My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Kesempatan kedua



Sudah dua hari ini kelakuan bi Surti menjadi perhatian bu Dian. Terlihat bi Surti sangat menyayangi Kayla. Perhatiannya yang begitu besar membuat bu Dian semakin bersimpati padanya. Sehingga bu Dian berusaha untuk mendekatkan bi Surti dengan papanya Kayla. Bahkan bu Dian selalu berusaha memberi kesempatan pada Rafa untuk berlama-lama ngobrol dengan bi Surti.


Seperti malam ini bu Dian berusaha agar Rafa meluangkan waktunya bersama bi Surti. Selesai makan malam Rafa selalu menghabiskan waktunya dengan duduk di teras rumahnya sambil merokok. Belum habis satu batang rokoknya tiba-tiba Bu Dian muncul di hadapannya Rafa. Bu Dian langsung duduk di samping putranya itu.


“Rafa, ibu lihat Surti sangat sayang dan perhatian pada anak kamu loh.”


“Oh ya....” jawab Rafa cuek seperti tidak menyimak perkataan ibunya.


“Ibu lihat dan perhatikan dua hari ini, dia juga terlihat sangat rajin dan bersih.”


Setelah bu Dian menceritakan kebaikan Surti pada Rafa tapi tidak ada respon dari Rafa akhirnya bu Dian masuk ke dalam sambil memikirkan rencana selanjutnya.


Setelah berpikir beberapa saat akhirnya bu Dian menemukan ide. Dia baru ingat bahwa kebutuhan dapur seperti gula dan sabun sudah mulai habisnya semuanya.


‘Aku akan menyuruh Rafa mengantarkan Surti ke Indomaret untuk membeli keperluan dapur. Pasti dengan banyaknya mereka menghabiskan waktu bersama, mereka akan semakin dekat dan akrab. Aku yakin sebentar lagi akan tumbuh benih-benih cinta diantara mereka,’ batin bu Dian sambil tersenyum.


Kemudian bu Dian keluar menemui Rafa lagi yang masih merokok di teras rumahnya.


“Rafa... tolong antarkan Surti ke Indomaret sekarang ya?” pinta bu Dian pada Rafa.


“Tapi biasanya bi Surti pergi sendiri Bu?”


“Memang sih iya, tapi ini yang mau dibelinya banyak jadi nggak mungkin Surti jalan kaki dengan membawa belanjaan. Apa kamu nggak kasihan melihat dia membawa belanjaan besok dengan berjalan kaki. Oh ya Rafa, mulai sekarang kamu jangan panggil Surti dengan sebutan ‘bibi’ lagi ya,” jelas bu Dian.


“Memangnya kenapa Bu?”


“Ya nggak enak aja didengar.”


Rafa hanya tersenyum tipis menanggapi permintaan ibunya.


“Kalau nggak, Surti ke Indomaret sekarang naik sepeda motor Rafa sendiri Bu.”


“Surti takut kalau pergi sendiri apalagi malam hari.”


Sebenarnya Rafa malas pergi tapi karena ibunya mendesak, akhirnya dengan perasaan berat Rafa menuruti kemauan ibunya.


Bu Dian langsung masuk ke dalam menemui Surti yang masih duduk menonton TV.


“Surti, kamu ke Indomaret sekarang ya?” ucap bu Dian.


“Sekarang Bu?” tanya bi Surti heran.


“Iya, kamu akan diantar oleh papanya Kayla naik sepeda motor.”


Kayla yang mendengar papanya akan pergi ke Indomaret langsung minta ikut.


“Kayla ikut ya Nek?” pinta Kayla.


Akhirnya Kayla terdiam sambil cemberut. Sedangkan bi Surti langsung tersenyum senang dan masuk ke kamarnya untuk berdandan. Dia berdandan cukup lama dengan memakai lipstik yang tebal dan tak lupa dia menyemprotkan parfum ke bajunya yang baru saja digantinya. Penampilan Surti malam ini benar-benar menggoda dengan memakai baju yang sangat ketat dan memakai parfum yang beraroma menyengat.


Setelah Rafa mengeluarkan sepeda motornya, bi Surti muncul di sampingnya. Rafa langsung menoleh ke arah bi Surti sambil memperhatikan dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Rafa tersenyum sendiri melihat penampilan bi Surti yang sangat berbeda dari biasanya.


‘Bi Surti ada-ada aja, mau ke Indomaret aja penampilannya seperti mau ke pesta,’ batin Rafa sambil tersenyum.


Bi Surti yang melihat Raf tersenyum sendiri merasa sedang diperhatikan. Dia pun merasa grogi karena majikannya tersenyum saat melihat dirinya.


“Papa.... Kayla ikut ya...” panggil Kayla dari dalam rumah.


Rafa langsung menoleh ke arah anaknya dan ingin mengajak Kayla tapi langsung dilarang bu Dian.


“Kayla jangan ikut papa, nanti nggak bisa bawa belanjaannya,” ucap bu Dian sambil memegang pundak Kayla.


“Sayang di rumah aja ya, nanti tante belikan jajanan,” ucap bi Surti.


Rafa yang mendengar kata ‘tante’ langsung heran sendiri.


‘Sejak kapan Kayla memanggil bi Surti dengan sebutan tante. Tadi ibu juga melarang aku memanggil bi Surti dengan sebutan ‘bibi’. Memangnya ada apa sebenarnya,’ batin Rafa heran.


“Kalau Kayla mau ikut, ayo sini...” ajak Rafa tidak sampai hati meninggalkan putrinya.


“Nggak usah Rafa, biar Kayla di rumah aja sama mama. Lagian nanti belanjaan kalian banyak nggak bisa bawanya,’ ucap bu Dian sambil membawa Kayla masuk.


Sengaja bu Dian membawa Kayla langsung masuk supaya dia tidak ikut dengan papanya. Bi Surti yang diberi kesempatan untuk dekat dengan majikannya tentu merasa sangat senang.


“Udah Bi, biar kita berangkat sekarang,” tanya Rafa.


“Udah Pak, mari kita berangkat sekarang,” ucap bi Surti yang langsung duduk di belakang Rafa.


Saat Rafa akan melajukan sepeda motornya dia sempat melirik ke rumah Revi berharap akan bisa melihat Revi walaupun dari jarak jauh. Ternyata harapan Rafa terkabul karena Revi terlihat sedang duduk di teras bersama kedua orang tuanya. Mereka sedang asyik ngobrol. Saat mendengar suara sepeda motor Rafa, Revi sempat menoleh. Begitu melihat Rafa yang sedang membonceng bi Surti, perasaan Revi tidak menentu. Hatinya sangat sakit melihat orang yang dicintainya duduk berdekatan di atas sepeda motor dengan seorang wanita. Revi juga melihat jelas bi Surti yang duduk di belakang Rafa tanpa jarak sehingga tubuh mereka saling bersenggolan.


Bi Surti juga memanfaatkan hal ini dengan memegang pinggang majikannya. Saat yang bersamaan Surti juga menoleh ke rumah Revi dan saat melihat Revi sedang memandang ke arah mereka, hal ini langsung dimanfaatkan oleh bi Surti lagi untuk membuat Revi cemburu. Bi Surti langsung memegang pinggang Rafa sehingga keduanya terlihat sangat mesra. Revi yang melihat hal ini hanya bisa mengelus dada. Perasaannya sangat sakit dan dadanya tiba-tiba terasa sesak.


‘Ada hubungan apa antara mas Rafa dengan bi Surti. Dari cara duduk mereka kelihatan mereka sangat dekat. Ah, aku nggak boleh cemburu. Ngapain pula aku memikirkan mas Rafa. Biar saja mereka bermesraan karena tidak ada hubungannya dengan aku,’ batin Revi berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Rafa langsung melajukan kendaraannya menembus jalanan yang tampak ramai. Rafa yang sejak tadi merasa risih karena tubuh bi Surti sangat dekat dengan dirinya langsung berkata.


“Bi Surti bisa lebih mundur lagi,” pinta Rafa dengan sopan.


“Oh iya, maaf Pak,” ucap bi Surti sambil menggeser duduknya.


Walaupun jantung Rafa berdetak kencang karena punggungnya bersentuhan dengan benda kenyal dan hangat itu, tapi Rafa masih sadar karena wanita yang bersamanya adalah bi Surti. Mungkin kalau wanita itu adalah Revi, Rafa pasti sudah hilang kesadaran.