My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Rencana Jahat



Di dalam kamar Revi ini menangis di balik bantal, agar tangisnya tidak terdengar sampai keluar kamar.


Apalagi kamar mamanya bersebelahan dengannya. Kemudian Revi menutup wajahnya dengan bantal. Dia merasa menyesal karena baru saja melakukan perbuatan yang telah merendahkan harga dirinya sebagai wanita yang sudah bertunangan. Tapi tidak dapat dibohongi bahwa di satu sisi dia merasakan ketenangan batin ketika mengetahui kalau Rafa juga mempunyai perasaan yang sama. Ternyata keduanya saling mencintai.


Saat mengingat kejadian antara Rafa dengan bi Surti, Revi langsung kecewa dan marah. Revi merasa cemburu dengan bi Surti. Setelah puas menangis akhirnya Revi pun tertidur.


Samar-samar terdengar kicauan burung yang bertengger di atas pohon. Suaranya yang sangat ramai membuat Revi terbangun dari tidurnya. Dibuka matanya perlahan dan diedarkan pandangan ke seluruh ruang kamarnya. Ternyata matahari sudah memancarkan sinarnya yang kelihatan mulai terang. Revi langsung mengangkat tangannya ke atas dan menggeliatkan tubuhnya untuk merenggangkan otot-ototnya.


Diraihnya jam weker yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Saat dilihat ternyata sudah jam tujuh pagi.


‘Kenapa mama tidak membangunkan aku. Aku tadi malam tidurnya sangat nyenyak sekali sampai-sampai aku bangun kesiangan. Tapi mata Revi terasa berat karena kebanyakan menangis tadi malam.


Dia langsung bangkit dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Dibasuhnya seluruh tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan air shower yang ada di atas kepalanya. Begitu air menyentuh kulitnya, dia merasakan tubuhnya segar karena air yang mengalir adalah air yang dingin dan segar membuat tubuhnya ikut segar. Sambil mandi Revi mengingat kejadian tadi malam. Ada perasaan marah sekaligus senang. Revi tersenyum sendiri saat mengingat Rafa menciumnya. Bibirnya langsung disentuh dengan tangannya sambil tersenyum sendiri.


‘Aku harus bisa menentukan sikap mulai hari ini. Aku nggak boleh tertarik dengan bujuk rayu mas Rafa. Aku sudah memiliki mas Dandi walaupun aku tidak mencintaimnya. Aku harus bisa menjaga harga diriku dari lelaki buaya seperti mas Rafa,’ batin Revi kesal.


Selesai memakai baju, Revi hendak keluar dari kamarnya tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dia langsung meraihnya dan terlihat panggilan masuk dari Mas Dandi.


[“Hallo... Ada apa Mas?”] tanya Revi.


[“Sayang, nanti siang bisa temani mas ke mall?”]


[“Jam berapa Mas?”]


[“Kira-kira jam sebelas siang.”]


[“Iya Mas bisa, kebetulan hari ini aku nggak kemana-mana.”]


[“Ya udah entar mas jemput ya. Kamu dandan yang cantik ya Sayang.”] Canda Dandi sambil tertawa.


***


Jam setengah sebelas siang Revi sudah berdandan di depan cermin karena akan pergi dengan Dandi. Tiba-tiba ponselnya berdering dan dia langsung meraih ponselnya yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Terlihat panggilan masuk dari Jihan teman SMA-nya dulu.


[“Assalamualaikum Jihan....”]


[“Waalaikumsalam...”] Jawab Jihan.


[“Ada apa Jihan, kok tumben kamu nelpon aku.”]


[“Aku mau ngasih tahu sama kamu, ayahnya Revan meninggal tadi pagi.”]


[“Innalilahi wainailaihi roji’un...”]


[“Habis dzuhur akan dikebumikan. Kamu mau ikut nggak?”]


[“Jam berapa perginya?”]


[“Maksudnya ya sekarang. Aku udah janjian sama Rita, Sherly dan Dani.”]


[“Kenapa kamu nggak ngasitau dari tadi sih....”]


[“Aku juga baru tau. Kalau kamu mau ikut biar aku jemput ke kantormu.”]


[“Iya deh aku ikut, tapi jemput ke rumahku aja ya.”]


[“Lho kenapa?”] tanya Jihan heran.


[“Oh, karena mau married ya? Ya udah nanti aku jemput, kamu siap-siap ya.”]


Revi langsung mengabari Dandi bahwa dia tidak bisa menemaninya.


***


Tidak tidak lama kemudian Jihan sampai di rumah Revi. Kemudian keduanya pergi ke rumah Revan dengan naik sepeda motor. Jalanan tampak macet dengan banyaknya kendaraan yang lalu lalang bersamaan dengan pulangnya anak sekolah dasar, sehingga jalan menuju ke rumah Revan macet total.


Jihan dan Revi sempat kesal juga karena harus menunggu lama untuk melintasi sekolah dasar yang cukup terkenal di daerah itu.


“Apa nggak ada jalan potongan Jihan?” tanya Revi yang duduk di jok belakang sepeda motornya.


“Aku nggak tahu Revi. Kalau tau sih, kita bisa lebih cepat.”


“Sama donk, aku juga nggak tau. Ya udahlah kita tunggu aja,” ucap Revi.


Tidak lama kemudian mereka pun dapat melintasi jalan itu. Sampai di rumah Revan acara pemberangkatan jenazah sedang dimulai. Teman Revi yang lainnya sudah pada ngumpul semua.


“Kalian lama kali?” tanya Rita ketika melihat Jihan dan Revi tiba.


“Sorry Rit, kami tadi terkena macet di jalan makanya terlambat,” jelas Revi.


“Aku pikir kalian nggak jadi datang,” jelas Sherly.


“Nggak mungkin lah, namanya udah janji ya harus ditepati,” jelas Revi.


Setelah jenazah diberangkatkan ke kuburan Revi dan teman-temannya pun pamit pada Revan dan keluarga besarnya.


“Kalian mau langsung pulang ke rumah?” tanya Jihan pada Revi dan teman lainnya.


“Memangnya kenapa Jihan?” tanya Rita.


“Kalau memang nggak ada kesibukan, kita mampir yuk di warung bakso Mbak Sri yang biasa kita mangkal waktu SMA,” ucap Jihan.


“Aku ikut ya,” ucap Rita.


“Aku juga ikut,” ucap Revi.


“Maaf ya, aku harus masuk kantor,” jelas Dani.


“Aku juga masuk kerja,” ucap Lusi dan Santi.


Karena sebagian nggak bisa ikut, akhirnya hanya Revi, Rita dan Jihan yang pergi. Ketiganya pun langsung pergi menuju warung Mbak Sri langganan mereka ketika SMA dulu. Warung Mbak Sri dari dulu ramai sampai sekarang. Pengunjungnya sangat banyak.


Tidak berselang lama ketiganya pun sampai di warung Mbak Sri. Setelah mereka dapat tempat duduk, mereka langsung pesan bakso dan coca-cola. Sambil menunggu pesanan datang ketiganya pun asik ngobrol. Tiba-tiba dari kejauhan Revi melihat bi Surti sedang menggandeng seorang pria dan berjalan ke arah mereka.


‘Bukankah itu bi Surti. Dia sama siapa ya. Aduh, kemari pula dia. Aku pura-pura tidak lihat ajalah,” batin Revi panik.


Revi langsung membisikkan sesuatu pada Jihan dan Rita sehingga Revi berpindah tempat duduk.


Bi Surti dan pria itu langsung masuk ke warung Mbak Sri tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Kedua masuk tanpa memperdulikan orang yang ada di sekelilingnya. Kemudian mereka mengambil bangku tepat di belakang Revi dan temannya.


Begitu bi Surti dan cowoknya duduk, mereka terlihat asik ngobrol. Jarak Revi dan bi Surti sangat dekat, tapi bi Surti tidak melihat kalau di belakangnya ada Revi yang sedang makan bakso juga. Sengaja Revi tidak memperlihatkan dirinya karena dia ingin mendengar pembicaraan antara bi Surti dan pria itu.


Revi merasa curiga, sehingga dia berusaha mendengarkan percakapan mereka. Bi Surti dan pria itu berbicara sangat pelan tapi dapat didengar Revi.