My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Menjenguk



Selesai mandi Rafa menemui putrinya yang sedang bermain di ruang tengah.


“Sayang, lagi ngapain?” tanya Rafa pada Kayla.


"Main masak-masakan Pa?”


“Masak apa Sayang?” tanya Rafa sambil memperhatikan perlengkapan masak Kayla.


“Masak kolak. Papa mau kan makan kolak Kayla?”


“Masak kolak apa Sayang?” tanya Rafa lagi.


“Kayla masak kolak pisang, Pa.”


“Kalau gitu, papa mau deh.”


“Entar ya Pa, kolaknya belum masak. Kalau udah masak pasti Kayla kasih.”


“Ya udah, sekarang masak dulu ya. Oh ya, nenek mana Sayang?” tanya Rafa sambil melirik ke kanan dan ke kiri mencari sosok ibunya.


“Nenek tadi di teras Pa,” jelas Kayla.


“Papa nemui nenek dulu ya Sayang,” ucap Rafa langsung menuju teras.


Terlihat bu Dian sedang melihat bunga yang ada di teras.


“Lagi ngapain Bu?” tanya Rafa.


“Ibu lihat bunga anggrek kamu, rencananya besok pagi bunga anggreknya mau ibu buat jadi dua pot, karena pot bunganya sudah padat,” jelas bu Dian.


Rafa kemudian berjalan mendekati ibunya.


“Bu, ada yang mau Rafa bicarakan sama ibu loh.”


“Ayo, kita duduk di sana,” ajak Bu Dian.


Kemudian bu Dian dan Rafa duduk di bangku panjang di bawah pohon belimbing. Setelah ibunya duduk, Rafa mulai berbicara.


“Mau bicara apa Rafa?” tanya bu Dian.


“Rafa mau membicarakan yang tadi pagi Bu.”


Bu Dian terlihat hanya diam sambil memperhatikan Rafa.


“Ibu udah tau apa yang akan kamu bicarakan.”


“Maksud ibu?” tanya Rafa heran.


“Kamu ingin membawa Kayla menemui Nazwa kan?” tanya bu Dian.


Rafa langsung menganggukkan kepalanya.


“Kalau ibu sih, terserah kamu aka karena Kayla anak kamu. Tapi kamu harus bisa melihat ke belakang bagaimana perlakuan Nazwa terhadap kamu dan Kayla. Kamu pasti masih ingat bagaimana perjuangan ibu membesarkan Kayla. Sejak dia masih bayi, apa pernah Nazwa itu memikirkan Kayla. Jangankan untuk bertemu, menanya kabar Kayla pun dia nggak pernah. Kalau mengingat itu, hati ibu sangat sakit rasanya. Ibu bukan mau membangkit pengorbanan ibu karena telah mengurusi Kayla, tapi Ibu sakit hati kalau mengingat hal itu.”


Tanpa terasa air mata bu Dian pun mengalir. Rafa langsung mengelus ibunya.


“Maafkan Rafa ya Bu, kalau telah membuat Ibu sedih. Nggak ada niat Rafa untuk menyakiti perasaan Ibu. Rafa hanya kasihan pada Kayla Bu. Rafa takut kalau umur Nazwa tidak panjang, maka akan menjadi penyesalan bagi Rafa karena tidak mempertemukan Kayla pada mamanya di saat hari-hari terakhirnya.”


“Bukankah Kayla nggak suka sama Nazwa dan bahkan dia takut?”


“Memang iya Bu, tapi Rafa akan memberi pengertian pada Kayla. Mengenai kelakuan Nazwa yang telah menyakiti perasaan Rafa sudah Rafa hilangkan. Rafa nggak mau ada dendam di hati Rafa, Bu. Allah aja memaafkan umatnya, kenapa kita sebagai manusia tidak saling memaafkan. Setiap manusia pasti punya kesalahan, tapi tidak ada hak kita untuk menghakiminya Bu. Biarlah Allah yang akan menghukumnya. Mungkin dengan musibah yang Nazwa alami sekarang ini adalah hukuman yang telah diberikan Allah padanya. Jadi kita sebagai manusia tidak berhak untuk menghakiminya. Kalau kita mengingat ke belakang, yang ada hanyalah rasa sakit hati, dendam dan amarah. Tapi semua itu adalah setan yang harus kita usir dari hati kita Bu. Bahkan orang tua dan saudara kandung Nazwa sendiri yang sudah disakitinya dan merasa sangat kecewa dengan kelakuan Nazwa, begitu Rafa kabari mereka merasa sangat senang,” jelas Rafa.


Terlihat bu Dian tak dapat membendung air matanya.


“Maafkan ibu ya Rafa karena ibu telah membenci Nazwa.”


“Terima kasih ya Bu, kalau Ibu sudah memaafkan Nazwa.”


“Ya udah besok kan hari Minggu kita sama-sama ke rumah sakit menjenguk Nazwa dan juga pak Wandi,” ucap bu Dian.


“Terima kasih Bu atas pengertiannya,” ucap Rafa sambil mengelus pundak ibunya.’’


“Ibu yang berterima kasih sama kamu Rafa, karena kamulah terbuka hati ibu.”


***


“Udah Pa. Kayla udah siap dari tadi.”


“Nenek mana, udah siap juga?”


“Entar ya Pa, Kayla lihat dulu di kamar.”


Setelah bu Dian keluar dari kamarnya, mereka langsung pergi ke rumah sakit. Jalanan tampak ramai oleh pengguna jalan karena hari ini adalah hari Minggu di mana banyak orang yang berpergian. Setelah hampir lima belas menit perjalanan, mobil memasuki area parkiran.


Rafa sambil memegang tangan Kayla berjalan melalui koridor rumah sakit yang cukup panjang, sedangkan bu Dian berjalan di belakang mereka. Rafa tetap memegang tangan Kayla karena begitu dilepas tangan Kayla, Kayla langsung lari membuat Rafa harus mengejar Kayla yang sudah berjalan di depan.


“Kayla jangan lari aja, nanti kamu jatuh loh,” ucap neneknya.


“Sekarang tangan Kayla harus papa pegang terus nih. Kalau nggak, Kayla langsung lari aja.”


“Papa... Kayla mau lari biar cepat sampainya,” ucap Kayla.


“Kayla nggak takut. Di sana banyak dokter dan suster. Mereka kalau melihat anak yang lasak pasti nanti disuntik. Kayla mau disuntik?” ucap Rafa menakuti putrinya.


“Nggak mau Pa,” ucap Kayla dengan wajah cemberut.


“Makanya Kayla jangan lari-lari ya. Biar papa pegang aja tangan Kayla, biar nggak disuntik sama bu dokter.”


Akhirnya Kayla pun menurut dan berjalan sambil dipegang tangannya oleh papanya.


“Memangnya eyang sakit apa Pa?” tanya Kayla kepo.


“Dada eyang sakit,” jelas Rafa.


“Kenapa bisa sakit Pa?”


“Papa nggak tau Sayang, karena papa kan bukan dokter,” jelas Rafa.


“Papa kenapa dulu nggak jadi dokter aja sih,” tanya Kayla.


Rafa pun hanya tersenyum mendengar ucapan putrinya.


“Papa nggak mau jadi dokter Sayang. Makanya Kayla nanti kalau udah besar jadi dokter ya, biar bisa ngobati nenek kalau nenek sakit,” ucap bu Dian sambil tertawa.


“Iya Nek, Kayla mau jadi dokter nanti kalau udah besar,” ucap Kayla sambil tertawa.


“Aamiin, mudah-mudahan Kayla jadi dokter ya,” ucap Papanya.


Tidak lama kemudian mereka pun sampai di ruang rawat pak Wandi.


“Gimana kabarnya Pak?” tanya bu Dian.


“ Alhamdulillah Bu, sudah mendingan. Rencananya besok sudah bisa pulang,” jelas bu Lusi.


“Oh iya, syukurlah kalau gitu.”


“Eyang, tante Revi mana?” tanya Kayla pada bu Lusi.


“Tante Revi sebentar lagi datang Sayang.”


“Tapi kan tante Revi sudah sejak tadi perginya dari rumah,” jelas Kayla.


“Memangnya Kayla tau kalau tante Revi sudah pergi dari tadi?” tanya bu Dian.


“Tau Nek. Tadi kan Kayla main di teras dan Kayla lihat kalau tante Revi sudah pergi.”


Bu Lusi langsung tertawa. “Benar Sayang, tapi tante Revi tadi pergi dengan temannya.”


“Pasti tante Revi pergi dengan cowoknya ya Eyang.”


Semua yang ada di situ langsung tertawa. “Bukan cowoknya, tapi calon suami tante Revi,” jelas bu Dian.


“Berarti sebentar lagi tante Revi akan menikah dengan om itu donk...” ucap Kayla.


Mendengar pengakuan putrinya, Rafa langsung gemas.


“Kamu masih kecil aja selalu mau tau,” ucap Rafa sambil mengules kepala putrinya.


Kayla langsung tersenyum. Tiba-tiba pintu diketuk dan terlihat Revi dan Dandi masuk. Dada Rafa langsung sesak melihat kedekatan Revi dengan Dandi. Cepat-cepat Rafa memalingkan pandangannya supaya perasaanya tidak terlalu sakit.