
Setelah Revi mendesak, akhirnya bu Vina dan bu Siti cerita tentang kondisi Nazwa.
“Tetangga kami baru aja dioperasi dan kondisinya sangat kritis. Tadi dokter baru aja memanggil suaminya, tapi suaminya udah pulang. Jadi kamilah yang menemuinnya. Kami nggak sanggup melihatnya. Kasihan kali kondisinya Mbak,” jelas bu Vina.
“Memangnya sakit apa tetangga Ibu?” tanya Rafa ingin tahu.
“Suaminya sangat kejam Mas. Dia baru mendapatkan KDRT dari suaminya,” jelas bu Siti.
“Jadi suaminya sekarang di mana Bu?” tanya tanya Revi heran.
“Ya itulah Mbak. Suaminya tidak bertanggung jawab, bahkan suaminya tadi hanya datang membayar biaya operasi aja, habis itu langsung pergi lagi. Kami suruh menjaga istrinya, eh malah marah pula dia,” jelas bu Siti.
Rafa dan Revi saling pandang pandangan. “Bu, suaminya bisa dilaporkan ke polisi loh kalau tidak bertanggung jawab,” ucap Rafa.
“Lapor aja ke polisi biar suaminya tau rasa Bu,” ucap Revi emosi.
“Entahlah Mbak, kami masih bingung.”
“Jadi gimana sekarang kondisinya Bu?” tanya Revi lagi.
“Tadi selesai operasi langsung kritis Mbak. Sekarang masih di ruang ICU,” jelas bu Vina.
“Kasihan ya Bu,” ucap Revi merasa prihatin dengan cerita Bu Vina.
Dia dapat merasakan apa yang sedang dihadapi pasien yang diceritakan bu Vina tadi.
“Lihat yuk Mas,” ajak Revi.
Rafa kemudian mengikut saja saat Revi masuk ke dalam bersama bu Vina. Sampai di dalam terlihat bu Melani sedang menunggu pasien itu. Saat Revi dan Rafa masuk ke dalam, Rafa sangat terkejut melihat pasien yang terbaring di tempat tidur. Dia kemudian melihat lebih dekat lagi, diikuti Revi yang berjalan di belakangnya.
Ternyata dugaan Rafa tidak salah bawa pasien yang dilihatnya adalah mantan istrinya. Rafa merasa lemas melihat kondisi Nazwa yang sangat parah. Keadaannya sangat kritis dengan terdapat selang yang memenuhi wajahnya, sedangkan tangan dan kakinya terdapat balutan perban.
Walaupun Rafa membenci Nazwa, tapi melihat kondisi Nazwa yang sedang kritis seperti itu rasa bencinya hilang seketika. Yang ada hanya rasa kasihan dan ibah melihatnya. Tubuhnya terasa lemas melihat ibu dari anaknya sedang tidak berdaya. Revi langsung membulatkan matanya sempurna. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.
“Mas, bukankah itu mamanya Kayla?” tanya Revi menahan rasa sedih.
Rafa hanya menganggukkan kepalanya dan Revi langsung menepuk pundak Rafa. “Sabar ya Mas,” ucap Revi memberi kekuatan pada Rafa.
Revi merasa kasihan dan sedih. Bu Vina merasa heran dengan reaksi Rafa dan Revi.
“Apakah Mas dan Mbak ini mengenal bu Nazwa?” tanya bu Vina.
Rafa langsung menganggukkan kepalanya.
“Berarti Mas tau dong tentang keluarga bu Nazwa?” tanya bu Siti.
“Iya, saya tau Bu,” jawab Rafa singkat.
“Mas tolong hubungi keluarga bu Nazwa ya. Kasihan dia karena kami nggak tau harus menghubungi siapa,” pinta bu Melani.
“Benar Mas, kami tidak tau banyak tentang bu Nazwa karena Bu Nazwa adalah tetangga baru kami,” ucap bu Siti.
“Kalau boleh tau, Mas ini kok bisa kenal dengan bu Nazwa?” tanya Bu Melani heran.
“Nazwa ini adalah mantan istri saya,” jawab Rafa.
“Apa?” ucap Bu Vina dan Bu Siti dengan nada terkejut.
“Maksudnya bu Nazwa adalah bekas istri Mas?” tanya bu Melani.
Rafa langsung menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian Rafa dan Revi pun pamit dari hadapan Bu Vina, Bu Siti dan Bu Melani.
Sepanjang perjalanan menuju ruang rawat pak Wandi, Rafa terlihat banyak diam. Revi yang berjalan di sampingnya berusaha menguatkan hati Rafa.
“Mas harus kuat ya,” ucap Revi sambil mengelus pundak Rafa.
“Tapi bagaimana pun harus Mas sampaikan pada Kayla,” ucap Revi.
“Benar Revi. Mas juga nggak mau nantinya ada penyesalan kalau seandainya umur mamanya nggak panjang.”
Melihat kondisi Nazwa yang sangat parah kemungkinan untuk sembuh rasanya kecil. Hal inilah yang membuat Rafa sudah berniat untuk menyampaikan pada anaknya Kayla.
***
Selesai sholat subuh Rafa langsung pulang ke rumah. Revi mengantarnya sampai ke area parkiran.
“Terima kasih ya Mas,” ucap Revi saat melepas kepergian Rafa.
“Kalau perlu sesuatu, kabari aja Mas. Jangan segan-segan ya,” ucap Rafa.
“Iya Mas,” jawab Revi.
Kemudian Rafa melajukan kendaraannya menembus jalanan yang masih tampak sepi oleh pengguna jalan.
***
Sampai di rumah Rafa disambut oleh ibunya dengan banyak pertanyaan.
“Kamu dari mana Rafa?” tanya bu Dian dengan nada curiga.
“Dari rumah sakit Bu. Apa bi Surti nggak cerita sama Ibu kalau Rafa ke rumah sakit?”
“Surti hanya mengatakan kalau kamu pergi dengan Revi tadi malam. Memangnya kalian ngapain ke rumah sakit sudah larut malam Rafa?”
‘Berarti ibu nggak tau kalau aku pergi mengantar pak Wandi,’ batin Rafa.
Sambil berjalan masuk ke dalam rumah Rafa langsung menjelaskan pada ibunya.
“Rafa memang keluar dengan Revi, Bu. Tapi Rafa pergi untuk mengantar papanya Revi ke rumah sakit sekitar jam satu dini hari,” jelas Rafa.
“Memangnya pak Wandi sakit apa Rafa?” tanya bu Dian heran.
“Tiba-tiba dadanya sesak dan bu Lusi minta tolong Rafa mengantarkan pak Wandi ke rumah sakit Bu.”
“Jadi gimana keadaan pak Wandi sekarang Rafa?” tanya bu Dian khawatir.
“Alhamdulillah setelah ditangani dokter keadaannya sudah membaik Bu.”
“Syukurlah kalau seperti itu. Ya udah kamu sekarang siap-siap biar berangkat kerja.”
“Oh ya Bu, Kayla udah bangun?”
“Kayla udah bangun jam lima tadi dan dia menangis mencari kamu. Kemudian ibu buatkan susu dan tidur lagi di depan TV.”
“Oh iya. Ya udah Bu, Rafa mandi dulu,” pinta Rafa kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk bersih-bersih.
***
Setelah Rafa memakai pakaian kerja, dia langsung menemui putrinya yang sedang tidur nyenyak di ruang tengah. Setelah diciumnya pipi Kayla, Rafa langsung menuju meja makan.
Setelah selesai sarapan, Rafa dengan sangat hati-hati bercerita pada ibunya tentang kkondisi Nazwa. Ibunya langsung terkejut mendengar cerita Rafa.
“Jadi maksud kamu Kayla akan kamu bawa menemui mamanya di rumah sakit?” tanya bu Dian.
“Iya Bu. Melihat kondisi mamanya Kayla yang sepertu itu, Rafa merasa kasihan dan ingin mempertemukan Kayla agar nantinya tidak ada penyesalan bagi Rafa.”
“Kamu nggak ingat bagaimana dia telah menyekiti perasaanmu, menyia-nyiakan Kayla yang masih bayi. Apakah hal itu tidak kamu ingat Rafa?” ucap bu Dian dengan nada tinggi.
Terlihat sekali kalau bu Dian sangat membenci mantan menantunya sampai sekarang. Rafa yang tidak mau berdebat dengan ibunya hanya bisa diam dan kemudian pergi ke kantor. Saat ini ibunya sedang emosi jadi percuma aja kalau ngomong panjang lebar karena ibunya tidak akan mendengar. Rafa hanya menunggu saat yang tepat untuk berbicara pada ibunya.