My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Nazwa Koma



“Ayo kita bawa masuk.... Tolong Bu, bantu saya,” ucap bu Vina akan mengangkat Nazwa.


Bu Siti dan pak Tono ikut membantu mengangkat tubuh Nazwa yang tidak berdaya. Tapi saat akan masuk ke dalam rumah Nazwa, ternyata rumahnya terkunci.


“Gimana nih, rumah bu Nazwa dikunci,” kata pak Tono.


“Ya udah kita bawa aja ke rumah saya,” ucap bu Vina.


Kemudian mereka menggotong beramai-ramai tubuh Nazwa yang tampak lemas ke rumah bu Vina. Semua orang bertanya-tanya melihat kondisi Nazwa yang sangat memprihatinkan. Sampai di rumah bu Vina, Nazwa langsung diletakkan di ruang tengah. Tetangga yang lain kemudian berdatangan untuk melihat kondisi Nazwa.


“Bu Nazwa, kenapa bisa seperti ini?” tanya bu Melani yang baru muncul.


“Saya juga nggak tau, Bu. Tadi saat saya akan ke warung melihat bu Nazwa tergeletak di halaman rumahnya,” jelas bu Vina.


Semua tetangganya merasa bingung dan heran. Nazwa saat ditanya tidak menjawab, hanya air matanya saja yang keluar deras dari sudut matanya.


Setelah beberapa kali bu Vina dan bu Siti mendesak akhirnya Nazwa berkata jujur.


"Siapa yang melakukan semua ini bu Nazwa?" desak bu Vina.


Disela isak tangisnya Nazwa lalu bercerita tentang kelakuan suaminya yang begitu kejam. Semua yang hadir di tempat itu merasa prihatin dan kasihan melihat nasib Nazwa.


"Yang sabar ya bu Nazwa," ucap bu Melani sambil memeluk Nazwa.


Nazwa merasa sangat berterima kasih pada tetangganya yang pada peduli padanya. Tidak lama kemudian Nazwa merasakan tubuhnya sangat lemas dan letih. Matanya berkunang-kunang dan dia tidak sadarkan diri. Semua orang melihatnya langsung menjerit histeris.


"Bu Nazwa.... Bu Nazwa kenapa?" tanya bu Vina menggoncang tubuh Nazwa.


Tapi Nazwa sudah tidak sadarkan diri.


Semuanya panik melihat kondisi Nazwa. Bu Vina mengambil minyak kayu putih dari dalam kamarnya dan kemudian memberikan minyak kayu putih itu pada hidung Nazwa. Tapi setelah beberapa saat Nazwa tidak juga bangun. Bu Melani dan bu Siti lalu menggoncang-goncangkan tubuh Nazwa namun tidak mendapt reaksi.


“Jadi gimana ini Pak, Bu?” tanya bu Vina panik.


“Ayo segera kita bawa ke rumah sakit aja,” pinta pak Tono.


Akhirnya mereka beramai-ramai membawa Nazwa ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit Nazwa langsung dibawa ke ruang UGD. Ternyata Nazwa mengalami luka dalam di bagian otak akibat ditendang suaminya dengan sangat keras dan pembuluh darahnya pecah.


“Siapa keluarga dari korban?” tanya salah seorang perawat yang keluar dari ruang UGD.


“Kami semua tetangganya Sus,” jelas bu Vina.


“Suami atau keluarga ibu itu ada?” tanya perawat itu lagi.


“Nggak ada Sus. Memangnya apa nggak bisa kami yang mewakili aja Sus?” tanya bu Vina.


“Nggak bisa Bu, karena harus dilakukan operasi secepatnya dan minta persetujuan dari keluarganya.”


Bu Vina dan tetangga lainnya saling pandang pandangan bingung. Akhirnya pak Tono dan pak Ridwan mencari alamat rumah suami Nazwa. Malam itu juga alamat pak Budi ditemukan.


Setelah terjadi perdebatan yang cukup panas akhirnya pak Budi mau datang ke rumah sakit untuk menemui istrinya. Awalnya pak Budi tidak mau menemui istrinya di rumah sakit meskipun pak Tono dan pak Ridwan telah menjelaskan bahwa Nazwa istrinya telah mengalami koma. Tapi setelah diancam oleh pak Tono dan pak Ridwan akan melaporkannya ke polisi karena KDRT, akhirnya pak Budi mau juga ikut ke rumah sakit.


***


Akhirnya pak Budi pergi ke rumah sakit untuk menemui istrinya. Melihat pak Budi tiba di rumah sakit bu Melani dan bu Siti langsung mengajak bu Vina pulang.


“Nanti aja Bu, kita tunggu dulu. Saya khawatir kalau nanti suaminya pergi lagi. Ibu kan tau sendiri bagaimana kejamnya pak Budi itu pada istrinya,” ucap bu Vina.


“Iya, ya. Kasihan juga bu Nazwa,” ucap bu Melani dan bu Siti yang prihatin dengan kondisi Nazwa.


“Ya udah, kita tunggu aja lah. Kasihan bu Nazwa. Kalau pak Budi tidak perduli, baru kita laporkan ke polisi,” ucap bu Vina emosi.


Kemudian pak Budi langsung menemui dokter untuk menanyakan kondisi istrinya yang menurut cerita tetangganya bawa Nazwa harus dioperasi malam ini juga.


“Istri Bapak harus dioperasi secepat mungkin sebelum semuanya terlambat,” ucap dokter yang menangani Nazwa.


“Memangnya istri saya kenapa Dok?” tanya pak Budi.


“Terjadi benturan pada kepala istri bapak sehingga pembuluh darahnya pecah dan hal ini harus ditangani secepat mungkin supaya darah yang pecah dari pembuluh darah tidak menyebar ke mana-mana.”


“Ya udah, Dokter operasi aja sekarang dan saya akan menyetujuinya,” ucap pak Budi seperti buru-buru.


“Oh ya Pak. Istri Bapak sebenarnya jatuh atau kayakmana?” tanya dokter yang tidak tau duduk perkaranya.


Sengaja bu Vina dan teman-temannya tidak memberitau pada dokter atau perawat kalau telah terjadi KDRT. Mereka mengatakan kalau Nazwa baru saja terjatuh.


“Iya dia tadi terjatuh,” jawab pak Budi singkat.


“Kalau begitu mari Pak, karena ada berkas yang harus Bapak teken,” ucap salah seorang perawat dan membawa pak Budi ke ruang perawat.


Setelah pembayaran biaya operasi selesai dilakukan pak Budi, Nazwa langsung dibawa ke ruang operasi. Terlihat pak Budi tidak merasa bersalah dan dengan gaya angkuhnya tidak menemui istrinya. Dia hanya membayar biaya operasi dan kemudian akan pergi lagi.


Bu Vina, bu Siti dan bu Melani yang menunggu di ruang tunggu langsung mendekati pak Budi.


“Pak, jadi gimana bu Nazwa. Siapa yang menunggu bu Nazwa?”


Pak Budi langsung menoleh ke arah mereka bertiga.


“Saya banyak urusan Bu, jadi Ibu-Ibu aja yang menemani Nazwa,” jawab pak Budi sombong.


Mendengar pengakuan pak Budi, bu Siti langsung emosi.


“Bapak kan suaminya, seharusnya Bapak yang menunggu istri Bapak bukan kami. Kami mengorbankan anak-anak kami tidur di rumah sendiri demi harus berjuang menolong bu Nazwa,” ucap bu Siti marah.


“Tapi Bapak sebagai suaminya tidak peduli, bahkan Bapak pulang,” ucap bu Melani.


Pak Budi yang mendengar ucapan bu Siti dan bu Melani bukannya sadar, tapi semakin marah.


“Maaf ya Bu. Saya nggak ada menyuruh Ibu-ibu menunggu Nazwa, jadi kalau Ibu-Ibu keberatan ya udah Ibu-Ibu silakan pulang sekarang. Lagian Nazwa nggak perlu ditunggu karena udah ada suster yang merawatnya,” ucap pak Budi sambil buru-buru meninggalkan ketiga tetangganya itu.


“Dasar sombong...” ucap bu Vina kesal.


“Jadi gimana kita Ibu-Ibu?” tanya bu Melani.


“Begini aja Bu.... Kan bapak-bapaknya udah pada pulang, sekarang tinggal kita bertiga. Kita gantian tidur. Bu Vina tidur dulu biar saya dan bu Melani yang menunggu operasi bu Nazwa. Nanti setelah dua jam, gantian bu Melani yang tidur biar saya ditemani bu Vina. Setelah itu baru gantian saya yang tidur. Gimana menurut Ibu-Ibu?” jelas bu Siti.


“Saya setuju Bu. Ide bu Siti ternyata bagus juga,” ucap bu Melani.


Kemudian mereka melaksanakan tugasnya gantian menjaga Nazwa. Ketiga tetangganya ini merasa kasihan dengan nasib Bu Nazwa yang baru mendapat perlakuan KDRT dari suaminya. Walaupun Nazwa baru saja menjadi tetangga mereka tapi perhatian mereka sangat besar dan peduli pada Nazwa.