
Sehabis zuhur bu Dian pun sampai ke rumah Rafa. Bu Dian langsung menjemput Kayla di rumah Revi.
“Horee.... nenek udah datang,” sorak Kayla kesenangan.
“Ayo sekarang kita pulang. Ngomong apa sama tante Revi,” pinta bu Dian pada cucunya.
“Tante, Kayla pulang dulu ya,” ucap Kayla.
“Hanya ngomong itu aja...”
“Oh, iya. Terima kasih ya Tante.”
“Sama-sama Sayang. Kayla langsung bobok ya,” jawab Revi dan langsung mencium pipi Kayla.
“Iya Tante,” jawab Kayla.
Sampai di rumah, bu Dian langsung mengajak Kayla untuk tidur siang. Setelah minum susu satu botol Kayla langsung tertidur pulas. Bu Dian juga ikut tertidur karena lelah dalam perjalanan tadi.
***
Menjelang ashar Kayla pun terbangun. Begitu terbangun dia langsung mencari neneknya di dapur. Terlihat bu Dian sedang memasak sayur untuk makan malam.
“Nenek...” panggil Kayla.
Bu Dian langsung menoleh ke arah cucunya.
“Kayla udah bangun.... Entar lagi kita mandi ya,” pinta bu Dian.
Kayla langsung menganggukkan kepalanya. Bu Dian kemudian memandikan Kayla. Setelah Kayla mandi, bu Dian mandi juga.
Seperti biasa kalau sudah sore dan Kayla sudah mandi, maka bu Dian menyuapi makan Kayla sambil bermain di halaman depan rumahnya. Kayla akan makan banyak kalau disuapi sambil jalan-jalan melihat anak-anak yang bermain di halaman rumahnya.
Saat sedang disuapi neneknya, tiba-tiba datang sebuah mobil yang berwarna putih memasuki halaman rumah Kayla. Bu Dian dan Kayla hanya memperhatikan saja. Begitu berhenti mobil itu dan turunlah seorang pria dan wanita yang tidak lain adalah ibunya Nazwa. Bu Dian langsung menyambut tamunya itu.
“Kayla lagi makan ya?” tanya kakeknya sambil mendekati cucunya.
“Ayo salam kakek sama nenek, Kayla,” pinta bu Dian.
Kayla langsung menyalam kakek dan neneknya. Terlihat kedua orang tua Nazwa sangat senang melihat Kayla yang tumbuh sehat dan ceria. Kakeknya langsung mengangkat Kayla dalam gendongannya dan menciumnya berkali-kali pipi Kayla.
“Ayo masuk Pak ,Bu.” Bu Dian mempersilakan mantan besannya masuk ke dalam.
“Kayla udah siap makannya?” tanya neneknya.
“Baru aja selesai Bu. Ayo Kayla kita minum dulu,” ucap bu Dian.
Selesai minum air putih Kayla langsung bergabung dengan kakek dan neneknya yang duduk di ruang tamu. Kakek dan neneknya kelihatan sangat kangen dengan cucunya, sehingga keduanya bergantian untuk memangku Kayla.
Kemudian ibunya Nazwa menceritakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Kayla dan memberikan perhiasan pada bu Dian.
“Ini perhiasan buat Kayla dari Nazwa, Bu. Sengaja Nazwa mengumpulkan uangnya untuk membeli perhiasan ini untuk Kayla kalau sudah dewasa nanti. Nazwa berharap dengan perhiasan ini Kayla akan selalu mengingatnya. Dan ini surat yang ditulis Nazwa buat Kayla,” ucap ibunya Nazwa menangis sambil memberikan surat dan perhiasan itu pada neneknya Kayla.
Bu Dian langsung menerima dompet itu dan kemudian membuka isinya. Begitu dibuka terdapat satu set perhiasan dan secarik kertas. Bu Dian langsung membaca isi surat itu. Begitu selesai dibacanya, bu Dian ikut menangis.
“Adapun maksud kami kemari, selain memberikan amanah dari almarhumah Nazwa, kami juga ingin mengajak Ibu dan Kayla untuk pergi ke makam Nazwa sekarang kalau memang Ibu berkenan,” ucap ayahnya Nazwa.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih ya Pak, Bu dan titipan almarhum Nazwa sudah saya terima. Mudah-mudahan perhiasan ini nanti bisa dipakai Kayla kalau Kayla sudah dewasa. Semoga saja Kayla bisa selalu mengingat akan mamanya. Kalau begitu saya siap-siap dulu ya Bu, biar ikut ke makam Nazwa.
Setelah bu Dian beres-beres mereka langsung berangkat ke makam Nazwa.
***
Dandi yang merasa bingung dan kesal dengan kedatangan Sheila, kemudian dia pergi ke cafe untuk menghilangkan rasa suntuknya. Setelah cukup lama di cafe, dia kembali ingat pada Revi.
‘Aku ke rumah Revi aja lah sekarang. Dari pada di sini aja lebih baik aku pergi ke rumah Revi,’ batin Dandi.
Dandi langsung melajukan kendaraannya menuju rumah Revi. Saat ini Dandi sedang bingung. Adapun rencananya pergi ke rumah Revi ingin berterus terang tentang masalah yang sedang dihadapinya. Dia ingin berterus terang pada Revi bahwa Sheila telah hamil, tapi Dandi tetap akan menikahi Revi. Dandi sudah bertekad dalam hatinya bahwa dia juga akan menikahi Sheila tapi hanya untuk sementara yaitu sampai anaknya lahir. Begitu anaknya lahir dia berencana untuk menceraikan Sheila dan tetap melanjutkan berumah tangga dengan Revi karena Dandi lebih mencintai Revi dari pada Sheila.
***
Mendengar suara mobil Dandi memasuki halaman rumahnya, Revi dengan perasaan malas membuka pintu buat Dandi.
“Masuk Mas,” ucap Revi mempersilahkan Dandi masuk.
“Mama sama papa mana Sayang,” tanya Dandi begitu masuk ke dalam.
“Papa dan mama baru aja pergi ke rumah tante Ira, Mas,” jelas Revi.
“Lama pulangnya Sayang?” tanya Dandi lagi.
“Biasanya sih lama. Mungkin malam baru pulang.”
“Oh, gitu.”
“Mas baru pulang kantor ya?”
“Benar Sayang.”
“Kenapa Mas nggak langsung pulang ke rumah?”
“Rencananya sih tadi mau pulang ke rumah, tapi mas kangen sama kamu, makanya mas kemari untuk melihat kamu.”
‘Dasar gombal,’ batin Revi kesal.
“Entar ya Mas, aku buatkan minum dulu,” ucap Revi langsung pergi ke dapur.
“Sayang...” panggil Dandi.
Revi langsung membalikkan badannya. “Ada apa Mas?”
“Jangan buat minum Sayang karena rencananya mas mau ngajak kamu makan di luar,” jelas Dandi.
“Kapan Mas?”
“Ya sekarang Sayang.”
“Kalau sekarang kan tanggung Mas. Gimana kalau habis magrib aja.”
“Memangnya kalau sekarang kenapa Sayang?”
“Aku malas kalau magrib di luaran Mas,” ucap Revi singkat.
Dari nada Revi berbicara kelihatan kalau tidak terlalu senang dengan ajakan Dandi. Tentu hal ini membuat Dandi kecewa.
“Kenapa sih kamu tidak pernah memikirkan perasaan mas,” ucap Dandi.
“Maksud Mas apa?”
“Kalau mas perhatikan, kamu sepertinya selalu menghindar kalau mas ajak keluar.”
“Aku nggak pernah menghindar loh Mas. Tadi aku katakan, aku mau pergi tapi habis maghrib,” jelas Revi.
“Apa bedanya habis maghrib dengan sekarang?”
“Ya beda lah Mas. Kalau habis magrib berarti kita shalat maghribnya di rumah, baru berangkat.”
“Nggak shalat juga nggak apa-apa Sayang. Apalagi hanya sekali-kali.”
“Mas ngomong apa sih. Apa Mas nggak takut dosa?”
Mendengar ucapan Revi yang sepertinya mengajari Dandi, membuat Dandi semakin kesal