
“Revi tangan kamu berdarah tuh,” ucap bu Lusi melihat jari telunjuk Revi yang sudah berlumuran darah.
Cepat-cepat Revi mengambil tissue yang ada di atas meja makan.
“Kamu sih nggak hati-hati, lihat tuh sampai berdarah seperti itu. Ya udah biar mama aja yang bersihkan,” pinta bu Lusi.
“Nggak apa-apa kok Ma, lagian hanya berdarah dikit.”
“Makanya lain kali kalau kerja itu hati-hati. Gimana nanti kamu kalau sudah menikah bersihkan sayur aja kena pisau,” ucap bu Lusi sambil tertawa.
Revi hanya tersenyum pahit. Perkataan mamanya barusan telah mengganggu pikirannya. Hatinya sangat sakit dan sedih mendengar Rafa akan dijodohkan dengan wanita pilihan ibunya.
“Jadi gimana kelanjutan cerita bu Dian, Ma.”
“Oh, tentang papa Kayla.”
Revi langsung menganggukkan kepalanya.
“Bu Dian berencana menjodohkan papanya Kayla dengan anak temannya bu Dian.”
“Lalu...” tanya Revi lagi karena penasaran.
“Tapi mama belum tau mau apa nggak papanya Kayla, karena tadi kan bu Dian baru cerita dan bu Dian juga belum ketemu sama papanya Kayla.”
“Kira-kira mau nggak ya Ma, mas Rafa menerima perjodohan itu.”
“Ya mama nggak tahu juga.”
“Wanita itu gadis atau janda Ma?”
“Kalau katanya bu Dian, wanita itu masih gadis hanya sudah banyak umurnya. Kira-kira umur tiga puluhan lebih.”
“Cantik Ma?” tanya Revi lagi.
Bu Lusi langsung tertawa heran.
“Kenapa Rev, kamu sepertinya sangat peduli pada papanya Kayla.”
Revi hanya tersenyum saja mendengar ucapan mamanya.
“Kalau katanya bu Dian sih cantik.”
“Kalau cantik pasti mas Rafa mau.”
“Belum tentu juga, karena cinta kan tidak lihat dari wajahnya aja tapi dari sifat dan kelakuan juga,” jelas bu Lusi.
***
Setelah masuk kamar Revi tidak bisa memejamkan matanya. Perkataan mamanya barusan telah mengganggu pikirannya. Hatinya sangat sakit begitu mendengar berita itu.
‘Kenapa perasaanku seperti ini. Kenapa perasaanku sakit ketika mendengar mas Rafa akan menikah. Bukankah aku sebentar lagi juga akan menikah. Seharusnya aku tidak boleh memikirkan mas Rafa lagi karena aku juga sudah mempunyai calon suami. Aku nggak boleh egois seperti ini yang hanya mementingkan diri sendiri. Tapi aku sepertinya tidak rela jika mas Rafa menikah dengan wanita lain. Aku mau mas Rafa menjadi suamiku. Revi... kamu nggak boleh serakah seperti itu. Kamu sudah punya Dandi, jadi jangan pernah berusaha untuk mendapatkan Rafa lagi.’ batin Revi dalam hati.
***
Sehabis makan malam Kayla bermain boneka di depan ruang TV, sedangkan Rafa duduk di teras sambil merokok. Tidak lama kemudian bu Dian pun keluar menemui Rafa. Bu Dian Mengambil duduk tepat di samping Rafa.
“Ibu kan belum sembuh betul, kenapa ibu kemari?”
“Ibu udah kangen sama Kayla, Rafa,” jelas bu Dian.
“Tapi Kayla udah sehat kok Bu.”
Rafa merasa kecewa melihat kedatangan ibunya yang belum sembuh betul dari sakitnya. Rafa sebelumnya sudah melarang ibunya untuk tidak datang ke rumahnya dulu karena ibunya sedang sakit.
“Apa kata dokter tentang penyakit Kayla, Rafa?”
“Kata dokter Kayla keracunan makanan Bu,” jelas Rafa.
“Kok bisa...”
“Bisa aja Bu, mungkin dari makanan yang dimakan Kayla sudah kadaluarsa. Karena kan banyak jajanan yang di warung itu sudah kadaluarsa tapi masih tetap dijual juga.”
“Makanya mulai sekarang ingatkan Surti, jangan suka beli jajanan sembarangan.”
“Iya Bu, tadi udah Rafa ingatkan kok Bu.”
“Jadi semalam itu siapa yang menjaga Kayla di rumah sakit saat kamu kerja?”
“Rafa ke kantor hanya sebentar aja Bu karena Kayla tidak mau ditinggal.”
“Rafa minta tolong pada Revi, Bu karena Kayla nggak mau ditemani bi Surti.”
“Syukurnya ada Revi. Kalau nggak ada Revi siapa coba yang akan menjaga Kayla.”
Rafa hanya terdiam memikirkan ucapan ibunya.
“Makanya ibu berencana untuk menjodohkan kamu dengan anak Bu Inur.”
“Anak bu Inur?”
“Iya, anak bu Inur yang bernama Dini.”
“Ibu ini ada-ada saja sih,” ucap Rafa tersenyum tipis.
“Mau sampai kapan kamu hidup sendiri Rafa. Anak kamu tumbuh semakin dewasa dan memerlukan kasih sayang seorang ibu, makanya mulai dari sekarang kamu harus segera menikah biar ada yang menjaga Kayla. Kalau kamu kerja kamu akan tenang,” jelas bu Dian.
“Maaf Bu, sampai saat ini Rafa belum memikirkan hal itu.”
“Jadi kapan kamu mulai memikirkan hal itu?”
“Belum tau lah Bu.”
“Bagi Rafa yang penting wanita itu sayang sama Kayla.”
“Tapi Dini ini orangnya penyayang sama anak-anak loh. Buktinya anak tetangganya sering dibawa main ke rumahnya,” jelas bu Dian lagi.
Rafa hanya tersenyum mendengar penjelasan ibunya.
“Gimana Rafa, mau kan kamu menikah dengan Dini.”
“Bu, Rafa belum mikir hal itu sampai saat ini. Rafa sedang fokus akan kesembuhan Kayla.”
“Tapi kamu juga butuh seorang wanita yang bisa jadi pendamping hidupmu nanti, sekaligus menjadi mama bagi Kayla.”
“Tapi Bu, Rafa sudah mencintai wanita lain.”
Wajah bu Dian langsung bersinar karena merasa senang.
“Ya udah langsung kamu lamar aja kalau memang kamu sudah memiliki wanita lain. Kapan mau kamu lamar. Katakan sama ibu, biar ibu bisa mempersiapkannya.”
“Bukan sekarang Bu.”
“Jadi kapan lagi Rafa. Umur kamu semakin tahun semakin bertambah. Kamu juga bukan hanya butuh istri, tapi kamu juga butuh anak lagi biar ada teman Kayla. Atau bulan depan kita lamar wanita itu?”
“Maksud ibu, Dini?” tanya Rafa heran.
“Ya bukan, maksud ibu wanita yang kamu maksud tadi. Kamu katakan bahwa kamu sudah punya wanita lain, ya wanita itu langsung kita lamar. Gimana kalau bulan depan kita lamar dan langsung menikah.”
“Nanti dulu Bu,” pinta Rafa.
Rafa langsung menggelengkan kepalanya. Bu Dian yang tidak sabar dan ingin mempunyai menantu, langsung mendesak Rafa agar segera melamar dan langsung menikahinya.
“Gimana Rafa saran ibu tadi?”
“Udahlah Bu nanti aja dulu.”
“Berarti kamu nggak cinta donk sama wanita itu.”
“Cinta loh Bu.”
“Kalau kamu cinta, kenapa tidak langsung disegerakan. Kapan aja ibu udah siap, atau jangan-jangan wanita itu tidak mau sama kamu Rafa?” tanya bu Dian curiga.
“Entahlah Bu,” ucap Rafa dengan nada lesu.
“Loh, kenapa kamu ragu?” tanya bu Dian heran.
“Rafa masih ragu karena wanita yang Rafa cintai ini sudah bertunangan Bu,” jelas Rafa.
“Apa? Maksud kamu, wanita itu sudah punya tunangan?” tanya bu Dian tidak percaya.
Rafa langsung menundukkan kepalanya.
“Kamu benar-benar aneh ya Rafa, menyukai wanita yang sudah bertunangan. Memangnya apa nggak ada lagi wanita lain sehingga wanita yang sudah bertunangan itu?”
Rafa hanya menundukkan kepalanya karena merasa bersalah dan juga malu pada ibunya. Sedangkan bu Dian langsung terdiam lemas.