My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Mama Jahat



Akhirnya tangis Nazwa pun pecah melihat Kayla tidak mau didekatinya.


“Sayang..." panggilnya


"siapa Pa?"


Rafa menghela napas, "itu mama kamu."


Walaupun Rafa sangat membenci Nazwa, tapi dia tidak berhak untuk menjauhkan Kayla dengan mamanya. Rafa tidak pernah takut kalau kedekatan Kayla dan mamanya akan mengurangi kasih sayang Kayla pada dirinya.


Dia tidak mau memisahkan antara ibu dan anaknya. Tapi tetap saja anak kecil itu menolak.


Kayla takut pada ibunya. Rafa maklum dengan situasi ini mengingat sejak bayi Kayla tidak pernah mengenal ibu kandungnya.


“Kamu sudah lihat kan, Kayla tidak mau sama kamu.”


“Mas tolonglah bujuk Kayla agar dia mau sama aku,” pinta Nazwa.


“Aku tidak pernah berniat memisahkan kamu dan Kayla, tapi kamu sendiri yang memilih pergi, sekarang Kaylanya sendiri yang tidak mau sama kamu. Pasti kamu tau alasannya kan?” jelas Rafa.


“Mas, walaupun aku dulunya menyakiti hati kamu dan Kayla, tapi aku mohon Mas jangan pernah mengaruhi Kayla.”


“Nazwa, jaga bicaramu!" Rafa tersulit emosi mendengar tuduhan mantan istrinya itu.


"Sedikitpun aku tidak pernah mempengaruhi atau mencuci otak Kayla, jangan berpikir kalau Kayla tidak mau sama kamu berarti aku sudah mempengaruhinya. Demi Allah aku tidak pernah melakukan hal seburuk itu. Perlu kamu ketahui juga bahwa apa yang kita tanam akan kita petik hasilnya di kemudian hari. Jadi aku hanya mengingatkan kamu. Kalau sekarang anakmu sendiri tidak mau sama kamu itu karena perbuatan kamu di masa lalu,” jelas Rafa.


Nazwa tidak dapat membendung tangisnya. Perasaannya sangat sakit, hancur dan sedih karena anak yang pernah dilahirkan dari rahimnya sendiri sekarang sudah tumbuh besar menjadi gadis kecil yang lincah, tapi sayangnya dia tidak mau dengan mama kandungnya. Perasaan Nazwa sangat sedih dan kecewa.


Akhirnya Nazwa menyerah dan keluar meninggalkan Kayla yang masih memeluk papanya. Dengan perasaan hancur dan kecewa dia pun keluar berjalan melintasi lorong yang lumayan panjang.


Pikirannya sedang kacau memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Hatinya sangat kecewa dan langkahnya pun dipercepat sambil menundukkan kepalanya berjalan ke area taman yang ada di rumah sakit itu. Kemudian dia duduk di bangku yang kosong untuk menenangkan diri. Perasaannya sangat sok dengan kejadian barusan terjadi.


Setelah kepergian Nazwa, Kayla melepaskan pelukannya.


Rafa berjongkok didepan bocah kecil itu.


“Sayang, kamu nggak boleh seperti itu ya?” ucap Rafa memberikan nasehat pada putrinya.


“Apa benar dia mama Kayla Pa?”


“Iya Sayang, tante tadi adalah mama Kayla,” jelas Rafa.


“Tapi kenapa tidak tinggal sama kita Pa?”


Rafa pun merasa bingung bagaimana cara menjelaskan pada putrinya yang masih kecil.


“Mama Kayla sudah punya kehidupan yang baru dengan suaminya.”


"Apa itu suami?"


",Suami itu seperti Papa,"


“Papa suaminya mama?”


“Iya Sayang, tapi itu dulu. Sekarang sudah enggak lagi karena mama sudah menikah lagi.”


"Mama jahat!"


"kok bilang gitu, enggak boleh sayang"


"Buktinya Mama pergi, mama nggak sayang Kayla.”


“Kamu salah Sayang. Mama kamu tetap sayang sama kamu,” jelas Revi.


"Tante .."


"Nggak mau!"


"Sayang..."


"Sudah mas jangan dipaksa, dia butuh waktu," potong Revi


"Kita main yuk!" ajak Revi mengalihkan perhatian Kayla.


Revi merasa salut pada Rafa yang tidak menjelekkan Nazwa di depan putrinya, walaupun Rafa membenci Nazwa sejak mereka bercerai.


Rafa tidak pernah mau tau lagi tentang kehidupan Nazwa. Sempat teman Rafa yang bernama Tono bercerita tentang kehidupan baru Nazwa yang katanya sudah menikah lagi dengan pria lain. Pernikahan itu adalah pernikahan yang ketiga kalinya. Rafa pun tidak terlalu menanggapinya karena dia sudah tidak mau lagi mendengarkan berita tentang mantan istrinya itu, karena perasaannya sudah sakit telah dikhianati.


Walaupun Rafa telah bercerai dengan Nazwa sah secara hukum dan agama, tapi dia tidak mau membatasi hubungan anaknya dengan ibu kandungnya sendiri. Rafa tidak pernah menjelekkan Nazwa di depan Kayla bahkan pernah suatu saat Kayla bertanya pada Rafa di mana keberadaan mama kandungnya, Rafa hanya menjelaskan bahwa mama kandungnya sudah mempunyai kehidupan yang baru di suatu tempat di mana Rafa tidak tau. Kayla juga mohon pada papanya agar mencari mama kandungnya. Rafa mengatakan pada Kayla bahwa suatu saat mama kandungnya akan menemuinya. Begitu dikatakan Rafa seperti itu, Kayla langsung tersenyum puas.


“Mas, aku permisi pulang dulu ya,” ucap Revi.


“Tante besok datang lagi ya?” pinta Kayla.


Revi hanya bisa tersenyum. Dia bingung harus menjawab apa karena Revi ingin mengurangi kedekatannya dengan Rafa. Dia takut perasaannya nantinya akan terlalu dalam berlabuh pada Rafa walaupun tidak dapat dipungkiri Revi sepertinya tidak dapat melupakan Rafa.


“Kenapa kok buru-buru Revi?” tanya Rafa.


“Iya Mas, aku mau singgah lagi karena ada yang mau aku cari.”


Setelah pamit dengan Kayla, Revi langsung pergi. Begitu keluar dari pintu, Rafa mengikutinya.


“Revi, tunggu....”


Revi langsung menoleh ke belakang.


“Ada apa Mas?”


Rafa langsung tersenyum. “Mas mau antar kamu aja sampai depan.”


“Nanti Kayla gimana Mas?”


“Nggak apa-apa, hanya sebentar aja.”


Keduanya pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang cukup panjang. Revi tampak canggung sehingga dia banyak menundukkan kepala.


“Revi...” ucap Rafa yang berjalan di sampingnya.


“Ada apa Mas?” jawab Revi langsung menoleh sesaat.


“Maafkan mas sebelumnya ya..” ucap Rafa terputus.


“Maaf kenapa Mas?” tanya Revi heran.


Rafa langsung menghentikan langkahnya. Melihat Rafa berhenti, Revi pun membalikkan tubuhnya dan menghadap Rafa. Revi langsung penasaran.


‘Sebenarnya apa yang mau dikatakan mas Rafa,’ batin Revi.


Keduanya pun hanya diam saja, hanya hati yang berbicara. Kemudian Rafa tersenyum.


“Revi... masih ada kesempatan nggak bagi Mas untuk memilikimu?” ucap Rafa ragu-ragu.


Jantung Revi langsung berdetak kencang. Dia bingung harus menjawab apa. Akhirnya dia kembali melangkahkan kakinya diikuti oleh Rafa yang sudah berjalan di sampingnya. Keduanya pun sambil diam berjalan sampai menuju area parkiran. Sampai di area parkir Revi mencari tempat duduk di bawah pohon disusul oleh Rafa yang sudah duduk di sampingnya. Dengan perasaan tidak menentu Revi langsung memesan go-jek online. Keduanya masih diam tanpa ada suara yang terdengar.


“Sekali lagi mas mohon, pertimbangkan ucapan mas yang tadi ya...:


Revi tidak menjawab karena jantungnya dag dig dug. Dadanya naik turun menahan gejolak perasaannya. Ingin menjawab ya tapi dia masih bingung karena sudah terikat dengan pertunangannya dengan Dandi yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


Kalau ditolak, Revi merasa menyesal karena hatinya sudah berlabuh pada Rafa. Yang ada dalam pikiran Revi adalah rasa penyesalan yang amat dalam telah menerima mas Dandi sebagai calon suaminya. Walau pun sejak awal Revi tidak mengharapkan pertunangan itu tapi dia tidak punya pilihan lain karena kedua orang tuanya ingin agar dia segera menikah mengingat usianya sudah tidak muda lagi.