
Revi sudah masuk kamar sejak tadi, tapi dia tidak bisa memejamkan matanya. Dia masih memikirkan Rafa. Kedekatan Rafa dan bi Surti membuat Revi merasa cemburu. Semalam dia baru melihat Rafa membonceng bi Surti pergi keluar nggak tau perginya ke mana, dan tadi Revi melihat sendiri Rafa dan Kayla pergi dengan bi Surti. Tentu hal ini membuat Revi merasa cemburu.
‘Sebenarnya ada apa antara mas Rafa dan bi Surti. Apakah mereka menjalin hubungan kasih layaknya pasangan kekasih,’ batin Revi dalam hati.
Untuk menghilangkan rasa bosannya dia kembali membuka ponselnya. Tapi baru beberapa menit dia mulai merasa ngantuk dan akhirnya dia pun tertidur.
Baru dua jam Revi tidur tiba-tiba mamanya memanggilnya.
“Revi....” panggil bu Lusi dari luar kamar.
Perlahan Revi membuka matanya. Samar-samar terdengar mamanya memanggil namanya dan Revi langsung bangkit dari tidurnya.
“Iya Ma, tunggu...” ucap Revi berjalan ke pintu.
Begitu pintu dibuka, mamanya terlihat sedang menangis. Revi pun terkejut dan merasa heran.
“Ada apa Ma?” ucap Revi memegang pundak mamanya.
“Pa kamu Rev...” ucap mamanya sambil menangis.
“Papa kenapa Ma?”
Bu Lusi tidak menjawab dan dia langsung berjalan ke kamarnya diikuti oleh Revi yang merasa heran. Jantung Revi berdetak kencang karena khawatir telah terjadi sesuatu pada papanya.
Begitu masuk ke kamar mamanya, terlihat pak Wandi sedang memegang dadanya sambil meringis kesakitan. Revi langsung berlari mendekati papanya.
“Papa kenapa... Kenapa Pa?” tanya Revi panik.
Kemudian bu Lusi mengosok dada suaminya dengan minyak kayu putih sambil menangis.
“Ma, gimana kalau papa kita bawa ke rumah sakit aja?” saran Revi.
“Iya Revi, kita bawa aja papa kamu ke rumah sakit ya. Tapi siapa yang menyetir mobilnya?” tanya bu Lusi.
Revi langsung terdiam sesaat sambil berpikir.
“Gimana kalau kita minta tolong sama papanya Kayla aja,” ucap bu Lusi.
Tapi Revi merasa segan. “Gimana kalau om Doni aja Ma,” ucap Revi.
“Om Doni sedang keluar kota dengan istrinya tadi siang,” jelas bu Lusi.
“Oh, iya. Ya udahlah Ma biar Revi ke rumah Kayla aja.”
Revi langsung menepis rasa segannya pada Rafa demi keselamatan papanya. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi karena kondisinya darurat Revi tidak merasa segan.
“Tok, tok.... Assalamualaikum...” ucap Revi sambil berdiri di depan pintu.
Karena tidak ada sahutan, akhirnya Revi memencet bel yang ada di dekat pintu. Tidak lama kemudian terdengar seseorang sedang membuka pintu. Revi berharap orang tersebut adalah Rafa. Begitu pintu terbuka terlihat bi Surti dengan rambut acak-acakan sambil menggosokkan matanya membuka pintu.
“Bi Surti, ada mas Rafa?” tanya Revi.
“Ngapain mbak Revi malam seperti ini mencari pak Rafa. Mbak Revi mengigau ya,” ucap bi Surti seperti mengejek.
“Maaf Bi, saya ada perlu penting sekali.”
“Kalau pun penting seharusnya tidak selarut malam seperti ini. Mbak Revi mengganggu orang tidur aja.”
“Sekali lagi saya minta maaf Bi, tapi saya sangat perlu sekali dengan mas Rafa.”
“Mbak Revi sengaja kan malam-malam begini mencari pak Rafa karena mbak Revi cemburu kan sama saya.”
“Nggak loh Bi.”
“Mbak kan cemburu saya dekat dengan pak Rafa, apalagi tadi kami baru jalan-jalan ke mall. Oh ya mbak Revi, saya ingatkan ya mulai sekarang jangan panggil saya dengan sebutan ‘bibi’ karena sebentar lagi saya akan menjadi istri pak Rafa,” jelas bi Surti ketus.
‘Jalan-jalan ke mall. Berarti dugaanku tidak salah lagi. Berarti bi Surti dengan mas Rafa sudah menjalin kasih karena tadi mereka sudah jalan-jalan ke mall. Biarin aja kalau pun mereka sudah berpacaran, aku nggak mau peduli dengan urusan mereka. Aku juga sebentar lagi akan menikah dengan mas Dandi,’ batin Revi kesal.
Tiba-tiba Rafa muncul di hadapan Revi membuat bi Surti gelagapan karena takut ucapannya terdengar majikannya.
“Ada apa Revi?” tanya Rafa.
Bi Surti langsung buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
“Mas, aku mau minta tolong antarkan papa ke rumah sakit sekarang ya,” ucap Revi sambil menangis.
“Papa kenapa Revi?” tanya Rafa heran.
“Nggak tau Mas.Tiba-tiba dadanya sesak,” jelas Revi.
Rafa langsung mendekati Revi dan mengelus pundaknya.
“Kamu yang sabar ya dan banyak berdoa. Ya udah sebentar lagi Mas ke sana,” ucap Rafa sambil tersenyum.
Perasaan Revi berangsur-angsur lebih tenang tidak seperti sebelumnya. Setelah Rafa tiba, kemudian mereka membawa papanya Revi ke rumah sakit.
***
Sampai di rumah sakit pak Wandi langsung dimasukkan ke ruang UGD. Bu Lusi dan Revi menemaninya di dalam ruang UGD sedangkan Rafa menunggu di luar. Tidak lama kemudian Revi keluar dari ruang UGD dan menemui Rafa yang sedang duduk di luar.
“Gimana keadaan papa ,Revi?” tanya Rafa khawatir.
“Alhamdulillah sudah mendingan Mas dan sekarang sedang ditangai dokter,” jelas Revi.
Revi terlihat sangat sedih dan Rafa sejak tadi memperhatikannya. Revi duduk sambil melipat tangannya karena kedinginan. Melihat Revi kedinginan, Rafa langsung melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Revi.
“Mas, nggak apa-apa,” ucap Revi merasa segan.
“Kamu kedinginan Revi,” ucap Rafa sambil memakaikan jaketnya ke tubuh Revi.
Revi hanya tertunduk malu. Setelah beberapa saat diliriknya Rafa yang sedang duduk di sampingnya. Terlihat Rafa sejak tadi memperhatikannya saja.
“Mas nggak pulang sekarang, besok kan Mas harus kerja,” pinta Revi.
“Nanti aja habis subuh mas baru pulang,” ucap Rafa.
Tidak lama kemudian bu Lusi keluar dari ruang UGD.
“Papa sebentar lagi mau dimasukkan ke ruang rawat,” jelas bu Lusi.
Kemudian pak Wandi dibawa ke ruang rawat. Revi bersama Rafa berjalan menuju ruang Anggrek 1 tempat pak Wandi dirawat. Sedangkan bu Lusi bersama perawat sudah jalan di depan duluan sambil mendorong pak Wandi.
“Kamu ngantuk ya Revi?” tanya Rafa yang berjalan di sampingnya.
“Udah nggak kok Mas,” jawab Revi.
“Mas lihat kamu jalannya sempoyongan,” jelas Rafa sambil tersenyum.
Revi merasa sangat ngantuk karena dia baru saja tidur sebentar saat mamanya mengetuk pintu kamarnya. Ternyata Rafa sejak tadi memperhatikan kondisi Revi.
“Kalau kamu masih ngantuk biar mas belikan kopi supaya tidak ngantuk.”
“Nggak usah Mas, aku uda nggak ngantuk lagi kok,” jelas Revi.
Saat sampai di persimpangan di dekat ruang operasi, terlihat bu Siti dan bu Vina terlihat panik sambil menangis saat keluar dari ruang operasi. Revi dan Rafa pun merasa heran. Kemudian Revi memberanikan diri untuk bertanya.
“Ada apa ya Bu?” tanya Revi mendekati bu Vina.
Revi merasa penasaran dan ingin tau, sehingga tanpa segan dan malu dia bertanya pada bu Vina. Terlihat bu Vina dan bu Siti seperti ragu untuk menceritakan pada Revi yang tidak dikenalnya.