
Deni teringat pada bi Surti. kemudian dia pun tersenyum setelah menemukan ide baru.
Ternyata uang yang baru didapat dari Santi tidak membuatnya merasa puas. Dia ingin mendapatkan juga dari bi Surti.
Kemudian di teleponnya bi Surti. Panggilan pertama tidak diangkat, kemudian dia menelpon kembali juga tidak mendapat sahutan. Sampai pada panggilan yang ketiga juga sama. Deni langsung emosi dan mencampakkan ponselnya di atas tempat tidur.
‘Awas kamu Surti. Kamu pikir, kamu bisa lari dari aku. Tunggu pembalasanku. Aku akan melakukan hal yang membuat kamu tidak bisa lari dari aku,’ batin Deni kesal.
Untuk mewujudkan akal liciknya, Deni langsung mengirim pesan pada bi Surti.
{Kalau kamu tidak mau menemui aku lagi, kamu akan menyesal Sayang...}
Tidak lama kemudian notifikasi ponsel Deni berbunyi dan Deni langsung melihatnya. Ternyata pesan masuk dari bi Surti.
{Aku nggak pernah takut dengan ancamanmu Den.}
Membaca isi pesan bi Surti, Deni semakin marah. Dia kemudian mengirim balasan wa tersebut.
{Kalau kamu tidak takut, tidak apa-apa. Tapi kamu jangan menyesal karena aku akan menceritakan kepada majikanmu tentang tujuan kita yang sebenarnya.}
Kemudian Surti mengirim pesan lagi. {Kamu jangan gila Den. Aku mau melakukan rencana kita karena ide darimu.}
Deni langsung membalas isi pesan itu. {Terserah apa katamu, yang penting hari ini juga aku akan menemui majikan kamu.}
Bi Surti merasa tidak takut dengan ancaman Deni karena Surti merasa kalau Deni tidak akan mungkin melakukan hal itu. Tapi Deni yang sudah terlanjur marah tidak akan mundur dengan rencananya semula. Dia benar-benar ingin untuk menemui majikan bi Surti yaitu Rafa.
Tanpa berpikir panjang lagi Deni pergi dengan sepeda motornya menuju rumah Rafa. Begitu sampai depan gerbang rumah Rafa, sengaja Deni tidak langsung masuk ke dalam. Dia berhenti di dekat gerbang itu tepat di bawah pohon mahoni di pinggir jalan. Sambil duduk di atas kendaraannya Deni langsung mengirim pesan wa pada bi Surti.
{Aku sekarang sudah ada di depan gerbang rumah majikanmu. Temui aku sekarang atau aku yang akan menemui majikanmu.}
Bi Surti yang baru saja membaca isi pesan Deni seakan tidak percaya. Dia kemudian melihat dari jendela di ruang tamu untuk memastikan apakah benar isi pesan wa Deni.
Begitu dibuka tirai horden di ruang tamu, bi Surti langsung melihat ke arah jalan dan ternyata di pinggir jalan di bawah pohon mahoni terlihat Deni sedang duduk di atas kendaraannya sambil melihat ke rumah Rafa.
Jantung bi Surti langsung berdetak kencang karena takut. Dia ketakutan kalau Deni benar-benar menemui Rafa.
‘Apa yang harus aku lakukan. Gimana kalau Deni benar-benar menemui pak Rafa dan menceritakan semuanya, pasti aku akan dipecat oleh pak Rafa. Lebih baik aku menemui Deni sekarang dari pada dipecat nantinya,’ batin bi Surti.
Bi Surti yang lugu dan hanya tamatan SD, mendapat ancaman dari Deni seperti itu langsung ketakutan. Pada dasarnya bi Surti itu orangnya penurut tapi karena sudah dipengaruhi oleh Deni akhirnya bi Surti gelap mata sehingga rencana yang pernah dibuat oleh Deni didukungnya sebelum dia mencintai majikannya itu.
Seiring berjalannya waktu saat bi Surti sudah mulai mencintai Rafa, dia baru menyadari bahwa yang direncanakan bersama Deni adalah sebuah kesalahan yang tidak harus dilanjutkan. Hal inilah yang membuat Deni merasa marah karena rencananya gagal total karena tidak didukung lagi oleh bi Surti.
Kayla yang baru pulang dari rumah sakit sedang berada di kamar bersama papanya. Rencananya setelah Kayla tidur Rafa akan berangkat ke kantor. Bi Surti langsung keluar rumah untuk menemui Deni yang berdiri di pinggir jalan.
“Deni... ngapain kamu kemari?’ ucap bi Surti saat sudah dekat.
“Kamu sih tidak pernah mau mendengarkan ucapanku. Ayo sekarang naik, kita bicara di tempat lain,” ajak Deni.
“Maaf Den, aku nggak bisa keluar hari ini karena majikanku sedang di rumah,” ucap bi Surti ketakutan.
“Aku nggak mau tau. Aku mau keluar dengan kamu sekarang.”
“Aku mohon Den, jangan sekarang ya. Gimana kalau besok aja. Percayalah aku besok akan menemuimu. Di mana kita ketemu kamu wa-kan aja,” pinta bi Surti memelas.
Deni pun terdiam sambil berpikir. ‘Biarlah aku mengalah demi mendapatkan uang Surti. Aku tunda aja dulu sampai besok. Kalau besok Surti tidak menepati janjinya, baru aku menemui majikannya,’ batin Deni.
“Gimana Den, besok aja ya. Aku takut kalau pak Rafa nanti tau pasti dia akan marah.”
“Ya udah aku tunggu besok di tempat biasa ya. Yang penting aku nggak mau dikecewakan lagi.”
“Iya Den, makasih ya aku masuk dulu,” ucap bi Surti ketakutan.
Deni yang melihat bi Surti ketakutan langsung tersenyum puas.
Begitu bi Surti masuk ke dalam rumah, Rafa keluar dari kamarnya.
Bi Surti, saya mau ke kantor dulu ya. Bibi jaga Kayla,” pinta Rafa.
“Baik Pak,” ucap bi Surti sambil mengganggukkan kepalanya.
Kemudian Rafa keluar dari pintu depan mengambil sepeda motornya yang terparkir di bawah pohon jambu. Sengaja Rafa ke kantor dengan naik sepeda motor supaya lebih cepat sampainya karena dia mengejar waktu.
Saat akan menghidupkan mesin sepeda motornya, dia menoleh ke rumah Revi. Tiba-tiba jantung Rafa berdetak sangat kencang ketika melihat Revi sedang digandeng oleh tunangannya untuk naik ke mobil. Perasaannya sangat sakit melihat hal itu. Saat yang bersamaan Revi sempat menoleh juga pada Rafa tapi Rafa buru-buru memalingkan pandangannya ke arah lain. Revi merasa serba salah saat kedapatan tangannya sedang digandeng mesra oleh Dandi.
Begitu Revi akan naik ke mobil, Rafa yang penasaran meliriknya kembali. Walaupun perasaannya sangat sakit tapi dia memberanikan diri untuk melihat Revi bersama tunangannya. Kemudian Dandi membukakan pintu mobil dan memegang pundak Revi saat akan naik ke mobil.
Setelah duduk di dalam mobil Revi sempat melirik juga pada Rafa sehingga keduanya saling pandang-pandangan dari jarak jauh. Ingin rasanya Revi keluar dan berlari mengejar Rafa dan mengatakan kalau dia melakukan hal ini bukan karena keinginannya tapi karena kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya sebelum dia jatuh cinta pada Rafa.
Hati Rafa sangat sakit melihatnya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengelus dada menahankan perasaan yang sakit ketika melihat orang yang dicintai pergi dengan pria lain.
Begitu Revi pergi, Rafa langsung pergi juga ke kantornya. Semangatnya yang tadi membara berangsur-angsur redup melihat kedekatan Revi dengan kekasihnya.