
Setelah puas bermain, Kayla mengajak papanya masuk ke kamar.
“Papa... ayo kita bobok,” ucap Kayla mendekati papanya yang sedang menonton TV di ruang tengah.
“Kayla udah ngantuk?” tanya papanya sambil mengelus kepala Kayla.
Kayla hanya mengangguk dan langsung duduk di pangkuan papanya.
“Malam ini nggak bobok sama nenek? Biasa Kayla boboknya sama nenek,” tanya Rafa.
“Kayla mau bobok sama papa aja malam ini.”
“Ya udah kalau gitu, ayo kita bobok di kamar.” Rafa langsung membopong Kayla.
“Aduh, anak papa udah tambah besar ya sampai papa udah nggak tahan gendongnya,” ucap Rafa sambil membopong Kayla ke kamar.
Setelah naik ke tempat tidur, tidak lama kemudian Kayla pun sudah tertidur nyenyak. Tinggallah Rafa yang sejak tadi tidak dapat memejamkan matanya. Dia memikirkan ucapan ibunya tadi sore.
‘Bener apa yang dikatakan ibu tadi sore. Revi sangat menyayangi Kayla dan ibu juga menginginkan Revi menjadi mamanya Kayla. Tapi semua ini nggak akan mungkin terjadi karena sebentar lagi Kayla akan menikah. Aku mulai sekarang harus bisa melupakan Revi. Semakin sering aku mengingatnya maka akan semakin sakit hatiku. Mulai sekarang aku harus bisa melupakan Revi dan mencari penggantinya,’ batin Rafa.
Setelah cukup lama menghayal, akhirnya Rafa tertidur pulas.
***
Revi di dalam kamarnya sejak tadi memikirkan kebersamaannya dengan Rafa.
‘Kenapa perasaanku sangat tenang saat berada di dekat mas Rafa. Aku merasakan ketenangan saat berkumpul dengan mas Rafa dan juga Kayla. Rasanya aku nggak sanggup untuk berpisah dari Mas Rafa. Bayangan wajah mas Rafa selalu melekat dalam hatiku. Melihat wajah mas Rafa yang begitu tenang dan lembut membuat aku ingin berlama-lama di dekatnya. Sementara saat bersama mas Dandi perasaanku biasa aja.
Saat sedang memikirkan Rafa tiba-tiba ponsel Revi berdering dan terlihat panggilan masuk dari Dandi. Revi langsung mengangkatnya.
[“Assalamualaikum Sayang. Lagi ngapain?”] tanya Dandi pada Revi.
[“Waalaikumsalam Mas. Ini aku baru mau tidur. Ada apa ya Mas?”] tanya Revi.
[“Nggak ada Sayang. Mas hanya kangen aja sama kamu.”]
‘Dasar gombal,’ batin Revi.
[“Jadi besok papa pulang Sayang?”]
[“Kata dokter sih, iya Mas.”]
[“Kamu sekarang di rumah atau di rumah sakit Sayang...”]
[“Aku di rumah Mas.”]
[“Oh... mas pikir kamu masih di rumah sakit menemani papa.”]
[“Tadi siang aku layat Mas dan pulangnya langsung pulang ke rumah.”]
[“Memangnya siapa yang meninggal Sayang?”]
[“Mama kandungnya Kayla, Mas.”] jelas Revi.
[“Berarti istrinya pria yang datang tadi siang ke rumah sakit?”]
[“Benar Mas. Pria itu namanya Rafa. Mas Rafa itu papanya Kayla.”] jelas Revi lagi.
[“Tapi semalam siang yang datang hanya papanya Kayla aja dan neneknya. Kenapa kamu katakan barusan mamanya Kayla meninggal. Mas jadi bingung nih...”]
[“Begini Mas. Mas Rafa itu sudah bercerai dengan istrinya ketika Kayla masih kecil.”]
[“Berarti mas Rafa itu seorang duda?”]
[“Ya iya Mas.”]
[“Tapi mas nggak suka lihatnya Sayang.”]
[“Nggak suka kenapa Mas?”] tanya Revi heran.
[“Pokoknya mas nggak suka. Dia itu sepertinya mencari perhatian kamu aja. Apalagi anaknya sepertinya sangat manja sama kamu.”]
[“Bukan loh Sayang. Bukan mas berburuk sangka sama mereka, tapi mas lihat sendiri kalau papanya Kayla itu suka mencari simpati kamu. Dia selalu memperhatikan kamu aja. Anaknya juga suka bermanja-manja sama kamu.”]
Revi langsung kesal mendengar kejujuran Dandi. ‘Kenapa mas Dandi begitu membenci Kayla, padahal mereka belum saling kenal atau karena mas Dandi cemburu sama mas Rafa.’
[“Memangnya salah kalau bermanja-manja Mas. Wajar saja Kayla bermanja-manja sama aku karena dia sejak kecil sudah ditinggal mamanya.”]
[“Tapi manjanya terlalu berlebihan.”]
[“Jangan pernah membenci orang lain Mas, apalagi Mas sendiri tidak pernah bergaul dengan mereka.”] nasehat Revi.
[“Walau pun mas nggak pernah bergaul dengan mereka, tapi dari penampilan mereka mas bisa menilai bagaimana karakter seseorang itu.”]
Revi yang merasa Dandi terlalu berlebihan dalam menilai orang merasa muak dan bosan berlama-lama berbicara dengannya.
[“Udah deh Mas, kita nggak perlu berdebat. Sekarang aku mau nanya, ada keperluan apa malam-malam Mas nelpon aku?”]
[“Apa nggak boleh mas nelepon kamu.”] Terdengar nada suara Dandi sudah mulai kesal.
[“Yang mengatakan nggak boleh siapa sih...”]
[“Mas hanya kesal aja karena kamu lebih mementingkan keluarga Kayla dari pada calon suami kamu.”]
Mendengar tuduhan Dandi yang tidak beralasan, Revi langsung marah.
[“Mas, kenapa sih membenci orang tanpa alasan yang jelas.”]
[“Sayang, alasan mas itu udah jelas. Mas nggak menyukai keluarga Kayla, jadi mas harap agar kamu jangan terlalu dekat dengan mereka.”]
[“Mas kenapa sih mengatur hidup aku.”] ucap Revi kesal.
[“Semua ini mas lakukan karena kamu calon istri mas.”]
[“Terserahlah Mas, apa kata Mas. Kalau memang nggak ada keperluan lain, ya udah aku udah ngantuk mau tidur.”] ucap Revi mematikan ponselnya.
Revi sangat kesal dengan Dandi karena terlalu meremehkan Rafa. ‘Mas Dandi terlihat sangat sombong,’ batin Revi.
Setelah cukup lama bermain dengan pikirannya, akhirnya Revi tertidur pulas.
***
“Pagi-pagi saat Rafa akan berangkat kerja, bu Dian pamit akan pulang ke rumahnya.
“Rafa, nanti ibu pulang dulu ke rumah ya,” ucap bu Dian.
“Ngapain sih Ibu pulang lagi. Di sini kan ibu bisa menemani Kayla, sedangkan di sana ibu sendiri. Kalau malam nggak ada yang menemani Ibu,” jelas Rafa.
“Tapi ibu segan sama tante Dita, karena tante Dita yang menjalankan usaha catering ibu saat ini. Semalam itu Kayla sakit dan ibu pergi aja. Ibu minta tolong untuk sementara aja agar catering ibu diurus sama tante Dita.”
“Ya udah Bu, cateringnya kasihkan aja sama tante Dita biar ibu tinggal di sini menemani Kayla,” pinta Rafa.
“Tapi yang ibu pikirkan sekarang, kalau catering ibu, ibu serahkan sama tante Dita gimana kalau ibu nantinya akan pulang ke rumah ibu lagi.”
“Ngapain Ibu pulang lagi ke rumah. Ibu tinggal di rumah Rafa untuk selamanya.”
“Nggak mungkin Rafa, apalagi kalau nanti kamu sudah menikah. Ibu nggak enak sama menantu ibu nantinya. Kalau sekarang ibu bisalah tinggal sama kamu, karena kamu belum menikah lagi. Tapi nanti kalau kamu sudah menikah lagi, ibu mau tinggal di rumah ibu sendiri.”
“Kalau memang itu keinginan Ibu, ya udah nggak apa-apa. Jadi sebelum Rafa menikah lagi ibu tinggal di sini bersama kami.”
“Makanya hari ini rencana ibu mau pulang ke rumah dan besok atau lusa ibu kembali lagi kemari,” jelas bu Dian.
Begitu mendengar neneknya mau pulang Kayla pun langsung merengek minta ikut.
“Nek, Kayla ikut nenek ya?” ucap Kayla sambil mendekati neneknya.
“Nggak usah Sayang. Besok nenek kan udah kembali lagi.”
“Nanti nenek bohong...” ucap Kayla cemberut.
“Nggak Kayla, nenek nggak bohong,” ucap bu Dian meyakinkan cucunya.