My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Bab 4 - Dari Sudut Pandangnya



Aku menatap gedung sekolah di hadapanku. Membaca nama yang terukir di gerbang sekolah.


"SMA Internasional Sumire," gumamku. Agak pelan.


Sekolah baru, hari baru.


Aku merapikan penampilan lalu menghirup nafas dalam-dalam. Berharap tidak ada orang yang melihatku aneh. Aku melangkah ke dalam.


Seperti orang lain yang memulai di sekolah baru, aku merasa gugup. Aku tidak mengenal siapapun di sini. Kecuali tetanggaku; Arumasu Efu-san. Itu pun baru-baru ini.


Apakah dia sekolah di sini? Ah tapi, dia terlihat dewasa. Mungkin dia sudah kuliah.


Menggelengkan kepala, aku menghilangkan pikiran seperti itu. Memegang erat tasku, aku berjalan menelusuri lorong. Dengan bantuan dari seorang guru, aku sampai di kantor staf.


"Ah, Shidoki Mia-chan?" Seseorang memanggil namaku. "Kamu pasti murid baru itu ya?"


Aku menoleh ke arah meja guru di dekat pintu. Seorang wanita berambut hitam sebahu duduk menghadapku sambil tersenyum ramah. Aku berjalan menghampirinya.


"I-ya. Maaf, saya baru datang." Aku menundukkan kepalaku. "Nama saya Shidoki Mia, senang bertemu dengan anda."


"Tak usah terlalu sopan begitu. Aku wali kelas barumu, Tsukino Lily. Salam kenal ya."


"Un! Yoroshiku onegaishimasu, Sensei!"


Aku kembali menundukkan kepalaku. Memberi hormat kepada wali kelas baruku. Aku mendengar suara ketukan di atas meja.


Lily sensei berdiri dari kursinya. Memegang beberapa buku. Ia tersenyum ke arahku.


"Kalau begitu, ayo kita ke kelas."


D-dewasa sekali!


Dengan pipi yang terasa sedikit panas, aku mengangguk. Berjalan mengikuti Lily sensei.


Aku kembali menghirup nafas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diri. Kata Ai, aku harus percaya diri.


"Jadi, Shidoki-chan baru pindah kemarin 'kan?" Lily sensei bertanya selagi menaiki tangga. "Darimana ya?"


"Ah iya, aku pindah dari Koriyama."


"Koriyama? Di Fukushima?" Lily sensei menoleh. Terlihat tertarik.


Aku mengangguk. Mengiyakan pertanyaannya.


"Seperti menyenangkan tinggal di sana. Sensei juga punya kerabat di Aizu." Lily sensei menutup matanya, seperti mengingat-ingat sesuatu.


"Aizu? Aizuwakamatsu?" Aku gantian bertanya.


"Iya, mereka memiliki penginapan pemandian air panas. Setiap musim panas mereka selalu mengajakku agar — Ah, kita sudah sampai."


Sebelum bisa menyelesaikan ceritanya, Sensei berhenti.


Mengikuti pandangan Lily sensei, aku menatap pintu geser milik calon kelas baruku. Aku menoleh ke atas pintu. Sebuah tanda putih kecil terpampang jelas.


Kelas 1-A.


"Kamu tunggu di sini dulu ya."


Mendengar perkataan Sensei, aku kembali mengangguk. Setidaknya aku bisa mengambil nafas sejenak.


Percaya dirilah, Mia! Tak perlu gugup!


Dalam hati, aku mengatakan itu berkali-kali. Sesekali menulis kanji manusia (人) di tanganku lalu memakannya. Menurut Yucchin, ini cara yang ampuh untuk mengatasi kegugupan.


Tapi, aku bukan Iblis. Kenapa memakan manusia?


"Daripada penasaran, kenapa kita tidak bertanya kepada orangnya langsung?"


Dari dalam kelas, Sensei tersenyum kepadaku. Memberi isyarat untuk masuk ke dalam kelas. Aku menghirup nafas dalam-dalam lalu melangkah ke dalam kelas.


"Sa-salam kenal, namaku Shidoki Mia. Senang bertemu dengan kalian." Berhenti di samping Sensei, aku mengenalkan diri.


Hmm? Mereka semua diam? Eh? Ada apa? Apakah aku salah bicara? Uh... Bagaimana ini...?


"Anak-anak, Shidoki-san baru saja pindah dari Koriyama. Jadi, saya harap semuanya bisa akrab dengannya, ya."


Sebelum aku bisa tenggelam di pikiranku, Sensei menyelamatkanku. Aku dengan cepat mengikuti arahan Sensei.


"M-mohon bantuannya, semuanya."


Aku menundukkan kepalaku. Jawaban dari mereka membuatku sedikit percaya diri.


Aku mengangkat kepalaku. Sedikit melayangkan pandangan ke arah kelas baruku. Tak lama, pandanganku tertuju ke pojok kelas.


"Eh!?"


Aku berseru kecil. Terkejut melihat wajah yang kukenal.


Arumasu Efu-san? Jadi, dia masih SMA?? Terlebih lagi, kita sekelas?


Apakah ini bisa dihitung keberuntungan? A-ah! Dia mengangguk, aku spontan ikut mengangguk.


Apakah tadi hal benar? Aku tidak tahu. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka Arumasu-san ada di sini.


Tapi, bukankah ini hal baik? Setidaknya ada satu orang yang kukenal di sini. Benar, ini keberuntungan.


"Baiklah, Shidoki-san bisa duduk di belakang. Di samping Aru-kun ya."


"A-ah! Baik, Sensei." Menutupi pekikan kecilku, aku membungkuk hormat kepada Sensei. "Terima kasih banyak."


Duduk di samping Arumasu-san. Hari ini berlangsung dengan baik! Aku tidak harus duduk dengan orang asing.


Menahan rasa lega, aku berjalan menuju kursi di samping Arumasu-san. Aku tersenyum kepadanya.


"M-mohon bantuannya ya, Arumasu-kun."


"Ah, tentu."


Setelah pertukaran kata yang singkat itu, aku menaruh tasku lalu duduk di sampingnya.


Aku salah bicara! Kenapa aku memanggilnya dengan kun?? Arumasu-san pasti berpikir bahwa aku aneh!


Uhh... Bagaimana ini? Bagaimana ini? Dia teman pertamaku di sekolah baru.... Dan aku mengacaukannya.


"Shidoki-san."


Aku mendengar namaku dipanggil. Dari samping; Arumasu-san lebih tepatnya.


Tunggu, apakah aku memanggilnya dengan san atau kun? Ah, kurasa aku akan memikirkannya nanti.


"Mau pakai?" Arumasu mendorong bukunya di atas meja.


Buku? Ah, iya. Aku belum punya buku di sini. Ah, itu berarti....


"Bo-bolehkah?" tanyaku, agak gugup.


"Kau tidak membawa buku 'kan? Jadi, tak apa." Aku mengangkat bahuku.


Aku belum pernah berbagi buku dengan laki-laki. Aku agak ragu. Tapi, menolak kebaikan seseorang itu tidak sopan.


Aku akhirnya mengangguk. Aku mendorong mejaku dengan hati-hati ke arahnya, menggabungkannya. Arumasu menaruh bukunya di tengah.


Aku kembali duduk. Menatap buku yang berisi kalimat-kalimat Inggris rumit.


Memiliki teman yang membantu seperti ini cukup menyenangkan. Aku akan memberitahu teman-teman di Koriyama.


Aku membisikkan rasa terima kasihku.


"Tentu."


Tak berpikir dia bisa mendengarku, aku menjadi sedikit malu.


❀❀❀❀


Suara bel istirahat berbunyi. Diikuti beberapa percakapan antara murid di kelas. Tidak jauh berbeda dengan sekolahku dulu.


Aku masih belum selesai menulis materi tadi. Kanji memang sulit ditulis.


"Aku tidak menyangka, ternyata kita satu sekolah." Arumasu mengatakan sesuatu. Aku meletakkan pensilku lalu menutup buku. "Kukira kau masih SMP."


A-apakah aku sekecil itu? Kurasa tinggi badanku termasuk rata-rata....


"E-eh? Iya 'kah? Aku juga tidak menyangka bisa sekelas dengan Arumasu-kun," balasku tersenyum kepadanya. "Aku kira Arumasu-kun sudah kuliah."


Selesai mengatakan itu, Arumasu hanya mengangguk. Tidak mengatakan apapun setelah itu.


Ah! Bukankah itu seperti mengatakan bahwa seseorang terlihat tua? Apakah aku mengacau lagi?? Um... aku harus minta maaf....


"U-um! A-aku—"


"Shidoki-san! Sekolahmu yang dulu juga memakai Blazer ya? Dasimu terlihat imut~!"


Aku dipotong sebelum bisa mengatakan kalimatku. Beberapa orang mulai berdiri di samping dan di depan mejaku. Terlalu banyak orang


Aku harus menjawab pertanyaan tadi.


"A-ah, tidak. Sekolahku dulu memakai sweater. Pa—"


Ah! Murid SMA memanggil ayahnya Papa, kekanak-kanakan sekali!


"— err... A-ayahku sudah mempersiapkan seragam ini," jawabku. Tersenyum lemah. Lega karena tidak jadi mengatakan sesuatu yang aneh.


"Oh! Ayahmu pengertian ya? Bajumu terlihat imut!"


"A-ah, begitu ya? Terima kasih."


Aku mendengar suara kursi di sampingku. Arumasu berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan keluar. Ada ekspresi datar di wajahnya, sulit mengetahui pikirannya.


"Sayang sekali ya. Shidoki-san duduk di samping dia."


"Benar, orang itu pasti menyeramkan ya."


Setelah Arumasu pergi teman-teman sekelas mulai mengatakan hal-hal aneh. Mereka kelihatannya tidak menyukai Arumasu.


"E-eh?" Aku hanya bisa mengeluarkan suara aneh.


Apa alasannya? Bukankah Arumasu itu orang yang baik?


"U-uhm... Kenapa kalian mengatakan seperti itu tentang Arumasu-kun?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Shidoki-san tidak sadar? Orang wajahnya menakutkan seperti itu."


"Benar, dia juga dingin."


"Dingin?" Tanpa sadar, kata itu keluar dari mulutku.


"Iya, selama di sekolah, dia tidak pernah berbicara dengan siapapun."


"Benar, benar. Paling hanya Ketua yang berbicara dengannya. Itupun hanya satu sisi. Dia tidak pernah menjawab."


"Ah, orang seperti itu memang menyebalkan ya."


Aku hanya bisa diam mendengarkan perkataan mereka. Tidak tahu harus mengatakan apa-apa.


Dari awal, aku memang tidak mengenal baik Arumasu. Jika aku tidak sekolah di sini, mungkin saja aku tidak berbicara lagi dengannya.


Bukan siapa-siapa. Hanya tetangga. Seseorang yang membantuku.


Mungkin itu cocok menggambarkan Arumasu bagiku. Tapi, entah kenapa aku tetap tidak terima. Perkataan mereka tentang Arumasu itu salah.


Aku tahu itu. Meskipun aku tidak mengenal baik Arumasu. Aku tahu satu hal yang pasti.


Arumasu itu orang yang baik!


Tanpa sadar, aku berdiri dari tempat dudukku. Aku mengambil nafas dalam-dalam.


"Me-menurutku Arumasu-kun itu cukup baik, kok!"