
Seminggu sudah Nazwa meninggal, datanglah dua orang wanita. Seorang wanita yang masih muda dan satu orang lagi sudah tua dan seorang pria yang merupakan sopir mereka. Kedua wanita itu langsung membuka pintu rumah Nazwa.
Bu Vina yang sedang menyiram bunga di halaman rumahnya melihat kedatangan kedua wanita itu langsung menemuinya karena bu Vina merasa curiga dan bertanya-tanya siapa sebenarnya kedua wanita itu.
“Maaf ya Bu, saya mau nanya. Ibu ini siapa ya?” tanya Bu Vina sopan.
Kedua wanita itu langsung menoleh ke arah bu Vina.
“Saya ibunya Budi dan ini adiknya Budi,” ucap wanita yang tua itu.
“Ibu ada keperluan apa kemari?” tanya bu Vina ingin tau.
“Begini Bu. Kami ingin membawa semua barang-barang kakak saya,” jelas wanita yang masih muda itu.
“Ibu apa sudah bicara sama orang tuanya bu Nazwa, karena setau saya barang-barang yang ada di dalam rumah ini semuanya milik ibu Nazwa,” jelas bu Vina.
Mendengar penjelasan bu Vina, wanita yang masih muda itu seperti tidak senang.
“Maaf ya bu. Rumah ini telah dikontrak oleh kakak saya, jadi semua barang yang ada di dalam rumah ini milik kakak saya karena istrinya sudah meninggal.”
“Tapi yang saya tau barang yang ada di dalam rumah ini dibeli oleh bu Nazwa sebelum dia menikah. Jadi suaminya tidak berhak memilikinya,” jelas bu Vina.
“Ibu kan tetangganya, kenapa Ibu ikut campur urusan rumah tangga orang,” ucap wanita itu dengan nada marah.”
“Memang saya tetangganya, tapi saya banyak tau karena bu Nazwa sering cerita sama saya. Jadi ibu-ibu ini tidak berhak atas harta ini. Yang berhak adalah kedua orang tuanya bu Nazwa.”
Setelah mendapat tantangan keras dari bu Vina, akhirnya kedua wanita itu pun pergi. Melihat kedua wanita itu pergi, bu Vina langsung menghubungi ibunya Nazwa. Kebetulan saat Nazwa meninggal, bu Vina sempat meminta nomor ponsel ibunya Nazwa dan kemudian bu Vina langsung menghubungi ibunya.
Bu Vina kemudian menceritakan hal yang baru dilihatnya dan menyuruh orang tua Nazwa agar datang untuk mengambil barang-barang almarhumah anaknya.
***
Tepat jam sembilan pagi datanglah sebuah mobil pick up yang di dalamnya ada ibunya Nazwa dan seorang wanita yang merupakan tantenya Nazwa. Kedua wanita itu langsung menemui tetangga Nazwa yang rumahnya tepat di samping rumah Nazwa yaitu bu Vina. Bu Vina kemudian menemani kedua wanita itu untuk masuk ke rumah Nazwa dengan perasaan sedih.
“bu Vina, sebelumnya kami atas nama keluarga berterima kasih pada bu Vina dan tetangga yang ada di sini karena telah banyak membantu mendiang anak saya,” ucap ibunya Nazwa.
“Ibu nggak boleh ngomong seperti itu. Sudah kewajiban kami sebagai tetangga harus saling membantu. Kalau Ibu mau membawa barang-barang yang ada di dalam rumah ini, saya dan tetangga lainnya akan siap membantu,” jelas bu Vina.
“Terima kasih banyak bu Vina sebelumnya.”
Kemudian bu Vina memanggil tetangga lainnya. Semua tetangganya ikut berpartisipasi membantu mengangkat barang-barang ke dalam mobil pick up, sedangkan pakaian Nazwa langsung dibagi-bagikan oleh ibunya pada tetangga yang ikut membantu membereskan barang-barang di rumah Nazwa.
Yang dibawa oleh ibunya Nazwa hanya perabotan rumah tangga, sedangkan barang lainnya seperti baju, sepatu, dan lainnya yang bisa dibagikan langsung dibagikan pada tetangganya.
Bu Vina dan tetangga lainnya merasa sangat senang menerima barang-barang peninggalan almarhumah Nazwa.
Saat bu Vina akan mengangkat seprei yang ada di dalam lemari, tiba-tiba terjatuh ke lantai bungkusan dalam plastik berwarna hitam. Bu Vina langsung mengambil bungkusan itu dan membukanya. Betapa terkejutnya bu Vina ternyata bungkusan plastik berwarna hitam itu berisi satu set perhiasan emas dan secarik kertas yang sudah dilipat rapi. Bu Vina langsung memberikan perhiasan itu pada ibunya Nazwa.
“Bu, saya menemukan ini,” ucap bu Vina sambil memberikan plastik itu pada ibunya Nazwa.
Ibunya Nazwa langsung membuka isi plastik itu. Terlihat ada satu set perhiasan emas. Satu-satu perhiasan itu di bukanya. Ada anting-anting, cincin yang bertulis nama Kayla, begitu pun dengan gelang dan kalung yang semuanya bertulis nama Kayla. Ibunya Nazwa Langsung menangis sedih.
Kemudian secarik kertas yang terlipat itu dibuka ibunya Nazwa dan dia langsung membacanya.
‘Buat Kayla Sayang. Maafkan mama karena telah meninggalkanmu ketika kamu masih bayi. Mama sangat menyesal akan perbuatan mama. Mama harap Kayla dapat memaafkan mama dan mama mohon Kayla dapat menjaga kakek dan nenek kalau mama sudah tiada. Kayla juga harus berbakti kepada papa karena papa yang telah mengurus Kayla saat Kayla, mama tinggalkan. Di sini sengaja mama kumpulkan uang mama untuk membelikan Kayla perhiasan yang nantinya bisa Kayla pakai agar Kayla selalu ingat pada mama. Sekali lagi mama mohon maaf yang sebesar-besarnya pada Kayla dan Kayla jangan pernah menaruh dendam pada mama karena akan membuat mama tersiksa. Jangan lupa sampaikan maaf mama pada nenek dan kakek. Sengaja mama menjauhkan diri dari kakek dan nenek karena mama merasa malu dan sangat berdosa pada mereka. Mama telah banyak berbuat dosa pada kakek dan nenek. Mama harap Kayla tidak pernah meniru perbuatan mama. Selamat tinggal Sayangku...’
Ibunya Nazwa menangis sambil memeluk bungkusan itu. Kemudian tantenya Nazwa langsung mendekati ibunya Nazwa.
“Sabar ya Mbak, sabar. Kita doakan saja semoga Nazwa tenang di alam sana,” ucap tantenya Nazwa sambil mengelus pundak kakaknya.
“Walaupun Nazwa telah menyakiti perasaanku dan telah mengecewakanku, tapi aku sangat sedih ketika melihat Nazwa sudah meninggal dunia. Bahkan aku sangat menyesal karena pernah mengatakan padanya tidak akan mengakuinya sebagai anak lagi ketika dia pergi bersama Rizky. Aku sangat menyesal telah mengatakan hal itu pada dia. Padahal di dalam hati kecilku tidak pernah sedikit pun aku membencinya. Setiap malam aku selalu berdoa semoga suatu saat aku akan dipertemukan dengan anakku kembali. Alhamdulillah doaku terkabul dan aku dipertemukan dengan Nazwa dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri. Kalau saja aku bertemu anakku lebih cepat, mungkin penganiayaan itu tidak terjadi pada Nazwa,” ucap ibunya Nazwa sambil menangis.
“Ibu, Ibu nggak boleh berbicara seperti itu. Semua musibah yang kita hadapi itu sudah kehendak Allah, jadi kita tidak boleh menyesali apa yang sudah terjadi,” ucap Bu Vina menenangkan ibunya Nazwa.
“Benar Mbak. Mbak nggak boleh menyesali yang sudah terjadi. Yang penting sekarang Mbak harus ikhlas supaya Nazwa di alam sana tenang dan Mbak nggak boleh selalu menangisi kepergiannya karena akan membuat Nazwa di alam sana merasa berat,” ucap tante Nazwa.