My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Andai



“Kenapa Bapak dan Ibu terlalu berani memakamkan istri saya tanpa sepengetahuan saya?” tanya pak Budi dengan nada marah.


“Kamu jangan mengaku sebagai suami, kalau kamu sendiri tidak bertanggung jawab pada Nazwa,” jelas ibunya Nazwa emosi.


“Ibu ini memangnya siapa, apa urusan ibu dalam rumah tangga saya?”


“Biar kamu tau ya, saya ini ibu kandungnya Nazwa.”


“Ibu jangan bohong ya. Nazwa mengaku pada saya bahwa dia hidup sebatang kara.”


“Tapi kami ini orang tua kandungnya,” ucap kedua orang tua Nazwa.


“Benar Mas, ibu dan bapak ini adalah orang tuanya Nazwa,” jelas Rafa.


“Saya nggak mau tau. Yang saya tau Nazwa tidak mempunyai keluarga lagi. Jadi nggak ada hak Bapak dan Ibu mencampuri urusan rumah tangga saya,” ucap pak Budi dengan nada tinggi.


“Kamu jangan ngomong sembarangan ya. Kalau pun kamu tidak mengakui kami mertua kamu, itu nggak apa-apa. Tapi kami menuntut kamu karena telah melakukan tindakan kekerasan pada putri kami,” kata ayah Nazwa emosi.


“Bukan sebaliknya Pak, saya yang seharusnya menuntut Bapak karena Bapak memakamkan istri saya tanpa sepengetahuan saya,” jawab pak Budi.


“Kamu jangan banyak bicara. Kamilah yang akan menuntut kamu karena telah terjadi KDRT dalam rumah tangga anak saya,” ucap ibunya Nazwa.


“Bapak dan Ibu berbicara seperti ini karena ingin mendapatkan harta warisan dari Nazwa kan?”


Emosi kedua orang tua Nazwa langsung meluap saat dituduh seperti itu.


“Apa kamu bilang! Sedikit pun kami nggak ada niat di hati kami untuk mendapatkan hartanya Nazwa. Kalau pun Nazwa meninggalkan harta, akan kami berikan kepada anaknya Kayla.”


Pak Budi langsung tertawa sinis.


“Biar Ibu tau ya, Nazwa saya kutip dari keranjang sampah.”


“Jaga bicara kamu...” bentak ayah Nazwa.


Rafa yang mendengar ucapan pak Budi juga merasa terhina dan marah.


“Mas, tolong dijaga ucapan Mas. Jangan terlalu menyepelekan Nazwa, Mas,” ucap Rafa emosi.


“Kamu itu siapa. Jangan ikut campur dalam rumah tangga saya,” jelas pak Budi.


Ibunya Nazwa langsung menangis.


“Kamu sangat kejam. Orang yang sudah mati pun masih kamu fitnah,” ucap bu Nazwa.


Rafa langsung mendekati ibunya Nazwa. “Sabar Bu, sabar... Udah Bu, ayo kita pulang aja,” ucap Rafa menenangkan suasana yang tampak panas.


“Iya Bu, mari kita pulang aja,” ucap bu Dian.


Bu Vina dan tetangga lainnya pun langsung melawan pak Budi yang sangat sombong itu.


“Bapak sudah sangat kejam pada istri Bapak dan sekarang Bapak membuat keributan.”


“Benar itu bu Vina. Lebih baik kita laporkan aja kelakuan pak Budi ke polisi,” ucap bu Siti terpancing emosi.


“Gimana Ibu-Ibu.... Kita laporkan ke polisi sekarang ya...” ucap bu Vina lantang.


“Iya bu, iya bu Vina. Mari kita laporkan rame-rame ke polisi,” ucap beberapa tetangga dekat Nazwa yang berada di dalam rumah.


“Tenang Ibu-Ibu, tenang semuanya...” Pak Tono berusaha meredakan emosi ibu-ibu yang sudah memuncak.


“Lebih baik kita bicarakan secara kekeluargaan. Jangan ada amarah di antara kita. Kasihan ibu Nazwa pasti dia menangis di dalam kuburnya melihat kita di sini ribut,” jelas Pak Tono.


“Iya, saya tau. Tapi marilah kita bicarakan secara kekeluargaan.” Pak Tono berusaha membuat suasana tenang.


Tidak lama kemudian pak Bambang yang merupakan lurah di kampung itu datang.


“Ada apa ini. Tadi saya mendengar ada keributan di sini,” ucap pak Bambang.


Kemudian Pak Tono pun menjelaskan pada pak Bambang permasalahan yang sedang dihadapi. Setelah beberapa saat dan semuanya sudah tenang, pak Bambang dan tokoh masyarakat langsung berdiskusi tentang masalah yang sedang dihadapi keluarga Nazwa.


“Sekarang kami serahkan pada keluarga almarhumah bu Nazwa. Apa yang akan Bapak dan Ibu sampaikan,” ucap pak Bambang.


“Maaf pak Lurah sebelumnya. Tujuan kami datang kesini hanya untuk menguburkan anak kami yang telah meninggal dan kami ingin menanyakan langsung kepada suami Nazwa tentang kondisi putri kami yang sudah meninggal. Sedikit pun tidak ada niat di hati kami untuk menguasai harta warisan dari putri kami. Kami tidak akan tinggal diam seandainya musibah yang di alami anak kami karena kekerasan dalam rumah tangga, tentu kami akan menuntut suami Nazwa ke pihak yang berwajib,” jelas ibunya Nazwa.


“Ibu jangan asal bicara,” ucap pak Budi membela diri.


“Kebenaran harus ditegakkan. Kamu telah mencelakai putri kami, jadi kamu harus bertanggung jawab akan perbuatan kamu,” ucap ayah Nazwa.


“Benar itu Pak, benar....” jawab para tetangga.


Semua tetangga yang ada merasa benci pada pak Budi.


“Sabar Ibu-Ibu, sabar... Kalau bisa kita bicarakan secara kekeluargaan. Kami serahkan pada keluarga orang tua Nazwa,” ucap pak lurah.


Karena pak Budi tidak menunjukkan rasa bersalahnya, bahkan rasa angkuh dan sombongnya selalu ditunjukkan di depan orang banyak membuat keluarga Nazwa dan para tetangga menginginkan pak Budi dilaporkan kepada pihak yang berwajib.


Akhirnya sore itu juga pak Budi dijemput paksa oleh polisi. Dengan perasaan puas dan tenang akhirnya orang tua Nazwa kembali ke rumahnya.


***


“Terima kasih ya Revi,” ucap Rafa ketika Revi turun dari mobil.


“Sama-sama Mas. Bu saya pamit ya,” ucap Revi pada bu Dian.


“Iya Revi,” jawab bu Dian.


“Kayla, tante pulang ya Sayang.” Revi langsung mencium ujung kepala Kayla sambil tersenyum.


“Da Tante....” ucap Kayla sambil melambaikan tangannya.


Bu Dian sejak tadi memperhatikan Revi. Begitu Revi pulang ke rumah, Rafa dan ibunya langsung masuk ke teras sedangkan Kayla sudah masuk lebih dahulu ke dalam rumah.


Sampai di teras bu Dian langsung duduk. “Kenapa nggak langsung masuk Bu?” tanya Rafa heran.


Melihat ibunya yang duduk di teras sambil terdiam, Rafa kemudian mendekati ibunya sambil bertanya.


“Ada apa Bu?” tanya Rafa lembut.


Bu Dian langsung melirik ke kanan dan ke kiri khawatir pembicaraannya akan didengar oleh orang lain.


“Melihat kedekatan Revi dan Kayla, ibu sangat sedih Rafa,” jelas bu Dian dengan nada sedih.


“Sedih kenapa Bu?” Rafa langsung mengelus pundak ibunya.


“Kalau saja Revi belum bertunangan, ibu pasti akan melamarnya untuk menjadi mamanya Kayla. Rafa, ibu lihat Revi benar-benar dengan tulus menyayangi Kayla.”


Dada Rafa terasa sesak seperti ada sesuatu yang mengganjal membuatnya merasa sakit di dalam hatinya. Walau pun perasaan Rafa sangat sakit mendengar keinginan ibunya yang tidak mungkin kesampaian, tapi Rafa berusaha tegar.


“Ayo Bu, kita masuk. Sebentar lagi masuk waktu magrib.”


Sengaja Rafa tidak menjawab ucapan ibunya karena dia sendiri merasa sedih. Kemudian Rafa merangkul pundak ibunya dan berjalan masuk ke dalam rumah.