
Saat di kantor Rafa merasa tidak tenang. Dia memikirkan ucapan ibunya yang tidak mendukungnya untuk mempertemukan Kayla dengan mama kandungnya. Kelakuan Nazwa yang pernah menyakiti perasaannya membuat bu Dian sangat membencinya, bahkan saat itu bu Dian sempat berbicara pada Rafa bahwa dia tidak akan pernah memaafkan Nazwa sampai akhir hayatnya. Kebencian bu Dian pada mantan menantunya sepertinya sudah berkarat.
Rafa tentu memaklumi hal ini karena dia masih ingat betul bagaimana perjuangan ibunya dalam membesarkan Kayla sejak Kayla ditinggal oleh mama kandungnya saat masih berusia dua bulan. Bu Dian lah yang mengurus Kayla. Perjuangan bu Dian dalam membesarkan Kayla sangat dihargai Rafa.
Rafa yang pada saat itu baru merintis usahanya terkadang tidak punya waktu untuk mengurus Kayla, sehingga bu Dian lah yang mengurus Kayla karena Rafa sangat sibuk dengan pekerjaannya. Hal itu tentu membuat Rafa maklum dengan reaksi ibunya yang begitu marah ketika Rafa menyampaikan keinginannya untuk mempertemukan Kayla dengan mama kandungnya.
***
Terlihat Rafa masih asyik menatap layar komputernya dengan pandangan kosong. Tidak lama kemudian ruang kerja Rafa diketuk oleh seseorang membuat Rafa tersadar dari lamunannya.
“Tok, tok....” Terdengar ketukan dari luar.
“Masuk...” ucap Rafa.
Pak Ardi yang merupakan pelayan di kantor itu masuk ke ruang kerja Rafa.
“Ada apa Pak Ardi?” tanya Rafa sambil melihat ke arah pak Ardi.
“Bapak lembur ya?” tanya pak Ardi.
“Memangnya kenapa pak Ardi?”
“Kalau Bapak lembur, biar saya buatkan kopi panas,” tawar pak Ardi ramah.
“Sebenarnya saya nggak lembur Pak, tapi saya masih malas untuk pulang,” jelas Rafa.
Pak Ardi langsung mengerutkan keningnya merasa heran dengan ucapan Rafa barusan.
“Kenapa malas pulang Pak?”
“Saya lagi ada masalah pak Ardi,” ucap Rafa.
“Masalah?” tanya pak Ardi lagi.
Rafa langsung menganggukkan kepalanya.
“Silakan duduk dulu Pak biar kta cerita,” ucap Rafa.
Pak Ardi selama ini sangat dekat hubungannya dengan Rafa. Walau pun Rafa adalah bosnya pak Ardi, tapi Rafa dalam berteman tidak memandang kelas sosial. Pak Ardi dianggapnya sebagai teman walau pun jabatan di dalam perusahaan berbeda. Pak Ardi adalah bawahan Rafa. Sejak berdirinya perusahaan ini, pak Ardi sudah bekerja tapi karena pak Ardi tamatan SMP, sehingga tidak bisa ada peningkatan jabatan. Jadi jabatan pak Ardi sebagai pelayan di perusahaan itu.
Tapi dalam bergaul dengan Rafa, kedudukan pak Ardi dan Rafa itu sama. Hal itulah yang dilakukan Rafa dalam bergaul dengan bawahannya.
Mengenai kandasnya rumah tangga Rafa, pak Ardi sudah banyak tau karena pak Ardi tempat curhat Rafa saat akan bercerai dulu.
“Memangnya ada masalah apa Pak?” tanya pak Ardi.
Rafa terdiam beberapa saat dan akhirnya mulai bercerita pada pak Ardi tentang perasaannya yang sedang kacau memikirkan keinginannya untuk mempertemukan Kayla dengan mama kandungnya tapi ditentang keras oleh ibunya.
“Maaf ya pak Rafa, saya hanya sekedar memberikan saran aja. Menurut saya, Bapak harus mempertemukan Kayla dengan mama kandungnya. Apalagi Bapak katakan kalau melihat kondisi mamanya Kayla, kesempatan untuk hidup kemungkinan sangat kecil. Memang sih kita tidak bisa mendahului Allah karena semuanya Allah yang mengatur, tapi kalau melihat kondisi mamanya Kayla seperti itu, Bapak harus mempertemukan Kayla dengan mamanya. Sekarang yang jadi beban masalah Bapak adalah ibunya Bapak tidak menyetujui. Jadi kalau saran saya, coba pelan-pelan Bapak bujuk ibu Bapak agar mengizinkan Kayla untuk menemui mamanya. Dan satu lagi tugas Bapak, beri pengertian pada ibunya Bapak bahwa Allah aja memaafkan umatnya. Jadi kenapa kita sesama manusia tidak saling memaafkan. Mungkin dengan ibunya Bapak memberi maaf pada mamanya Kayla, akan memberikan keringanan pada mamanya Kayla jika nanti umurnya tidak panjang,” jelas pak Ardi.
“Tapi Pak yang saya pikirkan sekarang, ibu saya itu orangnya keras kepala, susah diajak bicara. Apalagi dari awal dia sudah tidak menyukainya.”
Pak Ardi langsung tersenyum. “Ini adalah ujian pada Bapak, supaya Bapak lebih sabar dalam menghadapi masalah ini. Bapak berbicara dengan ibu Bapak, jangan cukup sekali. Kalau sekali tidak berubah juga, coba nanti dibicarakan lagi. Tapi Bapak juga ngomongnya harus lembut. Jangan ada emosi supaya omongan Bapak bisa diterima. Sekeras-kerasnya batu kalau setiap hari terkena air, batu itu akan hancur Pak. Begitu juga dengan perasaan ibu Bapak. Kalau Bapak setiap hari berbicara tentang keinginan Bapak dengan nada bicara yang lembut, tentu argumen Bapak akan diterima. Yakinlah, pasti ibu Bapak bisa menerima yang penting jangan ada emosi saat Bapak berbicara sama orang tua Bapak.”
Setelah mendengar ceramah singkat dari pak Ardi, hati Rafa mulai tenang. Dia mulai yakin bahwa ibunya pasti bisa menerima permintaannya. Kalau tidak sekarang yang mungkin besok, yang penting harus selalu sabar.
***
“Assalamualaikum....” ucap Rafa pada saat akan masuk rumah.
“Waalaikumsalam Pa...”
Kayla langsung berlari menemui papanya yang baru pulang kerja. Rafa yang sangat letih dari kantor, begitu melihat wajah Kayla rasa letihnya seketika hilang. Rafa langsung mengangkat Kayla dalam gendongannya.
“Anak papa udah mandi belum?” tanya Rafa mencium pipi Kayla.
“Udah donk Pa. Kayla udah wangi,” ucap Kayla.
“Oh iya, pantas wangi kali anak papa,” jelas Rafa.
“Pa... tadi Kayla udah pintar gambar bunga loh,” ucap Kayla bangga.
“Oh iya, nanti papa lihat ya gambarnya. Memangnya siapa yang ngajari Kayla menggambar?”
“Tante Revi, Pa.”
“Bukan kah tante Revi di rumah sakit?” tanya Rafa heran.
“Nggak Pa, tante Revi tadi di rumah.”
“Benar kata anak kamu. Tadi Revi sempat pulang sebentar ke rumah mau mengambil baju ganti, tapi Kayla sibuk minta diantar ke sana. Awalnya sih ibu nggak mau ngantar dia karena takut mengganggu Revi, tapi anak kamu keras kepala. Nggak dituruti langsung nangis, ya langsung aja ibu bawa ke rumah Revi,” jelas bu Dian saat baru keluar dari kamarnya.
“Oy iya Bu.”
“Iya dan ibu sekalian menanyakan kabar papanya.”
“Gimana kabar pak Wandi, Bu?” tanya Rafa penasaran.
“Kata Revi sudah mulai membaik. Dadanya udah nggak sesak lagi.”
“Syukurlah kalau seperti itu.”
“Besok kita menjenguk pak Wandi ya Rafa?” tanya bu Dian.
“Besok jam berapa Bu?”
“Besok kan hari Minggu, jadi siang aja kira-kira jam sebelas saat jam besuk,” ucap bu Dian.
“Kayla ikut ya Pa?” ucap Kayla saat mendengar pembicaraan papa dan neneknya.
“Kayla di rumah aja ya,” ucap Rafa bercanda.
Kayla langsung merengek karena tidak diajak.
“Iya Sayang, besok Kayla pasti diajak. Oh ya Kayla, Kayla lain kali jangan suka merepotkan tante Revi ya,” ucap Rafa pada putrinya.
“Tapi Kayla nggak merepotkan Pa. Buktinya tante Revi senang. Tante Revi aja ketawa-ketawa kalau Kayla ke rumahnya.”
Rafa langsung tersenyum melihat kelucuan anaknya.
“Udah ya, papa mau mandi dulu,” Setelah puas bermain dengan Kayla Rafa langsung pergi mandi.