My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Fitnah



Revi terbangun saat mama dan papanya pulang dari rumah sakit. Buru-buru dibukakan pintu dan Revi langsung membawa tas pakaian yang diturunkan dari grab. Ada dua tas yang berukuran sedang yang dibawa dari rumah sakit.


“Kamu sedang ngapain tadi Revi?” tanya bu Lusi yang melihat rambut Revi acak-acakan.


“Revi nyenyak kali tidurnya tadi Ma,” ucap Revi.


“Ya udah, entar lanjutkan lagi tidur kamu,” ucap bu Lusi dan langsung masuk ke dalam kamar.


Revi kemudian menuntun papanya masuk ke kamar. Terlihat kalau Revi sangat menyayangi papanya. Kemudian papanya diantar sampai di dalam kamar. Saat akan merebahkan diri di tempat tidur, papanya kembali bangkit.


“Kenapa Pa?” tanya Revi heran.


“Papa mau nonton TV aja karena sejak tadi di rumah sakit papa tidur aja,” jelas pak Wandi.


Bu Lusi yang mendengar ucapan suaminya langsung berkata. “Papa harus istirahat sekarang, kalau papa sakit lagi siapa yang susah?”


“Tapi papa sudah bosan tiduran Ma. Selama di rumah sakit papa kan tidur aja.”


“Iya Pa, tapi Papa harus banyak istirahat. Jangan keras kepala kenapa sih Pa. Kalau Papa sakit semua orang susah baik mama maupun Revi.”


Mendengar ucapan istrinya, pak Wandi merasa tersinggung.


“Jadi Mama nggak ikhlas ya merawat papa selama di rumah sakit?”


“Bukan seperti itu Pa maksudnya.” Bu Lusi kemudian mendekati suaminya.


“Papa taunya Ma. Papa memang telah membuat susah Mama. Telah merepotkan Mama. Tapi semua itu bukan keinginan papa,” ucap pak Wandi dengan nada tinggi.


Revi yang melihat kedua orang tuanya ribut langsung turun tangan.


“Udahlah Pa, Ma jangan ribut,” ucap Revi meredahkan emosi kedua orang tuanya.


“Papa kamu kan gitu, keras kepala, nggak bisa diatur,” jelas bu Lusi emosi.


“Siapa yang keras kepala?” jawab pak Wandi marah.


“Udahlah Pa, Ma malu didengar tetangga.” Revi berusaha mendinginkan suasana.


Bu Lusi dan pak Wandi akhirnya diam juga mendengar permintaan anaknya.


“Ya udah kalau Papa mau nonton di ruang tengah, ayo biar Revi tuntun.”


Revi kemudian merangkul pundak papanya dan berjalan ke ruang tengah. Sambil menuntun papanya, Revi memberikan nasehat sedikit.


“Papa nggak boleh berpancing emosi. Apa yang dikatakan mama memang benar Pa. Mama mengatakan hal itu karena nggak mau melihat papa sakit lagi. Bukan berarti mama nggak ikhlas merawat Papa,” jelas Revi.


Akhirnya pak Wandi diam saja dan menurut saat Revi mendudukkannya di sofa yang ada di depan TV.


“Udah ya Pa, sekarang Papa nonton TV. Nanti kalau perlu sesuatu panggil aja Revi ya,” ucap Revi menuju kamarnya.


Revi merasa lucu sendiri melihat papa dan mamanya yang sudah tua tapi kalau bertengkar seperti anak kecil. Semuanya mau menang sendiri, sedangkan bu Lusi langsung istirahat di dalam kamarnya. Selama menjaga suaminya, bu Lusi kurang tidur sehingga begitu sampai rumah dia langsung balas dendam. Begitu memejamkan mata, bu Lusi langsung tertidur nyenyak. Sedangkan Revi sampai di dalam kamarnya berusaha untuk tidur lagi melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu dengan kepulangan kedua orang tuanya. Tapi sudah dicobanya untuk memenjamkan mata, Revi tidak dapat tertidur nyenyak. Akhirnya diraih ponselnya yang ada di atas tempat tidur. Tidak lama kemudian dia pun sudah asik melihat Facebook dan Instagram.


***


Kayla yang dilarang papanya makan es krim karena sedang batuk, tapi Surti tetap memberikannya. Dia tidak memperdulikan bahwa Kayla sedang batuk.


‘Biar aja aku kasih es krim ini. Kalau pun sakit, kan dia bukan aku. Mudah-mudahan aja dia sakit biar tahu rasa,’ batin Surti puas.


Saat memberikan es krim, Kayla terlihat sangat menikmati makan es krim yang ada di tangannya. Namanya anak kecil sangat senang makan es krim tanpa memikirkan kondisi badannya saat sedang batuk.


***


Menjelang magrib Rafa baru pulang dari kantor. Sampai di rumah yang pertama kali dicarinya adalah Kayla yang sedang bermain di samping rumahnya. Terlihat Kayla sedang bermain sepeda sendiri sementara Surti sedang asyik nonton sinetron di TV. Melihat Kayla yang bermain sendiri di halaman rumahnya sementara sudah menjelang magrib, Rafa langsung mengajak Kayla masuk ke dalam rumah.


“Sayang... ngapain di luar,” tanya Rafa saat muncul di dekat Kayla.


Melihat kedatangan papanya, Kayla langsung senang.


“Papa....” panggil Kayla dan langsung berlari dalam pelukan papanya.


Rafa langsung mencium pipi anaknya.


“Kayla kenapa main di luar sendiri, ayo kita masuk udah mau magrib loh.”


Rafa langsung menuntun Kayla dan sepedanya masuk ke dalam garasi. Sampai di ruang tengah Rafa langsung menegur Surti yang sedang asik menonton sinetron.


“Bi Surti...” panggil Rafa.


“Ya Pak...” jawab Surti melihat ke arah majikannya.


“Lain kali kalau sudah magrib seperti ini jangan biarkan Kayla main di luar ya.”


“Oh, iya Pak. Maaf Pak, tadi udah saya suruh Kayla masuk tapi Kayla nggak mau,” jelas Surti membela diri padahal Surti sejak tadi tidak memperdulikan Kayla apalagi mengajaknya masuk.


“Kayla juga terlihat sudah batuk-batuk. Apa Kayla tadi ada makan es krim?” tanya Rafa.


Surti langsung kebingungan mau menjawab apa. Saat dilihatnya Kayla sedang masuk ke kamar, Surti langsung mengarang cerita.


“Tadi Kayla ada makan es krim Pak, padahal sudah saya larang tapi Kayla tidak mendengar.”


“Memangnya siapa yang membelikannya?” tanya Rafa lagi.


“Tadi mbak Revi yang maksa dan memberikan es krim pada Kayla.”


Mendengar ucapan Surti, Rafa pun tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Dia kemudian meninggalkan Surti dan langsung masuk ke kamarnya menyusul Kayla yang sudah masuk duluan.


‘Apa Revi nggak melihat kalau Kayla sedang batuk,’ batin Rafa kesal.


“Kayla sayang, mulai besok jangan makan es krim lagi ya.”


“Kenapa Kayla nggak boleh makan es krim Pa?” tanya Kayla heran.


“Kayla kan sedang batuk, nanti batuk Kayla tambah parah,” jelas papanya.


Kayla yang merasa bersalah telah melanggar larangan papanya bahwa tidak boleh makan es krim tapi tetap makan juga, hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya.


“Ingat ya ucapan papa. Mulai besok kalau tante Revi memberi es krim pada Kayla jangan mau ya?” ucap Rafa dengan lembut sambil mengelus kepala putrinya.


“Tapi tante Revi nggak pernah memberi Kayla es krim Pa. Yang selalu memberi Kayla es krim adalah tante Surti,” jelas Kayla jujur.


“Apa? Jadi bukan tante Revi yang memberi Kayla es krim?” ucap Rafa kesal.


Kayla langsung menganggukkan kapala karena takut mendengar suara papanya yang terlihat marah saat mengatakan hal itu.


‘Kenapa bi Surti mengatakan Revi yang telah memberikan Kayla es krim. Atau jangan-jangan bi Surti sengaja memfitnah Revi supaya aku membencinya,’ batin Rafa.