niat bu Dian itu yang membuat Revi merasa sedih dan kecewa.


Rasanya Revi belum siap untuk kehilangan Rafa. Dia tidak bisa membayangkan jika Rafa menikah dengan wanita lain, sementara dia masih menyukai Rafa. Ada perasaan sedih dan cemburu mendengarnya. Tanpa disadari tangannya berdarah terkena sayatan pisau.