
“Memangnya semalam Kayla makan pakai apa Bi?”
“Sayur lodeh Pak. Sayur lodeh kan makanan kesukaan non kayla, kenapa kata dokter keracunan?” tanya bi Surti sedikit protes.
“Maksudnya gini Bi. Bisa jadi masakan yang bibik berikan sama Kayla makanan yang sudah basi. Bukankah itu masakan kemarin, kenapa masih kamu berikan pada Kayla.”
“Karena non Kayla suka, saya masak lagi Pak” jelas bi Surti.
“Apa bibik yakin? bukan karena bibik malas?"
“Tidak pak, itu masakan baru," kekueh bik Surti
“Terserah Bibi lah. Tugas bibik sebenarnya gampang hanya masak untuk Kayla, kenapa bisa begini? jawab yang jujur Bik, sebelum saya minta polisi menyelidiki nya”
Bi Surti pun langsung gugup karena dia memang tidak mau membuatkan lauk untuk Kayla. Dan dugaan Rafa benar adanya.
“Semalam Kayla hanya makan nasi sama sayur itu aja Pak.”
“Hah!" ucap Rafa heran.
“Kayla memang sering seperti itu Pak. Dia jarang mau makan lauk. Biasanya yang dimakan hanya sayurnya aja,” ucap bi Surti sambil memberi isyarat pada Kayla agar Kayla tidak menceritakan yang sebenarnya.
Kayla hanya diam saja tidak berani berkutik karena dia tahu bi Surti orangnya kejam kalau marah suka mencubit, bahkan memukul juga mau. Itulah yang dirasakan Kayla saat ini. Pantat Kayla sering biru-biru akibat dicubit bi Surti. Untuk menghilangkan rasa curiga di hati Rafa, dia langsung bersandiwara di depan majikannya.
“Benarkan Sayang? Bibi bilang bolak-balik kalau makan harus pakai lauk, tapi kamu nggak pernah dengar omongan Bibi. Mulai besok Kayla harus makan pakai lauk ya Sayang?” ucap bi Surti sambil mengelus kaki Kayla.
Rafa juga melakukan hal yang sama. Dia mengelus kepala putrinya dan sesekali diciumnya kening Kayla sambil tersenyum pada Putri semata wayangnya.
“Mulai besok Kayla harus dengar omongan bi Surti ya Sayang. Kayla harus makan pakai lauk biar ada gizinya, supaya badan Kayla tumbuh besar Sayang.”
“Iya Pa,” jawab Kayla pelan.
Bik Surti bernapas lega, akhirnya tidak ketahuan.
Rafa langsung tersenyum mendengar pengakuan putrinya.
“Bibi pulang aja sekarang biar saya yang menemani Kayla.”
“Memangnya Bapak nggak ke kantor?” tanya bi Surti.
“Nggak Bi, tadi saya sudah permisi.”
“Pak, saya di sini aja lagian di rumah juga kerjaan sudah siap semua.”
“Tapi rumah nggak ada yang jaga Bi, jadi Bibi lebih baik pulang aja dari pada di sini nggak bisa istirahat.”
Akhirnya dengan perasaan kesal bi Surti pulang. Tapi bi Surti yang disuruh pulang majikannya tidak langsung pulang. Dia pergi ke suatu tempat untuk menemui kekasihnya yang bernama Deni.
Begitu bi Surti keluar dari ruangan Kayla, Bu Lusi dan Revi datang menjenguk Kayla. Melihat kedatangan Revi, Kayla merasa sangat senang. Wajahnya langsung ceriah.
“Tante....” panggil Kayla saat melihat Revi yang akan masuk.
Revi langsung mendekati Kayla dan mengelus kepalanya. Terlihat Kayla sangat manja pada Revi.
“Kamu kenapa Sayang?” tanya Revi sambil mencium pipi Kayla.
Kayla langsung bercerita panjang lebar tentang sakitnya. Terlihat Kayla dan Revi sangat akrab. Rafa yang melihat keakraban Revi dan putrinya merasa sangat senang. Tapi di balik itu dia juga merasakan kesedihan yang terpendam karena sebentar lagi putrinya akan berpisah dari Revi karena Revi sebentar lagi akan menikah dan ikut suaminya.
Rafa juga merasakan hal yang sama yang akan kehilangan orang yang baru saja dicintainya. Tentu hal ini akan menorehkan luka baru di hatinya.
***
Bi Surti dan Deni yang sudah janjian ketemu di suatu cafe. Terlihat Deni masuk dengan menggandeng tangan Surti mesra. Keduanya langsung mencari tempat duduk di pojok.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pelayan wanita yang sangat cantik dan tersenyum ramah. Pelayan itu memberikan daftar menu makanan yang ada di cafe itu. Deni sejak tadi memperhatikan wanita itu membuat wanita itu tersipu malu. Keduanya pun saling tersenyum membuat bi Surti yang ada di samping Deni memandang kesal.
‘Dasar Deni mata keranjang. Pantang melihat wanita cantik dan langsung mau menerkam saja,’ batin bi Surti kesal.
Setelah makanan dipesan, pelayan itu langsung pergi. Deni yang dasar mata keranjang lagi-lagi memandang wanita itu tidak berkedip. Dia tidak peduli padahal bi Surti ada di sampingnya. Dipandangnya pelayan cantik itu sampai punggungnya tidak kelihatan dari balik dinding. Bi Surti tampak cemberut melihat kelakuan Deni yang sangat menyebalkan itu.
“Kenapa Sayang wajah kamu seperti jeruk purut aja,” ucap Deni sambil mencubit pipi bi Surti.
“Tak usah sentuh-sentuh,” ucap bi Surti marah.
“Memangnya kenapa Sayang?”
“Aku kesal aja...”
“Kesel kenapa?” tanya Deni pura-pura tidak tau.
“Mas tidak bisa melihat wanita cantik.”
“Memangnya kenapa Sayang. Yang pentingkan mas nggak punya perasaan sama dia.”
”Melihat wanita cantik seperti itu, Mas sudah melotot seperti mau menerkam aja,” jelas bi Surti emosi.
“Oh, berarti kamu cemburu donk. Cemburu sih boleh tapi nggak boleh cemburu buta Sayang.”
“Bukannya aku cemburu, aku hanya nggak suka aja.”
“Ya udah, kalau seperti itu aku minta maaf ya?” ucap Deni sambil mengelus rambut bi Surti.
Bi Surti yang ke-gr-an merasa sangat senang. Hatinya berbunga-bunga karena mendapatkan perlakuan Deni yang sepertinya sangat mencintainya.
‘Ternyata Deni benar-benar mencintai aku, buktinya dia menjaga perasaanku. Baru aku marah seperti itu, dia sudah langsung ketakutan,’ batin bi Surti.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pelayan yang membawa baki yang berisi makanan yang mereka pesan. Pelayan ini juga wanita tapi bukan wanita yang pertama datang. Tadi pelayan yang membawa baki ini kurang cantik dibandingkan pelayan yang pertama tadi datang sehingga Deni tidak terlalu memperhatikannya. Setelah makanan yang dipesan datang, bi Surti dan Deni langsung menyantapnya.
“Jadi bagaimana kondisi anak majikan kamu Sayang?” tanya Deni.
“Sudah mendingan Den.”
“Kenapa tidak kamu yang menemani di rumah sakit?”
“Rencananya sih tadi iya, tapi pak Rafa melarang. Katanya biar dia aja yang menjaga Kayla,” jelas bi Surti.
“Kamu lebih tegas dikit donk. Bilang sama majikan kamu kalau kamu tidak mau sampai majikan kamu nantinya sakit, jadi seolah-olah kamu perhatian sama dia. Kalau dilihatnya kamu perhatian sama dia, pasti dia langsung simpati sama kamu,” jelas Deni.
“Apa kamu pikir segampang itu Deni menarik simpati dia. Dia itu orangnya agak susah-susah gampang, apalagi sekarang dia sedang tergila-gila dengan si Revi itu.”
“Kalau hal itu gampang aja Sayang. Walaupun wanita itu yang kamu bilang lebih cantik, kalau pelayanan kamu menggoda pasti dia akan lebih tertarik sama kamu.”
“Maksud kamu gimana Den?”
“Ya kamu pintar-pintarlah menggodanya.”