My Lovely Neighbour

My Lovely Neighbour
Bab 5 - Terima kasih. Kurasa?



"Me-menurutku Arumasu-kun itu cukup baik kok!"


Aku terdiam di pintu masuk belakang kelas. Menatap Shidoki yang berdiri di mejanya. Sedikit menaikkan suaranya, mengeluarkan kalimat yang berisi namaku dan hal yang seharusnya tidak kudengar.


Pandangan kelas kini tertuju pada Shidoki. Menyadarinya, gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"A-ah, maaf! Aku seharusnya tidak mengatakan itu."


"... Ti-tidak apa-apa kok."


"I-iya, tak masalah."


Sudah kuduga. Mana ada orang yang serius mengatakan itu tentangku.


Menerima permintaan maaf dari Shidoki, perlahan mereka akhirnya pergi dari tempat duduk gadis itu. Meninggalkannya sendirian.


Manusia memang suka menghindari suasana yang canggung. Aku pun ingin begitu. Tapi, mau kemana aku pergi?


Mengangkat bahuku, aku berjalan menuju mejaku. Shidoki terperanjat sedikit. Sepertinya aku mengagetkannya.


"A-Arumasu-kun?!" Gadis itu menatapku beberapa saat lalu menatap ke bawah. "A-apakah kau mendengarnya?"


"Dengar," jawabku jujur. Tidak mempunyai alasan lain untuk berbohong.


"O-oh...." Shidoki menjawab. Terdengar agak sedih. "M-maafkan aku...."


"Kenapa kau meminta maaf?" Aku bertanya. "Yang kaukatakan tadi tidak salah."


Aku menaruh kotak susu stroberi dan roti isiku di atas meja. Aku menoleh ke arah Shidoki. Ia masih berdiri.


"Tapi, kurasa kau memang salah," lanjutku. "Aku memang bukan orang baik. Jadi, ka—"


"K-kau salah!" Shidoki menyelaku. "A-Arumasu-kun itu orang baik!"


Aku kembali menatap Shidoki. Jika seseorang menjelaskan ekspresiku, maka kebingungan akan cocok.


"M-maksudku! Orang baik mana yang tidak membantu orang lain? A-Arumasu-kun selalu membantuku, jadi Arumasu-kun itu orang baik."


Mengeluarkan alasan yang kekanak-kanakan, Shidoki mulai berargumentasi. Mulai dari membantunya saat tersesat, dan tadi saat di awal pelajaran.


Apa ini?


Alasan naif itu mudah sekali kupatahkan. Tapi, melihat Shidoki, aku merasa tidak tega. Jika dia menangis di sini, aku bisa kerepotan nantinya.


"... Dasar aneh," gumamku kecil.


"E-eh? Apa tadi?"


"Tidak ada apa-apa." Aku mengangkat bahuku. "Kau sudah membuktikan tujuanmu. Sekarang duduklah. Kau tidak malu?"


Menyadari bahwa perhatian sekelas kembali tertuju padanya, dia akhirnya duduk. Wajahnya kembali memerah seperti tomat.


Benar-benar aneh. Tapi... Dipanggil orang baik tidak terlalu buruk.


Aku tersenyum sekilas. Menggelengkan kepalaku, senyum itu menghilang.


Aku mengingat sesuatu. Aku mengambil roti melon dari saku blazerku. "Tangkap." Aku melemparnya kepada Shidoki.


"Eh!?" Meskipun hampir menjatuhkannya, dia berhasil menangkapnya. "I-ini?"


"Anggap saja terima kasihku," jawabku. Tidak menoleh ke arahnya.


Aku membuka plastik pembungkus roti isiku lalu mengambil sepotong diagonal roti isi. Aku mulai memakan makan siangku hari ini.


"E-eh? Ta-tapi—"


"Sudahlah, terima saja. Aru-kun itu keras kepala dalam hal-hal ini."


Suara lain menyela Shidoki. Aku melirik ke meja di depanku, seorang gadis berkacamata duduk di situ. Ketua, Shiragami Fuyumi, tersenyum kepada Shidoki.


"U-um...."


"Ah, salam kenal. Namaku Shiragami Fuyumi. Ketua Kelas." Menyadari Shidoki yang kebingungan, Shiragami memperkenalkan diri.


"Ah, salam kenal, Shiragami-san. Namaku Shidoki Mia."


Selesai mengenalkan diri sendiri, Shidoki kembali menatap roti melon yang kuberikan.


"Tak usah dipikirkan, Aru-kun memang seperti itu. Dia juga sering membelikanku jus." Shiragami memperlihatkan sepasang kaleng jus jeruk di tangannya.


Aku menatapnya tajam. Seolah-olah mengatakan "Memangnya itu salah siapa!?". Tapi, sepertinya dia tidak menyadarinya.


Shiragami mencondongkan tubuhnya. Ia menaruh jus jeruk itu di atas meja Shidoki. "Untukmu," katanya ringan.


"E-eh!? Bi-biarkan aku membayarnya!" Shidoki mengambil sebuah dompet berwarna biru. "Untuk Arumasu-kun juga."


"Tak usah, Tak usah." Shiragami melambaikan tangannya. "Aku punya dua. Nanti malah terbuang."


"Terima saja. Aku tidak suka seseorang yang menolak niat baik orang lain," timpalku. Aku memasukkan potongan terakhir roti isi ke dalam mulutku.


"U-umm... Baiklah, terima kasih." Setelah beberapa saat, akhirnya Shidoki menerimanya.


Dia membuka plastik pembungkus roti itu lalu mulai memakannya. Dia juga mengatakan "Itadakimasu!" Sebelumnya. Orang tuanya mengajarinya dengan baik.


"Jadi, Shidoki-san berasal dari Koriyama ya? Seperti apa di sana?" Shiragami bertanya. Memulai pembicaraan.


Aku menusuk sedotanku ke dalam kotak susu lalu mulai menyeruput isinya. Shidoki menelan sebagian rotinya sebelum menjawab pertanyaan Shiragami.


"Nyaman! Meskipun tidak seramai di sini, di sana cukup menyenangkan. Tapi, aku menantikan tinggal di sini."


"Baguslah kalau begitu! Kuharap kau senang tinggal di sini." Shiragami memasang senyum anggunnya seperti biasa. Dia menoleh ke arahku.


"Apa?" Aku bertanya. Tidak sopan menatap seseorang yang sedang minum.


"Tidak apa-apa kok." Shiragami memalingkan wajahnya. "Ngomong-ngomong Shidoki-san. Kau mengenal Aru-kun darimana?"


Kasar sekali.


"Ah, kemarin malam aku tersesat di jalan, Arumasu-kun membantuku pulang ke rumah." Shidoki menjawab dengan tersenyum. "Ternyata, dia juga tetanggaku."


"He~eh! Benarkah? Kebetulan sekali ya." Shiragami terdengar kagum.


Kenapa kau kagum? Dia hanya tetangga.


"Aku jadi penasaran dengan rumah Aru-kun."


"Maaf menjatuhkan ekspektasimu. Rumahku biasa-biasa saja." Aku melepaskan sedotan dari mulutku. "Dan kuharap kau tidak tiba-tiba datang ke rumahku."


"Tentu saja tidak. Gadis macam apa yang masuk ke dalam rumah seorang laki-laki sendirian."


"Uhuk! Uhuk!"


"Eh!? Shidoki-san! Kenapa? Kau tidak apa-apa?" Shiragami berdiri lalu menghampiri Shidoki.


"Ti-tidak apa-apa kok." Shidoki tersenyum lemah.


"Hati-hati kalau minum."


Aku berpura-pura tidak mendengar perkataan Shiragami.


❀❀❀❀


Bel pulang sekolah berbunyi. Suara lega murid-murid terdengar lebih keras daripada biasanya. Mungkin itu perasaanku saja.


Suara langkah kaki dari lorong dan kelas memberikan suasana tersendiri. Percakapan-percakapan murid memenuhi udara.


Aku memegang tengkukku. Merasa sedikit lelah. Belajar seharian memang menguras tenaga.


"Otsukaresama." Ketua menoleh dari tempat duduknya. Duduk menyamping.


"Otsukaresama." Shidoki menjawabnya. Selesai merapikan buku tulisnya.


Aku juga merapikan barang-barangku. Mengambil tasku di samping meja, aku mulai memasukkan buku dan peralatan tulis lainnya. Aku mengambil ponselku.


Beberapa pesan masuk. Adikku, sepupuku, spam, dan hanya itu. Merasa sedikit kecewa, aku mematikannya.


"Ada apa Aru-kun? Pekerjaanmu?"


"Ah, iya. Arumasu-kun bekerja di toko buku ya."


Aku mendengarkan pembicaraan kedua gadis itu. Aku mengangkat bahuku. "Tidak. Hari ini bukan shift-ku."


Aku menaruh tasku di atas meja. Aku menyaku ponselku.


Aku berjalan ke arah lemari di belakang kelas. Mengambil sebuah sapu.


"Ah, hari ini Aru-kun piket ya?"


Aku tidak menjawab pertanyaannya. Bukankah sudah jelas? Untuk apa aku mengambil sapu? Terserahlah.


Memutuskan untuk tidak menghiraukannya, aku mulai menyapu. Sesekali mengangkat kursi ke atas meja. Kebersihan adalah kewajiban. Selama aku piket, tidak ada tempat yang tidak bersih.


"Jadi, Shidoki-san. Apakah kau ada rencana sehabis sekolah?" Shiragami gantian bertanya kepada Shidoki.


"A-ah, tidak ada. Aku langsung pulang."


"Oh, begitu ya?" Shiragami menoleh ke arah jam dinding. "Ah! Aku lupa! terlambat datang ke klub!"


Shiragami mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Meskipun penampilannya terlihat rajin, aku mulai meragukannya.


"Shiragami-san ikut klub ternyata."


"Iya, klub band. Aku bermain klarinet. Kau tahu? Ah, bulan depan kita ada konser. Tapi, akhir-akhir ini aku ingin—"


"Kau terlambat atau tidak? Putuskan yang benar." Tak tahan mendengar inkonsistensi Shiragami, aku menyela penjelasannya.


"Oh, iya." Dia mengetuk kepalanya lalu menjulurkan lidahnya sambil tersenyum konyol. Sebuah teehee☆pero.


Apa-apaan itu?


"Kalau begitu, aku pergi. Sampai nanti, Shidoki-san, Aru-kun." Melambaikan tangannya, ia berlari keluar kelas.


Dasar. Kalau kau ingin pergi tinggal pergi.


Aku menatap Shidoki yang masih duduk di kelas. "Kau tidak langsung pulang? Ataukah kau tidak tahu jalan pulangnya?"


"A-ah! U-uhm!" Shidoki menoleh ke sana kemari. Sepertinya mencari jawaban. Pada akhirnya, ia hanya bisa menunduk.


"Se-sebenarnya tadi pagi aku juga tersesat...."


Aku menghela nafas. Sudah kuduga bukan? Malah, bukankah fakta bahwa dia sampai di sekolah itu luar biasa ?


Aku menyandarkan sapu di tubuhku. Merogoh saku, aku mengeluarkan ponselku. "Aku minta nomormu."


"E-eh!? U-untuk apa??"


"Tenanglah. Aku hanya akan mengirimmu cara untuk kembali ke rumah," jelasku.


Berpikir beberapa saat, Shidoki akhirnya mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah ponsel berwarna biru. Sebuah gantungan ponsel berbentuk katak hijau berayun-ayun sedikit.


Entah kenapa, seleranya agak aneh.


Mengesampingkan pemikiran seperti itu, aku menyodorkan ponsel hitamku. Bercak putih di belakang ponselku membentuk sosok raja Kaiju yang kusukai.


Yah, seleraku juga sama anehnya.


Selesai menyimpan nomorku, Shidoki menatap layar ponselnya. Dia menggerakkan jari-jarinya. Mengetuk-ngetuk keyboard, menulis sesuatu.


Tak lama kemudian, ponselku bergetar kecil. Sebuah notifikasi baru, pesan dari sebuah nomor yang tak dikenal.


[Selamat sore, Arumasu-kun( ╹▽╹ )!]


"...."


Perempuan tidak malu ya? Menggunakan kaomoji seperti itu.


Aku menghela nafas. Lebih baik tak usah dipikirkan. Aku mengetuk-ngetuk layar ponselku. Menyimpan nomor Shidoki lalu menjawab pesannya.


[Selamat sore, Shidoki-san]


Tak lupa, aku mengirimkan rute pulang yang kudapat dari Maps. Jika mengikuti rute itu, siapa saja dapat sampai ke tujuan. Bahkan seorang pengguna pedang berambut hijau tertentu sekalipun.


[Ah! Terima kasih banyak! Dengan ini aku bisa pulang ✧◝(⁰▿⁰)◜✧! ]


"...."


Aku melirik ke arah Shidoki. Mulutnya tertutup ponselnya. Matanya menatapku dengan penuh harap.


Katakan saja secara langsung. Ya ampun.


[Sama-sama. Hati-hati saat pulang.]


[Baik(✿^‿^)!]


Selesai mengirimkan itu, Shidoki tersenyum kepadaku. Dia menundukkan kepalanya kepadaku.


"Arumasu-kun, terima kasih banyak."


Kenapa kau berterima kasih lagi?


"Tentu."


Setelah beberapa saat, ia mengangkat kepalanya. Senyum manisnya masih terpasang di wajahnya. Pipinya sedikit merah. Kurasa karena malu? Entahlah.


Dia membalikkan badannya lalu berjalan keluar. Di depan pintu, ia menoleh ke arahku.


"Kalau begitu, sampai jumpa besok!" katanya, terdengar agak senang. Dia bahkan melambaikan tangannya sedikit.


"Ah, iya. Sampai jumpa."


Aku mengangkat tanganku. Berniat untuk melambai, tapi kuurungkan. Aku hanya melihat gadis itu keluar dari kelas. Rambut cokelatnya berayun-ayun mengikuti gerakannya.


Dan dengan begitu, seharipun berlalu. Hari yang seharusnya membosankan, kini terasa sedikit menyenangkan. Sedikit sih.