My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Kayla takut



Jihan dan Rita yang sudah tau niat Revi ikut mendukungnya. Sambil makan bakso Revi menyimak pembicaraan bi Surti dan teman prianya itu.


“Jadi aku harus gimana lagi Den. Segala cara udah aku lakukan, tapi belum berhasil juga,” ucap bi Surti.


“Kamu harus lebih agresif lagi donk.”


“Udah loh, tapi belum berhasil juga. Mungkin karena majikanku sedang tergila-gila dengan wanita tetangganya yang bernama Revi itu Den,” jelas bi Surti.


“Deg...” Revi langsung terkejut ketika mendengar namanya disebut.


“Tapi mereka kan belum jadian, jadi masih ada kesempatan bagi kamu untuk meraih hatinya,” jelas Deni.


“Tapi wanita itu jauh lebih cantik dari aku, Den.”


“Walaupun wanita itu lebih cantik dari kamu, tapi kalau penampilanmu menggoda, aku yakin majikanmu akan terpikat. Karena yang dilihat pria bukan hanya wajah, tapi penampilannya yang seksi juga karena laki-laki lebih senang melihat penampilan wanita yang seksi dari pada hanya wajah cantik,” jelas Deni.


Revi semakin serius mendengarnya. ‘Memangnya apa sih niat bi Surti terhadap Mas Rafa.’ Revi semakin penasaran mendengarnya.


“Jadi apa rencanamu selanjutnya Sayang?” tanya Deni lagi.


“Entahlah Den, rasanya pikiranku sedang buntu,” ucap bi Surti.


“Begini saja Sayang. Coba kamu buat agar wanita itu cemburu sama kamu, supaya wanita itu benci sama majikanmu. Kalau dia benci sama majikanmu, pasti dia nggak akan mau sama majikanmu,” jelas Deni memberikan ide baru.


“udah loh Deni. Waktu itu aku sengaja membuat Revi cemburu. Saat dia datang ke rumah, aku pura-pura mendekati pak Rafa dan aku duduk di sampingnya seolah-olah aku memeluknya. Revi melihat sendiri dan dia terlihat sangat marah.”


“Bagus donk kalau seperti itu. Sekarang tinggal bagaimana cara kamu mengambil hati majikanmu itu,” ucap Deni.


Revi langsung terkejut mendengar penjelasan bi Surti. ‘Ternyata aku salah menduga. Aku telah berburuk sangka pada mas Rafa dan menganggap mas Rafa lelaki buaya. Padahal dia dijebak oleh bi Surti. Aku harus melakukan sesuatu untuk mencegah ini semua,’ batin Revi.


“Sabar aja Mas, mudah-mudahan dalam waktu dekat pak Rafa bisa kutaklukkan hatinya.”


“Iya Sayang. Kita harus pelan-pelan, tapi pasti. Kalau majikanmu sudah bisa kamu taklukan langsung cepat-cepat kamu kuras uangnya. Setelah kita dapat uang banyak, kita langsung menikah,” jelas Deni.


“Ternyata ide kamu cemerlang juga ya Den,” ucap bi surti.


Deni langsung tersenyum, sedangkan Revi yang duduk di belakang mereka sangat terkejut mendengar pengakuan bi Surti yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya


Revi tidak ada bicara sama sekali pada Jihan dan Rita karena dia takut kalau suaranya akan dikenal bi Surti sehingga dia hanya mengirim pesan wa pada Jihan dan Rita.


{Kita jangan pergi dulu ya sebelum mereka pergi.}


{Baik Revi.} jawab Jihan.


{Oke Revi} jawab Rita.


Tidak lama kemudian terdengar ponsel bi Surti berbunyi. Bi Surti buru-buru mengangkatnya.


“Siapa Sayang?” tanya Deni.


“Sebentar Mas, majikanku nelepon nih,” ucap bi Surti mengangkat teleponnya.


[“Hallo pak Rafa, ada apa Pak? Saya nggak lama-lama kok, sebentar lagi kalau sudah dikebumikan saya segera pulang. Sekarang sedang pemberangkatan jenazah. Baiklah Pak.”] Bi Surti langsung menutup teleponnya.


“Ngapain majikan kamu Sayang?” tanya Deni.


“Majikan aku menyuruh aku cepat pulang karena katanya family ibunya ada yang meninggal jadi nggak ada yang menjaga Kayla,” jelas bi Surti pada Deni.


“Berarti nggak jadi donk kita jalan-jalan ke mall,” ucap Deni.


“Lain kali aja ya Mas. Lagian uang aku sudah menipis nih. Bahkan aku nggak jadi beli bedak loh Mas.”


“Memangnya kenapa Sayang,” tanya Deni.


“Tapi uangnya baru Mas pinjam.”


“Memang sih ada, tapi itu kan untuk biaya pernikahan kita nanti,” jelas bi Surti.


“Kamu yang sabar ya Sayang. Minggu depan uang kamu pasti aku kembalikan.”


“Janji ya mas jangan bohong.”


“Oke Sayang. Ayo kita pulang sekarang.”


Akhirnya bi Surti dan pria yang bernama Deni itu keluar dari warung Mbak Sri.


“Memangnya siapa mereka?” tanya Jihan dan Rita penasaran.


Akhirnya Revi menceritakannya tapi sebatas niat jahat mereka. Revi tidak menceritakan pada temannya tentang perasaannya pada Rafa karena dia merasa malu.


“Menurut kalian, apa yang harus aku lakukan?” tanya Revi bingung.


“Gimana ya, aku pun bingung.” jawab Rita.


“Kalau menurut aku, lebih baik kamu ceritakan sama majikannya tentang niat jahat pembantunya itu Revi,” ucap Jihan.


“Benar Jihan kata kamu,” ucap Rita.


“Aduh.... aku lupa pula merekamnya. Kalau tadi kurekam kan ada bahan buktinya. Jadi aku bisa menjelaskannya pada majikannya itu,” jelas Revi.


“Iya ya... kenapa tadi tidak kamu rekam Rev?” tanya Jihan dan Rita.


“Iya ya, kenapa kita semua lupa ya.”


Ketiganya pun menyesal karena tidak sempat merekam pembicaraan bi Surti dan pria itu. Setelah puas ngobrol akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


***


Sampai di depan pagar terlihat bi Surti sudah sampai di rumah. Dia terlihat sedang ngobrol dengan ibunya mas Rafa sambil memberi makan Kayla. Revi melihat jelas bagaimana perlakuan bi Surti pada Kayla di depan Neneknya. Terlihat bi Surti sangat menyayangi Kayla. Bolak-balik dielusnya kepala Kayla sambil menyuapinya.


Kayla asik bermain di teras dan lari ke sana kemari, sedangkan bi Surti dengan sabar menyuapi Kayla sambil mengikuti ke mana Kayla pergi. Terlihat bi Surti sangat sabar menghadapi anak majikannya.


‘Kenapa Kayla merasa takut dengan bi Surti, sementara kulihat sendiri bi Surti sangat sabar memberikan makan Kayla. Apakah bi Surti sengaja berbuat baik di depan neneknya. Bisa jadi karena ada neneknya di situ sehingga bi Surti terlihat menyayangi Kayla. Aku harus mencari bukti yang lengkap untuk membuktikan kelakuan bi Surti,’ batin Revi dengan perasaan kesal dan langsung masuk ke rumahnya.


“Kalau Ibu mau pulang, ya udah pulang aja biar Kayla sama saya.” pintah bi Surti.


“Ibu bingung mau ninggalkan Kayla,” jelas bu Dian.


“Kenapa rupanya Bu. Bukankah ada saya.”


“Memang tadi Rafa udah ngomong kalau kamu sampai rumah, ibu disuruh langsung pulang. Tapi melihat Kayla sedang asyik main rasanya ibu nggak tegah meninggalkannya.”


“Ibu jangan khawatir, biar saya yang jaga Kayla. Paling entar lagi dia juga tidur siang karena ini udah saatnya tidur siang.”


Ya udahlah, kalau gitu ibu pulang dulu ya,” pamit bu Dian.


Bu Dian langsung menghubungi anaknya Rafa dan mengatakan akan pulang karena bi Surti sudah pulang dari rumah family-nya. Rafa langsung mengizinkannya.


***


Revi yang sejak tadi di dalam kamarnya hanya memainkan ponselnya. Rencananya setelah pulang, dia ingin tidur siang tapi ucapan bi Surti pada pacarnya membuat Revi tidak dapat memejamkan matanya. Kemudian diraihnya majalah yang ada di dalam laci meja belajarnya. Majalah itu langsung dibolak-balik untuk mencari berita yang menarik. Tapi setelah membolak-balik sampai halaman terakhir, tidak ada berita yang menarik baginya untuk dibaca. Kemudian majalah itu diletakkan di samping tubuhnya.


Samar-samar terdengar suara tangisan Kayla membuat Revi merasa heran.


‘Kenapa Kayla menangis. Pasti dia sedang dimarahi bi Surti,’ batin Revi.


Tapi tangisnya tak kunjung reda juga setelah beberapa menit bahkan tangisnya semakin kencang. Akhirnya perasaan Revi tidak enak mengingat kelakuan bi Surti yang suka marah pada Kayla. Dengan rasa penasaran Revi pergi ke rumah Kayla. Sampai di depan pintu rumah Kayla, terlihat pintu terbuka dan Revi langsung memanggil Kayla. Karena Kayla tidak kunjung muncul, Revi langsung masuk ke dalam dan terlihat di ruang tengah Kayla sedang menangis dan Revi langsung mendekatinya.