
Pintu diketuk oleh seseorang. Revi menoleh ke pintu dan dia sangat terkejut saat melihat Nazwa yang datang. Wajah keduanya berubah tegang baik Revi maupun Nazwa.
“Oh, kamu lagi?”
"Ada apa kesini?'
"Dibayar berapa?"
"maksudnya?"
",Iya kamu dibayar berapa sama mas Rafa?"
“Jaga bicara anda?” sahut Revi geram
“Ya kamu. Kamu di sini kan untuk menjaga Kayla, jadi saya tanya berapa gaji kamu,” jelas Nazwa.
“Mbak, saya kemari mau membantu mas Rafa. Kebetulan mas Rafa tadi ada meeting penting makanya saya yang menggantikan.”
“Nggak mungkin mas Rafa minta tolong sama kamu,pasti kamu yang menyodorkan diri.”
“Mbak jangan sembarangan menuduh ya.”
“Saya heran saja melihat kamu. Kamu itu masih muda dan cantik lagi. Sebentar lagi kamu menikah. Kenapa sih kamu merendahkan harga diri kamu dengan mendekati papanya Kayla.”
Emosi Revi langsung memuncak tapi berusaaha ditahannya supaya jangan sampai terjadi keributan.
‘Sabar Revi... ini ujian sama kamu dan kamu harus tetap sabar jangan gampang terpancing emosi.’
Akhirnya Revi yang sudah sangat marah berusaha untuk tetap tetang sehingga Nazwa semakin kesal melihatnya.
“Hay mbak jaga ucapan Mbak ya. Tujuan saya kemari mau menjaga Kayla bukan mau menggoda mas Rafa dan Mbak sendiri nggak berhak mencampuri urusan mas Rafa. Mau siapa pun yang disuruh untuk menjaga Kayla, nggak ada hak Mbak mencampuri karena Mbak bukan istrinya mas Rafa lagi.”
“Kmu tau apa tentang rumah tangga kami. Jadi kamu jangan banyak omong,” ucap Nazwa bertolak pinggang.
Mendengar suara ribut-ribut Kayla pun terbangun.
“Tante.... tante...” panggil Kayla.
Revi dan Nazwa sama-sama mendekati Kayla.
“Ya Sayang, ini tante,” ucap Revi memeluk Kayla.
Tiba-tiba Nazwa yang juga berdiri di samping Kayla menarik tubuh Revi dan dia berusaha untuk memeluk anaknya, tapi Kayla-nya menolak. Tangis Kayla pun semakin kencang.
“Tante... tante sini...”
“Ini mama Sayang...” ucap Nazwa berusaha untuk memeluk putrinya tapi Kayla menolakkan.
Kemudian tangan mungil Kayla menarik tangan Revi. Melihat anaknya sangat dekat dengan Revi, Nazwa langsung merasa cemburu.
“Lebih baik kamu sekarang keluar biar saya yang menjaga Kayla, karena Kayla adalah anak saya.”
Revi yang sudah diberi amanah oleh papanya Kayla untuk menjaga Kayla, tidak tinggal diam. Dia tidak mau beranjak dari tempatnya karena dia merasa bertanggung jawab atas diri Kayla yang sudah dipercayakan Rafa untuk menjaga anaknya.
“Kamu nggak tau malu ya, udah saya usir pun masih tetap berdiri di situ,” ucap nazwa kesal.
“Tante pergi... pergi sekarang. Tante nggak boleh usir tante Revi.” Kayla terlihat sangat marah dengan sikap Nazwa.
“Sayang... kan ada mama di sini. Biar Mama aja nemani kamu ya, biar tante itu pulang,” ucap Nazwa.
“Kayla nggak mau. Kayla mau sama tante Revi aja,” ucap Kayla menggenggam erat tangan Revi.
“Sayang, tante akan tetap jaga kamu jadi kamu jangan takut ya. Kamu juga jangan nangis karena tante kan masih di sini,” ucap Revi menenangkan Kayla.
Nazwa langsung melepaskan tangan Kayla yang sedang memegang tangan Revi. Setelah genggaman itu lepas Nazwa langsung menggenggam erat tangan mungil Kayla. Kayla kemudian menangis lagi karena telah dipisahkan dari Revi. Revi tidak mampu berbuat apa-apa karena dia sedang bingung menghadapi situasi ini.
“Tante... tante Revi...” ucap Kayla sambil berusaha untuk berontak.
“Enggak... Kayla nggak mau. Kayla mau sama tante Revi!” bentak Kayla.
Tiba-tiba Rafa masuk dan menyaksikan keributan itu. Emosinya langsung naik hingga ke ubun-ubun kepalanya.
“Nazwa! Apa yang sudah kamu lakukan di sini,” bentak Rafa.
“Papa... Papa...” panggil Kayla sambil menangis.
Rafa langsung mendekati putrinya dan melepaskan genggaman tangan Nazwa. Nazwa pun tidak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya diam saja karena takut kalau Rafa akan mengusirnya.
“Sayang, ini papa,” ucap Rafa sambil memeluk putrinya.
“Pa, Kayla takut.”
“Di sini kan ada papa Sayang, jadi kamu jangan takut ya.” Hibur Rafa pada anaknya yang kelihatan sangat takut.
“Kamu ngapain kemari lagi.” Rafa terlihat marah pada Nazwa.
“Mas, aku mau menemui anakku, apakah itu salah?”
“Memang itu nggak salah, tapi cara kamu yang salah.”
“Tapi aku kan ibunya.”
“Jadi kalau kamu itu ibunya, harus kemari?”
“Aku mau Kayla dekat dengan aku, Mas.”
“Yang membuat dia jauh dengan kamu adalah kamu sendiri. Kamu yang telah meninggalkannya. Jadi wajar kalau dia tidak mau dekat dengan kamu. Anak kecil pun tau siapa yang sayang dengannya maka dia akan mendekati orang tersebut yang benar-benar menyayanginya dengan sepenuh hati,” jelas Rafa.
“Apa Mas pikir aku nggak sayang dengan Kayla?” Nazwa berusaha membela diri.
“Kalau kamu benar-benar sayang sama Kayla, kenapa baru sekarang kamu muncul?”
“Mas jangan ungkit-ungkit masalah yang sudah lalu.”
Rafa yang teringat dengan masa lalu saat Kayla ditinggalkan Nazwa hatinya sangat sakit dan kecewa sehingga dia langsung emosi saat mengingat hal itu.
“Kayla berbuat seperti ini karena masa lalu dia yang suram ketika kamu tinggal saat dia masih bayi. Kamu memang tidak punya hati. Demi laki-laki lain kamu tegah meninggalkan anak kandung kamu sediri sementara dia masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu.”
“Aku tau Mas, jadi jangan kamu hakimi aku dengan mengungkit kesalahan aku di masa lalu,” ucap Nazwa sambil menangis mengingat kejadian tiga tahuh yang lalu.
“Jadi saat ini kamu jangan banyak menuntut kalau Kayla tidak dekat sama.”
“Tapi aku minta tolong sama kamu Mas, tolong bujuk Kayla agar dekat sama aku.”
“Itu cara kamu menarik simpati pada Kayla, hanya kamu harus tau bahwa aku tidak pernah mengotori pikiran Kayla atau mempengaruhi Kayla untuk membencimu. Tapi Kayla sendiri sudah bisa menilai mana yang sayang sama dia dan mana yang tidak,” jelas Rafa.
Nazwa hanya bisa menangis sedih saat mendengar ucapan Rafa. Dia merasa menyesal karena telah meninggalkan anaknya sejak masih bayi.
“Kalau kamu mau mengambil hati anak kamu, mulai dari sekarang coba kamu perbaiki kelakuan kamu.”
“Tapi Mas, aku nggak mau sampai Kayla diasuh oleh ibu tiri.”
“Kamu nggak punya hak untuk mengatur hidup Kayla karena hak asuh Kayla udah di tanganku. Mau punya ibu tiri atau tidak, itu bukan urusanmu.”
“Tapi Mas, aku takut nantinya Kayla tidak disayang oleh ibu tirinya.”
“Tidak semua ibu tiri itu jahat. Buktinya, ibu kandungnya sendiri aja jahat. Jadi jangan berburuk sangka pada ibu tiri.”
“Mas, kenapa Mas masih menyalakan aku saja sih.”
“Aku nggak pernah menyalahkan siapa-siapa. Aku bicara apa adanya.”
Akhirnya Rafa pun keluar dari kamar Kayla untuk menenangkan diri. Dia duduk di teras sambil memperhatikan orang yang lalu-lalang. Sedangkan Nazwa pulang dengan perasaan sedih.