
Rafa pulang ke rumah, Kayla langsung menyambutnya dengan senyum manisnya.
“Papa...” panggil Kayla saat melihat Rafa turun dari kendaraannya.
Rafa mengangkat Kayla dalam gendongannya. Kemudian diciumnya berkali-kali membuat Kayla tertawa.
“Udah Papa, udah...” ucap Kayla kegelian saat kumis Rafa menyentuh pipinya.
“Sekarang gantian donk, cium Papa,” pinta Rafa pada putrinya. Kayla langsung mencium pipi papanya.
“Papa, kita jadikan nanti jalan-jalan?”
“Kayla mau jalan-jalan ke mana Sayang?”
“Kita jalan-jalan ke mall ya Pa, biar Kayla mandi bola.”
“Papa capek loh Sayang. Lain kali aja ya kita jalan-jalannya.” Rafa berpura-pura tidak mau diajak jalan-jalan.
“Kayla mau sekarang Pa.”
“Gimana kalau minggu depan aja kita jalan-jalannya,” tawar Rafa.
“Nggak mau, Kayla mau sekarang Pa.”
Bu Dian yang mendengar rengekkan cucunya langsung keluar dari kamarnya.
“Kenapa Sayang?” tanya neneknya.
“Kayla mau jalan-jalan ke mall Nek, tapi papa nggak mau. Kata papa minggu depan,” jelas Kayla.
“Kenapa harus minggu depan Rafa? Kasihan donk sama anak kamu,” ucap bu Dian.
Rafa langsung tertawa melihat ucapan ibunya.
“Enggak loh Bu. Rafa kan hanya bercanda.”
“Papa kamu kan gitu, suka kali bercanda,” ucap bu Dian sedikit kesal.
“Iya Sayang, malam ini kita jalan-jalan,” ucap Rafa mengelus kepala putrinya.
“Horee... horee...” ucap Kayla kegirangan.
“Sekarang papa mau mandi dulu ya, nanti habis magrib kita langsung pergi.”
“Oke Pa...” jawab Kayla sambil mengacungkan jempolnya.
Rafa dan bu Dian langsung tertawa melihat kelucuan Kayla.
***
Sehabis magrib Surti langsung berdandan secantik mungkin dan sewangi mungkin. Hatinya saat ini sedang berbunga-bunga karena sore tadi bu Dian sudah memberi tau padanya bahwa Rafa dan Kayla akan jalan-jalan ke mall bersamanya, sehingga sejak sore tadi Surti sudah tidak sabar ingin pergi bersama Rafa jalan-jalan.
Kayla juga sudah bersiap-siap sedangkan Rafa masih berada di dalam kamarnya. Kayla yang tidak sabar menunggu papanya keluar dari kamar, langsung memanggilnya.
“Pa.... Papa... ayo donk kita berangkat sekarang.”
“Sebentar Sayang,” jawab papanya dari dalam kamar.
Tidak lama kemudian Rafa pun keluar dari kamarnya.
“Rafa, Surti ikut ya,” ucap bu Dian.
“Tante Surti ikut Nek?” tanya Kayla seperti tidak senang.
“Iya, nenek menyuruh tante Surti ikut karena ada yang mau nenek beli. Papa kamu kan tidak pintar membeli seprei makanya tante Surti nanti yang milihkan.”
Rafa hanya diam saja tidak bisa mengelak.
Akhirnya mereka bertiga pergi ke Thamrin Plaza. Begitu turun dari kendaraan, Surti berusaha mengambil hati majikannya. Dia mulai memasang aksinya.
“Sayang sini dengan tante Surti.” Surti berusaha memegang tangan Kayla, tapi Kayla menepisnya. Dia tidak mau lepas dari pegangan papanya.
‘Awas kamu ya Kayla. Kalau nggak ada papa kamu habis kamu aku buat. Sekarang kamu bisa sesukamu selagi ada papa kamu, tapi kalau papa kamu nanti enggak ada, aku akan buat perhitungan untuk kamu. Masih kecil aja sudah banyak tingkah,’ batin Surti kesal.
***
Nazwa yang tinggal sendiri di rumahnya kadang merasa kesunyian apalagi suaminya saat tinggal bersama istri pertamanya. Setiap hari waktunya dihabiskan hanya untuk menonton TV sambil bermain handphone ketika suaminya tidak di rumah.
Nazwa terkadang merasa bosan sendiri dengan kehidupannya yang selalu diawasi dan dikekang oleh suaminya. Suaminya yang bernama Budi merupakan orang yang kejam pada istrinya. Walaupun Nazwa merasa seperti hidup sendiri, tapi tidak ada pilihan lain baginya selain hanya menuruti kemauan suaminya. Dia juga merasa bersyukur karena Budi telah menyelamatkannya dari kehidupan yang kelam.
Sebelum menikah dengan Budi pekerjaan Nazwa adalah wanita penghibur yang pergi ke sana kemari dengan pria hidung belang. Kalau mengingat kejadian yang kelam itu Nazwa seperti bangun dari mimpi buruknya.
Sejak tadi sore Nazwa hanya menonton TV. Dia malas untuk melakukan aktivitas rutinnya yang setiap sore dilakukannya yaitu menyiram bunga anggreknya. Untuk menghilangkan rasa bosannya Nazwa menanam dan merawat anggrek kesayangannya. Setiap hari anggrek-anggrek itu disemprot dan disiramnya. Hanya itulah yang bisa membuat hati Nazwa senang, saat melihat bunga anggrek kesayangannya sedang berbunga.
Tapi sejak sore ini Nazwa hanya banyak berdiam diri di dalam rumahnya. Ingatannya pada Kayla membuat perasaannya terusik kembali. Kenangan kecil Kayla pada saat masih bayi membuat Nazwa merasa bersalah. Ada penyesalan terbesar dalam dirinya kalau mengingat hal itu, apalagi saat dia membandingkan suaminya yang sekarang dengan papanya Kayla. Kalau bisa waktu berputar kembali, ingin rasanya Nazwa berlama-lama menikmati hidup dengan suami dan anaknya yang telah ditinggalkannya.
Sejak dari tadi kerjanya hanya merenung di depan TV. Walaupun mata tertuju pada layar TV, tapi hati dan pikirannya pergi jauh bersama Kayla. Kalau saja saat itu aku tidak tergoda oleh bujuk rayu Rizky, mungkin aku akan hidup bahagia bersama Kayla dan mas Rafa,” batin Nazwa sedih.
Tanpa terasa bulir-bulir hangat keluar dari sudut matanya. Tiba-tiba terdengar pintu depan diketuk oleh seseorang. Nazwa buru-buru menghapus air matanya. Dia kemudian beranjak dari duduknya berjalan ke ruang tamu. Dengan langkah berat dia membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka Nazwa sempat terkejut karena suaminya sudah berdiri di depan pintu. Nazwa sempat terdiam memandang suaminya yang sedang tersenyum padanya. Dia seakan tidak percaya. Nazwa langsung menggosokkan matanya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
“Kenapa Sayang. Apa kamu nggak senang melihat suami kamu pulang,” ucap Budi sambil tersenyum.
“Eh... nggak Mas. Aku senang,” ucap Nazwa gugup.
Budi sang suami langsung memeluk erat istrinya. Nazwa tampak bingung. Dia tidak mengira suaminya akan pulang malam ini karena malam ini jatah buat istri yang pertama.
“Kenapa Sayang. Kamu pasti heran ya melihat aku pulang hari ini.”
Nazwa langsung menganggukkan kepalanya.
“Aku malas Sayang di rumah istriku,” ucap Budi sambil merangkul pundak istrinya dan berjalan ke ruang tengah.
“Kenapa Mas?” tanya Nazwa heran.
“Malas aja Sayang. Tadi aku hanya jumpa sebentar dengan anak-anakku dan kemudian langsung kemari.”
“Apa istri kamu nggak marah Mas?”
“Marah? Kalau dia marah dan banyak menuntut, aku nggak akan pusing. Langsung aja aku ceraikan,” jelas Budi dengan nada angkuhnya .
Mendengar penjelasan Budi hati Nazwa merasa ciut.
‘Kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri mas. Kamu tidak pernah memikirkan perasaan istri kamu yang butuh perhatian kamu. Setelah istri kamu sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis kamu, langsung kamu campakkan begitu saja. Aku juga yakin suatu saat kalau aku tidak mampu memenuhi kebutuhan biologismu, pasti aku akan dicampakkan sama seperti istri pertamanya. Kamu lebih sering menghabiskan waktumu bersamaku hanya karena untuk memenuhi hawa nafsumu saja,’ batin Nazwa sedih.