My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Kepergian Nazwa



Revi terlihat sangat tegang dengan situasi ini. Dia banyak menundukkan kepalanya dan berusaha untuk menghindari pandangan Rafa. Begitu juga dengan Rafa yang berusaha menghindari pandangan Revi karena ada perasaan cemburu yang melanda hatinya. Sedangkan Dandi sejak tadi memperhatikan Rafa dan juga Kayla. Dalam hatinya bertanya-tanya tentang kedekatan keluarga Revi pada keluarga Rafa.


Setelah puas ngobrol bu Dian langsung pamit karena mau menjenguk Nazwa lagi.


“Bu Lusi, kami pamit dulu ya dan semoga pak Wandi cepat sembuh,” ucap bu Dian.


“Kenapa kok buru-buru kali bu Dian?” tanya bu Lusi.


“Iya Bu, ada yang mau kami kunjungi lagi.”


***


Kemudian Rafa dan bu Dian berjalan menuju ke ruang ICU.


“Kita mau ke mana lagi Pa?” tanya Kayla.


“Sayang, kita mau menemui Mama kamu.”


“Maksud Papa, tante yang waktu itu datang ke rumah kita?”


“Iya Sayang.”


“Tapi Kayla nggak mau Pa.” Kayla langsung menghentikan langkahnya.


“Kenapa Kayla nggak mau?” tanya neneknya heran.


“Kayla nggak mau Nek.”


“Nggak boleh seperti itu Sayang,” bujuk papanya.


“Tapi Kayla nggak punya mama Nek.”


“Kayla nggak boleh berbicara seperti itu. Tante yang pernah ketemu dengan Kayla itu adalah mama kandung Kayla. Dia yang melahirkan Kayla,” jelas Rafa pada putrinya.


“Tapi Kayla takut Pa.”


“Kayla nggak perlu takut ya. Ayo biar nenek pegang tangan Kayla kalau takut,” pinta neneknya.


Bu Dian langsung menggenggam tangan Kayla. Kemudian mereka berjalan menuju ke ruang ICU. Sampai di depan ruang ICU mereka disambut oleh kedua orang tua Nazwa. Setelah cukup lama tidak bertemu, akhirnya bu Dian bertemu dengan besannya yaitu orang tua Nazwa.


Terlihat bu Dian dan ibunya Nazwa saling berpelukan dan keduanya pun menangis.


“Maafkan Nazwa ya Bu. Maafkan juga Nazwa ya Rafa,” ucap ayah dan ibu Nazwa sambil menangis.


“Ibu yang sabar ya,” jawab Rafa menguatkan mantan mertuanya itu.


Begitu melihat Kayla, tangis kedua orang tua Nazwa pun pecah.


“Ini Kayla... Maafkan nenek dan kakek ya karena nggak pernah menemui kamu.”


Kedua orang tua Nazwa langsung memeluk Kayla. Kayla berulang kali dicium dan dipeluk kakek dan neneknya, sementara Kayla sendiri merasa takut dan langsung berlari mendekati papanya.


“Papa...” Rafa langsung mengelus kepala putrinya.


“Sayang... itu nenek dan kakek Kayla. Jadi Kayla nggak boleh takut ya. Sekarang salam dulu kakek dan nenek,” pinta Rafa.


Kayla langsung menatap kedua orang tua Nazwa dengan perasaan takut.


“Sayang, ayo salam dulu kakek dan nenek.” Rafa memerintahkan Kayla, dan kemudian Kayla menyalam kakek dan neneknya.


“Gimana keadaan Nazwa Bu?” tanya bu Dian.


Begitu ditanya kabar Nazwa, ibunya Nazwa kembali menangis.


“Ayo Kayla kita lihat dulu mama kamu,” ajak kedua orang tua Nazwa.


Kemudian Kayla dituntun oleh Rafa masuk ke ruang ICU. Sampai di ruang ICU Kayla merasa takut saat melihat wajah mamanya penuh dengan selang untuk bernafas, dan banyak terdapat perban di tangan dan kakinya.


“Papa, Kayla takut.”


“Nggak apa-apa Sayang. Kan ada papa di sini.”


“Nazwa lihat anak kamu datang,” ucap ibunya Nazwa sambil mengelus kepala Nazwa.


Bu Dian yang melihat sendiri bagaimana kondisi mantan menantunya merasa sangat sedih, apalagi saat melihat Kayla yang berada di dekat mamanya. Saat ini karena Kayla masih kecil mungkin belum merasa sedih seandainya mamanya meninggal dunia, tapi ketika dia dewasa nanti dia akan bisa mengingat saat kebersamaannya di akhir hayat mamanya.


Rafa hanya bisa menangis dalam hati. Perasaannya sangat sedih ketika melihat Kayla memegang tangan mamanya. Kayla awalnya takut ketika dekat dengan mamanya, tapi bu Dian dan Rafa berusaha mendekatkan Kayla dengan mamanya.


Begitu tangan mungil itu menyentuh tangan mamanya, Kayla langsung merasakan jari jemari mamanya bergerak. Kayla pun merasa senang.


“Papa, liat tangan mama bergerak,” ucap Kayla.


Semua perhatian orang langsung tertuju pada Nazwa. Semuanya merasa senang ketika ada perubahan yang positif pada diri Nazwa.


“Nazwa, kamu harus sembuh ya. Lihat anak kamu, kasihan dia kalau harus kehilangan mamanya,” ucap ibunya Nazwa.


Tiba-tiba dari sudut mata Nazwa keluar air mata.


“Kamu udah sadar Nak?” ucap ibunya Nazwa sambil mengecup kening anaknya.


“Nazwa udah sadar Bu. Suster...Suster....,” panggil ayah Nazwa senang.


“Ada apa Pak?” tanya seorang suster yang baru muncul diantara mereka.


“Lihat Suster, anak saya udah sadar,” ucap ayahnya Nazwa senang.


Semua orang yang ada di situ juga merasa senang, termasuk bu Dian dan Rafa. Kemudian suster tadi memanggil dokter. Tidak lama kemudian dokter pun langsung datang untuk memeriksa kondisi Nazwa.


“Sebentar ya Bapak, Ibu biar saya periksa dulu,” ucap dokter itu sambil memeriksa keadaan Nazwa.


“Gimana keadaan anak saya Dokter?” tanya ibunya Nazwa.


“Memang sering terjadi seperti ini pada pasien, tapi bukan berarti pasien akan segera sadar. Adakalanya reaksi yang ditunjukkan pasien bukan lebih baik tapi bisa jadi reaksi tersebut reaksi yang terburuk. Tapi kita berdoa saja semoga reaksi yang ditunjukkan oleh anak ibu adalah tanda akan segera sembuh,” jelas dokter.


Mendengar penjelasan dokter hati kedua orang tua Nazwa langsung ciut karena yang terbayang dalam pikiran mereka adalah ajal akan menjemput Nazwa.


“Kalau begitu, saya permisi dulu ya Pak, Bu,” ucap dokter itu dan langsung pergi.


Begitu dokter pergi, Nazwa perlahan membuka matanya membuat semua orang yang ada di di situ bersorak senang.


“Kamu udah sadar Nak?” ucap ibunya sambil mencium anaknya.


Tapi mata Nazwa terbuka hanya sebentar dan kemudian matanya tertutup kembali untuk selamanya. Semua yang ada di situ termasuk Rafa langsung terkejut. Kedua orang tua Nazwa langsung menjerit histeris, seakan tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.


Rafa langsung berlari memanggil dokter. Dia terlihat sangat panik menghadapi situasi seperti ini. Bu Dian dan Kayla pun menangis. Tidak lama kemudian dokter datang bersama seorang suster.


“Maaf ya Bapak, Ibu agar menunggu di luar saja pasien akan segera diperiksa,” pinta suster itu.


Kemudian dokter dan perawat memeriksa jantung Nazwa, tapi Allah sudah berkehendak lain. Meskipun dokter sudah berusaha keras, namun Allah yang menentukan semuanya.


“Maaf Pak, Bu... Kami sudah berusaha semampu kami, tapi semuanya Allah yang menentukan. Ibu Nazwa sudah meninggal dunia,” ucap dokter dengan suara pelan.


Kedua orang tua Nazwa langsung menangis histeris. Begitu juga dengan bu Dian, sedangkan Rafa langsung mendekati Nazwa sambil mengangkat Kayla dalam gendongannya untuk mencium mamanya terakhir kalinya.


“Selamat jalan Nazwa. Ini Kayla anak kita. Maafkan aku karena baru bisa sekarang mempertemukan mu dengan anak kita walaupun di akhir hayat kamu. Aku doakan semoga kamu husnul khotimah, Aamiin,” ucap Rafa dengan perasaan sedih.