
Tiba-tiba Rafa terbangun mendengar tangisan putrinya. Saat menoleh ke samping ternyata Kayla menangis dengan mata yang masih terpejam. Rafa langsung mengelus kepala putrinya tapi betapa terkejutnya saat merasakan kening Kayla panas. Kayla juga terbatuk-batuk dan merengek dengan mata masih terpejam. Sepertinya dia sedang bermimpi.
“Kamu kenapa Sayang?” tanya Rafa panik.
Kayla langsung membuka matanya dan memanggil papanya, “ Pa.....”
“Iya Sayang, ini papa,” elus Rafa lembut.
“Kepala Kayla pusing Pa. Mata Kayla juga panas.”
“Sebentar ya papa ambilkan obat,” ucap Rafa sambil akan turun dari tempat tidur tapi keburu ditarik tangannya oleh putrinya.
“Papa di sini aja temani Kayla.”
“Iya Sayang, papa ambil obat dulu ya. Kamu harus minum obat biar demam kamu turun.” Akhirnya Rafa pun keluar dari kamarnya.
Rafa langsung keluar menuju kotak obat. Kayla yang sedang demam tinggi diberikan sirup penurun panas.
“Sekarang kamu minum obat dulu ya,” pinta Rafa pada putrinya.
Kayla menurut saja saat Rafa memberikan sirup penurun panas.
“Tapi Kayla mau sama tante Revi, Pa.”
“Ini sudah malam Sayang, tante Revi juga pasti sudah tidur.”
“Tapi Kayla mau tidur dengan tante Revi, Pa.”
“Kalau Kayla tidur dengan tante Revi, lalu papa tidur dengan siapa?”
“Tidur disini juga dengan Kayla. Kayla di tengah dan papa sama tante Revi di samping Kayla.” Rafa hanya tersenyum saja mendengar permintaan putrinya yang tidak masuk akal itu.
“Kalau Kayla mau main sama tante Revi, besok siang aja. Sekarang Kayla tidur lagi ya,” bujuk Rafa.
“Iya Pa.”
“Mulai besok Kayla jangan minum es krim lagi ya. Nanti Kayla batuk, terus demam seperti sekarang ini.”
“Tapi Papa harus janji ya, Kayla besok boleh main ke rumah tante Revi lagi.”
“Iya Sayang, papa nggak akan ingkar janji. Sekarang kamu tidur lagi ya.” Rafa langsung mengelus kepala putrinya sampai Kayla tertidur pulas.
‘Berarti bi Surti sengaja menjelekkan Revi untuk mencari simpati aku. Mungkin dikiranya aku akan percaya dengan omongannya. Pantas saja penampilan bi Surti beda kalau nggak ada ibu di rumah. Sekarang penampilannya sangat menggoda dengan pakaian yang sangat ketat dan pendek. Aku harus mencari tau lebih dalam lagi. Mulai besok aku akan mendengarkan semua ucapannya seolah-olah aku mempercayainya,’ batin Rafa penasaran.
***
Besok paginya saat Rafa akan berangkat kerja sengaja dia ingin menguji kebenaran ucapan bi Surti.
“Bi Surti, tadi malam Kayla demam dan batuk loh. Dia nangis terus.”
“Oh iya, Pak.... saya nggak dengar loh.”
“Tengah malam dia terbangun karena badannya sangat panas dan terbatuk-batuk. Kemudian saya beri obat penurun panas dan tidak lama kemudian demamnya pun turun. Sekarang dia masih tidur nyenyak.”
“Pasti karena makan es krim semalam Pak.”
“Es krim yang dikasih Revi?”
“Iya Pak, semalam mbak Revi memberi es krim pada Kayla. Padahal saat itu masih pagi. Mungkin itulah yang membuat Kayla terus demam dan batuk.”
“Bibi harus hati-hati jangan membiarkan Revi memberikan es krim pada Kayla. Takutnya nanti malam demam lagi.”
“Oh ya Bi, sekarang saya mau berangkat kerja dulu. Kayla masih tidur nyenyak jadi nanti kira-kira jam sembilan baru Kayla dibangunkan, tapi jangan dimandikan dulu ya Bi. Cukup Bibi bersihkan tubuhnya dengan air hangat.”
“Baik Pak, nanti akan bibi kerjakan.”
Rafa langsung berangkat kerja tapi dalam perjalanan ke kantor perasaannya tidak tenang mengingat Kayla tadi malam baru saja demam. Dia khawatir kalau siang ini Kayla akan demam lagi.
Begitu jam sepuluh saatnya istirahat Rafa izin untuk pulang sebentar melihat keadaan Kayla kebetulan pekerjaan kantor tidak terlalu repot sehingga bisa ditinggal sebentar.
Begitu mendengar pengakuan Kayla bahwa yang memberi es krim adalah bi Surti bukan Revi, Rafa langsung tidak percaya pada bi Surti. Sekarang Rafa berusaha untuk mencari bukti-bukti kalau bi Surti suka berbohong.
***
Begitu sampai halaman depan, terdengar suara tangisan dari dalam kamarnya.
‘Itu sepertinya suara Kayla, kenapa Kayla menangis,’ batin Rafa langsung berlari ke dalam.
Ternyata benar dugaan Rafa bahwa yang menangis adalah Kayla saat Rafa melihat dari balik pintu kamarnya. Terlihat jelas bi Surti sedang mencubit putrinya, sementara Kayla sudah menjerit kesakitan. Melihat kejadian itu Rafa langsung mendorong pintu kamar itu.
“Apa yang telah Bibi dilakukan pada Kayla?”
Bi Surti langsung menoleh ke arah Rafa dan wajahnya langsung pucat pasi karena ketakutan.
“Maaf Pak, maaf .... bibi khilaf,” ucap bi Surti mengiba.
“Bi Surti sudah melukai anak saya!” bentak Rafa.
Kayla langsung berlari memeluk papanya sambil menangis ketakutan.
“Hari ini juga bi Surti harus angkat kaki dari rumah saya,” pinta Rafa marah.
“Maaf Pak, maaf.... saya janji nggak akan mengulanginya lagi.”
“Saya nggak mau tau, yang penting Bibi harus keluar dari rumah saya karena saya sudah tidak percaya pada Bibi. Kalau Bibi nggak mau keluar juga maka saya akan menuntut Bibi ke pihak yang berwajib karena telah melukai fisik anak saya.”
“Jangan Pak, jangan. Saya akan keluar dari rumah Bapak hari ini juga. Tapi Pak....” ucap bi Surti terputus.
“Masalah gaji akan saya bayar hari ini juga. Sekarang kemasi barang-barang Bibi.”
Rafa yang sudah tersulut emosi langsung membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan memberikan pada bi Surti.
“Ini gaji Bibi bulan ini, sekarang Bibi kemasih barang Bibi.”
Rafa langsung memeriksa seluruh tubuh Kayla, ternyata bagian pantat dan belakang tubuh Kayla biru-biru semua. Bahkan bagian perutnya juga ada cubitan yang membekas berwarna merah kebiru-biruan. Perasaan Rafa sangat sakit dan sedih melihat sendiri bagaimana kelakuan bi Surti saat menghajar putrinya.
“Kamu nggak apa-apa kan Sayang?” tanya Rafa khawatir.
Kayla hanya menggeleng tapi terlihat Kayla seperti trauma. Rafa langsung menggendong putrinya dan membawanya masuk ke kamar. Dielusnya kepala putrinya lembut sambil menangis dalam hati. Dadanya sangat sesak melihat kondisi Kayla yang begitu banyak cubitan di bagian tubuhnya.
Ada perasaan menyesal karena selama ini tidak pernah memperhatikan tubuh Kayla. Dia sudah terlalu percaya pada pembantunya itu sehingga tidak pernah berpikir kalau kejadian ini akan menimpah anaknya.
“Pa... nanti kalau Papa pergi kerja, Kayla bolehkan main ke rumah tante Revi?”
“Iya Sayang, kapan pun kamu boleh main kesana yang penting Kayla nggak boleh nakal kalau di rumah tante Revi ya.”
“Iya Pa, Kayla janji nggak akan pernah nakal.”
“Pintarnya anak papa,” ucap Rafa sambil mencium putrinya.
‘Berarti Revi sayang sama Kayla makanya Kayla senang main di sana. Sedangkan bi Surti sering mencubitnya makanya Kayla lebih senang bermain di rumah Revi.’