
“Selamat pagi Pak?” sapa seorang wanita cantik pada satpam di pintu masuk ruang administrasi.
“Pagi Mbak, ada yang bisa saya bantu?” jawab pak Tono yang merupakan security di perusahaan yang dikelola Dandi.
“Maaf Pak, bisa saya ketemu dengan pak Dandi?” tanya wanita itu sopan.
Pak Tono langsung memperhatikan wanita itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki sambil bertanya-tanya dalam hati.
‘Siapa wanita ini. Dia masih muda dan cantik. Dilihat dari penampilannya wanita ini sepertinya dari keluarga yang berada. Tapi dilihat dari perutnya sepertinya wanita itu sedang hamil. Walau pun perutnya belum begitu besar, tapi kelihatan kalau wanita ini sedang hamil. Siapa sebenarnya wanita ini?’ batin pak Tono.
“Pak... ada pak Dandinya?” tanya wanita itu lagi.
“Eh, maaf Mbak. Tadi ada, mari Mbak biar saya antar ke ruangan pak Dandi.”
Pak Tono langsung membawa wanita muda itu menuju ruang kerja Dandi. Setiap orang yang berpapasan dengan pak Tono langsung bertanya, tapi pak Tono hanya menggelengkan kepalanya.
“Itu ya Mbak, yang tertutup itu ruangannya pak Dandi,” jelas pak Tono menunjuk ruangan yang tertutup.
“Terima kasih Pak...” jawab wanita itu ramah.
Kemudian wanita itu mengetuk pintu itu.
“Tok, tok....”
“Masuk....” Terdengar suara sahutan dari dalam.
“Ceklek....” Pintu langsung dibuka wanita muda itu.
Begitu pintu terbuka, Dandi langsung terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya, apalagi melihat perut Sheila yang telah membuncit.
“Kenapa Dandi, kamu pasti terkejut kan?” Wanita yang bernama Sheila seperti nama mamanya Dandi langsung tersenyum sinis.
“Ngapain kamu kemari Sheila?”
“Kamu pasti bingung dan takut melihat kedatanganku kan. Kamu pikir aku tidak berani menemui kamu?”
Dandi hanya diam terpaku menatap Sheila. Setelah Dandi dapat menguasai detak jantungnya, akhirnya dia pun berkata. “Ngapain kamu kemari Sheila?”
“Kamu tanya aku ngapain kemari. Kamu lihat sendiri perut aku,” ucap Sheila dengan nada marah.
Mata Dandi langsung terperanjat karena terkejut melihat perut Sheila yang sudah membuncit. Ternyata yang ditakuti Dandi menjadi kenyataan. Begitu melihat Sheila datang dengan perut besar Dandi sudah bisa menebak bahwa anak yang dikandung Sheila adalah anaknya.
“Maksud kamu?” tanya Dandi.
“Kamu jangan pura-pura bodoh Dandi. Aku kemari mau minta pertanggung jawabanmu karena anak yang aku kandung adalah anakmu.”
“Sheila, kamu jangan mempermainkan aku.”
“Mempermainkan gimana maksud kamu?”
“Bukankah waktu itu kamu sudah aku kasih uang untuk menggugurkan bayi itu?”
“Kamu pikir segampang itu Dandi. Aku sudah berusaha menggugurkan dengan uang yang kamu beri, tapi tidak berhasil. Dan aku sudah bersusah payah mencari kamu tapi jejak kamu hilang begitu saja. Setelah kejadian itu kamu langsung pergi bak ditelan bumi. Aku sudah berusaha mencari kamu dan menanya alamat kamu pada teman dekat kamu, tapi mereka semua tidak tau. Aku yakin mereka sengaja merahasiakan alamat kamu supaya aku tidak bisa menemukan kamu.”
Sheila adalah teman kuliah Dandi saat di luar negeri. Sheila adalah orang Jakarta. Tujuh bulan yang lalu Dandi sempat tinggal di Jakarta selama dua bulan. Selama di Jakarta hubungan mereka sangat dekat sehingga membuat Sheila hamil. Mengetahui Sheila hamil, Dandi memintanya untuk menggugurkannya dengan memberikan sejumlah uang. Kemudian Dandi pulang ke Medan dan tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Sheila. Dandi berpikir kalau Sheila sudah menggugurkan kandungannya. Tapi ternyata dugaan Dandi salah. Sheila bahkan datang menemui Dandi disaat Dandi akan menikah dengan Revi.
“Kamu jangan sembarangan menuduh Sheila. Aku nggak pernah menyembunyikan alamat aku pada siapa pun. Oh ya, mungkin saja bayi dalam kandunganmu bukan hanya anak aku, tapi anak pria lain.”
“Apa katamu Dandi?” ucap Sheila marah.
“Aku yakin pada saat itu, kamu tidak hanya dekat dengan aku aja, tapi kamu juga dekat dengan pria lain. Karena saat aku meniduri kamu, kamu sudah tidak perawan lagi,” jelas dandi.
Melihat Sheila menangis, Dandi merasa bingung. Dia kemudian diam, sambil memikirkan jalan keluarnya.
“Sekarang kamu tinggal di mana, nanti aku menemui kamu. Lebih baik kamu pulang sekarang. Aku nggak mau satu orang pegawai pun tau tentang masalah ini.”
“Aku nggak mau kamu kecewakan lagi Dandi.”
“Maksud kamu apa?” tanya Dandi dengan suara pelan karena takut terdengar oleh pegawai yang ada di luar ruangan itu.
“Kalau sampai kamu tidak datang, jangan salahkan aku akan kemari lagi dan ngomong pada semua orang.”
Setelah Sheila memberikan alamat tempat tinggalnya di Medan, dia kemudian langsung pergi.
***
Setelah Surti disuruh pergi oleh Rafa, maka Kayla tidak ada yang menjaga. Bu Dian masih berada di kampung halamannya. Tadi malam bu Dian ditelepon Rafa agar segera kembali ke rumahnya. Rencana pagi ini bu Dian baru berangkat dari rumahnya, dan kemungkinan siang baru sampai ke rumah Rafa. Rafa pun merasa bingung karena tidak ada yang menjaga Kayla pagi ini.
Pagi-pagi setelah membuatkan sarapan untuk Kayla, Rafa menemani Kayla yang sedang menonton TV di ruang tengah.
“Papa nggak berangkat kerja?” tanya Kayla.
“Nggak Sayang karena nggak ada yang menjaga kamu. Nenek nanti siang baru sampai,” jelas Rafa.
“Papa, Kayla di rumah tante Revi aja ya biar Papa bisa kerja.”
Rafa langsung tersenyum mendengar ucapan putrinya. Kemudian dielusnya kepala putrinya sambil berkata. “Tante Revi sibuk Sayang. Papa nggak mau merepotkan tante Revi.”
“Tante Revi nggak sibuk Pa. Setiap hari tante Revi menemani Kayla.”
“Iya, tapi Papa segan karena tante Revi kan mau menikah jadi banyak yang harus dikerjakan. Pasti tanter Revi sedang repot,” jelas Rafa.
Akhirnya dengan wajah cemberut Kayla melanjutkan bermain.
‘Benar juga apa yang dikatakan Kayla. Kalau hanya setengah hari aja, lebih baik aku minta tolong Revi menjaga Kayla,’ batin Rafa.
Akhirnya Rafa memberanikan diri pergi ke rumah Revi. Melihat kedatangan Rafa tidak seperti biasanya, bu Lusi merasa heran.
“Ada apa nak Rafa?” tanya bu Lusi heran ketika membukakan pintu.
“Maaf sebelumnya ya Bu. Saya mau minta tolong sama Revi agar menjaga Kayla setengah hari aja menunggu neneknya datang.”
Revi yang sedang berada di dapur langsung keluar mendengar suara Rafa.
“Ada apa Mas?” tanya Revi yang baru muncul di hadapan Rafa.
“Maaf sebelumnya Revi kalau akan merepotkan kamu. Mas mau minta tolong kamu untuk menjaga kan Kayla sampai siang aja karena neneknya siang baru sampai.”
“Memangnya bi Surti ke mana nak Rafa?” tanya bu Lusi.
Rafa pun bingung harus menjawab apa.
“Bi Surti udah nggak kerja lagi Bu,” jelas Rafa singkat.
Melihat seperti ada yang ditutupi Rafa, akhirnya bu Lusi mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih dalam lagi.
“Ya udah nak Rafa, nanti Revi biar ke sana nemani Kayla atau Kayla nanti yang kemari,” ucap bu Lusi.
“Terima kasih sebelumnya ya Bu, Revi,” ucap Rafa dan langsung pamit pulang.