
Sampai kantor pikiran Rafa tidak tenang. Dia masih saja mengingat kejadian yang baru saja dilihatnya. Hatinya sangat kecewa karena harapannya untuk memiliki Revi tidak akan tercapai. Rafa melihat sendiri bagaimana kedekatan Revi dengan kekasihnya itu.
Rudi yang melihat rekan kerjanya murung dan banyak melamun kemudian bertanya.
“Gimana kabar anak kamu Rafa?”
“Alhamdulillah Kayla sudah sembuh Rud,” jelas Rafa.
“Tapi aku lihat sejak tadi kamu kelihatannya sangat murung. Memangnya ada apa Rafa?”
“Nggak ada apa-apa Rud. Mungkin karena aku kecapean aja.”
“Oh, iya ya kamu kan baru menjaga Kayla di rumah sakit. Apa kamu tidak mengabari mamanya?”
Rafa hanya menggelengkan kepalanya.
“Seharusnya kamu itu mengabari mamanya Kayla biar gantian menjaga Kayla di rumah sakit.”
“Aku sudah putus kontak dengannya. Tapi dia tau kalau Kayla masuk rumah sakit makanya dia pun datang.”
“Bagus dong kalau seperti itu. Berarti ada kemungkinan kalian akan rujuk kembali.”
“Kamu bicara apa sih Rud.”
“Aku bicara apa adanya Rafa. Kalau memang dia masih sendiri sebaiknya kamu rujuk saja. Ini juga demi kebaikan anak kamu Kayla, daripada Kayla dirawat ibu tiri kan lebih baik dirawat ibu kandungnya sendiri.”
Rudi yang tidak pernah mengetahui bagaimana masalah rumah tangga Rafa, memberikan solusi agar Rafa bisa rujuk kembali.
“Sampai kapan pun aku nggak akan pernah rujuk Rud.”
“Memangnya kenapa Rafa. Bukankah kita sebagai manusia harus saling memaafkan, begitu juga kamu terhadap istri kamu.”
“Rudi, kamu kan nggak pernah tau masalah rumah tangga kami seperti apa.”
“Memang sih aku nggak tau masalah rumah tangga kalian, tapi aku sebagai teman kamu hanya memberi saran, itu pun tergantung kamu menerima atau tidak karena aku tidak memaksa.”
Rafa langsung tersenyum. “Terima kasih sobat atas sarannya, akan aku pikir-pikir dulu,” ucap Rafa sambil menepuk pundak Rudi.”
‘Aku nggak akan mungkin kembali lagi pada Nazwa. Kalau pun aku tidak bisa mendapatkan Revi aku akan mencari wanita yang lain. Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Aku akan mencari mama baru buat Kayla yang benar-benar menyayanginya seperti Revi menyayangi Kayla. Rafa yang sudah sakit hatinya berjanji tidak mau kembali lagi pada Nazwa.
***
Adapun tujuan Dandi mengajak Revi jalan-jalan ke mall untuk memberikan hadiah jam tangan.
“Mbak bisa lihat jam tangan wanita?” ucap Dandi pada pelayan toko.
“Merek apa Mas?”
Dandi langsung mengasih tau merk yang ingin dibelinya. Tidak lama kemudian pelayan toko itu pun membawa tiga contoh jam tangan dengan merek terkenal.
“Ini Mas jam tangannya,” ucap pelauan itu memberikan jam tangan itu.
Dandi langsung memberikannya pada Revi.
“Kamu mau yang mana Sayang?” tanya Dandi pada Revi.
“Terserah Mas aja deh.”
“Loh, kok terserah mas sih. Kamu yang mau pakai jadi kamu yang pilih sendiri Sayang.”
Akhirnya Revi pun memilih jam tangan dengan tali berwarna hitam. “Ini Mas.”
Revi yang tidak suka shopping-shopping, apalagi membeli barang yang mahal hanya banyak diam. Dia malas berkomentar. Revi juga merasa sayang ketika Dandi membelikan jam tangan dengan harga yang mahal.
“Mas, dari pada kamu membeli jam yang cukup mahal seperti ini, lebih baik uangnya kamu tabung aja. Lagian aku nggak terlalu membutuhkan jam tangan itu,” jelas Revi berusaha untuk menolak dengan cara halus.
“Tapi Mas, tidak selamanya yang mahal itu membuat aku bahagia.”
“Maksud kamu apa? Apa masih kurang dengan yang mas belikan?” tanya Dandi heran.
“Bukan Mas. Aku hanya nggak mau Mas banyak mengeluarkan uang untuk hal yang tidak penting.”
“Memangnya berapa harga jam yang kamu pakai?”
“Jam aku ini sih nggak mahal Mas, tapi aku nyaman memakainya dan aku juga sangat senang memakainya.”
“Tapi mas malu kalau kamu memakai jam yang murahan seperti itu.”
Revi langsung terkejut mendengar ucapan Dandi yang sepertinya merendahkannya.
“Kalau Mas malu dengan penampilanku, seharusnya Mas mencari wanita yang sama derajatnya dengan Mas. Wanita yang kaya dengan memakai barang-barang branded.”
“Bukan seperti itu Sayang. Aku mau merubah penampilan kamu karena sebentar lagi kamu akan menjadi istri mas. Bahkan nanti baju-baju kamu tak usah lagi kamu bawa dari rumah kamu, biar nanti mas belikan yang mahal yang bermerek.”
Revi yang mendengar penjelasan Dandi semakin bosan mendengarnya.
‘Kenapa sih orang ini begitu sombong dan angkuh. Gimana aku menjalani hari-hariku dengan pria sombong seperti ini,’ batin Revi yang sangat kesal mendengar ucapan Dandi.
Revi akhirnya hanya bisa pasrah karena dia tidak mau berdebat.
“Ya udahlah Mas, terserah Mas aja. Hanya perlu Mas ingat, bahwa aku nggak mau diatur-atur. Aku mau penampilanku tetap seperti dulu. Walaupun Mas banyak uang tapi tidak bisa membeli kebebasanku untuk memakai apa, termasuk memakai baju dan sepatu,” ucap Revi langsung berjalan duluan.
Sedangkan Dandi pergi ke kasir membayar jam tangan yang baru dibelinya tadi. Setelah itu dia langsung mengejar Revi dan berjalan di belakangnya. Revi sengaja tidak mau berjalan beriringan dengan Dandi karena dia sangat muak dengan Dandi yang kelihatan sangat sombong.
“Sayang.... kita ke cafe dulu ya,” ucap Dandi memunjuk cafe yang ada di depan mereka.
Tanpa menjawab Revi langsung berjalan menuju kafe yang dimaksud tapi tiba-tiba seseorang memanggil Revi.
“Revi....” Revi langsung menoleh ke belakang.
Terlihat Bobby sedang mendekatinya sambil tersenyum ramah.
“Gimana kabar Kamu Rev?” tanya Bobby.
Keduanya saling berjabatan tangan, sedangkan Dandi yang berdiri di di samping Revi terlihat kurang senang.
“Oh ya Bobby, kenalkan ini...” ucapan Revi terputus karena dipotong oleh Dandi.
“Kenalkan, saya calon suami Revi,” ucap Dandi dengan nada angkuh.
Bobby langsung bersalaman dengan Dandi sambil tersenyum ramah, sementara Dandi wajahnya terlihat datar dan tidak bersahabat. Hal ini membuat Revi semakin kesal.
“Sudah yo Sayang,” ucap Dandi sambil merangkul pundak Revi.
Akhirnya Revi pun mengikut saja. “Aku jalan duluan ya Bobby,” ucap Revi sambil tersenyum.
“Sampai ketemu lagi Revi, da....” Body langsung melambaikan tangannya sambil tersenyum ramah.
Baru beberapa langkah berjalan Dandi langsung mengintrogasi Revi.
“Siapa Boby itu Sayang?” tanya Dandi penuh selidik.
“Boby itu teman aku saat SMA dulu.”
“Oh... Pernah jadi pacar kamu?” tanya Rafa lagi.
Revi hanya menggelengkan kepalanya.
‘Aku semakin muak melihat sikap mas Dandi yang sombong dan selalu mau tau. Bahkan saat kukatakan kalau Boby adalah teman SMA aku, sepertinya mas Dandi tidak percaya. Mungkin dipikirnya aku wanita murahan seperti teman-teman wanitanya yang kalau bertemu langsung cium pipi kanan dan kiri. Dasar mas Dandi lelaki buaya,’ batin Revi kesal.