
Setelah Ayumi mengomel selama hampir setengah jam, kakiku mulai pegal. Posisi seiza memang tidak menyenangkan. Seharusnya aku sudah mengetahui ini dan belajar dari kesalahanku.
Berdiri di depanku, Ayumi mengetuk-ngetukkan kakinya kesal. Gadis berambut hitam panjang itu menyilangkan tangannya dengan ekspresi marah. Meskipun begitu, adikku tetap terlihat imut.
"— Makanya! Memarahi Oniichan seperti ini benar-benar melelahkan! Ayu jadi ingin makan puding!" Suara kesal Ayumi memenuhi ruang makan. "Akhir-akhir ini, puding kesukaan Ayu jadi susah ditemukan, jadi Ayu khawatir mereka berhenti membuatnya."
Oi, kau niat memarahiku tidak? Lagipula, seorang adik memarahi kakaknya itu tidak sopan.
Melatih celetukan di dalam pikiran, aku meluruskan kakiku. Rasa kesemutan terasa jelas di kedua kakiku. Kasihan sekali, diriku.
"Hah!? Siapa suruh Oniichan bisa berhenti ber-seiza!?" Ayumi kembali membentakku.
Aku menghela nafas. "Kau tahu, Ayumi. Kau lebih imut saat kau menutup mulutmu."
"HAH?!"
Hatiku tiba-tiba berdebar, karena rasa takut. Aku langsung memulihkan posisi Seiza lalu membungkukkan badan.
"Maafkan hamba, Ayumi-sama. Ayumi-sama tetap imut apapun keadaannya."
"Hmph! Baguslah kalau begitu." Aku bisa mendengar Ayumi mendengus senang. "Angkat kepalamu, sup Miso-nya sudah dingin, tuh."
Memangnya itu salah siapa!?
Aku memutuskan untuk menyimpan itu di dalam hatiku. Seporsi ceramah Ayumi sehari sekali sudah cukup bagiku. Aku tidak butuh tambahan.
Aku berdiri lalu duduk di kursi makan. Memegang mangkuk, lalu "Itadakimasu" aku mulai makan.
Aku mendengar suara kursi yang bergeser di depanku. Diikuti dengan sebuah "Itadakimasu".
Aku menatap Ayumi. Ia sedang makan dengan tenang.
"Kau belum makan?" tanyaku.
"Hmm? Belum," jawabnya singkat sambil memakan sebuah tahu.
Aku tidak mengatakan apapun lagi. Aku berterimakasih karena memiliki adik pengertian sepertinya. Setidaknya dia tidak menyusahkan kakaknya. Meskipun, sedikit menakutkan, tapi karena ia imut jadi impas.
"Jadi, kenapa Oniichan terlambat?"
"Aku tugas piket," jawabku bohong.
Dalam hati aku merasa bangga. Berbohong adalah keahlianku. Terutama terhadap orang lain.
Berbohong merupakan seni yang halus. Untuk melakukannya, seseorang membutuhkan ingatan yang kuat dan pengendalian emosi yang hebat. Dalam berbohong, kau harus membohongi orang lain dan dirimu sendiri. Jika kau sendiri tidak percaya, bagaimana orang lain bisa?
Dalam berbohong, kau harus mengatakan satu hal yang selaras. Tak perlu menambahkan detail-detail khusus dan usahakan tetap konsisten. Jika kau berlebihan atau kurang dalam berbohong, siapa saja dapat mengetahuinya.
Seperti yang kukatakan tadi, aku ahli berbohong. Aku bangga dalam kebohonganku. Sampai saat ini, hanya ada beberapa orang saja yang mengetahui aku berbohong.
"Jangan berbohong. Piket tidak mungkin sampai selarut ini"
Salah satu orang itu adalah Ayumi.
"Hebat sekali, Ayumi." Aku meraih segelas air minum. "Berhasil mengetahuinya, kau memang adikku. Sebenarnya, aku ada urusan sedikit di toko buku."
Dalam berbohong, ketika kau akan ketahuan bersikaplah tenang. Jangan terlihat gugup dan khawatir. Tetaplah percaya pada kebohonganmu.
"Nozomi-chan mengirimku pesan."
"O-oh, begitu ya."
Saat pihak ketiga muncul dan memberikan fakta penting, lebih baik menyerah.
"Maaf, dia meneleponku jadi aku berhenti dulu."
Selesai mengatakan itu, aku menutup mataku. Menunggu ombak kemarahan Ayumi. Namun, setelah beberapa saat, tidak ada tanda-tandanya.
Sebaliknya, aku hanya mendengar helaan nafas.
"Oniichan bodoh ya? Kenapa tidak sekalian di rumah saja?!" Ayumi memukul meja.
"Justru sebaliknya, aku tidak bisa berkonsentrasi denganmu di rumah." Aku gantian memukul meja. "Kau itu mengganggu!"
Ayumi pura-pura terkejut. Membuka mulutnya seperti seekor ikan mas. "Apa? Apakah Oniichan terpesona oleh tubuh Ayu ini? Tidak boleh, Ayu ini adikmu."
"... Tepat sekali. Ini alasannya."
"Tidak mungkin! Selain terikat darah, Ayu juga masih di bawah umur. Oniichan, ini hubungan terlarang!"
"Aneh. Semua orang di sekitarku memang orang aneh." Aku membenamkan wajahku ke telapak tangan.
"Oh ayolah, Oniichan. Aku tidak seburuk itu."
Mendengar perkataan Ayumi, aku mengangkat kepalaku sedikit. Menatap wajahnya yang tersenyum.
"Aku tidak keberatan kok berbagi Oniichan dengan Nozomi-chan."
"Bunuh saja aku!"
❀❀❀❀
Selesai makan dan mencuci piring, aku duduk di sofa di depan TV. Menonton film dokumenter alam.
Rupanya ada satu jenis katak yang membekukan diri mereka ketika musim dingin tiba. Menghentikan metabolisme tubuhnya dan menghemat tenaga. Enak sekali ya.
"Dan Manusia bahkan tidak bisa berhibernasi. Tidur selama enam bulan! Bukankah itu hebat? Bah! Aneh sekali! Evolusi itu plin-plan!"
Mengutarakan protesku, aku melempar sepasang kacang ke dalam mulutku. Mengunyahnya, aku tidak tahan berpikir bahwa kacang dari Chiba memang enak.
Jangan panggil kakakmu orang aneh.
Berbeda dengan dirinya yang memakai seragam pelaut hitam tadi, Ayumi kini memakai hoodie kuning. Bloomers biru bisa terlihat sedikit di balik hoodie yang kebesaran itu. Rambut panjangnya terikat menjadi sebuah ponytail.
Apakah anak SMP suka memakai baju seperti itu?
Memegang sebuah botol jus, gadis itu duduk di sampingku. Menyandarkan tubuhnya ke tubuhku. Aku ingin mengatakan "berat," tapi tangan Ayumi pasti langsung terhubung dengan daguku. (Artinya, aku akan mendapatkan uppercut.)
Ayumi mengambil remote di atas meja lalu langsung mengganti channel. Lebih tepatnya mengganti HDMI-nya.
"Hei, aku sedang menonton itu."
"Oniichan selalu menonton program yang aneh. Ayu jadi khawatir."
"Aneh apa? Nat Geo itu berkualitas! Setiap program dibuat berdasarkan penelitian resmi dan aktual. Tempat yang penuh ilmu pengetahuan dan teknologi! Tempat yang merangsang rasa penasaran dan eksplorasi! Bukan channel sejarah abal-abal yang menampilkan konspirasi-konspirasi aneh."
Tidak terima karena channel favoritku dihina, aku membelanya. Sebaliknya, Ayumi tidak peduli. Ia menyalakan Switch lalu mengambil sepasang kontroler dari bawah meja.
Sekarang aku merasa sia-sia karena menjelaskan sesuatu kepada orang yang tidak peduli. Padahal alam semesta ini benar-benar menarik. Seperti tarian kosmik yang menggoda para penjelajah ke dalam pelukannya.
"Nih." Tak membiarkanku terendam dalam pemikiran dalam tentang rahasia alam semesta, Ayumi memberiku sebuah pro kontroler.
Aku hanya bisa menerimanya. Menghela nafas, aku menatap ke arah layar.
"Kita mau main apa? Splatoon? Smash Bros? Mario Kart?"
"Ehh~? Ayu mau main Zelda."
Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Menatap gadis itu memilih Link's Awakening di layar.
"Mbak Ayumi, itu game singleplayer."
"Tahu kok."
"Lalu, kenapa kau memberiku kontroler!?"
"Oh, Ayu lupa. Teehee!"
"Jangan malah Teehee!"
Aku melempar kontroler itu ke samping. Membuatnya memantul sedikit di atas sofa. Menyebalkan sekali.
"Maaf, maaf. Nanti gantian ya," kata Ayumi meminta maaf. Suara tombol yang ditekan dapat terdengar.
Memilih untuk berperan sebagai kakak yang pengertian dan orang yang memiliki akal sehat, aku mengalah. "Baiklah." Aku menyandarkan tubuhku ke sofa.
Kepala Ayumi jatuh ke pangkuanku. Pandangannya masih lekat ke arah layar. Oi, jangan mencuri dari penduduk.
"Nee, Oniichan. Kita punya tetangga baru kan?" Ayumi bertanya. Tidak menatap ke arahku.
"Oh, iya. Keluarga Shidoki. Aku sudah bertemu putri mereka," jawabku. Mencoba mengambil kacang. Tapi, sia-sia. "Dia teman sekelasku."
"Oh? Kebetulan yang luar biasa." Katanya dalam suara monoton. Ia meraih mangkuk kacang di atas meja lalu menaruhnya di atas kepalanya. "Orangnya bagaimana?"
"Seperti hewan kecil." Aku mengambil sepasang kacang lalu memakannya. "Menyusahkan dan banyak orang yang menyukainya."
"He~h, Oniichan sendiri?"
Aku memikirkan perkataan Shidoki hari ini. Tidak terlalu penting memang, tapi entah kenapa sebutan orang baik itu masih melekat di pikiranku.
"Yah, dia bukan orang buruk," jawabku pada akhirnya.
"Maksud Ayu bukan begitu." Ayumi menghela nafas. "Kakak suka dia?"
"Pertanyaan macam apa itu?" Aku menatap gadis itu aneh.
Suka adalah kata yang relatif. Tergantung bagaimana kau menggunakannya, artinya dapat berubah drastis. Misalnya jika kau mengatakan, "aku suka bernyanyi," maka orang akan berpikir bahwa menyanyi adalah hobimu. Tapi, jika kau mengatakan "aku suka dia," dapat terlihat arah yang kau lalui.
Mengingat Nozomi dan Ayumi memiliki hubungan yang dekat, aku tidak mau berakhir dengan bersimpuh di kaki mereka berdua. Satu kali sudah cukup. Itu pun karena alasan bodoh.
"Yah, maksud Ayu kan gadis itu populer. Pasti imut kan?" Ayumi menjelaskan pertanyaannya. "Oniichan juga laki-laki, bukankah lebih aneh kalau tidak tertarik?"
Hah! Pertanyaan bodoh yang menjebak!
Mencoba mempertanyakan seksualitasku untuk mengadu? Terlalu naif, adikku. Stigma masyarakat tidak berpengaruh bagiku ini!
"Maaf saja, di mataku hanya ada Nozomi."
Aku tersenyum bangga. Perkataan itu cukup keren. Meskipun cukup memalukan.
"Oke, cukup." Ayumi menjeda gamenya lalu bangun. Kacang jatuh berhamburan ke atas sofa.
Ayumi tersenyum senang. ia memegang sesuatu. Sebuah ponsel kuning. Di layar, aku melihat aplikasi perekam suara.
"A-Ayumi, kau merekam suaraku? Tolong ha—"
"Daaan, kirim ke Nozomi-chan. Dia pasti senang~"
Sebelum bisa menyelesaikan kalimatku, Ayumi mengirimnya ke orang tersebut.
"...."
Aku menutupi wajahku.
"Mau gantian main?"
"Pantatku!"