
Merepotkan.
Itulah yang kupikirkan ketika aku melihat remaja-remaja yang bercanda ria di sekitarku. Ah, coret itu. Hampir semua hubungan manusia itu merepotkan.
Terutama pada masa-masa muda. Masa-masa yang disebut dengan masa merah jambu. Penuh dengan persahabatan, percintaan dan petualangan lainnya.
Omong kosong.
Pertemanan adalah sebuah hal yang sangat merepotkan. Manusia adalah makhluk yang licik. Selalu mengkhianati seseorang yang ia panggil "teman". Jika mendapatkan keuntungan, maka merugikan orang lain pun tidak masalah.
Itulah mengapa aku, yang sekarang kelas satu SMA, memilih untuk berada di dalam duniaku sendiri. Tanpa ada pengaruh orang lain, ketenanganku tidak akan terganggu. Bagiku, ketenangan adalah perasaan terbaik.
Kurasa pendapat itu tidak berlaku untuk semua orang. Seperti orang-orang yang selalu berkumpul di tempat duduk sampingku.
Menurut informasi tidak berguna yang selalu memasuki telingaku setiap hari, dalam sekolah ini terdapat sebuah peringkat.
C adalah peringkat terendah. Isinya hanyalah para Otaku yang selalu membicarakan budaya pop culture.
B adalah peringkat kedua. Berisi orang-orang yang cukup populer, tapi masih kekurangan. Baik itu kurang gaya, kurang tampang, mau pun kurang keren. Bisa dikatakan, peringkat ini adalah pengikut peringkat di atasnya.
Peringkat A, peringkat pertama. Yang menempati peringkat ini adalah orang-orang yang benar-benar populer. Gyaru, Ikemen, Atlet. Orang-orang yang memiliki segalanya. Tampang, kekerenan, gaya, dan kepintaran.
Aku? Tentu saja aku tidak bisa diukur menggunakan peringkat seperti itu. Aku adalah eksistensi yang unik. Seorang pengamat luar yang tidak ikut campur dalam urusan mereka. Seorang peringkat S, kau bisa menyebutnya begitu.
Kembali ke topik. Kelompok di sampingku ini, mereka peringkat A dan B. Dengan kata lain, peringkat paling menyebalkan untuk ditangani.
Sebenarnya aku tidak peduli, tapi suara mereka ketika berbicara itu terlalu keras. Aku pikir mereka mempunyai gangguan pendengaran.
Kurasa itu tidak salah.
Aku menghela napas pelan. Mencoba mengabaikan suara mereka yang mengganggu.
Aku melipat tanganku di atas meja lalu menaruh kepalaku di atasnya. Posisi tidur ini selalu kulakukan setiap kali istirahat.
Kenapa? Karena berurusan dengan orang lain itu merepotkan.
Manusia bisa dikatakan sebagai makhluk sosial. Tapi, aku menyebut hal itu sebagai omong kosong.
Zaman dulu, bersosialisasi memang menjadi suatu hal yang diharuskan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi, sekarang kita bisa mendapatkan seluruh kebutuhan kita melalui teknologi, dengan tingkat sosialisasi yang relatif sedikit.
Pada zaman ini, terlalu bergantung kepada orang lain pasti menjadi sumber masalah. Jika kau menaruh kepercayaanmu kepada makhluk yang bernama manusia hanya penyesalan yang akan datang.
Aku belajar hal ini dengan cara yang keras. Terlebih lagi, manusia memang makhluk yang merepotkan. Sekali lagi, aku perlihatkan contohnya. Peringkat A dan B yang sedang bercakap-cakap di samping tempat dudukku.
Suara tawa mereka terdengar seperti guntur di siang hari yang cerah. Tak terduga dan sangat menyebalkan. Aku hampir saja terjatuh dari kursi karena kaget.
Tolong tutup mulut kalian.
Jika yang dipanggil murid SMA normal itu selalu mengeluarkan suara keras maka monyet pelolong juga termasuk murid SMA normal. Mereka menandai daerah kekuasaan mereka dengan lolongan khas mereka untuk mengusir musuh.
Apakah itu berarti mereka menginginkanku agar pergi? Sayang sekali, aku bukan satu jenis seperti kalian.
Masih berada dalam posisi tidurku, seseorang menyenggol mejaku. Membuatnya mengeluarkan bunyi keras. Diikuti dengan suara seorang perempuan yang lebih keras.
"Ah! Maafkan aku!"
"Hou-chan, hati-hati."
"Aku tidak sengaja! Maaf ya err... siapa lagi ya, namanya? Arikawa-kun?"
"Houtaro, masa kamu tidak ingat namanya? Namanya Arima-san."
"Ah, iya. Maaf sudah menendang mejamu, ya Arima-kun!"
"...."
"...."
"Dia masih tidur? Nyenyak sekali ya."
"Dia memang suka tidur. Biarkan saja, Houtaron."
"Ah, baiklah."
Mengganggu saja.
Kalian bahkan salah menyebut namaku. Yah, aku juga tidak terlalu ingat nama kalian, jadi kita anggap ini impas. Aku juga bukan seseorang yang suka memegang rasa dendam, masalah ini tidak akan kuperpanjang. Berterima kasihlah padaku.
Setelah beberapa pertukaran kalimat tentangku, mereka akhirnya berubah topik. Pembicaraan yang melibatkanku memang tidak berlangsung lama.
Tak lama kemudian, bel tanda masuk berbunyi. Tidak butuh lama sebelum meja sudah dipenuhi murid. Aku bangun lalu mengeluarkan buku.
Aku kembali menghela napas.
Sebenarnya, aku juga berpikir bahwa sekolah itu tidak dibutuhkan. Di zaman ini, Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan mudah. Tapi, masyarakat menuntut semua orang untuk mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi.
Tolong akhiri hari ini dengan cepat.
Aku terus mengharapkan itu setiap pelajaran berganti. Tentu saja itu tidak terwujud. Tidak ada bintang jatuh di dalam kelas. Aku melihat jam dinding di depan kelas, tiga jam lagi sebelum waktunya pulang.
Aku menghela nafas lagi. Entah yang ke berapa kali hari itu. Pasrah, aku mengikuti pelajaran.
Setelah hampir tiga jam pelajaran, bel tanda pulang berbunyi. Aku merapikan mejaku dan segera pulang.
Aku tidak mau berada disini lebih dari yang dibutuhkan. Sekolah hanya tempat untuk belajar. Tentu saja, banyak yang menyalahgunakannya menjadi tempat berkumpul bersama "teman-teman".
Benar-benar merepotkan.
∅*****∅
Meskipun interaksi antara manusia itu merepotkan, aku mengaguminya. Bukan kagum seperti melihat idolamu, tapi kagum seperti melihat hewan di kebun binatang.
Ribuan interaksi terjadi di sekitar kita. Namun jika kau menjadi peserta tetap dalam interaksi itu, hanya sedikit yang menarik perhatianmu. Sebaliknya, jika kau menjadi pengamat, kau dapat melihat keseluruhan interaksi manusia.
Senyum dan tawa palsu saat berhadapan dengan teman yang diam-diam dibenci. Membicarakan seseorang di balik mereka. Mengucilkan seseorang yang tidak berpikiran sama. Menjahili seseorang yang berada di bawah tingkat.
Semakin lama aku mengamati, semakin jelas aku mengerti. Manusia tidak jauh berbeda dengan hewan. Interaksi sosial mereka dapat diperbandingkan dengan kebanyakan hewan.
Ah, mungkin itu terlalu berlebihan. Tapi, kurasa itu cukup benar.
Aku mengambil sebuah buku yang berada di rak atas. Buku yang cukup tebal. Sekitar 2000 halaman dengan cover yang keras.
Tentu saja. Jika ada sebuah kamus tipis, tidak akan ada yang mau membelinya.
Aku mendongak, menatap tempat buku tadi. Agak berbahaya jika buku tersebut jatuh lalu menimpa seseorang.
Untung saja aku melihatnya. Tidak berlebihan jika aku berkata bahwa aku menyelamatkan nyawa seseorang.
Aku menaruh kamus itu ke dalam troli. Ada banyak buku yang entah sudah terlalu lama di rak, rusak, atau tidak sesuai dengan tempatnya.
Inilah pekerjaan paruh waktuku. Menjadi seorang karyawan di toko buku. Bukan suatu pekerjaan yang buruk menurutku.
Toko buku ini juga tenang. Hanya ada lantunan musik samar yang keluar dari speaker dalam toko. Selain itu, sedikitnya pelanggan di shift-ku juga menambah ketenangan toko.
Ketenangan adalah yang terbaik.
Namun, dengan adanya hak maka ada kewajiban. Sebagai balasan atas ketenangan dan gajiku yang lumayan cukup, aku bekerja dengan giat.
Sama-sama untung menurutku. Bagiku dan toko ini.
Dengan bekerja di sini, aku bisa mengamati berbagai macam karakter manusia dengan resiko yang cukup rendah. Selama dua tahun bekerja, aku sudah melihat ratusan orang yang masuk dan keluar dari toko.
Selama waktu itu juga, aku bisa menghafal sifat semua orang yang sering masuk ke sini. Paman yang suka membeli majalah dewasa, mahasiswi yang gemar membeli majalah fashion, laki-laki berandalan yang diam-diam membeli shoujo manga. Aku mengingat itu semua.
Meskipun bagiku mengingat orang itu suatu bentuk pemborosan energi, otakku berkata lain. Kurasa semakin sering kau bertemu dengan seseorang, maka otakmu secara tidak langsung akan menyimpan ingatan itu.
Otak manusia memang memiliki fungsi yang aneh.
"U-uhh... Di mana ya?"
Tanpa sengaja, telingaku menangkap sebuah suara. Suara seorang perempuan yang sepertinya kebingungan. Menatap ke depan, maka asumsi itu terbukti.
Ada seorang gadis berambut cokelat yang terlihat gugup. Firasatku mengatakan bahwa dia tidak bisa menemukan buku yang diinginkannya. Di saat seperti inilah, kewajibanku harus dipenuhi. Aku meninggalkan troliku lalu berjalan mendekatinya.
"Permisi, apakah anda butuh bantuan?"
Mencoba bersikap sesopan dan seramah mungkin, aku mengajukan pertanyaan wajib setiap karyawan ketika melihat pelanggan yang kesusahan.
Gadis itu tersentak sekejap. Mungkin kaget sekaligus ketakutan setelah mendengar suara serakku yang tidak keluar sedari pagi ini. Dia menengok ke arahku lalu menunjukkan ekspresi sedikit lega.
Kurasa dia lega karena melihatku yang memakai celemek kuning ciri khas karyawan toko buku ini. Atau mungkin karena ada seseorang yang membantunya. Dua kemungkinan itu sama-sama memungkinkan.
"I-itu... a-aku mencari Light novel..."
Suara pelannya menyapa telingaku sekali lagi. Agak kecil, tapi telingaku bisa menangkapnya.
Aku menunjuk ke depan.
"Anda bisa menemukan koleksi light novel di baris keenam, tepat di depan kasir."
"Ah, begitu ya? Te-terima kasih banyak."
Mendengar petunjuk arahku, gadis itu tersenyum senang. Dia membungkuk padaku lalu segera beranjak pergi.
Tipikal pelanggan baru. Tipe yang jarang pergi ke toko sendirian. Kurasa sudah beberapa kali aku bertemu tipe pelanggan seperti itu.
Aku menghela nafas.
Shift-ku sebentar lagi habis. Lebih baik bergegas.
Aku kembali ke troliku lalu mendorongnya ke ruangan belakang. Kouhai-ku akan membereskannya nanti.
∅*****∅
"Terima kasih atas kerja kerasnya!"
Mengangguk samar menanggapi bosku. Membuka pintu, angin musim semi menerpa wajahku disertai dengan rasa asin yang cukup menyengat. Daerahku yang dekat dengan laut menjadi alasan utama aroma asin ini.
Aku ingin makan ayam.
Menghela napas, aku melangkahkan kakiku ke arah rumah.
Aku ingin berbicara tentang langit sore, tapi matahari sudah terbenam sejak tadi. Tidak ada yang bertahan selamanya.
Aku mendongak ke atas. Langit malam terlihat kosong. Hanya ada rembulan dengan sinar samarnya. Bintang-bintang yang harusnya menghiasi kanvas hitam tidak terlihat di mana-mana. Mungkin polusi udara menjadi penyebabnya.
Ada ribuan bintang di luar angkasa. Masing-masing memancarkan sinarnya selama ribuan bahkan jutaan tahun. Butuh lebih dari satu juta tahun cahaya untuk sinar mereka mencapai Bumi. Sebuah sinar dari masa lalu. Tapi, tidak terlihat oleh mata telanjang karena polusi.
Aku menjadi agak sentimental. Efek lapar? Kurasa begitu.
Aku menggelengkan kepalaku. Malam hari adalah saat di mana kepribadian asli seseorang keluar. Malam hari juga waktu yang paling merepotkan.
Aku mempercepat langkahku, tidak ingin berlama-lama di luar. Aku harap tidak bertemu dengan hal merepotkan.
"M-Mama... P-Papa...."
Ah sial.
Contoh pertama yang merepotkan ditemukan tak lama sejak aku memikirkan itu. Seorang gadis yang menangis di bawah lampu jalan.
Dia manusia kan? Aku harap begitu.
Apakah aku harus putar balik saja? Jalan yang lain lebih jauh sih.
Aku menghela napas. Tidak berguna jika aku berputar balik sekarang. Melakukan itu hanya akan menambah hal yang merepotkan di hidupku.
Aku berjalan mendekatinya. Setelah beberapa saat, aku akhirnya tersadar. Dia pelanggan di toko buku tadi.
Dia tersesat ya? Ah, melihat tingkah lakunya tadi sore serta wajah asingnya bagiku, kurasa dia pindahan dari kota lain. Jadi wajar kalau dia tersesat. Yah, itu cuma asumsiku sih.
"Butuh bantuan?"
Aku bertanya langsung, tidak berniat berbasa-basi. Mendengar suaraku, dia tersentak kaget. Dengan pelan dia menoleh ke arahku. Matanya sembab dan merah karena menangis.
"A-ah, petugas toko tadi..."
Dengan suara bergetar, dia menyadariku.
Ingatan yang bagus.
Aku merogoh tasku. Menemukan sapu tangan biru gelap, aku menyodorkan kepadanya.
"Te-terima kasih banyak..."
Dia menerimanya dengan tangan gemetaran. Dia mengusap mata dan pipinya yang masih basah.
"Tak usah dipikirkan. Tersesat 'kah?"
Dia berhenti mengusap pipinya lalu mengangguk pelan. Dia menatap sapu tangan yang dipegangnya.
"A-aku baru saja pindah tadi pagi...."
Aku menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku. Karena aku benar, aku jadi membenci diriku sendiri.
"Orang tuamu sudah kau hubungi?"
"A-aku tidak membawa Smartphone-ku...."
"Nomor orang tuamu ingat?"
"A-aku tidak ingat...."
Ada juga ya orang semacam ini.
"Sejak pergi dari rumah kau berjalan jauh?"
"Eh? Ti-tidak. Aku hanya berjalan beberapa menit sebelum sampai di toko buku."
Ah, jadi rumahnya dekat. Mungkin karena dia belum mengingat jalanan sekitar.
"Kau ingat sesuatu dari rumah barumu itu? Seperti tanda atau semacamnya?"
Dia terdiam sejenak. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"E-ehm... Sepertinya begitu."
"Benarkah? Seperti apa?"
"Ada sebuah taman bermain kecil yang memiliki banyak kucing dan pohon sakura"
Aku menutupi mulutku. Mencoba untuk berpikir.
Kucing dan Sakura? Agak anehー? Ah tunggu, tunggu. Hanya ada satu daerah di dekat sini.
"Kurasa aku tahu di mana rumahmu."
"Be-benarkah?"
Matanya langsung berbinar-binar. Wajah muramnya kini berganti dengan senyum optimis. Suasana hati seseorang memang mudah berubah.
∅*****∅
Memimpin jalan, aku berada sekitar empat langkah di depan gadis itu. Laju jalannya benar-benar lamban. Melihat posturnya yang kecil, aku tidak terlalu menyalahkannya.
"Kau mengenali jalanan ini?"
Memecah keheningan, aku bertanya.
"Se-sedikit. Ah, itu tempat sampah tadi siang."
Hmm, kurasa ini jalan yang benar.
Aku belok ke kanan. Kembali mengikuti jalan sebelum sampai di sebuah taman kecil. Banyak kucing yang tinggal di sini. Tak hanya itu, taman ini juga dipenuhi oleh pohon Sakura.
"Ah! Ini taman tadi!"
Gadis itu tersenyum lebar. Dia sepertinya berada di tempat yang benar.
"Ba-bagaimana kau tahu?"
Dia menatapku untuk bertanya. Aku kembali menatapnya.
"Karena ini dekat dengan ruー tempat kerjaku."
Aku memutuskan untuk tidak mengatakan yang tidak perlu. Hal yang tidak kubutuhkan adalah dia datang ke rumahku untuk berterimakasih.
"Be-begitu ya."
"Kau sudah mengingat rumahmu?"
Mendengar pertanyaanku, dia mengangguk senang. Dia berjalan di depanku lalu membungkuk.
"Terima kasih banyak!"
"Tak usah dipikirkan. Yang penting kau bisa pulang."
Jika tidak, rasa kemanusiaanku bisa tersakiti. Aku memutuskan untuk tidak mengatakan itu juga.
Gadis itu mengangkat kepalanya lalu tersenyum.
"Sekali lagi, terima kasih!"
"... Iya."
Dia melambaikan tangannya sedikit setelah berjalan agak jauh. Aku hanya mengangguk kecil. Setelah gadis itu pergi, aku akhirnya bisa pulang. Beban yang merepotkan itu lepas dari bahuku.
∅*****∅
Bunyi bel di rumahku berbunyi tepat sebelum aku melahap potongan ayam terakhir. Adikku baru saja ke atas untuk belajar. Aku ragu ia akan turun.
Aku menghela napas. Tidak ada gunanya marah. Aku menaruh ayamku ke atas piring lalu berjalan ke pintu depan.
"Sebentar."
Aku membuka pintu. Menatap orang yang membunyikan bel pintu, aku hanya bisa menghela napas di hati. Harusnya aku sudah menduga ini.
"Pe-petugas toko tadi!"