
"Dad, kita belum selesai"
Delano masih mencoba mencegah Ayahnya yang sudah bosan bermain dengannya. Padahal Dario sedang menantikan waktu bersama istri mudanya, tapi anaknya ini malah menghalanginya dengan mengajak dia bermain catur.
"Daddy ngantuk dan ingin tidur"
Delano langsung gelagapan mendengar itu, jelas dia tidak boleh membiarkan Ayahnya masuk ke dalam kamarnya. "Dad, aku baru saja ingin memperbaiki kebersamaan aku dengan Daddy. Masa Daddy mau pergi gitu aja si"
Dario menghela nafas pelan, dia tidak mungkin meninggalkan anaknya yang baru akan dekat lagi dnegannya. Karena selama ini Delano selalumenghindar darinya dan meninggalkannya. Delano yang tidak pernah mau lebih dekat dengannya. Semuanya memang kesalahannya sendiri yang telah mengkhianati Ibu Delano hingga membuat anaknya membencinya.
"Yaudah, kita main satu putaran lagi"
Delano mengangguk dengan tersenyum senang. Setidaknya dia memastikan jika Ayahnya tidak akan kembali ke kamar cepat-cepat dan membuatnya bisa saja melakukannya dengan Alana.
"Aku ambil minum dulu biar kita bisa lebih santai mainnya"
Delano segera mengambil beberapa botol minuman dan cemilan untuk menemani permainan mereka malam ini. Dia benar-benar menggunakan berbagai cara untuk bisa mencegah Dario agar tidak melakukannya dengan Alana.
######
Dan pagi ini ketika Alana terbangun ia menghela nafas pelan saat melihat pakaiannya yang masih utuh. Sepertinya Delano berhasil menghalangi Dario agar tidak melakukannya pada Alana. Namun jika kali ini berhasil, maka bagaimana hari-hari selanjutnya?
Alana mengangkat bantai yang dia pakai, mengmbil benda kecil yang dia sembunyikan disana. Alana berniat untuk memberi tahu Delano tentang semua ini. Tapi dia juga harus menemukan waktu yang tepat, apalagi saat ini Dario sudah kembali ke kota ini.
Alana turun ke lantai bawah dan terkejut ketika melihat Delano dan Dario yang sedang tidur di atas karpet dengan posisi saling membelakangi. Alana melihat beberapa botol minuman diatas meja. Dia menghela nafas pelan, lalu mengambil botol-botol itu dan membereskannya.
Sampai seperti ini Delano berbuat hanya karena dia tidak mau aku melakukannya dengan Daddynya.
Alana segera membuatkan sarapan tanpa berniat membangunkan mereka. Karena Alana hanya tidak ingin membuat mereka terganggu dalam tidurnya. Jadi dia memilih untuk memnyiapkan sarapan terlebih dahulu sebelum membangunkan Ayah dan anak itu.
Delano menggeliat pelan, dia bangun terduduk dengan mengucek matanya yang terasa perih karena baru bangun tidur. Delano menghela nafas lega ketika melhat Dario yang masih tertidur di sampingnya. Delano segera berdiri dan berjalan ke arah dapur ketika dai mencium bau masakan darisana. Sudah pasti Alana yang sedang memasak.
Alana terlonjak kaget saat Delano yang memeluknya dari belakang. Alana benar-benar bingung harus melakukan apa saat Delano memeluknya dengan begitu erat. Mencium bahu Alana dengan lembut.
"Selamat pagi Sayang, akhirnya aku bisa menahan Daddy untuk tidak melakukannya denganmu"
Alana terdiam sambil mengaduk masakannya di dalam wajan. Alana merasa bingung dan tidak tahu harus memulai darimana untuk mengatakan jika dirinya sedang hamil anaknya Delano.
"Emm Delan, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu"
"Apa? Mau bicara apa memangnya?"
Alana mematikan kompor saat di rasa masakannya sudah matang. Dia berbalik dan menatap Delano dengan lekat. Tubuhnya bersandar pada meja kompor dengan tangan Delano yang berada di pinggangnya.
"Sebenarnya aku sedang...."
"Delan"
Deg..
Alana langsung mendorong tubuh Delano agar menjauh darinya, ketika dia mendengar suara Dario yang mendekat ke arah mereka. Alana terdiam ketika melihat Dario yang masuk ke dalam dapur, dia takut jika Dario akan curiga ketika melihat dirinya dan Delano di dalam dapur.
Delano menuangkan air minum ke dari dalam teko ke dalam gelas. DIa bersikap biasa saja dan seolah tidak melihat adanya Alana disana.
"Tidak, kau ke kantor hari ini? Sepertinya Daddy belum bisa ke kantor, masih capek banget baru pulang dari luar kota"
"Mungkin akan ke kantor tapi agak siangan, karena aku juga ingin istirahat sebentar"
"Baiklah, kalau gitu Daddy mau mandi dulu"
"Biar aku siapkan air untuk mandinya Mas"
Delano langsung merasa was-was ketika dia mendengar ucapan Alana barusan. Dengan tangan jahilnya dia menyalakan kembali kompor. "Loh bukannya sedang masak ya, itu masakannya belum selesai"
Alana menoleh ke arah meja kompor dan melihat kompor yang kembali menyala, padahal tadi dia sudah mematikannya.
"Yaudah kamu selesaikan saja dulu masakannya. Aku bisa menyiapkan airnya sendiri"
Alana menatap ke arah Delano yang tersenyum tanpa dosa padanya. Setelah memastikan Dario pergi, maka Delano kembali mendekati Alana dan memeluknya.
"Tadi kamu mau bicara apa?"
Alana menghela nafas, mungkin bukan saat ini waktu yang tepat untuk membicarakan tentang kehamilannya. Alana harus mempunyai waktu yang tepat dan tidak ada Dario di rumah ini. Karena bisa saja Dario akan tiba-tiba muncul seperti tadi dan mendengar semuanya. Maka tidak akan baik untuk Delano dan dirinya juga.
"Bukan apa-apa, tidak penting juga. Sudahlah sekarang lebih baik kamu mandi dulu dan nanti kita sarapan bersama"
######
Siang ini Delano sudah pergi ke perusahaan. Sementara Alana sedang duduk diam diatas sofa depan televisi. Alana menatap ke arah lantai atas, dimana pintu kamarnya tertutup karena Dario yang sedang istirahat karena semalam kurang tidur dan banyak melakukan pekerjaan di luar kota sebelum ini.
Alana mengelus perutnya dengan menghela nafas pelan. Jelas dia bingung bagaimana ke depannya dan apa yang akan terjadi ke depannya. Alana jadi bingung sendiri.
"Do'akan Ibu agar bisa lebih baik menjaga kamu dan bisa menemukan solusi yang baik ya Nak"
Sesuatu yang jatuh ke atas pangkuan Alana membuatnya terkejut. Alana langsung menoleh dan menatap suaminya yang ternyata dia yang melemparkan benda itu. Alana mengambil benda kecil itu dengan tangan yang bergetar. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini ketika benda yang dia sembunyikan telah di ketahui oleh suaminya.
"Mas, aku..."
"Apa? Katakan siapa Ayah dari anak dalam kandunganmu itu?"
Alana menunduk dengan tangan saling bertaut gugup. Dia bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Dario.
"Siapa Ayahnya? Jawab aku Alana?!"
Alana masih terdiam karena dia juga bingung bagaimana cara dia menjelaskan semuanya saat ini. Bahkan dia tidak menyangka jika kehamilannya akan terbongkar secepat ini oleh Dario.
"Apa Delano adalah Ayah dari anakmu itu?"
Tidak bisa mengelak apapun lagi membuat Alana hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Dasar wanita murahan!"
Bersambung