My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Bab 8 - Kucing Sialan pun Muncul!



"Ayumi, aku berangkat duluan. Jangan terlambat ya!" Aku berseru di depan pintu setelah memakai sepatuku. "Jangan lupa kunci pintu!"


Seperti biasa, adikku bangun terlambat karena larut dalam gamenya tadi malam. Kupikir ia hanya bermain sebagai cara untuk mendekatiku. Tapi, ia malah bermain sungguhan. Ah, kalimat itu terasa salah setelah dikatakan.


Tunggu, setelah kupikir-pikir, bukankah ini fast forward? Kau tahu, seperti "beberapa jam kemudian" atau "keesokan harinya" yang biasanya ada di film-film. Meskipun aku mengatakan itu, waktu tetap berjalan.


Meh, bukannya aku peduli sih. Tidur pun juga terhitung sebagai fast forward.


"Baik! Hati-hati di jalan!" Suara gadis itu terdengar dari dalam. Bersama dengan suara piring dan gelas.


Seperti isyarat, aku keluar dari rumah.


Matahari bersinar terang dan langit masih biru. Yup, hari yang normal. Aku masih menunggu langit berubah menjadi merah atau mata raksasa tiba-tiba muncul di langit. Menjatuhkan monster setiap kali seseorang melihat ke atas.


Ah, masa laluku yang gelap masih menghantui ternyata.


Mencoba melupakan hari-hari yang penuh kegelapan itu, aku melangkah menyusuri jalan. Jarak antara rumah dan sekolahku cukup jauh. Sampai-sampai aku ingin memakai sepeda atau naik kereta.


Namun, karena kedua alternatif itu tidak bisa tercapai — ketidakadaan sepeda dan jarak sekolah yang jauh dari stasiun — aku akhirnya berjalan kaki. Tak apa, ini menjadi latihan bagi kakiku. Berjuanglah, diriku.


Sampai di sebuah pertigaan, aku melihat seseorang yang familier. Seorang gadis kecil berambut panjang. Shidoki Mia terlihat kebingungan seperti biasa.


Apakah ia tersesat lagi?


Sebenarnya akal sehatku berteriak untuk mengabaikannya. Bukankah peta yang kuberikan sudah cukup? Tapi, kakiku entah kenapa berhenti. Sepertinya seluruh latihan itu membuatnya memiliki pemikiran sendiri.


"Ah." Sebuah suara keluar dari mulut gadis itu saat menyadariku. "Arumasu-kun, selamat pagi."


Mendengar sapaannya, aku otomatis menjawab, "Pagi."


Otak juga memiliki fungsi autopilot ternyata.


"Kau tersesat lagi?" tanyaku. Menekankan pada kata "lagi".


"Eh? A-ah, tidak kok." Shidoki melambaikan tangannya, membantah perkataanku. "Tadi aku bertemu seseorang yang aneh. Dia masuk ke dalam gang itu."


Shidoki menunjuk ke seberang jalan. Sebuah gang gelap yang terlihat kotor. Aku tidak tahu mana yang lebih aneh. Shidoki yang mempercayai orang aneh itu atau orang aneh yang mau memasuki gang itu.


Merasa sedikit kagum, aku kembali menoleh ke arah Shidoki. "Lalu, kenapa kau menunggu di sini?"


Bukankah berbahaya jika orang itu adalah semacam orang mesum atau perampok. Aku tidak mau ada kehebohan di samping rumahku. Orang-orang di kelas bisa tahu tempat tinggalku nantinya.


"Err... Dia meninggalkan tas dan blazernya." Shidoki menoleh ke sampingnya. "Kurasa dia satu sekolah dengan kita."


Sebuah tas sekolah dan blazer hitam di atasnya. Aku bisa melihat nama pemiliknya itu di permukaan tas. Kanji untuk hitam dan pohon.


Hoh?


Aku menyipitkan mataku kemudian memutar tubuhku. Menyeberangi jalan, aku masuk ke dalam gang yang ditunjuk Shidoki. Tidak menghiraukan panggilannya.


Beberapa plastik sampah yang menggunung, tong sampah yang mengeluarkan bau aneh, serta koran-koran basah yang berserakan di mana-mana. Bernafas saja sulit.


Di depan, aku melihat sosok seseorang. Terlihat sedang membungkuk di depan sebuah kardus. Suara mengeong terdengar samar.


"Nya~" Diikuti suara laki-laki aneh.


Aku mengenali pemilik suara itu. Melangkah terus, aku berada di belakangnya.


"Oi, Kusoneko."


Merasa namanya dipanggil, kucing sialan itu memutar kepalanya. Menoleh dari balik bahunya. Senyum aneh tercipta di wajah yang mirip kucing itu.


"Ah! Aru-kun, Pagi! Mau berangkat ke sekolah ya?"


Aku membunyikan buku-buku jariku. "Muncul juga kau, kucing sialan."


"Eh?"


❀❀❀❀


Menyeret kucing sialan itu, aku keluar dari gang. Menyebrangi jalan, aku memastikan tidak ada yang melihat.


"A-Arumasu-kun!?"


Mengabaikan seruan Mia, aku melempar orang itu ke arah tasnya.


"Oi! Sopan sedikit lah! Aku ini high maintenance!" protesnya, masih di tanah.


"Cuih! High maintenance, jidatmu!" Aku melipat tanganku. "Mana ada high maintenance yang bermain-main di tempat sampah."


"Y-yah, tadi aku sedang memberi makan induk kucing dan anak-anaknya." Memberikan alasan yang aneh, ia mulai memakai blazernya.


"Lagi-lagi berhenti karena kucing." Aku memijat pelipisku. "Apakah kemarin kau juga membolos karena itu?"


"Y-yah, kalau kemarin aku ketiduran sih...." Kembali memasang sebuah anehnya, ia menjawab.


Aku bisa merasakan sudut mataku mengejang. Entah kenapa, tanganku gatal. aku ingin menghajarnya. Aku boleh mengajarnya 'kan? Kurasa aku akan menghajarnya.


"U-um...." Namun, sebelum aku bisa menghajarnya, Shidoki menyela.


"Oh? Siapa gadis manis ini? Apakah kau menculiknya, Aru-kun?"


"Pertanyaan macam apa itu?"


Aku menatapnya dengan tajam. Beberapa saat kemudian, aku menghela nafas. Marah-marah di pagi hari itu bukan hal baik.


"Dia Shidoki Mia. Teman sekelas kita yang baru. Sekaligus tetangga baruku." Aku memperkenalkan Shidoki kepadanya. "Shidoki-san, orang, ah koreksi, kucing aneh dan tidak berakhlak ini adalah Kuroki Kusoneko Ryuzaki


"Sa-salam kenal. Namaku Shidoki Mia, aku baru pindah kemarin lusa." Dengan sopan, Shidoki memperkenalkan dirinya sendiri.


"Kejam sekali!" Kuroki berceletuk. Aku tidak menanggapinya. "Terserahlah...." Ia akhirnya menyerah. "Aku Kuroki Ryūzaki, mohon bantuannya ya."


"Ah, aku juga." Shidoki menundukkan kepalanya.


Aku menatap percakapan mereka berdua. Entah kenapa, aku merasa puas. Seperti masalah lama tiba-tiba teratasi.


Aku berjalan meninggalkan mereka. Tidak ingin terlambat berangkat sekolah. Aku bisa mendengar langkah kaki dan percakapan mereka di belakangku.


Aku menyalakan ponselku. Menatap layar yang kosong.


"...."


❀❀❀❀


Bel istirahat berbunyi.


Seperti biasa, suara berisik yang berasal dari murid-murid di siswa langsung menyerbu gendang telingaku. Mencoba mengabaikannya, aku mengeluarkan ponselku.


Tidak ada pesan masuk.


Di jam seperti ini, Nozomi sepertinya sedang belajar. Aku mengirimnya pesan singkat. Sekedar mengingatkannya. Gadis itu sering lupa untuk makan.


"Aru-kun, kau mau ke kantin?" Kuroki bertanya. Berdiri di samping belakangku.


"Ah, tentu." Aku menaruh ponselku lalu berdiri. Menepuk-nepuk saku belakangku untuk memastikan dompetku ada di tempatnya.


"Shidoki-chan, kau mau ikut juga?" Kuroki gantian bertanya kepada Shidoki.


"Ah, iya." Shidoki mengangguk. Menutup bukunya.


Aku baru menyadarinya. Ternyata dia anak yang rajin. Meskipun belum punya buku lengkap, dia selalu meminjam bukuku dan mencatat materi meskipun bel sudah berbunyi.


Aku jadi malu karena tidak terlalu memperhatikan pelajaran.


Hanya sedikit sih.


"Hmm? Shiragami-san di mana?" Shidoki menyadari gadis berkacamata itu tidak ada di dalam kelas.


"Oh, tadi dia dipanggil kakak kelas. Sepertinya masalah klub," jawab Kuroki dengan lancar.


Berdampingan bersamanya, terlihat jelas siapa yang memiliki kemampuan komunikasi yang lebih tinggi. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Bukankah orang-orang suka karakter kuudere sepertiku?


Entah kenapa aku pikir Ayumi akan mengatakan "Menjijikkan," kepadaku. Tapi, begitulah adikku. Atau itu hanya imajinasiku?


Bagaimanapun, kami beranjak ke kantin.


"Kau tidak membawa bekal, Shidoki-san?"


"A-ah, hari ini ibuku membuatnya. Tapi, aku lupa." Shidoki tertawa kering. Terlihat malu.


"Kau tahu, dulu Aru pernah lupa membawa bekalnya. Adik perempuannya datang ke sekolah sambil membawa kotak bekal."


"Eh? Arumasu-kun punya adik?" tanya Shidoki, menoleh ke arahku.


Shidoki menggelengkan kepalanya. Sepertinya memang tidak ya?


"Adikmu seperti apa?" tanyanya lagi.


"Biasa-biasa saja sih...." kataku. "Dia imut, pintar, ramah, imut dan suka bermain game."


"Mengatakan imut dua kali. Dasar Siscon."


"Ngomong apa kau, sialan!?" bentakku, tak tahan melihat Kuroki menghela nafas.


Siscon hanyalah stigma masyarakat. Seorang kakak yang menyayangi adiknya, apakah itu salah? Mengatakannya kepada orangnya langsung memang memalukan. Tapi, jika kau mengatakannya kepada orang lain, mereka akan mengejekmu dengan sebutan aneh seperti Siscon.


Menjadi orang yang peduli dengan keluarga memang sulit ya.


Meskipun ia bukan penulis ero manga, Adikku memang seimut itu. Lagipula, ini bukan Chiba atau Tokyo. Tapi, Kanagawa cukup dekat dengan mereka jadi aku cukup khawatir¹.


"Fufu." Shidoki menutupi mulutnya sambil tertawa kecil. "Arumasu-kun benar-benar menyukai adiknya ya."


"Begitulah." Aku mengangkat bahuku.


Sebenarnya, suka itu kata yang terlalu sederhana. Aku menyayangi adikku! Jika Ayumi punya pacar, dapat dipastikan aku mengatakan "Punya apa kau? Kau tidak berhak mengambil Ayumi-ku!"


Ah, sekarang aku bisa melihatnya mengatakan "Menjijikkan" sambil menatapku seperti sampah dengan jelas.


Tunggu. Bab ini bukan tentang Ayumi.


Memikirkan hal aneh semacam itu, kami sampai di kantin. Kuroki membeli sebuah roti kare, Shidoki membeli sepasang roti melon, sementara diriku roti lapis yang diiris secara diagonal.


Untuk minum, aku mengambil sekotak susu stroberi, Kuroki kopi susu, dan Shidoki dua kaleng jus jeruk.


Awalnya kukira Shidoki sedang lapar atau semacamnya dan membuatku ingin mengatakan sesuatu tentangnya. Tapi, dia mengatakan bahwa dia membeli milik Shiragami.


Kurasa pemikiranku yang negatif mulai terlihat.


Sesampainya di kelas, kami duduk di tempat masing-masing. Kecuali Kuroki. Dia duduk di depan Shidoki. Orang yang duduk di situ, Yamahara (?) terlihat di pojok ruangan. Sedang berbincang dengan Casanova kelas, si Aki(?) bersama dengan beberapa orang lainnya.


Hari ini tidak ada yang mencoba berbicara dengan Shidoki. Aku menatap Kuroki. Mungkin itu karena ada orang aneh itu di dekatnya.


Dengan diam, kami mulai makan. Shidoki memegang rotinya dengan kedua tangan. Itu membuatnya terlihat seperti kelinci.


"Menurutmu, gadis kucing seharusnya memiliki berapa telinga?" Kuroki mulai menanyakan hal aneh.


"Pertanyaan ini lagi." Aku menaruh kotak susu. "Ini keempat kalinya dalam seminggu, kau sadar?"


Mengingat pesannya yang dikirim pada jam 2 pagi, aku merasa muak. Siapa yang mengirim pesan pada jam 2 pagi hanya untuk bertanya tentang gadis kucing!? Orang mesum, itu jawabannya.


"Yah, aku hanya penasaran." Kuroki mengangkat bahunya.


Aku menghela nafas. "Jawabanku masih sama; Empat telinga. Kombinasi telinga kucing yang lembut dengan kesan autentik telinga manusia mampu menciptakan kesempurnaan."


"Masih sama kah?" Kuroki mengelus dagunya sambil mendengarkan penjelasanku. "Yah, aku masih teguh bahwa dua telinga itu terbaik! Shidoki-san, bagaimana denganmu?"


Tunggu dulu. Kenapa kau mengikutkan Shidoki?


Tak mengindahkan tatapanku, Kuroki masih menatap Shidoki dengan senyum aneh. Sebaliknya, Shidoki terlihat kebingungan.


"E-ehm... Kurasa, telinga kucing itu imut(?)"


Memberikan jawaban yang terdengar ragu, Shidoki gantian menatapku dan Kuroki. Aku menoleh ke arah kucing itu.


"Kau tahu, pembicaraan anehmu itu sering membuat orang lain bingung," keluhku. Kuroki hanya menjulurkan lidahnya, membuatku ingin menamparnya.


"Shidoki-san juga. Tak usah dengarkan orang aneh ini."


Aku memberi nasehat. Berdasarkan pengalamanku bersamanya selama kurang lebih dari 4 tahun, dia orang yang cukup aneh.


"A-ah, tidak." Shidoki menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum kecil. "Aku hanya berpikir bahwa kalian itu sangat akrab...."


"Akrab?"


Aku menoleh ke arah Kuroki. Dia memberiku sebuah senyuman. Aku menutup mataku lalu menoleh ke Shidoki.


"Candaanmu bagus juga ya, Shidoki-san"


"Kejam oi! Aku nangis nih!"


Mengakhiri percakapan tak jelas ini, aku memakan sisa roti isiku. Dengan wajah cemberut, Kuroki juga meminum kopinya. Shidoki juga tertawa kecil sebelum menggigit rotinya.


"Ah, kalian di sini rupanya."


Baru terlihat, Shiragami menghampiri kami. Membenarkan kacamatanya, ia duduk di kursinya. Sikapnya anggun seperti biasa.


"Ah, Shiragami-san, ini untukmu." Mia berdiri lalu memberikan roti melon dan jus jeruknya. "Terima kasih untuk kemarin."


"Eh? Padahal kubilang tidak usah." Shiragami terlihat enggan, tapi senyum di wajahnya mengatakan hal sebaliknya. Ia menerimanya. "Terima kasih ya, Shidoki-san."


"Nee, Aru. Ini salah satu momen teetee² 'kan?" Kuroki membisikkan sesuatu yang cukup bodoh kepadaku.


"Ini dunia nyata. Kau akan dianggap aneh jika mengatakan hal itu, jadi hentikan."


"Ah, benar. Kuroki-kun" Shiragami menoleh ke arah Kuroki. "Kau disuruh ke ruang guru. Lily-sensei mencarimu."


"Oh? Benarkah?" Kuroki sepertinya sudah menyangka bahwa ini akan terjadi. Terlihat dari senyum kucingnya. "Oke, terima kasih, Ketua."


Kuroki langsung berdiri. Tak lupa membereskan sisa makan siangnya.


"Kau mau ke sana sekarang?" tanyaku.


"Yah, Sensei merindukanku. Apa boleh buat?"


"""...."""


"Katakan sesuatu oi! Aku hanya bercanda!"


❀❀❀❀


"Permisi~"


Menggeser pintu ruang guru, Kuroki memasukkan kepalanya ke dalam. Senyum usilnya terpasang di wajahnya.


Ia menatap suasana di dalam ruangan. Beberapa guru sedang duduk di meja mereka masing-masing. Mengurus nilai atau tugas siswa. Tenang dan beraturan.


"Ah, Kuroki-kun. Akhirnya datang juga." Seorang wanita menoleh ke arah pintu. Menatap Kuroki dengan ekspresi kesal.


"Ayolah, Yuri-chan. Jangan pasang ekspresi itu." Kuroki tertawa kecil. Menarik kursi kosong lalu duduk di depan Lily.


"Sudah kubilang, panggil aku Sensei!" Lily memijat pelipisnya. "Aku ini gurumu lho."


"Eh~ ngga mau~" Kuroki mengayun-ayunkan kakinya. Bahkan sempat berputar di kursinya. "Kedengarannya terlalu formal, bukankah begitu?"


"Kamu memang harus formal kepada gurumu." Lily menghela nafas. Ia menyisir rambutnya ke belakang telinganya. "Lalu, kenapa kamu tidak berangkat kemarin?"


"Hmm? Jika aku bilang karena membantu anak kucing, Yuri-chan percaya tidak?"


"Lagi-lagi alasan itu." Lily menggerutu. Menulis sesuatu di jurnalnya. "Ini sudah ketiga kalinya semester ini. Kamu tidak boleh begini terus. Bagaimana jika kamu tinggal kelas nanti?"


"Hmm? Bukankah itu baik?" Kuroki tersenyum. Menyangga kepalanya di atas tangannya.


"Dengan begitu, aku bisa terus bersama Sensei lebih lama lagi."


"Ap-!? Kuroki-kun! Jangan bercanda!" Dengan wajah yang sedikit merah, Lily berseru.


"Sensei, tolong pelankan suara anda."


"Ah, maafkan saya."


Mendapat teguran dari wakil kepala sekolah, Lily langsung membungkukkan badannya. Terlihat malu dan gugup. Sekilas, ia bisa melihat Kuroki menahan tawanya.


Untuk kesekian kalinya, Lily kembali lelucon Kuroki. Begitulah, interaksi mereka.


————*Catatan————


Pojok Catatan telah kembali~!


¹ Waktunya referensi Anime! Chiba dan Tokyo adalah latar tempat Oreimo dan Eromanga-sensei. Anda tahulah ceritanya gimana( ͡° ͜ʖ ͡°)


² Bahasa Slang Vtuber. Teetee artinya berharga, murni, manis, atau semacamnya. Biasanya digunakan waktu ada momen momen manis


³ Lily atau bunga Lili di bahasa Jepang adalah 百合 (Yuri). Jadilah panggilan Yuri*~