
‘Kalau ditanya hatiku, sebenarnya aku ingin kamu yang menjaga Kayla, mengawasinya dan juga menjadi mama bagi Kayla. Tapi sayangnya hal itu nggak mungkin terjadi karena kamu sebentar lagi akan menikah dengan orang lain. Hatiku sangat sakit Revi melihat kamu akan menikah dengan orang lain. Bisakah kamu memberi hatimu untukku demi Kayla. Tapi rasanya nggak mungkin hal ini bisa terjadi. Kalau pun terjadi itu adalah suatu keajaiban,’ batin Rafa.
Rafa hanya bisa merenung tanpa berbuat banyak. Sementara Revi juga mempunyai perasaan yang sama tapi terhalang karena dia telah bertunangan dengan Dandi. Semakin hari Revi dan Rafa semakin dekat membuat bi Surti semakin kesal.
Sejak Rafa dan Revi berbicara di balik tembok pagar rumah mereka, mata bi Surti tidak lepas dari pandangannya. Sejak tadi dia tak hentinya mengamati perbincangan antara Revi dan majikannya itu. Tiba-tiba terdengar suara Kayla yang menangis memanggil papanya. Surti langsung memanggil majikan.
“Pak... Pak Rafa... Kayla udah bangun tuh,” panggil bi Surti dari dalam teras.
Rafa buru-buru masuk ke ke dalam rumahnya.
“Maaf ya Revi, Mas masuk dulu.”
Begitu Rafa masuk, bi Surti langsung keluar menemui Revi. Revi pada saat itu akan kembali ke rumahnya.
“Mbak Revi tunggu....”ucap bi Surti mengejar Revi.
Revi langsung menoleh. “Ada apa ya Bi?” tanya Revi heran.
Bi Surti langsung menatap Revi dengan pandangan tidak suka. Revi yang sudah tau kalau bi Surti cemburu, dia menanggapinya biasa saja. Bahkan Revi tersenyum melihat bi Surti yang sangat kesal.
“Mbak Revi nggak malu ya bicara berduaan dengan pak Rafa?”
“Loh, memangnya kenapa harus malu Bi? Apakah salah hanya sebatas ngomong berdua.”
“Tapi kan mbak Revi sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.”
“Jadi maksud Bibi, kalau orang mau menikah tidak boleh berbicara dengan laki-laki lain.”
“Kita kan harus jaga omongan orang lain Mbak,” jelas bi Surti tidak mau kalah.
“Lagian kami pun ngomong dalam batas yang wajar, tidak melakukan tindakan asusila. Atau jangan-jangan Bibi merasa cemburu karena saya dekat dengan Mas Rafa,” ucap Revi langsung menuduh bi Surti.
Bi Surti langsung gelagapan mendapat serangan dari Revi.
“Mana mungkin saya cemburu Mbak. Saya hanya ingin pak Rafa kembali lagi pada istrinya. Apalagi mereka sudah punya anak. Kan kasihan nasib Kayla ke depannya.”
“Bagus donk kalau itu niat Bibi untuk menyatukan mereka, asal jangan ada niat lain di balik itu semua,” sindir Revi kesal.
“Memangnya niat saya apa rupanya Mbak?”
“Ya, mana tau saya. Yang tau itu kan hanya bi Surti.”
“Mbak jangan sembarang menuduh saya.”
“Saya bukan menuduh, tapi saya hanya memperkirakan saja. Takutnya bi Surti punya niat lain karena membatasi saya berbicara dengan mas Rafa.”
“Saya hanya mengingatkan saja Mbak, supaya Mbak jangan terlalu jauh berhubungan dengan pak Rafa mengingat mbak Revi kan sudah bertunangan. Kita juga sebagai wanita jangan terlalu agresif pada pria, sehingga kesannya kita itu jelek di mata orang.”
“Udah donk, jangan mengajari saya. Tanpa Bibi nasehati, saya sudah tau selagi itu dalam batas yang wajar akan saya lakukan dan saya tidak pernah memikirkan omongan orang. Sekali lagi saya ingatkan, jangan pernah ikut campur urusan saya,” ucap Revi kesal..
Bi Surti yang tidak sanggup menghadapi serangan dari Revi akhirnya merasa malu. Dia langsung masuk ke dalam rumah sedangkan Revi hanya bisa geleng-gelengkan kepalanya.
***
Sehabis maghrib Kayla terlihat masih rebahan di sofa. Rafa yang baru selesai makan malam langsung mendekatinya.
“Perut kamu masih sakit Sayang?”
“Bi Surti, tolong buatkan air jahe ya,” pinta Rafa pada pembantunya yang sejak tadi berada di dekat Kayla.
Untuk mencari simpati majikannya bi Surti rela sejak tadi mendampingi Kayla yang sedang sakit. Setelah air jahe selesai dibuat, bi Surti Rafa langsung memberikannya pada Kayla. Setelah minum air jahe itu tidak lama kemudian Kayla pun tertidur.
***
Tiba-tiba jam dua belas malam malam Rafa terbangun mendengar Kayla merintih kesakitan sambil menangis. Rafa langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Kayla sambil mengelus kepala putrinya.
“Kenapa Sayang,” tanya Rafa bingung.
“Perut Kayla masih sakit Pa,” rengek Kayla.
“Sebentar ya papa ambilkan minyak kayu putih,” ucap Rafa.
Dengan sabar dan telaten Rafa menggosok perut Kayla dengan minyak kayu putih. Rafa duduk di samping Kayla sambil menunggu reaksi dari minyak kayu putih itu. Setelah hampir satu jam Kayla masih merintih kesakitan juga, Rafa semakin bingung.
“Kita ke rumah sakit sekarang ya Sayang?”
“Kayla nggak mau Pa.”
“Tapi perut kamu kan masih sakit aja,” jelas papanya.
Akhirnya Rafa menyuruh bi Surti membereskan pakaian Kayla untuk dibawa ke rumah sakit mana tau Kayla harus dirawat disana.
“Saya ikut ya Pak?” pinta bi Surti.
“Bibi di rumah aja ya, biar saya yang bawa Kayla ke rumah sakit sendiri,” jelas Rafa.
Akhirnya Rafa membawa sendiri anaknya ke rumah sakit. Malam itu hujan sangat deras disertai dengan angin dan petir sehingga jalanan tidak terlihat jelas akibat angin yang kencang. Rafa membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.
Saat sudah dekat dengan rumah sakit tiba-tiba ada sebuah pohon yang tumbang di tengah jalan. Jalanan langsung macet membuat banyak kendaraan yang putar balik. Rafa langsung mencari jalan potong. Kayla yang berada di dalam mobil sesekali menangis merasakan perutnya yang sakit.
“Sabar ya Sayang entar lagi kita sampai,” ucap Rafa sambil melirik ke arah putrinya.
Kayla hanya menganggukkan kepalanya karena wajahnya sudah pucat. Perasaan Rafa kacau melihat anaknya yang sakit.
Begitu sampai ruang UGD Kayla langsung ditangani oleh dokter jaga. Kayla pun menangis karena ketakutan.
“Jangan takut Sayang...” Rafa menenangkan anaknya.
“Papa di sini aja ya, jangan pergi,” ucap Kayla sambil memegang erat tangan papanya.
“Siapa namanya Sayang?” tanya dokter yang memeriksa Kayla.
“Kayla Dok...” ucap Kayla lemah.
“Oh Kayla... Kayla pinter ya, udah cantik pinter lagi,” puji sang dokter supaya Kayla tidak menangis..
“Anak saya sebenarnya sakit apa Dok?” tanya Rafa penasaran.
“Untuk sementara ini berdasarkan hasil pengamatan saya bahwa anak bapak keracunan makanan. Untuk memastikannya besok akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” jelas dokter.
Rafa terkejut dan tidak percaya. ‘Memangnya Kayla makan apa tadi ya? Kenapa bisa sampai keracunan,’ batin Rafa heran.